RSS

cerpen : Minyak Bulus Tajikistan

29 Aug

Usai sholat jumat digelar, jamaah-jamaah berhamburan menyerbu lapak-lapak yang digelar di emperan masjid. Pedagang obat kuat tertawa senang. Omset yang didapat jauh meningkat lantaran jumat ini tanggal muda. Pedagang obat kuat berkoar-koar tak kenal lelah. Orang-orang mengerumuninya serupa lebah melingkari ratunya.

“ini obat kuat paling mujarab sedunia. Saksikan  ..”

Pedagang paruh baya itu  mengoleskan minyak di telunjuknya yang mengacung. Dia mengoles berkali-kali hingga telunjuk coklatnya mengkilap terpantul matahari.

“ceng ceng daliceng modot gedhe !! ceng ceng daliceng modot gedhe !” Pedagang obat kuat berteriak semangat. Ucapannya serupa mantra, berhasil memikat orang di sekitarnya.

“nah-nah, lihat ! bukan sulap bukan sihir ! telunjuk saya nambah besar ! nambah panjang !! tak ada yang lebih hebat dari minyak ini ! kadal mesir kalah ! tangkur buaya Amazon tak ada apa-apanya !!”

“minyak apa itu, Cak ?” teriak seseorang dari deretan terdepan. Pedagang obat kuat celingukan mencari asal suara.

“ini minyak bulus dari Tajikistan ! dihasilkan dari ekstraksi anu-nya bulus langka !”

“khasiatnya ?”

“haahaha  ! khasiatnya yang loyo jadi sehat ! yang kecil jadi bengkak ! dijamin istri sampeyan megap-megap kayak ikan tombro kena pancing.”

“Mau beli ?” Pedagang obat kuat menantang. “Seratus ribu saja. Harga kawan,“ sahutnya memoncongkan mulut.

Cepat-cepat lelaki yang bertanya menyodorkan uang. Orang-orang yang berkumpul memandang tak percaya. Pedagang obat kuat lantas menyerahkan ramuan. Mereka berjabatan.

“nah-nah ! satu lagi pria perkasa lahir di muka bumi. Ayo-ayo mumpung masih tersedia .. mumpung belum kehabisan. Jangan biarkan diri kita menjadi loyo  ! jangan biarkan senjata kita lembek seperti terong kematangan ! Belilah minyak oles paling mujarab ! minyak bulus asli Tajikistan !!”

Kerumunan orang kian bersesakan melingkari Pedagang obat kuat. Lingkaran semakin besar hingga mengganggu lapak-lapak di sekitarnya

Melihat kejadian yang demikian, Pedagang tasbih mendekati Pedagang peci. Senyum mereka kecut.

“kalau terus-terusan seperti ini, gak baik buat kita, gak baik buat masjid,” ujar Pedagang peci mengusap muka

“masak tempat suci beralih fungsi jadi klinik pembesaran kemaluan,”  lanjutnya manggut-manggut.

“iya, Kang. heran juga aku. Jamaah lebih gandrung obat kuat dari pada barang-barang penunjang ibadah macam punya kita. Jaman betul-betul edan. Banyak benar lelaki impotensi,”

Di pelataran masjid, orang-orang yang mengerumuni Pedagang obat kuat kian berjubel. Pedagang peci berkali-kali marah –gara-gara lelaki yang berniat berkerumun menginjak-injak dagangannya.  Tapi apa daya, Pedagang peci akhirnya menyerah. Dia memilih menggulung dagangannya daripada rusak terinjak-injak. Pedagang peci mengungsi ke pelataran masjid sambil memanggul dagangannya.

Merasa senasib seperjuangan, Pedagang lain yang dagangannya sepi memilih meninggalkan lapaknya. Mereka menemui Pedagang peci lantaran telah lebih dari 30 menit menggelar dagangan, hanya satu dua orang yang singgah di lapak mereka, itu pun cuma tawar menawar panjang lebar tapi tak jadi beli. Selebihnya sebagian besar lelaki memilih mengantri minyak bulus asli Tajikistan.

“kalau begini caranya, rusak semuanya” Pedagang minyak wangi bersungut-sungut.

“iya, Cak. Ini keterlaluan. Pelataran masjid bukan tempat jualan obat pembesar kemaluan” timpal Pedagang tasbih

“dia sama saja mengotori tempat suci !” sambung  Pedagang peci sambil merampas peci di kepalanya dan menepuk-nepuk ke lantai.

“lagi pula bikin malu saja ! masjid jadi mirip klinik impotensi ! parahhh parahhh ..” Pedagang buku reliji geleng-geleng kepala.

Sementara pedagang lain ngomel-ngomel, teriakan Pedagang obat kuat kian lantang

“ceng ceng daliceng modot gedhe !!”, “ceng ceng daliceng modot gedhe !! ”, “wahahahhaa !!”

Orang-orang yang mengerumuni Pedagang obat kuat tertawa renyah. Wajah mereka sumringah serupa mendapati malaikat penyelamat.

“kita musti lapor takmir,” ujar Pedagang minyak wangi sambil memandang nanar ke arah kerumunan.

“ jangan cuma lapor takmir, kalau perlu lapor Pak Lurah,” sambung Pedagang peci menelan ludah.

Pedagang yang lain mengiyakan. Mereka bergegas mengangkat pantat dan beranjak menemui takmir yang sedang menghitung derma jariyah.

Melihat beberapa orang mendekat bersamaan, dua orang takmir terhenti aktivitasnya. Keduanya berpandangan.

“Assalamualaikum, Pak Takmir”

“Walaaikum salam warohmatulloh,” jawab takmir yang berjenggot dan berpeci. Paras wajahnya banyak kerut, usianya kisaran 60.

“ada apa ini, bukannya sampeyan-sampeyan ini yang biasa dagang di emperan masjid ?” takmir yang lebih muda angkat suara.

“iya, Pak. Kami-kami ini Pedagang rutin yang berjualan sehabis sholat jumat,”

“ya .. ya ..” Pedagang lain manggut-manggut.

“terus, ada masalah apa ?” takmir tua bertanya. Pertanyaan itu membuat para pedagang berpandangan.

“begini, Pak. Terus terang kami keberatan dengan munculnya Pedagang pemuas syahwat di emperan masjid,”  Pedagang peci angkat bicara.

“astaghfirullahal adzim !”

“barang syahwat apa maksudnya ?” sontak dua orang takmir terkaget-kaget.

“silakan bapak lihat sendiri. Di luar sedang kacau.”

Rombongan Pedagang dan takmir kemudian bergegas menuju emperan masjid. Setiba di emperan masjid, kedua takmir terhenyak tak percaya. Kerumunan orang berdesakan memperebutkan botol berukuran kecil.

“ceng ceng daliceng modot gedhe !!”, “ceng ceng daliceng modot gedhe !!”

Peluh bercucuran di sekujur tubuh Pedagang obat kuat. Suaranya serak. Minyak bulus Tajikistan laku keras hingga tersisa sedikit saja .

“ceng ceng daliceng modot gedhe !!”, “ceng ceng daliceng modot gedhe !!”

Sesekali orang-orang di sekeliling bertempik sorak. Pelataran masjid dijejali lelaki berwajah cerah lantaran berhasil mendapatkan obat kuat. Bahkan di antara mereka terdapat kakek tua yang baru beberapa minggu menikahi gadis 17 tahun.

“hal seperti ini tak bisa dibiarkan,” takmir muda melepas peci dan garuk-garik kepala.

“yah, seperti seperti yang saya bilang tadi,” Pedagang peci bersorak mendapat angin.

“tapi kita tak bisa melarang orang itu berdagang obat kuat disini,” ucap takmir tua.

Kata-kata datarnya membuat dirinya dipelototi sekeliling. Terlebih Pedagang peci yang paling dongkol dengan ulah Pedagang obat kuat.

“Tak ada salahnya orang itu jualan obat kuat,” takmir tua membela diri.

“tapi ini masjid, Pak !” tukas Pedagang minyak wangi

“apa salahnya dengan masjid ?”

“masjid tempat suci, Pak. Bukan klinik penyembuh impotensi !”

“haduuuhh .. jadi pusing kepalaku, aku menyerah. Terserah mau kalian apakan orang itu,”

“kalian ini lapor gara-gara iri atau  gara-gara dagangan yang tak laku,” sambung takmir tua

“buk .. bukan, Pak. Bukan karena dagangan tak laku. Kami prihatin masjid jadi kehilangan kesucian. lihatlah ! lahan begitu luas dikuasai sendiri ! obat kuat lagi !” penjual tasbih bersungut-sungut.

Otak takmir mendadak buntu. Baginya permasalahan ini  pelik untuk dicerna.

“gini saja, kita bawa masalah ini ke Pak Lurah. Hal macam ini sudah bukan wilayah kami. Biar Pak Lurah kasih keputusan, ” usul takmir muda

Semua Pedagang manggut-manggut. Tak ada jalan keluar yang lebih baik selain keputusan Pak Lurah. Bagi mereka Pak Lurah adalah orang bijak, dituakan, lagipula Pak Lurah menjadi symbol kejantanan. Hampir dipastikan Pak Lurah akan memihak mereka. Pak Lurah yang tua, kurus, ceking, tapi beristri 4 dan beranak 35. Benar-benar symbol kejantanan luar biasa. Pak Lurah pasti memandang sepele obat murahan macam gituan. Mana ada minyak bulus dari Tajikistan. Dagelan ini pasti penipuan. Ya. Pak Lurah tak mungkin membiarkan warganya jadi korban penipuan.

 

Dua orang takmir dan rombongan Pedagang bergegas menuju rumah Pak Lurah. Mereka berhasil memaksa Pak Lurah datang ke pelataran masjid –padahal Lurah tua itu sedang bercumbu dengan istri mudanya.

“dasar semprul !!  kalian ini mengganggu kesenangan orang saja,” Lurah tua itu terus-terusan menyeka keringat sambil berusaha menghapus lipstick di pipinya. Dadanya naik turun, sedikit ngos-ngosan persis orang bengek.

“itu orangnya, Pak !  dia yang mengganti fungsi masjid jadi klinik impotensi,” Pedagang minyak wangi menunjuk-nunjuk –persis anak kecil kalah kelahi yang kemudian mengadu ke bapaknya.

“klinik impotensi ? maksudmu ?” Pak Lurah mengernyit

“dia jualan obat kuat di pelataran masjid, Pak Lurah “ Pedagang peci ikutan nimbrung

“memangnya kalian terganggu ?”

“bukan masalah terganggu atau tidak, Pak Lurah. Masjid jadi kehilangan kesucian,” sahut Pedagang peci.

Lurah tua menyapukan pandangan ke sekeliling masjid. Beberapa sampah terlihat berserakan. Sementara kerumunan sudah mulai berkurang.

“hmmm .. masjid jadi kacau begini ..” gumam Lurah tua yang melihat pelataran masjid.

“betul, Pak Lurah. Pengepul minyak bulus itu harus dihentikan.” Pedagang minyak wangi memanas-manasi.

“iya, masak jaman modern masih percaya minyak bulus. Ini namanya penipuan konsumen, Pak“ Pedagang peci bersungut-sungut

Lurah kemudian memandang menerawang. Matanya sedikit memicing. Mencari kebijaksanaan. Tiba-tiba –

“panggil penjual obat kuat kemari,” ujarnya sambil memandang Pedagang peci. Pedagang peci lantas bergegas memanggil Pedagang obat kuat.

“kalian semua harus tahu. Kejantanan itu soal kepercayaan diri, bukan masalah obat-obatan. Kalau kalian memercayai diri sendiri, urusan kejantanan teratasi. Jaman sekarang banyak lelaki impotensi bukan karena penyakit, tapi karena kehilangan kepercayaan diri,”  Lurah tua menepuk-nepuk dadanya yang tipis. Tersenyum bangga.

“jadi intinya kepercayaan, Pak ? bukan minyak oles ?” takmir tua penasaran dan kagum dengan kejantanan Lurah

“bukan .. bukan minyak oles .. semua itu tipuan, minyak oles cuman omong kosong,” hidung Lurah tua kembang kempis menjelaskan.

Dari arah depan, Pedagang obat kuat mendatangi Pak Lurah dan rombongan. Pedagang peci mengikuti di belakang seperti anak anjing.

Setibanya di depan Lurah –

“loh .. Cak Lurah,” Pedagang obat kuat terkejut. Spontan tangan kanannya terulur.

“tunggu … sampeyan ini  .. wahahaha ini benar sampeyan, toh” Lurah memicing-micing tak percaya. Tangannya menyongsong uluran tangan.

“bagaimana minyak oles saya ? mujarab toh ? minyak bulus tak pernah tertandingi. Hahaha”

“ceng ceng daliceng modot gedhe  .. ceng ceng daliceng modot gedhe  ” Lurah tua cengengesan sambil mengoles-oles acungan telunjuk tangan kirinya. “Mujarab ! tok cer ! ampuh duapuluh empat karat !!” Lurah tua menunjukkan dua jempolnya. Cengengesan tak kesudahan.

“haduhh .. kecolongan .. kecolongan ..” Pedagang peci tiba-tiba sesak nafas . Tatap matanya berkunang-kunang.

28/08/12

 

 
Leave a comment

Posted by on August 29, 2012 in Cerpen

 

Silakan berkomen,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: