RSS

Cerpen : Mat Kalil

28 Jan

MAT KALIL

Di suatu malam yang hening, aura kejahatan meruap. Seorang laki-laki mencium gelagat tak wajar di sebuah Bank Panca Riba yang terletak di pojok perempatan dekat alun-alun. Laki laki yang bernama Mat Kalil ini mengendap-ngendap sambil menggenggam linggis di tangan kanan. Dia tahu sekawanan perampok tengah menyatroni gudang penyimpanan uang itu.

Setelah sukses menyelinap, Mat Kalil memanjat pagar dan naik ke atas genting.  Sesampai di atas genting, Mat Kalil melepasi genting hingga terbentuk lubang sebesar tubuhnya. Mat Kalil kemudian merayap memasuki rongga plafon. Dia berniat mengintip kondisi lawan sebelum menentukan aksi selanjutnya. Namun –

Jraaakk Grobyak !! Krompyanggg !! Gedebugg !!

Mat Kalil terjun seperti nangka jatuh. Kakinya keliru memijak plafon. Perampok yang berjumlah lima orang awalnya kaget bukan kepalang, dipikir polisi detasemen-khusus berhasil menyelinap di balik ubun-ubun mereka. tetapi setelah yang jatuh di depan mereka Mat Kalil, perampok-perampok itu melongo,

“Siapa kau !!” Pemimpin perampok mencengkeram tengkuk Mat Kalil, seperti mencengkeram leher kucing. Setelah melihat ada linggis tergeletak,

“mau apa kau, pake bawa linggis segala, hah ? Mau lawan kita ?”

“barangkali dia mau gali kakus, bos. Hahahaha ..” celetukan salah satu perampok membuat perampok lain tertawa terbahak-bahak. Salah satu di antaranya sampe kentut di celana.

“aku ingin meringkus kalian ..” kata Mat Kalil sambil menyeka darah di hidung, mimisan, lagi-lagi perampok-perampok itu mlongo.

“meringkus ?! Meringkus katamu ?!” perampok yang mencengkeram tengkuk Mat Kalil menepuk ubun-ubun Mat Kalil.  “Hei-hei apa kupingku yang kopokan, atau mulut pemuda begajulan ini yang nge-slong tak punya rem,” kata perampok itu, terkejut.

“dia memang ingin meringkus kita, Bos ! Meringkus katanya !” sahut salah seorang perampok

“meringkus pake apa ? Pake linggis ?” ejek yang lain.

“kalau kau bukan orang sakti, kau pasti cari mati,” kata Pemimpin Rampok.

“mati bukan bukan urusanmu, itu urusan Tuhan,” Mat Kalil malah menatap Pemimpin Rampok, menantang.

“eh eh eh .. Kurang ajar dia, Bos. Mesti dikasih pelajaran,”

“ya ya ! pegangi dia !” kata Pemimpin Rampok. “mulutnya itu mesti dikasih pelajaran !”

Mat Kalil direbahkan di lantai, menghadap ke atas. Keempat rampok masing-masing memegangi tangan dan kakinya, sedangkan Pemimpin Rampok berdiri mengangkang tepat di atas kepala Mat Kalil. Mat Kalil meronta sekuat tenaga namun kalah kuat. Tiba-tiba –

‘srrrttt ..’ resleting diturunkan.

“mau apa kau ?! Mau apa kau ?!” Mat Kalil panik. Dia tak menyangka Pemimpin Rampok itu melakukan tindakan memalukan.

mendadak –

‘currrrr .. currrrrr ‘

“Buangsat ! buangsat !” Mat Kalil memaki-maki. Kencing Pemimpin Rampok menyirami wajahnya, bahkan ada yang masuk mulutnya. Semakin Mat Kalil mengumpat, semakin banyak air kencing merembes memasuki mulutnya.

Pemimpin Rampok tertawa terbahak-bahak.

“aduh-aduh ! hati-hati, dong, Bos !! nyiprat, Boss ! nyiprat !! Ikut ikutan pesing, nih ” anak buah Rampok protes.

Diperlakukan dengan keji, Mat Kalil mengerahkan seluruh tenaga. Setelah pegangan keempat perampok melonggar karena takut terciprat kencing, Mat Kalil sontak bangkit. Tinjunya tepat mengarah ke selangkangan Pemimpin Rampok.

‘jlebb !’

“wadawwww !!” Pemimpin Rampok histeris. Dia roboh terjengkang. Sudah pasti masa depan ‘kesenangannya’ lenyap di tangan Mat Kalil.

Keempat perampok bersigap. Masing-masing perampok meraih pistol di sabuk masing-masing.

Mat Kalil tak kalah cepat. Dia melompat seperti kucing dan mengambil linggisnya.

‘Bhugg bhugg !’

Mat Kalil secepat kilat menyabetkan linggis ke arah punggung sang perampok. Dua perampok roboh terkena sabetan hingga senjatanya terlempar jauh di bawah meja.  

Mat Kalil mendengus. Dua perampok lain tergagap-gagap. Satu diantaranya melepas tembakan membabi buta ke arah Mat Kalil.

‘dhar dhar ! dhar dhar ! dhar dhar dhar !’

Mat Kalil berkelit melompat. Gerakan tubuhnya lincah seperti bajing.

“hoi !! cepaaaat ! tembak keparat itu !!” perampok yang menembaki Mat Kalil meneriaki kawannya yang melongo. Sontak kawannya itu meraih pistol dan ikut menembaki Mat Kalil.

“kutu kupret !! monyet pesing !! mampus kauuuu !!”

‘dhar dhar ! dhar dhar ! dhar dhar dhar !’

Lesatan peluru lebih sengit dari sebelumnya. Mat Kalil kuwalahan. Tapi bukan Mat Kalil namanya –jika tak mampu menggetarkan dada musuh-musuhnya. Mat Kalil yang berulang kali nonton adegan Keanu Reeves di pilem The Matrix mencoba meniru gerakan-gerakan sang jagoan menghindari lesatan peluru. Ya. Pilem itu ditontonnya berkali-kali sebelum vcd player-nya rusak kepanasan. Mat Kalil bergerak cepat hingga mata telanjang susah menangkap gerakannya, tapi, gerakan-gerakan Mat Kalil begitu indah saat tertangkap kamera slow motion.

‘wushhhh .. wushhh .. wushhh’  

Mat Kalil mundur, melompat, melenting, menepis, sesekali berputar seperti gasing. Ketika ada kesempatan, Mat Kalil meraih beberapa buku dan melemparkannya tepat ke arah moncong pistol para perampok.

‘dhar dhar ! dhar dhar ! dhar dhar dhar !’

Buku kasbon robek terserpih-serpih. Serpihan-serpihan kertas itu memenuhi ruangan dan menghalangi pandangan.

Mat Kalil cepat-cepat melesat menerobos serpihan-serpihan kertas. Di tangannya tergenggam linggis. Dan –

Bugghh !! Bugg !! Bugg !! Linggis itu dihantamkan ke lutut, pergelangan tangan, dan pungggung salah satu perampok. Perampok itu roboh tanpa sempat mengaduh.

Melihat kawannya tumbang ke lantai, lekas-lekas perampok satunya mengarahkan senapannya ke posisi Mat Kalil yang hanya terpaut lima meter.

“mampus, kau ! monyet pesing !!” teriaknya marah

Mat Kalil menghindar, langkah kakinya menyerong mundur. Dia lantas menghentakkan kaki dan melenting jauh belakang. Tubuh Mat Kalil terasa ringan. Gerakannya lincah mirip gerakan bangau tong-tong.

Udara mengalir di kulit Mat Kalil. Sesaat sebelum mendarat, kakinya sedikit menekuk seperti roda pesawat hendak mendarat. Tiba-tiba –

‘Srrttt … gedebuggg !!’

Mat Kalil jatuh terjerembab. Tubuhnya limbung membentur lantai.

“uhhhh .. hh …kampreeeetttt … sial bener .. aduuuhhh, padahal tinggal satu ..”

Mat Kalil kesakitan. Cairan kencing membuat lantai jadi licin. Kakinya terpeleset saat mendarat.

“hahaha .. Sekarang mampus kau !” teriak sang perampok sambil melangkah mendekat. Moncong senapan tertuju ke arah Mat Kalil yang tengah memegangi kakinya.

“hehehehe .. ucapkan pesan-pesan terakhirmu,” ledek sang perampok sambil menempelkan moncong pistol di kening Mat Kalil. Mat Kalil menatap wajah sang perampok tanpa rasa gentar.

“kau ini .. baumu melebihi kambing .. ” Mat Kalil berkata penuh emosi.

“kambing yang ketiaknya empat saja tak bau sepertimu !” Mat Kalil menghentikan kata-katanya. Mengatur nafas. “sehabis merampok tempat ini, uangmu pasti banyak. Pergilah cari minyak wangi semprot .. di Alfamart ada … atau .. kalau kau masih pelit mengeluarkan duit buat menghilangkan bau busuk itu, pakailah gerusan kapur barus, urap di ketiakmu .. hukk .. hukk .. hoeekkk !!”

‘plakkkk !!’ rahang Mat Kalil ditempeleng gagang pistol. Perampok itu marah. Mat Kalil yang pura-pura muntah terjengkang ke samping.

“hhhh .. hh.. kalau .. kalau tak percaya .. cium sendiri ketiakmu ..” Mat Kalil tertawa meledek sambil memegangi rahangnya yang ngilu.

Tiba-tiba perampok itu penasaran. hidungnya bergerak-gerak, mengendus.

‘Psh-psh psh-psh’ hidung perampok itu mengendus lengannya, turun ke ketiak. Gerakan hidungnya mirip tikus celurut.

Tiba-tiba secepat kilat, ‘plakkkkkk !!’

“wadawww !” brgghhhh ..

Kaki Mat Kalil memutar seperti penari breakdance. Putaran kakinya menghantam lutut perampok hingga roboh terpental.

Perampok itu pingsan. Seluruh perampok akhirnya berhasil dilumpuhkan.

Mat Kalil bernafas lega, sambil menahan sakit, dia berupaya bangkit. Mendadak daun pintu didobrak dari arah depan. Peleton Detasemen-Khusus menghambur memasuki ruangan.

“hati-hati ! periksa seluruh ruangan !” terdengar teriakan seorang perempuan. Mat Kalil tersenyum kecut.

“huh .. beginilah kalo urusan macam ginian dipegang perempuan. Ujung-ujungnya pasti telat,” gerutu Mat Kalil dalam hati.

Dari arah pintu tiba-tiba secercah sinar berkelebat. Bola mata Mat Kalil memicing. Sesosok perempuan muncul menembus sinar. Dia melangkah mendekati Mat Kalil.

Bola mata Mat Kalil yang awalnya memicing perlahan-lahan membesar. Perempuan yang mendekatinya ternyata cantik, manis, berambut rapi, bahenol luar biasa. Di mata Mat Kalil –perempuan berseragam hitam-hitam itu sangat tidak cocok jadi polisi, cocoknya jadi pemenang miss universe 2013.

Ternyata seperti dugaan Mat Kalil, perempuan cantik itu komandan peleton detasemen khusus. Mat Kalil tersenyum dalam hati. Sementara anak buah sang Komandan terlihat celingak-celinguk persis monyet mencari kutu.

Langkah sang komandan semakin mendekati Mat Kalil, wajah cantiknya bercahaya, dan –perempuan itu tersenyum manis kepada Mat Kalil, namun –

‘plak-plak  !!’

“Mat ! Mat !  Ada penumpang, Mat !”

Perempuan cantik itu menampar-nampar pipi Mat Kalil. Mat Kalil heran.

“Mat ! Bangun, Mat !! Ada penumpang, Mat !!”

Tiba-tiba pemandangan di depan Mat Kalil menguning kabur. Berangsur-angsur kekaburan itu jelas kembali.

“kau ini ! mlungker saja kayak trenggiling !!” Cak Udin bersungut-sungut sambil memandang Mat Kalil, heran. “bangun ! Atau kutampar lagi pipimu ! lihat itu ! ada penumpang !” katanya lagi, sambil geleng-geleng kepala.

Mat Kalil yang tergagap meraih handuk di leher, lekas-lekas mengelap air liur di bibir. Dengan gerakan cepat, Mat Kalil melompat dari becaknya. Mendadak –

“waw !” ujar Mat Kalil. Spontan bola matanya membesar.

Perempuan yang ingin menaiki becaknya ternyata perempuan yang datang dalam mimpinya. Berwajah cantik, manis, rambut sebahu, liuk tubuhnya bahenol luar biasa. Ditambah lagi dia mengenakan seragam hitam-hitam. Ah, perempuan itu tersenyum kepada Mat Kalil. Mat Kalil cengengesan.

“mari, Bu, silakan naik,” Mat Kalil mempersilakan, sopan.

Saat becak mulai dikayuh, Mat Kalil tak kuasa membendung penasaran. Tiba-tiba –

“ibu ini komandan polisi ya, dari kesatuan khusus yang tugasnya menangkapi teroris, hehehe ..”

Sontak perempuan cantik itu terperanjat. Dia tak menduga penyamarannya bocor begitu cepat. Perempuan itu melompat dari becak Mat Kalil. Tubuhnya melenting teramat ringan.

Perempuan itu mencengkeram baju Mat Kalil.

“siapa yang memberitahumu ?! siapa yang membocorkan ?!! jawab !!” perempuan cantik itu marah luar biasa.

“ampun, Bu. Ampun … saya .. saya cuma nebak ..” Mat Kalil ketakutan. Tingkahnya serupa kucing siap digebuk.

 “bohong !! Kau pasti bohong !! Kau dari kesatuan mana ?!” cengkeraman perempuan itu lebih erat. Mat Kalil menggigil.

“saya .. saya .. dari kesatuan tukang becak, Bu. Suuummmpahhh,”

“bohong !! kau pasti bohong !!”

 

***

 
Leave a comment

Posted by on January 28, 2013 in pepatah hancur

 

Silakan berkomen,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: