RSS

Novel Anak-anak Ombak : Mawar Putih (3)

04 Oct

Ke-2 : MAWAR PUTIH,

Alam terkembang menjadi guru, melingsirkan matahari dan rembulan bergantian, menggantikan bintang-gemintang dengan rekahan fajar dan kabut pagi.

Ya, demikianlah sentuhan keajaiban berjalan. Detak waktu bagai malaikat yang menyentuhi seluruh kehidupan di muka bumi. Kecil menjadi besar, yang semula terkuncup kini mekar merekah. Tak ada elemen kehidupan yang diam, semuanya bergerak, segalanya berubah. Sebagaimana ribuan krisan –chrysanthimum grandiflorum  yang kini penuh mengembang. Warna kelopaknya yang ungu tua, melukis kecantikan yang dingin, anggun nan elegan. Bunga-bunga krisan itu tertanam rapi berderet memanjang, menyuguh keindahan eksotik yang jarang dijumpai ketika bermekaran di padang luas, yaitu kebun-kebun bunga yang membentang luas di alam bebas.

Ribuan krisan beraneka warna itu hanyalah sebagian kecil penghuni tempat ini, tempat dengan hamparan kebun-kebun bunga dan ribuan kembang hias. Ada petak kebun yang dipenuhi kembang mawar, juntaian cemara udang, liukan cemara gunung, bambu air, aneka jenis palmae, bahkan puluhan tanaman hias dari jenis anthurium.

Tak cuma itu, di punggung-punggung lembah yang melingkari kebun-kebun bunga, berbarislah pepohonan apel yang semampai tak tinggi.  Pohon-pohon itu berjajar rapi sempurna, menjulurkan dahan yang ramping, daun yang menyirip kecil, sekaligus jutaan putik bunga yang bermekaran bersama-sama. Warna bunganya yang putih mungil sekaligus wangi, menyaji ornamen kecantikan yang sederhana. Bagai lukisan elegan yang digores tangan Sang Mahasempurna, keindahan di tempat ini begitu seimbang, semua  nampak tak punya cela.

Di sebelah barat, lanskap gugusan bukit berhutan pinus yang hampir seragam tinggi puncaknya. Lanskap itu terbentuk dari terrain dataran tinggi 1000 meter di atas permukaan laut (mDPL). Gugusan bukit itu perlahan melandai ke sisi timur, membentuk paparan luas yang kemudian dihuni jutaan manusia.

Di ujung selatan, terdapat gugusan pegunungan Kawi. Pegunungan itu memanjang dengan ketinggian rata-rata 2300 mDPL. Pegunungan Kawi terbujur dari utara ke selatan –membentuk sketsa kasar seorang puteri yang tidur terlentang. Tubuh sang Puteri rebah memanjang dari selatan ke utara,  dan kemudian berujung dengan puncak Gunung Panderman sebagai sketsa tonjolan kakinya.

Ya, demikianlah tempat ini. Dataran yang dikelilingi gugusan bukit berhutan pinus, paparan yang diapit dua pegunungan besar, yaitu Pegunungan Kawi dan Pegunungan Arjuno-Welirang, sekaligus areal yang ditampaki panorama rangkaian pegunungan Bromo-Tengger-Semeru di sisi timur jauh. Rangkaian pegunungan itu meliuk membentuk kurva-kurva panjang, Liukan kurva kemudian berakhir dengan bentuk strato sempurna gunung Mahameru yang terus mengepulkan debu vulkanik secara berkala.

Pagi ini, mentari memang belum terbit. Namun seluruh cakupan lazuardi beserta cerat merah sang fajar membuat langit terlihat terang. Warna biru tua Gunung Panderman 2000 mDPL menjadi ikon panorama. Puncaknya yang patah, berbentuk kerucut sempurna namun terpancung. Pagi ini punggung Panderman tertutupi uraian awan putih comulus yang berarak laksana bulu domba. Awan-awan itu bergerak perlahan, serupa sekawanan domba yang sedang merumput di padang savana langit.

***

“Gondrong ! bangun ! Sholat subuh sana. Kamu sudah kesiangan ! “ perempuan paruh baya setengah kesal berteriak di depan pintu kamar. Diketoknya pintu berulang-ulang.

“Gondrong  !  bangun, Ndrong ! subuh hampir lewat. Habis sholat bantuin Mama. Makanya jangan nonton bola terus ! dibilang jangan tidur malam-malam !“

“Iyaaa,  Maaa !” , “UAAHH ! “ Andro menggeliat dan menguap. Namun inderanya  masih sukar merespon lantaran rasa kantuk yang menghebat.

“buruan, Ndrong ! nggak pake lama !! cepetan !!” kembali Mamanya berteriak. Diketoknya pintu kamar berkali-kali, perempuan itu kemudian  berlalu menuju dapur.

 

Andro enggan mengomentari kalimat terakhir Mamanya. Ia bergegas membuka selimut tebal sambil mengusap matanya yang  kemerahan. Selimut gambar beruang-kutub itu dicampakkannya begitu saja. Bergegas ia memakai sendal dan membuka pintu kamar sambil terhuyung seperti zombie Resident Evil. Hawa kamar tidur yang empuk dibawa pula bersama seokan langkahnya ke kamar mandi.

“habis sholat bantuin Mama nyiapin toko bunga, sirami bunga-bunga pot, bersihkan daun-daun kering .. dan .. jangan lupa menyapu halaman,” teriak Mamanya dari dapur

“yah Mama, itu kan tugas Zweta, Ma” sahut Andro yang berhenti sambil mengucek mata

eits, Mama nggak butuh komentar macam itu, yang jelas toko bunga harus siap dalam tempo yang sesingkat-singkatnya ..”

“kayak teks proklamasi aja, Ma. Pake tempo yang sesingkat-singkatnya segala,” gurau Andro

“udah buruan sholat !! pake ngajak berdebat Mama segala ! sudah siang !”

“Iya-iya, Ma. Perintah segera dilaksanakan,”

 

Sementara Andro beringsut ke kamar mandi, Mamanya bersibuk diri menyiapkan sarapan di dapur. Saat-saat seperti inilah yang acapkali menerbitkan senyumnya. Ya, senyum penuh kebanggaan menyaksikan kedua buah hatinya beranjak dewasa. Zweta Mahardikaning Pertiwi, putrinya, menginjak semester 3 jurusan Teknik Sipil Universitas Keprabuan, salah satu universitas ternama di kota tetangga yang berjarak 70 kilometer dari rumah, sementara Andro Radikalismo, tercatat sebagai mahasiswa Hukum semester 7 di kampus yang sama.

 

Musim baru saja berganti. Tak seperti bulan lalu yang berangin kencang, bulan ini adalah bulan yang membawa hawa dingin luar biasa. Gigitan suhu 12 derajat celcius terasa seperti tusukan benda tajam di sendi tubuh. Di punggung-punggung bukit, pepohonan pinus –pinus merkusii telah berhenti menari. Liukan pohon pinus yang sebulan lalu seakan-akan mampu mencerabut akarnya yang kokoh telah tenang kembali. Memang, tiga puluh hari yang lalu di tempat ini hembusan angin begitu kuat, hembusan yang mengalir di sela dedaunan pinus terdengar seperti desau harmoni serentak. ’ssswwshhs… sswwwss …. ssrrrrrrrkkk’. Penduduk desa menamai masa datangnya angin dengan ”mangsa pratondo”,  yaitu masa yang memberi petunjuk bahwa musim hujan telah berlalu. Setelah mangsa pratondo lewat, bulan berikutnya pastilah diikuti musim dingin yang penduduk desa biasa menyebutnya ”mangsa bediding” –awal dari datangnya musim kemarau kering.

Namun seperti tahun-tahun sebelumnya, pergantian musim takkan mempengaruhi sendi kehidupan penduduk desa. Roda kehidupan penghuninya menggeliat sejak sebelum subuh. Mobil pickup lalu-lalang mengangkuti hasil bumi ke kota.

Di salah satu sudut desa, beberapa perempuan muda tengah menyapu halaman. Ikatan  lidi disapukan kiri-kanan, arah ayunan semakin lama semakin menuju ke satu arah, ketika sampah telah terkumpul, mereka memunguti sampah menggunakan tangan dan kemudian  memasukkannya ke dalam keranjang anyaman bambu. Sejurus kemudian, mereka membersihkan patahan ranting sambil sesekali merapikan bunga hias yang terpajang rapi di halaman. Turis domestik maupun mancanegara biasanya ramai berkunjung di akhir pekan. Mereka ber-agrowisata dan membeli oleh-oleh tanaman hias yang memang harganya paling murah dibanding tempat lain. Di halaman rumah penduduk desa, bunga-bunga pot tertebar bermekaran. Berbagai jenis bunga tumbuh dengan indahnya. Mahkota bunga sepanjang tahun bebas merekah mengelopak warna-warni.

 

Mawar Putih, begitulah nama desa yang terletak di paparan plateau pegunungan Arjuno-Welirang dan gugusan pegunungan Kawi ini.  Sebuah desa yang dikelilingi gugusan bukit setinggi 1500 mDPL. Di sebelah utara desa, bukit Sumber Brantas mengadiahkan umbulan mata-air yang memancarkan aliran kehidupan sepanjang waktu. Kumpulan mata-air yang memancar dari sela-sela tebing merupakan arboretum dari sungai Brantas. Nantinya, aliran sungai itu semakin besar hingga mampu melingkari dan membelah kota-kota besar di Jawa Timur.

Lembah-bukit di sekitar arboretum masih dirimbuni belantara pepohonan. Kawasan dengan suhu rata-rata 10° celsius ini ditetapkan sebagai kawasan konservasi dan hutan lindung. Tak jauh dari Bukit Brantas, mata air panas menyembul di lereng Gunung Welirang –dari sebuah taman hutan raya yang dikenal sebagai kawasan Cangar.  Dari tempat itu, panorama gunung dan gugusan kebun sayur memenuhi mata siapapun yang mencari keteduhan. Tegak gunung Welirang dengan ketinggian 3100 m DPL menjadi panorama yang memukau. Asap belerang yang sepanjang waktu terkepul dari kawah, menghiasi puncaknya yang berbentuk seperti perahu tertelangkup.

***

08.30 WIB

“kamu yakin Zweta ada di rumah, Ran ?”

“yakin, memangnya kenapa, Drey ?” Rania yang mengemudikan mobil menatap sekilas Audrey di sampingnya. Selanjutnya ia berkonsentrasi dengan jalan raya yang berkelok.

“lah kita kan nggak pake nelpon dia dulu .. kalo sampe dia nggak ada di rumah, rugi dong datang jauh-jauh,”

“nggak akan rugi, Drey. Setidaknya kita bisa tahu rumahnya,” celetuk  Asti di jok belakang. Perempuan lembut itu melirik sahabatnya sembil tersenyum.

“aku yakin kalau dia nggak pergi kemana-mana. Palingan juga ngendon di rumah. Ini kan masih musim liburan, kalian aja yang aneh dan dateng lebih awal ke kampus,”

“aku suntuk di rumah, Ran. Nggak ngapa-ngapain .. palingan diajak sparring sama Kakak, bosen,” tukas Audrey yang memang menekuni beladiri.

“kalo aku sih pengennya nyiapin materi kuliah lebih awal ..” sambung Asti

“tuh, Ran. Kalau pengen cumlaude kaya Asti, mesti gitu caranya,”

“duh, jangan gitu-gitu amat, Drey. kalimatmu nggak enak didengar,” suara Asti menyirat keberatan

“loh, emang bener kan ? kamu tuh sahabat kita yang paling humble dan brillian, As”

“iya deh, makasih. Tapi tetep aja .. aku ngrasa nggak enak hati mendengarnya,” sambung Asti yang ingin cepat-cepat mengakhiri.

“hihihi … kamu tuh memang antik, As ! alergi pujian !” celetuk Rania sambil tertawa kecil.

“memangnya kamu sudah pernah ke rumah Zweta, Ran ?” Asti cepat-cepat mengalihkan pembicaraan

“sekali sih, As. Ketemu sama Mamanya, Tante Nahla”

“dia punya Kakak, kan ?” tanya Audrey menyelidik

“ada .. di fakultas hukum, semester tujuh,”

“keren nggak ? keren nggak ?”

“mulai deh penyakitnya ..” timpal Rania

“yee .. sapa tahu, Ran”

 

Rania bernama lengkap Ferischa Rania Putri. Keanggunannya serupa anggrek “regar preme sweet” –Phalaenopsis Amabilis yang cantik sekaligus eksotik. Rambut tebalnya lurus sebahu, ujung rambutnya menekuk ke dalam. Ia hadir dengan pembawaan harmoni. Apapun yang dihadapi, ia selalu tersenyum, dan agaknya ia tahu jika senyumnya memang indah. Ya, senyum Rania memang manis. Apalagi ketika deretan gigi yang tertata rapi mengintip dari balik bibirnya, semua bersepakat jikalau gigi Rania bagai untaian biji mentimun muda yang ditata para malaikat pengukir keindahan.

Bertolak belakang dengan Rania, Ardinia Audrey Alisyahbani, perempuan berambut mayang yang dipanggil Audrey ini seolah membawa aura liar, bebas, dan penuh gairah. Bahasa tubuh yang dipancarkannya kala berbicara, bergerak, atau bahkan memandang, menggambarkan sesuatu yang dinamis. Berada di dekat Audrey seolah berada di tengah pusaran medan magnet yang aneh. Semua terasa mengalir dan karib. Banyak lelaki yang baru kenal Audrey biasanya salah faham menafsirkan sikap Audrey yang memang lepas. Akibatnya, banyak lelaki berubah sentimentil layaknya bintang film India ketika jatuh hati. Ketika mendengar lagu cinta-cintaan di dekat pohon, biasanya tangan mereka segera menggelayut sambil menggoyangkan pinggulnya kanan-kiri.

 

Di sisi lain,kawan karib mereka adalahAsti Setiawati.Sosok perempuan yang terlahir dari keluarga petani sederhana dan dibesarkan di lingkungan yang menghargai keselarasan hidup. Perempuan ini terlahir memiliki kapasitas otak melebihi manusia rata-rata, ia pun diterima lewat jalur PMDK dengan beasiswa penuh.  Kesederhanaannya seakan menjadi inspirasi kawan-kawannya. Asti yang lembut dan ramah itu dijadikan rujukan di bidang akademis.

 

***

Mobil yang ditumpangi Rania terus melaju kencang, membelah kawasan jalan raya yang mulai menanjak dan berkelok. Kawasan bebukitan  pinus di sebelah barat mulai terlihat jelas. Perkebunan apel penduduk mulai bermunculan di kanan-kiri jalan raya. Sejuk dan dinginnya udara membuat Rania membuka kaca mobil bagian samping. Rambut-rambut tergerai, Audrey tersenyum, Asti takjup menyaksikan pemandangan yang tak pernah disaksikannya.

 

Memasuki kawasan Jalan Bukit Berbunga yang menjadi jalan utama menuju kawasan Mawar Putih, Cottage, Villa, dan beberapa hotel persinggahan mulai bermunculan. Kebun-kebun strawberry menawarkan wisata petik, begitu pula beberapa kebun-kebun holtikultura yang menawarkan bibit buah dan bunga. Semakin lama jalanan beraspal semakin menanjak. Mobil yang dikendarai Rania meraung melintasi beberapa tanjakan, sementara beberapa mobil wisatawan  nampak berhenti di beberapa stan nursery di kanan-kiri jalan.

“masih lama, Ran  ?” tanya Asti memastikan

“seharusnya deket-deket sini .. coba kalian cari Edelweiss Nursery, di sebelah kiri jalan, aku takut kelewatan,” sahut Rania sambil pandangannya menilik sekilas ke arah kiri.

“Edelweiss Nursery itu rumahnya ?”

“iya .. itu toko bunganya Tante Nahla,”

“oh ..”

“itu tuh, Ran ! di depan persis !” teriak Audrey antusias.

“nah sip !” sahut Rania

“mata kamu masih awas, Drey. Kayaknya seneng nggerogotin wortel nih,” Asti tersenyum menggoda

“emangnya aku Bugs Bunny !!” protes Audrey.

“Bugs  Bunny ! cocok tuh. usilnya kan setengah mati. Tapi aku lebih sreg kalo kamu jadi Road Runner, Drey” celetuk Rania

“kok bisa gitu ?”

“kamu kan sukanya tebar pesona kaya Road Runner .. bip biipp .. giliran dikejar cowok larinya kenceng banget ! sampe setengah gila ngejarnya,”

“emangnya kamu enggak, Ran ? senior kita juga banyak yang kram otak gara-gara ngejar kamu,”

“kalo itu sih lain, Drey. Mereka aja yang nekat …”

“eh, kenapa kalian jadi debat kusir gini, Ran, Drey ? buruan turun,” sergah Asti sambil tersenyum tak percaya mendengar perdebatan kedua kawannya.

Mobil Rania tepat berhenti di halaman Edelweiss Nursery, sebuah toko bunga yang cukup besar dengan aneka macam kembang hiasnya, terutama jenis anggrek. Dari dalam rumah, perempuan paruh baya nampak bergegas menyambut.

“Rania ..”

“Zweta-nya ada, Tante ?” sapa Rania yang kemudian menyambut uluran tangan Nahla.

“Zweta masih belum turun .. mungkin sebentar lagi .. tungguin di dalam sambil istirahat ..”

“Asti”, “Audrey”, bergantian Asti dan Audrey menyambut uluran tangan  Nahla.

“kok kata Tante Zweta masih belum turun ? memangnya dia kemana, Tante ?”

“dia mendaki Gunung Panderman sejak kemarin. Kenapa kalian nggak nelpon dulu kalo mau kemari ? dia kan bisa cancel acaranya,”

“nah tuh .. apa kubilang .. nggak ada di rumah kan dia,” celetuk Audrey setengah berbisik. Rania dan Asti saling berpandangan

“dia mendaki sama siapa, Tante ?” tanya Asti

“sendirian .. “

“sendirian ?!!”

“iya, sendirian. Dia cukup sering kesana .. mungkin dia kangen karena lama nggak mendaki, minta ijin ke Tante juga mendadak,” jawab Nahla sambil tersenyum.

“Tante telpon dia ya .. kebetulan di Panderman sinyal ponselnya masih bagus ..” lanjut Nahla sambil meraih telpon genggamnya.

 

“Halo, Assalamualaikum, Sayang”

[Walaikum salam, Ma],

“kamu nyampai mana, Sayang ?” tanya Nahla lembut

[ini lagi turun .. udah di desa sih, Ma. Kenapa ?]

“kamu dicariin Rania, ”

[dia ke rumah ?], suara Zweta terdengar terkejut.

“iya, baru aja nyampe sini, sama Audrey dan Asti, ditungguin ya ..”

[oke deh, Ma. Mereka jangan boleh pulang dulu. Sejam lagi aku nyampe,]

“Hati-hati ya, Sayang”

[oke, Ma]

“Assalamualaikum,”

[Waalaikum salam, salam buat kawan-kawan, Ma]

 

“sejam lagi dia nyampai, Ran. Sekarang sudah di kaki gunung,” ujar Nahla setelah menutup telponnya

“Gunung Panderman dimana sih, Tante ?” tanya Audrey ingin tahu

“tuh ..” telunjuk Nahla menunjuk gundukan biru berbentuk kerucut terpancung di sebelah selatan. Punggungnya nampak tertutupi awan putih.

“tinggi juga ya ..” celetuk Asti

“lumayan, 2000 meter di atas permukaan air laut, cukup menguras tenaga,” sahut Nahla sambil tersenyum simpul.

“Ndrong, buatkan minum buat kawan Adikmu !” teriak Nahla kemudian. Dari dalam rumah terdengar sahutan yang tak jelas, seperti suara lelaki menggerutu.

“repot aja, Tante” kata Asti berbasa-basi

“ah nggak pa-pa, bukan Tante kok yang repot,“ perempuan paruh baya itu tertawa kecil.

Tak lama kemudian, Andro datang membawa nampan berisi minuman. Wajahnya yang menyembunyikan kedongkolan berusaha menampakkan senyum. Rambutnya yang gondrong berjuntai-juntai di bahunya.

“ini Andro, kakaknya Zweta, kalau tehnya rasanya aneh .. kalian protes saja sama dia .. dia yang bertanggung jawab,” gurau Nahla sambil tertawa kecil. Andro hanya bisa manyun mendengar kalimat Mamanya.

“Tante tinggal ke depan dulu ya, menyiapkan pesanan bunga,”

“oke, Tante” sahut Rania dan Audrey nyaris bersamaan.

“Ndrong, temani kawan Adekmu ngobrol,” gurau Nahla sebelum melangkah pergi.

“Beres, Ma. Apa sih yang nggak kulakukan buat Mama,”

“duh, kalimatnya jangan terpaksa gitu dong,” Nahla tertawa kecil mendengar intonasi suara Andro. Ia segera berlalu menuju halaman depan.

“seharian aku dikerjain Mama, biasanya ini tugas Zweta. Menyiram bunga, memotong ranting, bikin teh, bikin sambel, menggoreng tempe, jiaaahhh ..” ujar Andro yang nampak dongkol.

“sesekali kan gapapa, Kak, itung-itung latihan jadi suami yang baik,” celetuk Rania yang tak bisa menyembunyikan rasa geli membayangkan lelaki gondrong di depannya menggoreng  tempe.

“memangnya ada yang salah, Kak ¿” sambung Asti sambil tersenyum

“ya nggak ada yang salah, cuman ..”

“cuma kenapa, Kak ?” tanya Audrey tak sabar

“ya .. masa sih, style rocker tugasnya goreng tempe … itu sih bukan rocker ! pemuda tempe !”

Gubrak !

Audrey terkikik mendengar gurauan Andro, demikian juga dengan Rania dan Asti. Mereka menahan tawa.

 

“aku masih inget kamu, kamu adiknya Granada, kan ? yang di fakultas kedokteran,” ujar Andro sambil memandang Rania. Kalimatnya segera diikuti anggukan Rania.

“kalo kamu pasti yang dulu berantem itu,” ujar Andro ke Audrey.

“kok Kakak masih inget ?” Audrey terkejut

“mana bisa aku lupa dengan cewek yang bajunya acak-acakan sambil diikuti satpam, gila,” jawab Andro sambil tertawa kecil.

Kalimat Andro memantik ingatan Audrey setahun yang lalu. Saat ia berantem dengan tiga lelaki yang mengganggunya. Saat itu pagi masih menyimpan sepi. Hanya burung-burung yang bersuara dan menari di atas dahan. Di sebuah bangku permanen di pinggir taman kampus, Audrey yang saat itu berkemeja panjang warna hijau dan bercelana casual –duduk dan terbatuk. Dikibaskannya telapak tangan kiri-kanan sambil menampakkan kekesalan yang sangat. Ia terganggu dengan asap rokok yang sekian lama terkepul dan meracuni pernafasannya.

Ya, saat itu ia geram dengan kelakuan tiga lelaki yang tiba-tiba duduk tiga meter di sampingnya yang dengan seenaknya menghembuskan asap nikotin tanpa merasa bersalah. Telah lima menit kejadian itu berlangsung, namun ketiga lelaki itu terus saja ngobrol sambil mengepulkan asap rokok tanpa henti.

Saat itu tak nampak manusia yang lalu lalang, dan memang, saat itu masa libur akhir semester masih berlangsung. Hari itu hanya digunakan mahasiswa baru untuk daftar ulang di Kampus Keprabuan.

Kesabaran Audrey kian menipis. Ia pun bangkit dan merampas batang rokok yang masih terjepit di bibir lelaki bertubuh ceking, salah satu dari mereka.

Pakkk !

Audrey membantingnya kuat –kuat.

Sontak lelaki bertubuh ceking kaget tak percaya. Raut mukanya berubah, apalagi menyaksikan ekspresi tantangan Audrey saat menginjak batang rokok dengan sepatunya.

Kedua kawan lelaki ceking terhenyak. Mereka terkejut menjumpai cewek yang kurang ajar di mata mereka.

”gimana ? jadi kita beraksi ?” salah seorang kawan lelaki ceking pura-pura tak menanggapi. Ia berbisik pelan dan berusaha mengalihkan kejengkelan lelaki bertubuh ceking.

”harus .. kita harus dapat,” lelaki ceking beralih menatap wajah kawannya. Ia mengeluarkan lagi sebatang rokok dari saku bajunya.  Wajahnya menegang.

Sementara lirikan mata Audrey jatuh di antara mereka, ia menunggu sesuatu. Ketika kepulan asap nikotin lagi-lagi mengganggunya, Audrey sontak berdiri merampas batang rokok yang menyala di bibir lelaki ceking.

”hei, maksudnya apa  !! jangan kurang ajar !!” teriak lelaki bertubuh ceking seakan terluka.

Namun teriakannya hanya berbalas tatapan tajam Audrey saat menginjak kuat-kuat batang rokok menggunakan sepatunya.

Saat itu, semua yang terjadi seolah dinaungi kebebalan hati. Lelaki bertubuh ceking malah menantang dan mengambil lagi sebatang rokok. Dinyalakannya korek api yang dengan cepat merantak membakari serat tembakau. Dihisapnya kuat-kuat batang rokok hingga bergemeretak, lalu dihembuskannya asap rokok hingga menyebar kemana-mana.

”sudahlah ! fokus saja !” kawan lelaki ceking itu berusaha menenangkan.

”hari ini kita harus dapat satu,” kawannya lagi-lagi mengingatkan

Audrey diam sambil menatap lelaki ceking. Ia mengukur keadaan. Dua lelaki yang rokoknya terbuang, kini mengikuti jejak lelaki ceking menyalakan lagi batang rokoknya.

”dasar kurang ajar !” teriak Audrey yang habis kesabaran. Dengan sigap dirampasnya batang rokok dari bibir lelaki ceking dan membantingnya kuat-kuat.

”Sinting !! ”,

Lelaki ceking memberontak dan marah.

”kalian yang sopanlah sedikit. hormati paru-paru orang lain, jangan menyebar penyakit seenaknya. Dari tadi dibiarkan malah nggak tau adat,” Audrey berkata dengan intonasi yang kuat.

”makanya kalau ada asap jangan dihirup,” celetuk kawan si ceking  sambil tertawa.

”kalo alergi rokok, tempatnya di hutan, ini kan kawasan terbuka !” sambung kawan satunya

”kalian jangan merokok didekatku. Aku butuh udara bersih,” Audrey kembali berkata tenang. Ia menimbang keadaan.

 

”oke deh, maaf … ” timpal kawan si ceking dengan nada meremehkan, namun si ceking masih memperlihatkan wajah tak terima.

”cabut !!! kita cari target di tempat lain !!”  kawan lelaki ceking berbisik sambil menepuk pundak  si ceking.

Rupanya si ceking menyimpan kegeraman atas kejadian yang baru berlangung. Bibirnya panas terkena cakaran Audrey.  Kesuntukan mencari target motor curian membuat daya nalarnya buntu.

”tunggu,” lelaki bertubuh ceking berkata lirih,

Diambilnya sebatang rokok, diselipkanya batang tembakau di bibirnya yang kecoklatan.

”kamu mau merokok lagi ?” Audrey bersiap bangkit.

Rupanya lelaki ceking penasaran, gerangan apa yang akan dilakukan perempuan di depannya.

Sambil berjalan menghampiri Audrey, dinyalakannya lagi batang rokok dengan tatapan menantang. Lelaki ceking sempat sekali menghembuskan asap rokok lewat mulutnya,

SPLAKK !!!

”pheehhhh !!! BUANGSAAT !”,

Lelaki ceking terhuyung lantaran sepatu bersama tungkai kaki Audrey mendarat di bibirnya.

***

 

10.00 WIB

“salah kalian  .. kenapa nggak nelpon dulu kalo mau kemari,” tukas Zweta sambil menyandarkan ranselnya.

“kirain kamu ngendon di rumah, Non. Nggak kemana-mana,” sahut Rania

“memangnya ayam petelor ngendon di rumah,”

“Kak ..  makasih udah nemenin mereka .. sekarang waktunya undur diri deh ..  sekalian, ambilkan coca cola di lemari es,” lanjut  Zweta yang memandang Andro dengan wajah centil.

“enak aja kalo ngomong, ambil sendiri !” protes Andro

“nggak usah pake sewot dong, Kak. Sesekali jadi Kakak yang baik kenapa sih ? tahu adiknya capek habis naik gunung malah disemprot,”

“Kamu nggak boleh gitu, Ta. Kak Andro udah makan hati sejak tadi pagi,” celetuk Audrey yang tertawa kecil

“memangnya kenapa, Drey ?”

“kamu seharusnya mengerti, betapa hancurnya perasaan rocker yang dipaksa menggoreng tempe  dan bikin sambel !!” Audrey berpuitis ria sembari menahan tawa

“emangnya Kakak goreng tempe ?! duh .. kasihan kutu rambutnya kepanasan,”

“ngledek nih ceritanya, ngajak berantem,” tukas Andro

“hihihi .. nggak-nggak .. peace treaty dulu.. ambilkan coca cola yah .. please .. Kakakku tersayang nan baik hati,” wajah Zweta memelas saat mengucap.

“tapi ntar kamu mesti rapikan kamarku,” Andro mengajukan syarat.

“beres, apa sih yang nggak kulakukan buat Kakakku, si Gondrong dari gua buntu ini,” sahut Zweta yang menyeringai lantaran lelah. Ia tak ingin berdebat lagi dengan Kakaknya. Andro pun berlalu tak mempedulikan kata-kata Adiknya.

 

“eh Kakakmu lucu juga, Ta” bisik Audrey

“bilang aja cakep, Drey. nggak usah pake malu,” goda Rania

“yee ..  bukan aku yang bilang loh ya. Emangnya dia sudah ada cewek, Ta ?”

“ada, tapi nggak pernah diurusin. Dia tuh cuek banget, Drey .. heran .. kalau nggak saking sabarnya tuh cewek, udah ditendang sejak dulu. Makanya sering kuolok-olok mending pelihara monyet dan taruh di punggung daripada punya cewek tapi nggak diurusin. Paling-paling kalo monyet cuman minta jatah pisang,”

“jahat banget kamu, Ta. Kamu pikir kakakmu si Buta dari Goa Hantu yang kemana-mana bawa monyet di punggung. Menderita lagi, belum kalo monyetnya beol ato pipis di punggung, bau, kan?” ujar Asti yang tertawa tak percaya.

“anak mana ceweknya, Ta ?” lanjut Audrey penasaran

“anak Keprabuan juga, Pemuliaan Tanaman, semester lima,”

“oh,” Audrey berekspresi pelan

“ngomong-ngomong ada kabar apa nih ? ” tanya Zweta sambil memandang kawannya bergantian.

“kabar ? nggak ada yang penting, Ta. Nyaris nggak ada yang berubah,” jawab Rania

imposible, nggak mungkin, kabar anak-anak kampus ? atau newsmaker yang satu ini ?” sergah Zweta sambil memandangi Audrey.

“kok aku lagi yang jadi korban,”  Audrey meminta penjelasan

“bukan kamu yang jadi korban, tapi berapa cowok lagi yang jadi korban kamu,” tukas Zweta.

“kalo itu nggak usah ditanya, Ta. Dia lagi kebingungan nolak Baldo,”

“Baldo ? Baldo senior kita ?”

“Iya, siapa lagi. Yang dijulukin Audrey Si Gondhes, gondrong ndeso ..”

“ya Tuhan, Drey. Kasihan lagi, dia yang ngerjain tugas kamu semester kemarin, kan ?” celetuk Zweta

yup itu orangnya, Ta. Kayaknya kawan kita yang satu ini mesti dikasih pelajaran biar nggak seenaknya bikin patah hati lelaki. Gara-gara Audrey, si Baldo sekarang gegar otak. Magnet kewarasannya bergeser,”

“Sampe segitunya, Ran ?”

“iya, Ta. Tingkahnya jadi loyo, persis singkong rebús, padahal dulu pas ngospek kita kan sok gagah gitu. Kayaknya dia berharap banyak sama Audrey,” Rania menambahkan.

“kamu ada masalah, Drey ?”

“masalah ? masalah apa, Ta ?”

“kamu tuh keseringan bikin patah hati cowok, Drey”

“yee .. mereka aja yang ketengilan ..”

“bukan gitu, Drey. Mendingan kamu kayak Rania tuh, konsisten nggak pake tebar-tebar pesona, semua cowok di kampus tahu kalo Rania enggan pacaran, jadi mereka juga nggak akan mempermalukan diri dengan resiko ditolak Rania,”

“memangnya aku nggak kayak gitu?”

“beda, Drey. Kamu tuh beda. Vivere peri coloso. Nyrempet-nyrempet bahaya. Itung aja berapa cowok yang udah nembak kamu setahun ini,”

Audrey tertegun mendengar kalimat Zweta. Ia sendiri tak percaya.

“oke, aku akan berubah .. tapi bertahap ya,” Audrey berkata sambil mengerling

“Dasar !” Rania berekspresi

“nih  …” Andro tiba-tiba berdiri di belakang Zweta sambil tangannya menyodorkan coca cola.

“lama banget ! dipecat Mama tahu rasa ntar,”

“emangnya aku pembantu ?!! “ Andro bersungut-sungut tak terima

“punya Adik satu aja reseknya minta ampun, kalo nggak mau kuminum sendiri nih ..” tukas Andro

eits, jangan, Kak. Bercanda .. gitu aja marah,”

Kalimat Zweta yang asal nguap membuat Andro habis kesabaran. Ia berlalu menuju Mamanya yang sedang merangkai pesanan bunga.

“ada kabar apa lagi di kampus, Ran ?” tanya Zweta sambil menenggak minuman.

“nggak ada, tapi kayaknya ada desas-desus tentang alih fungsi hutan kota di Jalan Pahlawan,”

“alih fungsi hutan kota ? wah, masalah serius nih. Kamu denger dari siapa ?” Zweta nampak terkejut

“beberapa hari ini surat kabar berpolemik, Ta. Biasa, penyakit lama birokrat kambuh lagi, tapi semoga saja nggak jadi. Kalo sampe hutan kota di jalan Pahlawan dialihfungsikan, situasi pasti panas,”

***

 
Leave a comment

Posted by on October 4, 2012 in Novel

 

Tags:

Silakan berkomen,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: