RSS
Aside
22 Oct

Aku berfikir di antara tengara,

berjalan gontai,

di waktu gontai,

laksana singa yang terluka . . .

di balik seragam usang laskar-laskar hati,

pedang yang berdenting-denting,

peluru yang meletup,

atau mortir yang berdentum . . . .

aku masih berfikir di antara tengara,

berjalanku haus,

di waktu kudus,

bagai lilin  yang menyala . . .

kini aku terhenti di sini,

di sudut puing-puing reruntuhan . . .

tertampak olehku peri-peri kecil yang bersinar,

bernyanyi-nyanyi kepakkan sayap-sayap jingga,

dalam cinta . . .

dalam rasa . . .

² Di hampar langit ada ketegaran,

di keras karang ada keteguhan,

tapi . . .

di puing-puing hanya ada luka,

di reruntuhan hanya ada kehangusan,

saat ini aku hanya berkata kepada hati,

berhadaplah kau di kala malam

saat langit sedang berbintang,

laksana pernik lukisan . . .

carilah  kekudusan . . .²

Malang, 08 juni 01 05.00 am

Puisi : Peri Kecil

 
Leave a comment

Posted by on October 22, 2012 in Puisi

 

Tags:

Silakan berkomen,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: