RSS

Cerpen : Balada Jumiran

20 Feb

“hmm .. ternyata seperti ini bentuk rencana Tuhan kepada penimbun harta seperti mereka …  sebentar lagi makhluk-makhluk kikir itu menyesal meledekku,” Jumiran senyum-senyum sendiri, membayangkan polah jaman yang sebentar lagi berlaku di depannya.

“Hei, Jum ! buat apa kau timbun batu kali dan kaleng-kaleng bekas itu, Jum ?” begitu penduduk kampung bertanya kepada Jumiran. Pertanyaan yang sebenarnya berupa ejekan. Namun Jumiran memilih bersabar dan bertutur lembutm.
“Ketahuilah, Kawan, sebentar lagi, harta-hartamu surut tak ada harga, barang-barang seperti inilah yang berharga, aku sudah memperingatkan,” Jumiran menjawab serius sambil menunjukkan barang-barang rongsokan miliknya.

“Hmm .. kapan itu, Jum?”

“tidak tahu, yang pasti menJelang kiamat, dan itu tak lama lagi,”

“oalah, Jum-Jum. Kiamat jelas-jelas masih jauh, masih banyak manusia menyembah Tuhan. Ketahuilah, Jum, yang harus kau kumpulkan itu uang, kalau perlu bongkahan emas, tumpukan sampah itu malah jadi sumber penyakit, bengek nanti dadamu !”

Jumiran tak bergeming mendengar cemoohan lawan bicaranya. Dia malah memandang lawan bicara dengan tatapan belas kasihan.

“jika nanti batu-batu dan botol bekas ini jadi pengganti emas, kalian jangan menangis, bongkah-bongkas emas yang kalian simpan tak akan ada harganya,”

“hahaha .. berarti dirimu ini konglomerat, Jum. Uh salah, maksudku calon konglomerat ?!”

“ya, bisa dikatakan begitu, Kawan. bahkan lebih dari sekedar konglomerat, kalau perlu, seluruh harta-hartaku kusumbangkan di panti asuhan, orang-orang miskin kukasih makan, aku tak ingin jadi orang kaya biasa, aku ingin jadi orang kaya dermawan,” Jumiran mengangguk mantap.

“cita-citamu sungguh mulia, Jum, aku kagum,” lawan bicara Jumiran menahan tawa, “tapi ingat, Jum, makanmu saja masih ngutang di warung, masa’ calon konglomerat makannya ngutang,“

Jumiran tersinggung mendengarnya. “hei, dengar kalian ! semua hutangku pasti kulunasi plus bunga, ditambah lagi masing-masing kalian kukasih emas batangan, lima kilo pun aku sanggup !”

“bah !! mimpi !!” lawan bicara Jumiran tertawa lebih kencang. Dalam hati, Jumiran sedih mendapati hati mereka mengeras seperti batu.

“hmm .. mungkin seperti inilah yang diberitakan kitab suci, bahwa, tabir rahasia dibuka lebar-lebar kepada orang yang menepis keduniawian sepertiku. Tiba-tiba saja telingaku mendengar bisikan angin, jika, tak lama lagi tatanan kekayaan dunia akan bergeser.  Emas yang dipuja sejak jaman Nabi Adam kehilangan tajinya, nilai tukar mata uang remuk berkeping-keping. Dan yang lebih hebat, barang remeh-temeh macam botol bekas, batu kali, sampah plastik, berubah jadi lempengan-lempengan benda mulia pengganti emas berlian,”

***

Tiap hari barang bekas menumpuk di rumah Jumiran. Tumpukan itu nyaris menutupi lubang pintu rumahnya. Hingga ketika barang itu terus menumpuk dan meluber ke jalan, sontak orang-orang mencari cara menghentikan kelakuan Jumiran.

“kau tak mungkin bisa menghentikan kelakuan orang gila. Semakin kau larang, semakin menjadi. Sekarang begini saja, kita angkuti barang-barang Jumiran, kita jual ke pengepul loakan, duitnya kasih Jumiran buat bayar hutang di warung, bagaimana ?” Usul salah seorang tetangganya, ternyata usul itu diamini. Maka mulailah  mereka melaksanakan ‘proyek pembersihan’. Mereka menyewa truk sampah.

“apa-apaan ini ?” Jumiran panik mendapati puluhan orang berkumpul di depan rumahnya. Apalagi truk sampah berhenti tepat di depan rumahnya.

“tenang, Jum. Kami hanya ingin bersih-bersih,”

“bersih-bersih ?! Apa yang hendak kalian bersihkan ?” Jumiran mencium rencana buruk. Bola matanya berkelincat kanan kiri.

“barang-barangmu, Jum, semua sampah itu,”

“Bah ! turunan bangsat kalian !!” urat leher Jumiran bertonjolan. “ratusan kali kubilang barang-barangku ini bukan sampah ! sebentar lagi barang-barang ini jadi benda mulia !”

Geraham Jumiran beradu. Kedua tangannya terkepal. Jumiran bersiap mempertahankan seluruh hartanya dari siapapun, tangan dan kakinya membentuk kuda-kuda.

Tiba-tiba kerumunan massa merangsek maju. Serentak mereka meringkus Jumiran dan mengikat tangan-kakinya. Jumiran kemudian dilempar ke pojok rumahnya. Kerumunan massa kemudian mengangkuti barang-barang Jumiran ke atas truk.
Jumiran meronta sekuatnya hingga kulit di sekitar tali melepuh. Jumiran berteriak dan menangis.

“jangan ! jangan ! kumohon jangan bawa barang-barangku !!” Jumiran mengiba, tapi semua orang tertutup kupingnya. Akhirnya ‘harta’ Jumiran berhasil dibersihkan dalam tempo empat belas menit.

Jumiran menatap nanar ke arah bak truk. Perasaannya remuk. Pipi dan dagunya dibasahi air mata. Tepat ketika truk sampah menggeram, Jumiran menjerit kencang. Tak ada yang memedulikannya kecuali perempuan tua yang mendekatinya dengan langkah terseok. Tangan keriput perempuan tua itu menghapus air mata di pipi Jumiran.

“sudahlah, semua sudah berakhir, ikhlaskan,” bisik perempuan itu di telinga Jumiran.

“tolong, lepaskan tali ini,” Jumiran mengiba dengan mata berkaca-kaca.

Tanpa buang waktu perempuan itu mengurai simpul tali. Dadanya perih melihat bilur merah melingkar di pergelangan tangan Jumiran. Mendadak tenaga Jumiran pulih. Setelah pergelangan tangannya terbebas, Jumiran bergegas melepas ikatan tali di kakinya.

Jumiran kemudian melompat. Dia berlari kencang meninggalkan perempuan tua yang menolongnya. Jumiran mengejar truk sampah. Dia melesat seperti kuda pacuan.

Ayunan kaki Jumiran sedemikian cepat hingga truk sampah yang mengangkut ‘harta benda’-nya nyaris terkejar. Jarak tangan dan bokong truk tersisa lima ayunan kaki. Jumiran mendengus lebih kencang. Tangannya terjulur siap mengait bokong truk. Sampai tiba-tiba truk itu mengerem.

‘ciiiiitttttt !’, ‘Sraaaattt’ ‘ Bruagggk !!’.

Truk sampah beradu kepala dengan tronton bermuatan pasir. Masing-masing truk terguling, terseret, dan membanting seluruh muatannya.

Jumiran tak sempat menghindar. Dia hanya sempat memejam mata sebelum tergilas bokong truk yang melontar muatannya. Akibat kecelakaan itu Jumiran mati di tempat kejadian. Terkubur bersama seluruh ‘harta benda’nya yang belum sempat menjelma jadi logam mulia.

***

Di malam hari selepas kematian Jumiran, semua orang meratap dan menyesali perbuatan masing-masing. Tak disangka perbuatan mereka membersihkan ‘harta’ lelaki yang dianggap kurang waras itu berujung petaka.

Di malam hari ternyata masing-masing mereka bermimpi masuk sorga. Masing-masing mereka seolah berada di taman mahaluas yang paling cantik. Mereka terperangah, dan di saat terperangah itu mereka mendapati Jumiran menyentuh pundak mereka dari belakang.

“lihatlah, ini semua dihadiahkan Tuhan buatku. Rumahku di ujung sana, ada seribu jumlahnya, yang mengkilap itu yang paling besar, berbata emas, berkubah berlian,” Wajah Jumiran bercahaya saat mengucap, kata-katanya lembut dan santun. Sementara Jubah emas yang dikenakan Jumiran terlihat serasi dan wangi. Di tangan Jumiran  tergenggam sebuah botol dan sebongkah batu yang terbuat dari emas, mirip botol bekas dan batu kali yang dulu menumpuk di rumah Jumiran

“kau mau yang seperti ini ?” Jumiran bertanya lembut sambil menunjukkan botol emas. Spontan mereka mengangguk.

Di dalam mimpi itu tiba-tiba bibir mereka terkunci. Mereka terlalu terperangah.

“Suatu waktu, di awal kedatanganku di Surga, Tuhan berkata padaku jika barang-barang macam ini diberikan kepada mereka yang mau, dan syaratnya mudah, kau mau tahu ?”

lagi-lagi mereka mengangguk. Bibir Jumiran kemudian mendekati kelopak telinga mereka. Jumiran kemudian berbisik.

“jangan terlalu berbangga dengan yang kau punya, karena hakekatnya itu bukan apa-apa. Esok hari selepas bangun tidur, pergilah ke panti asuhan di seberang rel. berikan hartamu yang paling berharga, dengan ikhlas, dan tak ada siapapun yang tahu, termasuk tetanggamu sendiri,”

Selepas Jumiran menutup kata-kata, sontak mereka terbangun dari tidur. Dirasa mimpi itu teramat nyata hingga sentuhan tangan Jumiran masih terasa di pundak mereka. Dan –

Ah, siapa sih manusia yang tak ingin masuk surga. Selepas itu masing-masing mereka bangkit dari kasur, mengambil perhiasan emas, berlian, mutiara, mereka mengendap-endap di kegelapan malam dengan tingkah mirip maling.

Satu-persatu mereka menuju ke seberang rel, tengak-tengok sebelum menuju bangunan reyot yang pecah-pecah gentingnya –takut ketahuan. Ketika Kemudian bertemu pengelola yayasan,

“alhamdulillah, Bapak adalah orang yang kesekian kemari. Betapa kami betul-betul dirahmati dengan kejadian ini. Apa bapak juga bermimpi masuk surga, dan bertemu Jumiran disana ?”

“mmm .. Tidak, eh, iya”

***

bangil, 01 februari 2013

di tengah guyuran hujan

 
Leave a comment

Posted by on February 20, 2013 in Cerpen

 

Silakan berkomen,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: