RSS

Novel Anak-anak Ombak : Alang-alang Gunung Panderman (2)

04 Oct

Ke-1  : ALANG-ALANG GUNUNG PANDERMAN

Awal Agustus di tahun 2004,

Walau kegundahan menyelimuti hati, sosok perempuan bertopi rimba terus berjalan dengan langkah yang tegar. Kaki-kakinya tegas menapak, menyusur jalanan aspal yang lurus memanjang namun kian menanjak. Gambaran kekuatan terlukis dari goyangan ransel yang menggelayut di punggung, sementara “kompas bidik” menempel kuat-kuat bersama wadahnya di ikat pinggang.

Setelah hampir empatpuluh lima menit berjalan, perempuan itu tiba di gerbang desa terakhir sebelum memasuki areal hutan di kaki Gunung Panderman.

huhhh … istirahat dulu,” dihelanya nafas yang terburu.

Ransel yang menggelayut dilepaskan pelan-pelan, begitu pula topi rimba yang menutupi gerai rambutnya. Punggung tangannya kemudian menyeka keringat yang membasahi kening.

“Bumi Panderman .. kecantikanmu masih memukauku  ..” bisik perempuan itu sambil mengibas topi rimba di depan wajahnya.

Keletihan yang menaut tubuh dilepaskan pelan-pelan. Hembusan nafas perlahan-lahan mulai teratur, kemudian, tatap mata perempuan itu memandangi gugusan bukit beserta hamparan pepohonan apel yang daunnya sedang bersemi. Sementara tanaman kol dan sayuran lainnya, dari kejauhan terlihat serupa titik-titik lurus yang berbaris rapi sempurna.

“sudah lama . .  terlampau lama,” perempuan itu menarik nafas dalam-dalam sambil memejam mata. Nampak ia begitu menikmati harmoninya alam. Seolah sesuatu yang menggelisahkannya selama ini sedikit terlipur.

Angin senja berhembus lembut menggerai rambut lurusnya. Awan mulai memerah dengan siluet senja yang ditabur matahari. Sapaan ramah penduduk desa yang lalu lalang membangkitkan senyumnya.  Ia merasa damai.

Selang limabelas menit kemudian, Zweta bangkit untuk melanjutkan perjalanan. Ia cepat melangkah hingga tak butuh lama untuk tiba di batas desa yang memisahkan areal berpenduduk dan tidak berpenduduk, sebuah kawasan perladangan dan perkebunan.

Aku harus bergegas, limabelas menit lagi harus sampai di mata-air, dilihatnya jam tangan menunjuk pukul 16.37.

Ransel yang menggelayuti punggung terayun pelan. Ia menyusur jalan setapak yang diapit perkebunan sayur penduduk. Dilihatnya di ujung yang tak jauh, pucuk pinus bergoyang pelan tertiup angin, nyanyian panjang serangga senja terdengar sayup-sayup beriringan.

Zweta, apalah yang dicari anak manusia sepertinya selain pelarian diri. Pelarian dari ketidakmampuan mengungkap tabir gelap yang menjadi bagian dari hidupnya. Sesuatu yang absurd, kabur, bagai bayangan tak tersentuh. Bayangan masa kecil yang timbul tenggelam menjelma menjadi awan gelap yang terus menaung. Sisa-sisa kenangan yang berusaha dipertahankan, memunculkan gelombang emosi yang mengamuk dan menghantami jiwanya.

Zweta terus melangkah gontai menyusuri jalan setapak yang tak menanjak. Bunyi air yang mengaliri kebun-kebun sayuran terdengar antik bergemericik. Di ujung yang tak jauh lagi, terlihat tepian hutan pinus yang merupakan tempat pemberhentian para pendaki gunung. Disanalah, aliran mata-air Gunung Panderman bermula.

“sendirian ?” sosok pendaki gunung bertubuh tegap menyapa Zweta ketika sampai di mata-air. Senyumnya terkembang. Ia bersama keempat kawannya hampir selesai mengisi perbekalan air.

“ya, aku sendirian. Banyak yang naik ?” Zweta balik bertanya, bibirnya menguntai senyum. Diletakkannya ransel tegak di atas tanah, ia mengeluarkan botol perbekalan air.

“lumayan banyak, tadi kita sempat ketemu empat rombongan. Mereka sudah naik ke atas,” salah satu pendaki spontan menjawab.

“kalian rombongan dari mana ?”

“kita berlima dari Surabaya. Kebetulan sedang menjelajah obyek alam di sekitar sini,” jawab lelaki tegap sambil menata isi ransel. Mereka bersiap melanjutkan perjalanan.

“mau bareng ?” lelaki itu menawarkan

“nggak usah, terima kasih. Ntar aku malah jadi beban,”  tolak Zweta ramah.

“oke, kalau begitu kita berangkat dulu. Sampai ketemu di atas,” pendaki itu melempar senyum, ia pun segera beranjak sambil memanggul ransel.

Sementara kemudian pendaki lain berjalan gontai mengikuti jejak lelaki tegap. Mereka berangkat membawa kekaguman dengan Zweta, sosok perempuan petualang yang menjelajah gunung sendirian.

Zweta beristirahat sejenak di areal mata-air. Bunyi rincik-rincik air dan nyanyian serangga senja terdengar berpilinan. Tiupan angin di pucuk-pucuk pinus mendesis-desis harmoni.

Langit di ufuk barat semakin memerah, cahaya senja menasbihkan siluet indah di sela dedaunan dan dahan-dahan.

***

 Di sebuah saddle Panderman, 17.43

Sayup-sayup Adzan maghrib berkumandang dari musholah di kaki gunung. Suaranya timbul tenggelam, berpilinan dengan bunyi berisik angin yang meniupi pucuk pinus dan nyanyian serangga. Zweta berhenti. Ia duduk terpekur di atas bongkahan batu berukuran 7 x 4 meter. Bongkahan batu melentang memanjang, bagian tubuhnya menancap sebagian ke dalam tanah. Tatap mata Zweta menyapu kegelapan lembah yang diapit punggungan bukit di kanan-kirinya.

Tuhan, beri aku keteguhan hati, Zweta termenung di tengah lembah yang mulai dingin.

Punggung bukit di sebelah kanan menelan bayangannya. Tebing terjal yang berada di sebelah kiri menyisakan pohon Loh yang jangkauan dahan dan dedaunannya lebat menaung. Zweta serupa burung nightingale yang kesepian. Raganya duduk di atas batu, namun jiwanya terbang meninggalkan lembah Panderman.

Ketika ia termenung ngelangutkan jiwa, tiba-tiba Zweta disadarkan sorot senter yang berkelebat di kejauhan. Beberapa pendaki gunung meniti jalan menghampiri posisinya. Zweta perlahan bangkit mengangkat ransel.

lima belas menit lagi, Zweta menatap jam tangan,

Ia kemudian bergegas melanjutkan perjalanan menuju pos Pelataran Ombo, sebuah tempat lapang di puncak bukit yang biasa dipakai bertenda. Jalan setapak yang dilaluinya mengitari punggung bukit, ia sesekali menyibak rimbunan ilalang setinggi dada yang menutupi jalur pendakian.

Di langit, tandan rembulan menautkan bayang-bayang perbukitan dan pepohonan. Selang tujuh menit berjalan, terdengar sayup-sayup suara pendaki yang bertenda lebih dulu di Pos Pelataran Ombo, pos pendakian ke-2 di Gunung Panderman.

Itu pasti mereka, duga Zweta dalam hati. Semakin lama suara–suara itu semakin jelas, bahkan sayup-sayup terdengar petikan gitar mengiringi suara sumbang bernyanyi.

“ketemu lagi,” sapa pendaki tegap yang ditemuinya di areal mata-air. Ia bersama keempat kawannya menyandarkan punggung di batu besar.

“ternyata cukup ramai,” celetuk Zweta. Dilihatnya beberapa tenda berdiri di pos Pelataran Ombo. Masing-masing penghuninya bercengkrama mengarungi malam, mereka duduk melingkari nyala perapian yang menggeliat-geliat membakari ranting dan dahan kering.

“cukup ramai memang. Disini ada tujuh rombongan. Katanya ada beberapa yang sudah mencapai puncak. Itu mereka !” telunjuk pendaki di depan Zweta mengarah titik cahaya di puncak Panderman.

“kalian mau ke puncak sekarang ?” tanya Zweta basa-basi.

“mmm .. kita masih belum punya bayangan. Bagaimana menurutmu ?” lelaki itu meminta pertimbangan

“kalau kalian mau bermalam di puncak, mendingan berangkat sekarang. Tapi kalau tujuannya cuma melihat sunrise, lebih baik buka tenda disini dan berangkat sekitar pukul tiga dini hari,” saran Zweta.

“sepertinya kamu sering kemari,” nada suara lelaki itu seakan menelisik.

“Iya. Lumayan sering”.

“kamu mau summit attack sekarang ?” lelaki itu bertanya lagi.

“ya, tujuanku memang langsung ke puncak,”

“busyet .. nggak capek apa !” celetuk salah satu pendaki yang tertegun mendengar jawaban Zweta.

“mau bareng kita ?” pendaki tegap lagi-lagi menawarkan

“nggak usah .. aku lagi pengen sendiri ..” jawab Zweta sambil tersenyum.

“oke .. aku berangkat dulu .. sampe ketemu di atas ..” lanjut Zweta sambil melempar pandang.

 

Di Pos Pelataran Ombo, puluhan pendaki memilih bertenda. Mereka berasal dari banyak tempat dan ingin merasakan keeksotisan alam Panderman. Di tengah kegelapan dan naungan pendar rembulan, wajah mereka timbul tenggelam diterangi nyala perapian yang menari tak beraturan.

Zweta memilih meninggalkan Pelataran Ombo. Langkah gontainya membelah medan yang mulai menanjak. Dalam kesendiriannya, entah mengapa muncul niatan untuk mengekalkan sepi. Ya, walau dirinya didera kelelahan hati, ia tak ingin melepaskan penderitaan yang terlanjur melekat di batinnya. Zweta seakan ingin menenggak candu yang melenakan, padahal ia sadar jika penderitaannya menjelma menjadi belenggu kuat yang terus menerus membuatnya letih. Entahlah, dalam kebingungan hati, ia memilih lari dan berteman sepi,  ia memilih menenggak candu lebih dalam, bahkan teramat dalam. Ketika Zweta memandangi kuncup kembang gunung, memandangi rembulan yang berpendar, ia merasakan sesuatu yang memang dicarinya. Kesunyian, kesepian, dan juga kesenyapan.

Keterjalan medan semakin sering menghadang. Tapak kaki Zweta terus lincah menetak pijak. Ketika keterjalan medan memaksa dirinya merayap, tangannya berpegangan akar pohon pinus yang menonjol di tepi jalur pendakian. Hingga kemudian, ketika sampai di tanah datar yang terlindung angin, Zweta bersandar di bongkahan batu gunung setinggi dua meter.

Tuhan, sedemikian banyak misterimu. mengapa yang Kau bebankan kepadaku terkunci rapat,

Zweta kembali melarung sunyi. Tatap matanya jauh mengunjungi letak para bintang. Ia berusaha memahami sesuatu yang tak dimengerti.

Tang ting tung ning nung. Tang ting tung ning nung. Ponsel Zweta berbunyi.

“assalamualaikum, Ma”

[waalaikumsalam, Sayang. Sudah di  puncak ?]

“belum Ma, sebentar lagi masuk Pos Watugedhe, ini masih di perjalanan,”

[Kakakmu Mama suruh menemani kamu ya, biar dia berangkat sekarang]

“nggak usah Ma. Aku lagi pengen sendiri ..” sahut Zweta bernada berat.

“lagian .. disini juga rame pendaki,” lanjut Zweta merajuk.

[beneran ?!!]

“iya, Ma ..”

[ya sudah kalau begitu. Hati-hati ya. Perlengkapan kamu nggak ada yang ketinggalan ?]

“Sudah semua kok, Ma” jawab Zweta lembut.

[Hati-hati ya Sayang, Assalamualaikum]

“waalaikum salam.”

Selang beberapa detik, Zweta terdiam. Ponsel yang tergenggam masih merapat di telinganya. Zweta didera kesepian yang merajalela. Ya, benar-benar sepi yang membangkitkan emosi batinnya.

Perlahan-lahan Zweta terseret memasuki masa lalu. Keping ingatannya menyusun rangkaian peristiwa. Ia teringat ketika dibelai rambutnya, dikecup keningnya, dicium penuh cinta. Ia teringat ketika dirinya menggelayut manja di punggung lelaki itu. Ah, seseorang yang teramat dirindukannya.

Tuhan, mengapa,

Tatap mata Zweta menyapu langit bertabur bintang. Ia memandang tandan rembulan yang redup berpendar. Ia menangis. Ah, Zweta akhirnya menangis. Ia terisak pelan hingga nyaris tak terdengar. Suara angin gunung menghibur sedihnya yang luar biasa. Ia tak lagi mampu berkata-kata. Badai emosi tiba-tiba mengamuk memorak-porandakan ketenangan jiwanya.

Kalau saja tak terdengar pijak kaki rombongan pendaki yang bergerak mendekat, Zweta mungkin masih menangis. Segera digulungnya matras dan ditalikan lagi di samping ransel. Tak dirasanya hawa dingin, tak dirasa pula haus yang menyerang tenggorokan.

Zweta kembali mengangkat ransel. Ditariknya nafas panjang, ia bergegas menapaki keterjalan jalur pendakian gunung Panderman. Langkah kakinya semakin cepat, ia tak lagi gontai seperti sebelumnya. Kemampuan asli Zweta mendaki gunung mulai terlihat. Pijak-kakinya ringan seolah tak menampakkan adanya beban berat yang menggelayuti punggung. Hingga waktu terus berjalan, tempo pendakiannya masih terjaga. Di kemiringan medan yang curam, tangan-tangannya berpegangan kuat dan mencengkeram tonjolan akar pinus dan perdu-perdu. Dengus nafas memburu mengalirkan bulir keringat ke seluruh tubuh. Stamina Zweta masih prima untuk melakukan pendakian jalur panjang.

Angin gunung terus menyanyi. Dari kejauhan, tiupan angin yang menyentuhi pucuk-pucuk pinus membunyikan nada srrrr…srrrrr sssttttt, begitu serentak. Sesekali di jalur pendakian yang agak terbuka, tiup angin menampar lembut wajah Zweta dan mengurai juntai rambutnya.  

Akhirnya Zweta tiba di Pos Watugedhe, sebuah  daerah yang ditandai tanah lapang yang memiliki batuan besar di pintu arealnya. Batu itu seakan rebah dan tertancap kuat ke dalam tanah. Di tempat itu, Zweta menjumpai serombongan pendaki yang beranggotakan tujuh orang.

“kamu sendirian ?”,

Lagi-lagi Zweta disapa basa-basi khas pendaki gunung.

“Ya. Sendirian. Kalian mau ke puncak ?” Zweta balik bertanya. Ia mengatur nafas setiba di depan mereka.

“Kita memang mau ke puncak. Berapa lama kira-kira ?” pendaki itu menatap setitik cahaya di puncak Panderman, sebuah perapian.

“paling-paling nggak nyampe satu jam,”

“ah bercanda. Ini tinggal track terjal, Non. Nggak mungkin nyampe kalo cuma sejam,”

“mau taruhan ?” tantang Zweta sambil menatap lawan bicaranya.

“wah-wah-wah .. ceritanya mengajukan tantangan nih,” ego pendaki itu mulai terusik. Namun tatapannya menyirat kekaguman.

“mmm .. kalau kamu menganggap seperti itu… boleh juga,” Zweta memandang wajah rombongan bergantian.

“kalau begitu..  Lady first,” pemimpin rombongan mempersilahkan Zweta berangkat lebih dulu.

yaahh curang .. kalian saja duluan. Aku masih pengen istirahat. Baru juga nyampe,” ujar Zweta sekenanya. Ia menurunkan ransel dan mengambil botol air. Ditenggaknya air mineral yang perlahan-lahan meluncur membasahi tenggorokan.

“Tapi ntar kalau minta ditunggu … kasih kode,“ pemimpin rombongan memberikan syarat.

“sip !” sahut Zweta seketika.

Lewat kode ayunan tangan pemimpin rombongan, masing-masing pendaki bergegas bangkit mengangkat ransel. Mereka bersiap merayap di sisa perjalanan menaklukkan puncak. Sementara di deretan paling belakang, pendaki bertubuh ceking cengengesan mencuri pandang.

 

Setelah ketujuh pendaki menghilang tertutupi pepohonan, Zweta sejenak menangguhkan perasaannya. Ia melipur diri dengan mengajak serombongan pendaki melakukan pendakian tempo cepat. Ya, jenis pendakian yang mampu meruntuhkan fisik pendaki gunung dalam tempo teramat singkat. Namun Zweta masih beristirahat mengatur nafas. Samar-samar dari tempatnya duduk, terlihat goyangan pucuk pinus yang diusik angin. Sementara dari sisi kanan yang tak jauh, tiba-tiba terdengar keriak beberapa ekor makaka vascicularis.

Dimana mereka ?, Zweta berusaha mencari dengan sorot senter, namun tak dijumpainya wujud primata ekor panjang yang biasa mengeluarkan suara seperti itu. Kegelapan malam seakan menelan bayang-bayang hutan beserta penghuninya.

 

Selang limabelas menit rombongan pendaki berangkat dari pos Watugedhe. Zweta bersiap diri. Dengan langkah yang pasti, Zweta perlahan menjejakkan kaki di medan pendakian. Nafasnya mulai memburu, hawa tubuhnya terasa hangat. Serasa diburu waktu, tempo pendakian Zweta semakin cepat.

Zweta melewati areal datar di Watugedhe. Sebuah daerah yang ditumbuhi sesemakan liar dan ilalang setinggi kepala. Hamparan ilalang itu seakan terbelah, membentuk jalan setapak yang menghubungkan tanjakan terjal selanjutnya. Ilalang yang tumbuh lebat bergemeresak saat bergesekan dengan ransel dan tubuhnya. Di beberapa areal terbuka yang sempit, beberapa pendaki sedang bertenda melawan dinginnya angin gunung. Mereka menyapa dan mempersilahkan Zweta mampir menikmati minuman penghangat, namun Zweta menolak dengan halus.

Butuh sepuluh menit menyeberangi daerah sesemakan, selanjutnya, Zweta melewati tanjakan yang dipenuhi bolder dan gravel, sebuah jalur rawan longsor yang dipenuhi bongkah-bongkah batu besar yang seolah siap runtuh. Zweta kemudian menapaki putaran lereng yang menikung. Beberapa runtuhan bolder cukup membahayakan apabila ia tak berhati-hati. Saat menapaki jalur ini, langkah kakinya perlahan-lahan diperlambat. Ia faham benar safety dalam kegiatan alam bebas adalah sesuatu yang tak bisa ditawar. Hingga ketika dijumpainya sebatang pohon pinus tua yang tinggi menjulang, Zweta telah sampai di kaki tanjakan terjal yang berbatas jurang curam di sisi kiri. Ketika dilihatnya tujuh nyala senter berhenti di tengah tanjakan, bibir Zweta merekah menyungging senyum.

Tanjakan Setan, begitulah para pendaki menyebutnya. Sebuah tanjakan rawan longsor dengan kemiringan 70 derajat lebih. Di kiri tanjakan terdapat jurang sedalam tigapuluh meter lebih, sementara posisi pendaki seakan terbuka tak berpelindung.

Ternyata ketujuh pendaki yang sebelumnya tertantang Zweta terengah-engah kehabisan tenaga. Mereka limbung serupa mobil tua yang ngadat di tengah tanjakan. Mental mereka telah patah.

Dari kaki tanjakan, Zweta tersenyum menyaksikannya. Ia pun bergegas menjejakkan kaki dengan semangat penuh. Langkah kakinya yang ringan mengantarnya hingga sampai di posisi mereka yang rebah kelelahan.

“terima kasih sudah ditunggu,” senyum Zweta merekah diantara nafasnya yang terburu. Keterjalan Tanjakan Setan menjadi tantangan terakhir sebelum menaklukkan puncak Panderman.

“wadhuh, Non ! kita lagi orgasmus !”, pemimpin rombongan berkomentar tak jelas maksud.

orgasmus ??!! maksudnya ?”, Zweta terheran dengan istilah yang digunakan pemimpin rombongan.

“terengah engah dihajar tanjakan bejat ! Orgasme bin Orgasmus ! hahahaha !” pendaki itu berujar sambil tertawa.

“tempat ini namanya bukan tanjakan bejat ! tetapi Tanjakan Setan !”  celetuk Zweta menyela tawa lelaki itu

“tanjakan setan ?!! beneran ?!!” salah satu dari mereka terkejut

“iya bener ! katanya sih beberapa pendaki sering melihat penampakan ! ya di bawah itu ! persis di bawah pohon paling besar ! makanya dikasih nama Tanjakan Setan !” Zweta mengusili mereka.

penampakan ??!!  sumpah ?!!!” pendaki ceking paling belakang terkejut gelagapan

Jangkrikkk !!!  gitu tadi kau ninggalin aku di bawah !” mereka mulai saling menyalahkan.

“makanya .. ayo buruan ! “ Zweta melangkah lagi. Seketika ia berada di urutan terdepan.

 

keparat ! bikin merinding ! gitu pake ngomong kalo disini ada setan !” pendaki nomer dua dari belakang menyumpah pelan

wadhuh, Man ! aku tadi kencing di dekat pohon itu, Man !” pendaki ceking paling belakang bergetar ketakutan. Telunjuknya menunjuk-nunjuk pohon besar yang memang nampak seram.

“hahaha siapa suruh ! sebentar lagi testismu copot dibetot setan !”

jancuk ! jangan ngomong begitu, Man !” pendaki ceking menyumpah keras-keras

“hoi ! jaga mulutmu ! dikencingi makhluk halus tahu rasa kau  ! “ pemimpin rombongan berteriak marah.

“gapapa, Broer … lumayan dikencingi .. nambah-nambah suplemen,” sosok pendaki yang berada di tengah tertawa geli. Ia sendiri keder dan bersiap meninggalkan Tanjakan Setan. 

Zweta semakin jauh meninggalkan ketujuh pendaki yang dihantui kengerian Tanjakan Setan. Ia telah sampai di akhir tanjakan dan mulai menapak di pintu puncak Panderman. Sementara ketujuh pendaki masih terengah-engah tak karuan.

Wadhuh, Man ! tunggu, Man ! kakiku, Man !“ pendaki ceking paling belakang berteriak kencang sambil memegangi kaki.

“alaaahhh ! alessan ! bilang saja kau ketakutan dan beol di celanamu ! dasar gempor !“ kawan di depannya merasa kesal dengan kecerewetan si ceking.

“sumpah, Man ! sumpah ! kakiku, Man !”, pendaki ceking memelas dan minta ditunggui. Jarak antar keduanya terpaut lima meter arah menanjak.

“ya sudah ! naik kesini !!”

“nggak bisa, Man ! kau yang turun kemari !“

“dasar pendaki impoten !! cerewet betul ! kau ini lebih cerewet dari kucing kawin !” kawan si ceking akhirnya turun menghampiri.

“kenapa kakimu , hahh ?!!!” teriaknya tak sabar

“sekarang sudah oke, Man ! ternyata sudah sembuh ! aku naik duluan ya, Man” ujar si Ceking cengengesan. Ia hanya takut berada di urutan paling bawah.

Muonyeeettt impoten !!!!!!” pendaki yang dikerjai menyumpah-nyumpah tak karuan.

 

“cewek setan !” umpat pemimpin rombongan. Ia tak lagi bisa menemukan posisi Zweta. Terakhir kali dilihatnya sorot senter Zweta menghilang di balik pepohonan.

“cepat sekali dia mendaki,” ia terheran. Jarang sekali dijumpainya perempuan yang mempunyai stamina tangguh melebihi dirinya, namun kini ia menemui salah satunya.

***

Puncak Panderman, 2040 m DPL (Di atas Permukaan Laut)

22.13

Dome warna merah berdiri menyendiri di puncak Panderman. Sedangkan tujuh tenda lainnya seakan berdiri menjauh. Di depan tenda masing-masing, para pendaki mengitari perapian sambil duduk-duduk menyeduh kopi dan makanan penghangat. Mengarungi pelukan dingin, menikmati indahnya jutaan kelap-kelip lampu kota dari tempat yang tinggi.

Malam menggelar kecantikan langit. Menampakkan taburan berjuta cahaya dan cerat-cerat panjang bintang jatuh. Kedip bintang seakan semakin terang, mengerling nakal bergantian walau terkadang nampak mengerling bersamaan. Di keheningan malam, di depan dome warna merah, Zweta dengan pakaian hangatnya duduk mendekap kaki menghadap geliat api unggun. Tangannya memegang sebuah foto yang menyimpan banyak kenangan. Ya, momen di foto itu adalah serpihan karunia paling indah dalam hidupnya, momen yang sampai kapanpun akan terus dipegangnya erat-erat.

“Papa,”

Zweta menatap penuh rindu. Sembari diterangi nyala perapian, jemarinya membelai lembut foto itu. Lelehan air mata di pipi seakan menjadi muara emosi, namun Zweta terus memandangi foto sambil sesekali menyelipkan untaian rambut di sela telinganya.

Tiupan angin gunung semakin terasa kasar. Pucuk-pucuk pinus di puncak Panderman menemani kerinduan Zweta. Ilalang-ilalang yang berhimpitan, mengangguk meliuk kesana-kemari, berjabatan tangan menyatukan hati. Sesekali Zweta menatap langit dengan wajah penuh tanya. Malam ini, wajah sedih bersama lelehan air matanya, tak mampu dihibur oleh kerlingan rasi bintang yang membentuk gambar maya.

***

 
Leave a comment

Posted by on October 4, 2012 in Novel

 

Tags: ,

Silakan berkomen,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: