RSS

Cerpen : Metamorfosa

28 Jan

Image

Lututku bergetar-getar menahan sakit. Darahku membeku. Untung saja penglihatanku masih awas, kalau tidak, aku pasti menggelinding ke dasar jurang.

Kutilik jam tangan, pukul lima kurang lima menit, berarti hampir lima jam kuturuni punggungan gunung.

Langit barat memerah. Hutan-hutan berubah gelap. Serangga malam sayup-sayup mengerik. Syukurlah, darah yang mengucur di pahaku sudah berhenti. Luka robek menganga bekas gigitan ini nyeri bukan kepalang, bekasnya menghitam. Aku mesti menebusnya dengan langkah terpincang-pincang.

‘hmmm .. bau air,’  hidungku menangkap aroma pekat air bercampur lumpur,

‘pasti hampir sampai di hutan lumut,’ bisikku dalam hati.

Tanda-tanda alam hampir pasti menunjukkan keberadaan hutan itu. Kawasan yang selalu lembab kehijauan; kabut yang mengendap; bunyi gemerasak kijang; babi hutan yang menguik, di hutan lumut pasti ditemukan air melimpah sehingga binatang-binatang itu berdiam tak jauh dari hutan lumut.

Kusibak ranting yang menghalangi jalan, aroma air kian pekat. Dengan langkah tertatih lantaran menyeret satu kaki, kumasuki hutan ini.

Tiba-tiba-

HRRROOAAARRR !!”

‘brek kebrekk kebrekk wurrrrhhh’

Auman macan kumbang menggetarkan kolong hutan, selepas itu seekor merak jantan terbang dua meter di depanku.

Lututku bergetaran, jantungku berlompatan. Kutarik belati dan kugenggam rapat. Kalau harus bertarung lagi melawan macan sialan itu –diriku tak takut lagi. Ya, takutku sudah habis. Berkali-kali diriku hampir mati di gunung ini, tapi toh selamat juga. Kuduga macan sialan itu mengikutiku karena mencium aroma darahku.  Dia menungguku di saat yang tepat, saat ketika fisikku di titik paling lemah.

Kutarik kaki mundur dua langkah, memasang kuda-kuda. Kuhunus belati dengan mata memicing.

“Hayooo !!! keluar, kau !!!” teriakku dengan suara bergetar.

“cuih !! buat apa menunggu lebih lama !!”

Seluruh bulu kudukku meremang. Nafasku mendengus. Suara semak bergesekan memaksaku waspada. Mendadak angin menyentak keras. Sekelebatan bayangan hitam melambung di depanku.

HRRROOAAARRR !!”

“Bangsat !! Bangsat !!!” aku menyumpah-nyumpah. Luka di paha membuatku terhuyung. Rupanya binatang itu menggodaku. Dia menakutiku.

Sebelumnya menjelang puncak gunung, macan ini berhasil mengoyak pahaku, mencakar mukaku, menggigit dan melempar ranselku ke dasar jurang. Setelah kupukul hidungnya dengan kayu sebesar lengan, barulah binatang itu mengerti artinya salah mangsa. Tapi dengan luka-luka yang kudapatkan, itu artinya secepat mungkin aku harus turun ke kaki gunung, dan itu artinya aku mesti menunda pencarian Raisya.

Tiga pekan sudah Tim SAR memutuskan menghentikan pencarian dirinya, aku memilih tak peduli. Bagiku Raisya masih hidup. walau secara teoritis sudah melampaui batas waktu kemampuan seseorang bertahan hidup di hutan. Raisya disapu badai puncak, dan aku luntang-lantung di gunung demi mencari jejaknya. Aku tak takut mati. Aku tak gentar badai. Mati pun rela. Karena seandainya Raisya mati, seketika itu hatiku turut mati.

Kuduga Raisya terjebak di puncak gunung, tepat di tebing sisi utara. Tetapi sesaat sebelum kakiku menginjak kawasan puncak, seekor macan kumbang mengaum dan menerkamku dari belakang.  

Macan kumbang yang berhasil melukaiku adalah macan kumbang yang kini mengintaiku. Binatang buas itu terus-terusan mengaum. Dia terkesan menggiringku ke tempat tertentu.

Sampai suatu ketika diriku terjepit. Habis tenaga. Ketika itulah terkaman binatang buas itu melontarkan tubuhku jauh-jauh. Tubuhku jatuh terguling, terpental, terjerembab membentur batu besar. Sampai ketika taring macan kumbang itu menancap di lenganku, kesadaranku nyaris habis. selanjutnya tubuhku diseret. Ya, ketika itu pandanganku kabur. Menguning.

***

Gemericik air tertangkap telingaku. Kesadaranku kembali. Saat kubuka mata, ternyata Raisya duduk di samping tubuhku. Lengannya penuh luka. Batang hidungnya pecah dipenuhi darah yang kering. Saat kutilik sekitar, kupikir aku sedang berada di gua batu yang lembab.

“berbaringlah, Zul. Jangan banyak bergerak,” ucapnya lembut, tangannya menyeka dahiku.

“bagaimana .. bagaimana aku bisa disini .. dan kamu selamat, Raisya,” ujarku keheranan.

“seharusnya kamu berhenti mencariku, jangan ke puncak gunung,”

“tidak, Raisya. Tidak. meskipun aku harus mati, aku akan –”

“ssstt ! sekali-kali jangan bicara kematian di tempat ini,” telunjuk Raisya menempel di bibirku.

“kuminta setelah ini, tinggalkan tempat ini. Jangan kau kunjungi lagi tempat terkutuk ini, apalagi berdiam dan berkeliaran di  puncak gunung mencariku,”

“apa maksudmu, Raisya ?”

“lupakan aku,”

“apa maksudmu, Ray. Aku tak mengerti ! Seminggu ini aku mencarimu, badai pun aku tak takut !”

Kulihat kelopak mata Raisya berembun,

“kita harus pulang, Raisya. Kita harus turung gunung,”

“Kamu tak mengerti, Sayang,” Raisya terisak dan menangis. Telapak tangannya membelai wajahku. Kuraih tangannya dan kugenggam erat-erat.

Jujur saja aku memang tak mengerti. Sesaat sebelum pingsan aku berhadapan dengan seekor macan kumbang. Dia berhasil menerkamku. Dia menyeretku dan siap memakanku. Tapi –

“Zul, kumohon, berhentilah mencariku. Setelah ini kau akan tahu,”

Perlahan-lahan Raisya bangkit. Tautan tanganku terlepas dari tangannya.

“Raisya, mau kemana ?” ucapku khawatir

“Raisya ! Raisya !” aku berupaya bangkit.

“selamat tinggal, Zul !”

“Raisya ! Raisyaaaaa !! uffhh !” tubuhku yang berupaya bangkit jatuh terjerembab.

Raisya kemudian mundur tiga langkah. Dia membalik punggung. Selepas itu Raisya berlari dan melompat.

HRRROOAAARRR !!”

Dinding goa bergetar. Dinding hatiku bergetar. Sesaat setelah kaki Raisya menginjak tanah, Raisya lenyap dan menjelma jadi macan kumbang yang membuntutiku.

***

Bangil, 22-23 Januari 2013

 
Leave a comment

Posted by on January 28, 2013 in pepatah hancur

 

Silakan berkomen,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: