RSS

Novel Anak-anak Ombak : Jalan Pahlawan (4)

04 Oct

Ke-3 Jalan Pahlawan,

“fotoku kok nggak ada, Ma,“ Zweta keluar dari kamar dengan wajah penasaran. Ia berjalan menuju  Mamanya yang sedang mempersiapkan sarapan pagi.

“foto kamu yang di danau ?” tanya Mamanya sambil menatap lembut.

“iya, Ma. Foto yang di danau,”

“foto itu sudah Mama masukkan di daypack kamu yang kecil,” jawab Mamanya sambil tersenyum. Dilihatnya Zweta perpakaian rapi dengan celana cargo yang dipadu kemeja warna hijau.

Pantesan nggak ketemu, pikir Zweta dalam hati.

“sudah lengkap semua, Sayang ? jangan ada yang tertinggal,”

“sudah, Ma. Sudah semua,” jawab Zweta sambil berlalu.

 

Zweta kemudian memasuki kamar. Ia memutar instrument berjudul Felitsa, sebuah komposisi yang diciptakan Yiannis Hrysomallis, Yanni,  untuk Felitsa, ibunya.

aku tak bisa membayangkan keharuan Felitsa itu  saat mendengarnya, Zweta menyimpan kekaguman,

Komposisi musik menggambar penghormatan agung. Elemen musik berpadu menyusun simfoni yang harmoni. Intuisi Zweta mengalir mengikuti alunan musik yang memanja batinnya. Ditariknya kursi kayu di belakang meja belajar, ia pun duduk tenang sambil meraih secarik kertas dan bolpoin.

Zweta menulis kata demi kata intuisinya pagi ini.

“Tuhan,

kulukis cintaMu padaku

atas wajah perempuan agungku.

Yang katanya, lembutnya, senyumnya  :

Adalah nyata gambaran surga.

 

Labirin  takjubku bergetar

 kala kening kecilku terkecup bibir perempuan itu.

 

Yang dalam pendar matanya,

kulihat teduhjiwa

Yang dalam belai halusnya,

kurasa buaian tak terkata

Yang dalam langkahnya,

kutafsir tegarjiwa

 

Tuhan,

Sedemikianlah kugambar rasa cintaMu padaku,

atas wajah perempuan agungku.

Yang cintanya, tawanya, ikhlasnya  :

Adalah nyata gambaran surga. Untukku”

 

Zweta menekan pangkal bolpoin di dagu ketika berhenti menulis. Kata demi kata adalah kekasihnya, sementara suara musik tetap mengalun mengiringi intuisinya berbicara.

***

 

“Adik, sudah beres semua ? kalau sudah selesai, buruan sarapan. Nanti keburu siang,”

Perempuan paruh baya setengah berteriak sambil menata sarapan di atas meja. Ditatanya bakul nasi –lauk –dan sayur membentuk lingkaran yang rapi. Perempuan itu kemudian menyiapkan tiga piring nasi agar tidak terlalu panas ketika disuap. Kepulan uap nasi  menebar aroma harum ke penjuru ruangan.

”Sudah siap semua, Ma” sahut Zweta sambil menenteng tas punggung. Ketika Zweta sampai di meja makan, diletakkannya tas di tepi meja.

“si Gondrong juga sudah siap tuh jadi bodyguard,“ perempuan paruh baya tersenyum bangga melihat putrinya beranjak dewasa.

”jangan ada dokumen yang tertinggal, Sayang” Mama melanjutkan lagi.

“sudah semua kok, Ma,” Zweta membalas senyum Mamanya.

 

Mendadak dari kamar Andro terdengar musik rock klasik yang diputar kencang-kencang.

”mulai lagi, Dik,”

”kumat, Ma.” Zweta menggeleng pelan. Mamanya menanggapi komentar Zweta dengan senyum tak percaya. Zweta kemudian bergegas menuju kamar Andro,

Raungan Andro yang jauh dari keindahan berpadu dengan lengkingan Ian Gillan, sang vokalis Deep Purple. Ia berusaha keras mengimbangi lirik lagu Black Night sambil berlagak layaknya rockerstar di depan kaca. Tangannya sesekali mengepal ke udara persis petugas Koramil menjumpai pedagang petasan, terkibas-kibas membentuk putaran aneh mirip bebek kebelet kawin, bahkan terkadang menunjuk –nunjuk bayangannya sendiri di depan cermin. Ia menirukan tingkah polah sang rockstar di atas megapentas, namun entah, tingkahnya lebih mirip penyanyi keliling miskin saweran yang sedang show di atas podium. Bahkan ketika melodi gitar terdengar dominan, spontan jari tangannya menirukan aksi gerakan Ritchie Blackmore, sang gitaris legendaris Deep Purple.

 

”dasar gila !” teriak Zweta menyaksikan tingkah kakaknya yang kacau di depan cermin. Namun Andro tak peduli. Kaki kanannya bergerak ritmis menghentak-hentak.

Black night  .. is not right  … I don’t feel … so bright ..”

”woi ! buruaaannn !! udah siang nih, Kak” Zweta berteriak jengkel sambil memukul-mukul daun pintu.

I don’t care  … to sit tight ..” Andro tak mempedulikan Zweta. Tangannya kembali mengepal persis hansip memergoki maling jemuran.

”duhhhh, nggak lucu  !! jayus !! rocker tempe !! gondrong berkutu !!” Zweta protes sambil berusaha membalas. Ia tahu aksi Andro dilakukan untuk memancing emosinya. Zweta akhirnya memilih menyingkir.

Dan benar saja, sepeninggal Zweta, aksi rocker jadi-jadian  perlahan-lahan mengendur,  Andro kemudian menyisir rambut gondrongnya diiringi lengkingan suara Ian Gillan yang kian meradang. Di depan cermin, ia berkaca sambil sesekali nyengir tanpa maksud. Mungkin untuk menemukan ekspresi sintesis hingga dirasanya lebih macho dan jantan.

Sementara, di dinding kamar Andro, terpajang foto-foto kala ia melakukan ekspedisi pendakian. Namun foto yang mencolok adalah foto yang paling besar, sebuah foto ketika dirinya berpose mengepalkan tangan di puncak gunung Rinjani. Namun di atas itu semua, di atas meja belajarnya, terdapat foto close up sosok perempuan berwajah lembut yang tersenyum manis sambil memegang setangkai mawar.

***

Zweta menghempaskan tubuh di kursi makan. Tak lama kemudian, Andro menyusul dan langsung duduk di depan Zweta. Bibir Andro menyungging senyum puas menyaksikan adiknya menahan jengkel, sementara lamat-lamat terdengar Ian Gillan menyanyikan lagu  Smoke on the water.

Anthurium yang kamu tanam itu kayaknya bermasalah, Dik. Pertumbuhan daunnya nggak begitu bagus,”  Mama yang membawa piring berisi lauk memecah kedongkolan Zweta.

“kenapa bisa begitu, Ma ? mending nanya Kak Amalia,” sahut Zweta sambil menoleh

“itu si Amalia nggak pernah kamu ajak kesini lagi, Ndrong,” Mama berkata datar. Diingatnya perempuan bernama Amalia, mahasiswi jurusan Pemuliaan Tanaman yang menjadi kawan dekat Andro.

“yah Mama, jelas saja. Mana tahan Kak Amalia sama si Gondrong dari Gua Buntu ini. Sudah galak, nggak ada perhatian sedikitpun. Punya cewek satu aja malah dicuekin. Kalo begitu caranya sih mending pelihara lutung dan taruh di punggung. Nggak akan protes kalo dicuekin. Paling-paling minta jatah kacang,” kata-kata Zweta meluncur spontan seperti air terjun. Setelah menyelesaikan kata-kata, dilihatnya wajah sang kakak sambil tersenyum nakal.

“mulai lagi, kumat rese nya ! berangkat sana sendirian !” Andro kumat sewotnya. Baginya kata-kata Zweta terdengar seperti tabuhan genderang perang.

“Adek, kamu jangan terus-terusan ganggu Kakakmu. Lagi sensitif,“ intonasi suara Mama turut menggoda.

“Biarin, Ma ! Rasain,” Zweta cekikikan di atas angin sementara Andro bersungut sungut.

“sudah-sudah, sekarang waktunya makan !, stop berantemnya ! gencatan senjata dulu. Dasar kalian ini,” sela Mama Zweta, dihelanya nafas panjang sambil menggeleng pelan.

 

Mendengar kata-kata Mamanya, Andro menancapkan sendok makan hingga terlihat tegak di atas nasi. Diperlihatkannya wajah jengkel, sementara Zweta terus tersenyum mengekalkan kemenangan.

“sudah Sayang, saatnya makan, berdoa dulu,“

Zweta dan Andro lebih serius mendengar kalimat Mamanya.

”siapa giliran mimpin doa ?” perempuan paruh baya bertanya lembut

”Mama dong, kemarin kan aku,” protes Zweta.

”ah iya, Mama lupa .. ”

“Bismillahhirrahmanirrahim. Tuhan yang Maha Baik, terima kasih atas karunia yang Kau berikan kepada kami di masa lalu, sekarang, dan masa depan. Jadikan kami teguh menghadapi semuanya. dan berikan kami kemudahan untuk memahami petunjukMu dalam menjalani kehidupan yang akan datang. Amin”

“Amin,” Zweta dan Andro serentak mengamini.

Setelah doa selesai dipanjatkan, Andro langsung menyerbu masakan yang sudah terhidang di depannya. Ia  lahap sekali  menyantap sayur bening dan sambel tempe kesukaannya. Zweta pun demikian.

***

 

Andro menyalakan motor tua dan mencium tangan sang Mama, demikian juga dengan Zweta. Perempuan paruh baya itu mencium kening putrinya penuh cinta.

”Hati-hati, An”, ”Hati-hati, Sayang,” Perempuan itu menatap dalam-dalam wajah kedua buah hatinya.

”beres, Ma” sahut Andro cengingisan. Sementara Zweta melempar pandangan dan tersenyum kecil.

Dari arah belakang, sosok lelaki tua berbadan tipis –bersarung dan berpeci haji melangkah sedikit terseok. Suara terompahnya menetak aspal, goyangan tubuhnya yang khas serupa liukan batang padi tertiup angin.

”Zweta,” teriak lelaki tipis itu dengan suara serak, senyumnya menghias gurat keriput wajahnya

”Kakek,”, ”Bapak”, Zweta dan Mamanya nyaris bersamaan menoleh ke belakang

 

”Kek, Zweta berangkat ke kampus hari ini, liburan sudah habis,” Zweta tersenyum lembut dan mencium tangan lelaki tipis itu. Sementara Mama dan Andro tersenyum hormat.

”Hati-hati di jalan,”  lelaki tua itu berkata lembut. Dirogohnya saku baju, tangannya kemudian menyodorkan selembar uang duapuluh ribuan.

”nggak usah, Kek,” Zweta menolak lembut uluran tangan lelaki itu. Ia malah merangkul dan memeluknya.

”ya sudah. Hati-hati di jalan. Jangan lupa berdoa,” lelaki tipis itu akhirnya menyerah.

endro ! jangan ngebut !” lelaki tua itu memperingatkan. Mendengar itu Andro hanya cengar-cengir sambil mengucap salam.

 

Motor Andro kemudian melaju membelah hawa dingin dan kabut pagi. Kepulan asap knalpot berhamburan mencari ruang, roda-roda melaju kikuk di antara deru mobil pengangkut sayuran yang berjalan lambat karena overload.

Bukit-bukit di sekitar Gunung Panderman mulai terbelai matahari pagi, pepohonan cemara dan pinus nampak terang. Sementara cahaya yang semula biru tua perlahan-lahan mulai memucat. Diiringi cahaya matahari pagi, perempuan desa mulai  turun ke kebun-kebun bunga.

Motor Andro terus melaju dengan kecepatan tinggi. Asap putih yang terkepul dari knalpot serupa cerobong pabrik yang tak henti-hentinya berproduksi. Motor yang usianya hampir sama dengan Andro itu masih terlihat tangguh di jalanan. Bodi tipisnya meliuk lincah di sela-sela kendaraan laksana kuda para  ksatria yang berlari lincah di medan pertempuran.

Andro mengendarai motor tuanya sambil bernyanyi, ia menggoyangkan kepala mengikuti irama lagu Deep Purple yang keluar dari headset ponselnya. Suaranya yang kacau beradu dengan raungan motor tua yang lebih cerewet dari ratusan bebek kurang makan. Tapi ia terus cekatan meliukkan motor walau sambil bernyanyi, seolah saja perasaannya mengatakan jikalau dirinya menjadi lelaki paling keren di muka bumi.

Selang empat puluh menit membelah jalan raya, motor Andro dihentikan lampu merah di pertigaan jalan Gajahmada. Kendaraan menumpuk, namun secara tak sadar Andro terus bernyanyi menggoyangkan kepala.

” There once was a woman, A strange kind of woman, The kind that gets written down in history,

Andro bernyanyi kencang. Suaranya melengking persis monyet berebut pisang. Ia tak sadar.

”Kak !!” Zweta berbisik di telinga Andro lantaran malu. Namun lelaki gondrong itu sadar.

”KAK !!”, Zweta jengkel dan memukul helm Kakaknya. Namun Andro tak peduli, ia terus asik menggoyangkan kepalanya.

Melihat reaksi Kakaknya yang tak sadar keadaan sekitar, tangan Zweta bergerak melepas headset yang menempel di telinga Andro.

Zzzzzzzzzztttttttttttt  !!!

Mulut Andro tepat terbuka saat Zweta melepas headset, ia sedang berjuang mengikuti lirik lagu Strange Kind of Woman. Nyanyiannya seketika berhenti, ia memasuki alam nyata ketika menyadari suara merdunya lenyap menguap.

Seluruh tatapan pengendara motor menghakimi Andro, Zweta pun menahan tawa.

”dasar gila !! rasain !!” Zweta tak kuasa menahan geli melihat Andro celingukan kanan-kiri persis pedagang mercon tertangkap Tramtib.

”ressssek !!”, Andro geram bersungut-sungut. Wajahnya seketika kaku tak lumer persis permen karet yang dikunyah terus-menerus selama tujuh hari tujuh malam.

yeee, sapa suruh teriak-teriak di jalan, suara mirip pompa air masih saja nggak ngrasa,” Zweta berusaha menahan tawa
Karena rasa malu yang tak tertahankan, Andro buru-buru tancap gas saat lampu hijau menyala. Raungan motornya teramat keras hingga terdengar mirip ratusan bebek cerewet yang mengamuk lantaran terserang penyakit cacingan.

Motor Andro melaju lurus membelah Jalan Gajahmada. Tak lama lagi, mereka akan sampai di gerbang kampus Universitas Keprabuan yang terletak di ujung jalan Pahlawan sebelah barat.

Sesampai di sebuah perempatan, motor Andro berbelok ke kiri dan memasuki ruas Jalan Pahlawan.

”kangen kampus nih, Kak” ujar Zweta sedikit berteriak. Tapi Andro tak peduli. Ia terus memacu motor tuanya yang nampak ngos-ngosan didera umur.

Bola mata Zweta berbinar mengagumi taman boulevard yang ditutupi rerumputan dan aneka bunga-bunga hias. Pot-pot bunga berukuran besar  berada di tengah boulevard, sementara pepohonan akasia di tepi trotoar menjulurkan rimbun dedaunan yang teduh menaung. Jalan Pahlawan sangat terkenal dan menjadi ikon kota karena memiliki boulevard-boulevard besar berisikan taman-taman kota.  

Tersebar puluhan institusi pendidikan di sepanjang jalan Pahlawan. Kampus Universitas Keprabuan, Universitas Keguruan, Institut Teknologi Rekayasa, Universitas Terbuka, sejumlah Sekolah Dasar, Inkubator Bisnis, sekolah SMU, SMP, bahkan Taman Kanak-Kanak. Kawasan yang sejuk dan nyaman membuat Jalan Pahlawan menjadi tempat yang kondusif untuk menuntut ilmu. Terlebih dengan kehadiran hutan kota yang rindang, teduh, dan menjadi paru-paru kota.

Motor Andro melaju memasuki kampus Keprabuan. Motor renta itu melaju lurus di jalan utama kampus yang lebar dan dibatasi pedestrian di kanan kiri. Di sebuah areal yang cukup luas, hutan kampus menyajikan pemandangan yang teduh. Zweta tersita perhatiannya saat menyaksikan kelepak burung gereja –passer montanus yang melesat dari dahan ke dahan.

***

 
Leave a comment

Posted by on October 4, 2012 in Novel

 

Tags:

Silakan berkomen,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: