RSS

Novel Anak-anak Ombak : Gazebo (5)

04 Oct

Ke-4 GAZEBO

Dado, dikaruniai wajah memelas seperti kebelet nangis. Wajahnya mengguratkan tekstur yang teramat haru dan melankolis. Ia lebih tepat dikatakan sebagai lelaki berwajah eksentrik jaman malaise. Jaman ketika kelaparan dan kemiskinan merajalela akibat letusan Gunung Tambora di Pulau Bima. Tapi bicara lelaki yang satu ini takkan dipisahkan dari dua hal, yang pertama jambul kakatuanya yang melengkung sempurna persis clurit madura, yang ke dua adalah bangunan kayu beratap sirap, Gazebo, yang tepat berdiri di samping pedestrian.

Gazebo bagi banyak mahasiswa menjadi bangunan yang sakral. Tempat untuk berkumpul dan berbagi informasi, tempat berdiskusi, sekaligus menjadi markas besar bagi mahasiswa yang tak laku. Untuk fungsi yang terakhir, Gazebo menjadi gambaran titik nadhir kepencundangan lelaki dalam memperjuangkan cintanya. Sekumpulan pecundang berserikat, tempatnya adalah di salah satu dari tiga bangunan Gazebo, di tepi pedestrian.

Di Gazebo-lah Dado dan beberapa senior-senior buluk lainnya berkumpul menyatukan penderitaaan. Mereka betah nongkrong berlama-lama sambil cuci mata menanti mahasiswi melintasi pedestrian. Tak ayal, mulutnya bersuit-suit mupeng ketika sang target melintas sambil matanya berloncatan persis bekantan kebelet kawin. Malah kalau penyakit edannya lagi parah, mereka tak lupa menambahi suitan dengan tepuk tangan layaknya penjudi balap merpati.

Beberapa diantara yang sering nongkrong di Gazebo adalah lelaki coklat berpostur tinggi, berambut cepak, dan berkacamata. Dia adalah Damar, mahasiswa asal Jakarta yang diterima di jurusan Sipil FTSP lewat jalur PMDK. Kemudian, salah satunya lagi adalah lelaki yang akrab dipanggil Adi. Rambutnya sedikit panjang, berasal dari Boyolali Jawa Tengah. Tapi kedua orang itu bukanlah mahasiswa pecundang. Mereka di Gazebo hanya untuk memuaskan diri ngobrol atau bertukar pikiran. Adi dikenal brillian dalam bidang akademis, sedangkan Damar, lelaki itu sedikit eksentrik. Ia terkesan menutup diri.

***

Jarum jam menunjuk pukul 13.15 ketika dosen Statika mengakhiri kuliahnya. Pak dosen bertubuh pendek dan berkumis tipis, gerak tubuhnya lincah sekali. Cara berjalannya cepat, cara berpikirnya cepat, namun jika berkendara mobil selalu memilih berada di jalur lambat –setidaknya begitu pengakuannya. Ia selalu membangkitkan optimisme. Karena itulah wajah-wajah mahasiswa yang diajarnya selalu tergugah dan tak pernah diserang rasa kantuk. Efek  terparah yang dihasilkan dari model pengajaran dosen ini adalah sedikit pening. Ya, rasa ngilu di kepala akibat prosesor otak dipaksa berpikir keras. Gaya bicaranya yang cepat dan taktis mengingatkan mahasiswa kepada dalang wayang kulit ketika melakonkan perang Baratayudha. Namun eksentriknya sang dosen, ia selalu menantang mahasiswa memberinya pertanyaan.

“kalian, silahkan buat pertanyaan semuanya, baik mahasiswa baru ataupun para Kakatua yang mengulang,” ia selalu menyebut Mahasiswa yang mengulang mata kuliah dengan sebutan Kakatua, plesetan bagi Kakak Tua mahasiswa baru.

“Kalau seandainya saya tak mampu menyelesaikan pertanyaan, kalian yang bertanya langsung saya kasih nilai A,” begitu ia selalu memberikan tantangannya sambil tertawa lebar. Tantangan itu ia sampaikan tiap kali menjelaskan silabus mata kuliah di awal semester. Namun sepanjang karier sang dosen, tak pernah ia memberikan nilai A gara-gara pernyataannya itu. Seluruh pertanyaan dari mahasiswa mampu dilibasnya secara gamblang dan jenaka.

 

Pak To’at, begitu panggilan dosen eksentrik itu. Hobbynya bermain pingpong dan catur. Tercatat di seantero kampus Keprabuan tak ada yang mampu mengalahkan kelihaiannya bermain pingpong. Ajian “pukulan plintir maut” mengantar piala bergilir pingpong antar civitas akademika nangkring di ruang tamu rumahnya.

 

Lain pingpong, lain pula tanding catur. Di lain waktu ketika lengang, pak To’at berjalan gagah menyungging senyum tantangan. Ia berkeliling membawa papan catur laksana pendekar pengembara mencari lawan tanding. Langkah selanjutnya dapat ditebak, ia berlabuh di tempat nangkring para mahasiswa. Di Gazebo, di depan Himpunan Mahasiswa, ataupun di cafe untuk menemukan lawan yang mampu mengalahkannya.  Daya pikirnya yang cepat dan taktis memberikan intimidasi psikologis bagi lawan, itulah kelebihan Pak To’at. Tercatat dalam permainan catur bebas melawan mahasiswa, ia hanya sekali terkalahkan. Mahasiswa itu adalah si eksentrik berjambul clurit madura.

 

“Hei, kalau kau bermain catur denganku, tersenyumlah sedikit. Jangan pasang wajah kebelet nangis. Tak bisa berpikir aku jadinya,” Pak To’at kala itu protes lantaran konsentrasinya terkaburkan. Ia tak bisa menemukan penyebab kekacauan strateginya.

Kala itu berpuluh mahasiswa mengelilingi dua pendekar catur yang sedang melakukan perang pilih tanding. Melihat wajah Pak To’at yang kusut, penonton terbahak-bahak dan terus memberi semangat Dado untuk segera menghabisi pertahanan Pak To’at.

“ayo Do, libas Do.” kawan-kawan penghuni Gazebo menyemangati

“alaaahhh, kawan kalian ini cuma pecatur kelas Rukun Tetangga ! kelas Poskamling ! ” Pak To’at mengintimidasi mental lawan.

Dado tak mempedulikan olok-olok Pak To’at, ia terus mencari celah agar pertahanan Pak To’at jebol. Intimidasi dari Pak To’at tak mampu menggoyahkan mental bertandingnya. Ia berpikir hati-hati laksana Grand Master.

“hei. Kau ini sudah makan apa belum !, ini kukasih duit buat beli makan !, kenapa wajahmu itu ?”  Pak To’at semakin tak konsen, kerajaan caturnya berada di ujung tanduk. Ia mengeluarkan jurus culasnya untuk membuyarkan konsentrasi Dado

“Weittt !!! interupsi, Pak. Dilarang berbicara dengan pecatur yang sedang konsentrasi,” Dado semakin di atas angin. Wajah bertekstur malaise itu membuat ketaktisan Pak To’at tersungkur. Pikirannya yang taktis terpecah-pecah tak karuan, sontak saja langkah catur Pak To’at berantakan tak ada strategi. Bentengnya rebah, pertahanannya di ujung tanduk.

“sedikit lagi Do !, sedikit lagi !”, kawan-kawan Dado terus menyemangati.

“Skak !”, Dado tergirang. Ditatapnya para suporter bergantian. Beberapa dari suporter menepuk-nepuk punggung Dado.

“jangan senang dulu kau !”, Pak To’at mengeluarkan senyum culasnya. Digesernya sang Raja ke kanan. “yes !!”, seperti makan buah simalakama.

“aha ! Skak lagi Pak,” Dado menggeser Ster ke kanan. Melihat pergerakan ‘perdana menteri’ dari kubu Dado, seketika Pak To’at berwajah pucat. Kala itulah pertama kali dibukukan dalam sejarah, Pak To’at terpaksa memungut buah catur dan memasangnya kembali di barisan kerajaannya dan kerajaan Dado.

 

Semua suporter Dado bertepuk tangan, semua bersuka ria. Eksentrik tua lawan eksentrik muda, tuan taktis digulung si wajah malaise berjambul clurit madura. Sejarah kampus mencatat Pak To’at tumbang di tangan Dado, dalam waktu yang seksama, juga dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Dalam tanding catur kala itu, Pak To’at mengalahkan Dado dengan Skor 3-2. Tetapi kalahnya pecatur sekaliber Pak To’at patut dibukukan dalam sejarah percaturan di kampus Keprabuan. Belum ada pecatur yang mampu memaksa Pak To’at memungut batang caturnya, satu satunya pecatur yang mampu meruntuhkan ego pak To’at adalah Grand Master Dado. Si wajah malaise.

***

Lain Pak To’at, lain pula sosok ketua kultur mahasiswa seangkatan Dado. Posisi yang disebut “Ketua Angkatan” akhirnya dipegang oleh Kompar, panggilan akrab seorang mahasiswa yang bernama asli Komar Parawan. Tugas dari ketua angkatan adalah sebagai pimpinan kultur yang membawahi mahasiswa di angkatannya, tentunya agar himpunan mahasiswa lebih mudah berkoordinasi.

Kompar bertubuh ceking, berwajah tampan, namun berkumis jarang mirip lele dumbo. Disebut demikian karena bulu kejantanan yang tumbuh hanya berada di tepian bibir, selebihnya di bagian tengah, ia masih berusaha keras menumbuhkannya. Ia sendiri heran dan merasa khawatir, apakah ia mengidap kelainan hormon seksual sehingga kumisnya sangat jauh dari kesempurnaan.

Dulu ketika Kompar masih duduk di bangku SMP, ia sempat tinggi hati dengan kumisnya yang bersemi –ketika seluruh kawan sebayanya belum tertumbuhi bulu kumis. Ia membanggakan bulu kumisnya di depan kawan-kawan yang belum berkumis dengan kata-kata yang cukup menyentil kejantanan.

“ditilik dari ilmu pertumbuhan, kalian semua masih berada pada periode culun, masih pantas pake popok,” begitu Kompar mengolok kawan-kawannya.

 

Namun seiring waktu berjalan, ternyata bulu kumis yang tumbuh cuma yang itu-itu saja, dan di tempat yang itu-itu juga. Walau semua kawan lelakinya yang dulu minder karena berpredikat “remaja periode culun” telah berkumis lebat, Kompar masih stagnan dengan pertumbuhan yang mampet di tengah jalan. Tercatat berbagai jenis minyak penumbuh kumis telah digunakan, bahkan ia sempat bereksperimen dengan resep yang didapatkannya dari omong kosong antah berantah ketika ngelaba di pos ronda. Cairan getah bening kambing jawa adalah solusi paling jitu sebagai penumbuh rambut. Ya, resep ramuan itu didapatnya dari kawan semasa SMU yang berkumis gombyok mirip buntut musang. Prosedurnya, cairan getah bening harus dioleskan tepat di bagian tubuh yang ingin dirangsang pertumbuhan rambutnya, dan sekaligus tak boleh kena air selama 6 jam. Walhasil, pernah ketika hari raya kurban, Kompar tak melewatkan kesempatan mengabdikan diri menjadi asisten jagal kambing di Masjid kampungnya. Begitu ia mendapatkan cairan getah bening dari sela-sela sendi kaki kambing, dioleskannya cairan ajaib itu di bibir atas secara merata. Tak dipedulikannnya bau yang menyengat. Tak dihiraukannya cairan getah bening yang membuat bibir atasnya sedikit gatal sekaligus mengkilap.

Namun malang tak bisa disangkal, yang didapat bukannya rambut yang tumbuh lebat, namun semut merah yang berbaris di bibir tak ia rasakan ketika tidur. Maklum saja, ia kelelahan sehabis menunaikan baktinya sebagai asisten jagal kambing. Karena kejadian itulah, Kompar memaki-maki resep yang tak jelas jluntrungannya.

“resep laknat ! untung saja bibirku tak dijilati kucing !” begitu makinya ketika ia tersadar dari tidur dan mendapati gigitan puluhan semut gatal di bibir.

Ia pun akhirnya pasrah dan bangga dengan karunia kumis lele dumbonya.

“mungkin,  aku kena kutukan akibat menghina kawan SMP-ku,”  begitu hatinya tabah mengenang permasalahan sensitif kumisnya.

 

***

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on October 4, 2012 in Novel

 

Silakan berkomen,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: