RSS

Cerpen : Melepas Juni,

24 Aug

Aku tak mungkin lupa dengan gaya berjalannya. Ya Tuhan, bagaimana mungkin. Tetapi –sepertinya tak mungkin. Semoga dugaanku benar.

Dia melangkah ke arahku. Langkahnya anggun, masih seperti dulu. Ya, tak berubah sama sekali.

Saat jarak kian menyempit, jantungku berdebar. Kencang sekali. Hati kecilku berharap semoga yang berjalan ke arahku ini memang dia. Ya Tuhan, instingku berkata benar. Memang ini dia. Mataku tak lepas darinya dan –

Ya Tuhan, tatap matanya menautku–

Dia tersentak, ekspresi wajahnya terkejut. Dia berhenti. Jantungku berhenti.

“kamu,”

“Juni,” spontan bibirku menyahutinya. Dia tersenyum kepadaku.

“tak kusangka kita bertemu disini,” ia tertawa kecil. Tatap matanya berbinar tak percaya.

“ya .. ya.. aku juga tak percaya,” aku mengangguk mengiyakannya. Hatiku membuncah. Kilau matanya bersinar indah.

“berapa tahun tak bertemu?” tatap matanya menatapku

“entahlah, Jun. Mungkin .. 9 tahun,”

“hmmm .. sembilan tahun .. lama yah ..” ujarnya mengernyit

“Cukup untuk mengubah segalanya, Jun” aku menambahkan

“kamu sepertinya terburu-buru,” tukasku

“ah iya, aku harus ke Jakarta. Sebenarnya aku harus mengejar pesawat” ucapnya sambil menilik jam tangan. Mimik wajahnya berubah gugup.

“hmm .. bagaimana kalau sepulang dari Jakarta kita ketemuan, kamu ada waktu ?”

“ada, Jun. Pasti ada. Aku juga ingin ngobrol panjang lebar denganmu,”

Selanjutnya Juni memberikanku nomor ponselnya. Ia melangkah pergi, aku melepasnya dengan perasaan yang aku sendiri tak mengerti. Juni sekali menoleh kepadaku. Ia tersenyum.

Bagaimana mungkin bisa kulupakan Juni. Dia perempuan pertama yang mengenalkanku kepada cinta. Meskipun waktu itu cinta monyet, cinta dari generasi abu-abu semasa SMU, ketertarikanku kepada Juni justru tak pernah pudar. Hubungan kami adalah hubungan gelap yang tak jelas. Bukan pacar, bukan pula sekedar teman. Juni cemburu saat aku dekat perempuan lain. Aku pun jealous saat Juni didekati lelaki lain. Hingga tiba suatu masa, tak tahan lagi kuutarakan cintaku padanya. Dia terdiam. Tak menjawab. Malah berkali-kali mengalihkan obrolan saat kutanyakan perasaan hatinya.

Tetapi begitulah watak perempuan cantik yang pemalu ini. Juni tak tegas melukis perasaan hatinya. Hingga ketika akhirnya berpisah semasa kuliah, Juni justru mengharap kedatanganku. Dia ingin menjawab pinangan cintaku.

Aku memilih mundur tak memenuhi undangannya. Lagipula saat itu aku tengah dekat dengan Irmia, perempuan yang kini menjadi istriku. Dan sejak saat itu, aku kehilangan kontak dengannya. Dia tak lagi mengirimkan kabar kepadaku.

Pergolakan perasaaanku dengan Juni adalah yang terindah. Bahkan lebih misterius dari kisah cintaku atas Irmia. Aku tak lagi menerima kabar dari Juni, tetapi ada saat-saat ketika kerinduanku padanya membuncah tak tertahan.

Ah, Juni. Sejak berjumpa dengannya beberapa hari lalu perasaanku berubah gelisah. Mulutku pahit, tak enak makan-tak enak minum, perasaan bersalah membuat dadaku berdebar-debar. Kuberbohong kepada Irmia jika perutku sedang error, badanku tengah nge-drop. Hingga ketika Juni menelpon dan memintaku datang, segera aku berangkat menjemputnya di Bandara.

“habis ini kamu gak ada acara, Jun ?” tanyaku saat membantunya menyeret tas berukuran besar.

“nggak juga, sebelum pulang –aku memang ingin menemuimu,” Juni menoleh dan menatapku. Sedikit menyelidik.

“kalau memang tak terburu, ayo ke cafe sebelah sana, sekalian ngobrol,” ajakku

“mmm .. baiklah. Lama tak ketemu, aku ingin mendengar ceritamu,” sahutnya antusias. Juni pun tersenyum

Selanjutnya kudampingi Juni melangkah di selasar panjang. Kami berbelok menuju kafe. Sesekali sambil melangkah –kucuri pandang ke arahnya. Juni masih seperti dulu. Anggun. Bahkan kurasa lebih anggun. Yang berbeda hanyalah tatanan rambut panjang nya yang mengesankan kedewasaan, keibuan. Bulan ini usianya genap 29 tahun. Ya, aku ingat. Tak mungkin kulupakan. Usianya terpaut dua tahun di bawahku.

“aku kehilangan kontakmu, Jun. kemana saja selama ini ?”

“kurasa pertanyaanmu salah alamat. Selama ini kamu yang menghindariku,”

Aku terdiam mendengar kalimatnya. Bibirku kaku.

“surat-surat yang kukirim padamu tak pernah berbalas. Sepuluh banding satu. Sepuluh kukirim, hanya satu yang kau balas. Permintaanku tak pernah kamu kabulkan,”

Aku menghembuskan nafas panjang. Menyesal.

“aku memang salah, maafkan aku, Jun” bisikku.

“Putramu sudah besar, Jun ?” aku bertanya sekaligus menebak. Sudah seharusnya ia menikah.

“usia putraku 3 tahun,”

“hmm .. 3 tahun.  Lucu-lucunya …” desahku

“kalau suamimu ?” lanjutku

“suamiku ditugaskan di Surabaya,  sebelumnya ditugaskan di Sulawesi dan Kalimantan,”

“Kamu sudah ada momongan ?” lanjutnya

“Satu, Jun. Perempuan. Usianya 2 tahun,”

“kamu menikah dengan Irmia, kan ?”

“iya, dengan Irmia,”

“ sekarang tinggal dimana ?” lanjutnya

“aku dan Irmia tinggal di Malang, dia memilih jadi ibu rumah tangga,”

“oh, berarti masih sama dengan kabar yang kudengar terakhir kali,” ia mengangguk pelan, rupanya selama ini Juni terus mencari kabar tentangku.

“bagaimana kabar istrimu ?”

“Irmia agak kurang sehat, Jun. Dokter mendiagnosa kista di rahimnya,” jawabku sedih

“aku turut prihatin mendengarnya,” tatapan Juni mendadak bermendung. Juni terdiam, memainkan jemarinya.

“Jun,” panggilku

“kenapa ?”

“maafkan aku, ya” kupandangi wajahnya

“untuk semua yang kulakukan padamu,” lanjutku menyentuh jemarinya

Juni tak menanggapi. Bibirnya menguntai senyum. Senyum yang lelah. Senyum yang pasrah. Kutahu jika senyum semacam itu terbit di bibirnya, ia ingin mengatakan sesuatu. Bibirnya kemudian bergetar perlahan.

“aku memahami jika takdir tak menyepakati keinginanku,”

“bukan takdir yang tak menyepakatimu, Jun. Tetapi aku,”

“mungkin .. dan .. aku tahu kamu lebih memilih Irmia. Tetapi setidaknya, mengapa kamu tak memberi penjelasan, kamu seharusnya memenuhi permintaanku, tapi kamu malah lari,”

“sebenarnya -”

“ah, sudahlah .. aku tak enak hati membahasnya,” potongnya

“mengapa, Jun ?”tanyaku

“biarlah pertanyaan-pertanyaan hatiku tak berjawab. Aku sudah bisa menerima,”

“janganlah begitu, Jun. Lama tak bertemu denganmu, lama sekali. Biarlah masa depan tak menyisa pertanyaan. Kita masih ada ganjalan, dan –“

“sudahlah, aku takkan mengubah semua yang kujalani,” potongnya

“iya, aku tahu. Aku pun demikian. Tapi masih ada yang tak terselesaikan diantara kita,” ujarku memelas.

Sejenak aku dan Juni terdiam. Tatapan Juni menerawang. Hingga –

“baiklah kalau begitu, biarlah masa depan tak lagi menyisa pertanyaan,” Juni menunduk sebentar, menghembuskan nafas panjang. Sejenak kemudian wajah cantiknya memandangku.

“aku .. dulu .. mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu,” Juni berkata lembut penuh emosi.

“dan sekarang ?” tanyaku

“aku tak ingin mengubah semua yang kujalani,”

“ah, iya. Maafkan aku, Jun”

“Aku punya pacar saat itu, tapi putus beberapa hari kemudian,”

“lantas ? mengapa cintaku tak kamu jawab setelah kamu putus dengan pacarmu, Jun ?”

“aku takut kehilangan dirimu sebagai sahabat,”

“ seperti itu, kah ?”

“iya, apa kamu tak merasa ? mustahil jika kamu tak merasa .. 5 tahun setelah itu aku masih bimbang,”

“akhirnya kita berpisah, kamu pindah ke kota lain, kita meneruskan kuliah masing-masing, saat itulah kusadari aku takut kehilanganmu, cintaku padamu tak bisa kubungkam,”

“kukirim surat kepadamu, bertanya kabarmu, bertanya kapan kamu menemuiku, apa dengan itu semua kamu masih tak merasa ?” lanjutnya

“kamu ingat isi suratku yang terakhir ?” Juni memandangku dalam-dalam

“kamu ingin aku menemuimu ?”

“rupanya kamu masih ingat,”

“sebenarnya saat itu jika kamu menemuiku, aku ingin bertanya apakah cintamu masih tetap ada, dan aku ingin meminta maaf telah sekian lama menelantarkan pinangan cintamu,”

Ya Tuhan, aku terhenyak mendengar kata-katanya.

“tapi ternyata semua sudah berubah, kamu memilih tak menemuiku, malah kemudian aku terpukul mendengar kabar kamu sudah punya pacar,”

Juni memandangku penuh ketidakmengertian. Sesaat menggeleng pelan, sesaat kemudian menunduk sembari menarik nafas panjang. Kurasa saat ini dadanya sesak. Ia kemudian menegakkan pandangannya.

“mengapa kamu tak memberitahuku jika berhubungan dengan Irmia ?” tatapan Juni lekat ke arahku. Kucoba memberanikan diri bicara.

“Irmia perempuan baik, Jun”

“dan juga cantik,” timpal Juni sambil melepaskan pandangannya. Ia menghembuskan nafas panjang.

“dan kau tak datang ke pernikahanku,” lanjutnya  “mengapa ?” tatap mata Juni kembali menyapuku.

“mm .. aku .. maafkan aku, Jun. Jujur kukatakan aku merasa kehilanganmu, meski aku lega mendengar berita pernikahanmu.”

“aku masih teringat kamu, Jun. Aku tak enak hati merayakan pernikahanmu. Ada bagian dari diriku yang egois, ada bagian dari diriku yang pengecut,” lanjutku

“saat itu aku berharap kamu datang,”

“aku tak tahu itu, Jun. maafkan aku,”

Juni terus memandangku dengan tatapan tak percaya. Aku tahu isyarat matanya mengatakan ada sesuatu yang tak pas dengan takdir yang terjalani.

“setidaknya kita berdua sudah tahu seperti apa kisah kita. Aku lega mendengarnya. Setelah ini masa lalu lekas kututup rapat-rapat,” ujarnya yang tersenyum. Aku mengangguk. Bernafas lega.

“apa yang kau rasakan saat menjumpaiku beberapa hari lalu ?” tanyaku.

Juni berpikir sejenak.

“aku terkejut, senang, sekaligus marah,” ujarnya yang lantas tertawa kecil.

“masa lalu kita sepertinya terselip di antara takdir,” ujarku kemudian. “aku gembira melihatmu, Jun. Kamu lebih cantik. Seolah-olah aku melihat perempuan yang seharusnya menjadi ibunda dari anak-anakku,”

“sudahlah, jangan menggodaku. Aku takut tak kuat hati,”

“maafkan aku, Jun. maafkan aku selama ini, “ kugenggam tangannya dengan lembut untuk sesaat.

“meski seandainya kamu masih mencintaiku, aku tahu kamu tak ingin mengubah takdirmu,”

“terima kasih  ..”

“sepertinya aku harus pergi, salamku buat Irmia. Tentu kamu sudah menceritakan diriku kepadanya, bukan ?”

Gayung Kebonsari 167

Juni 2010- Agustus 2012

 
Leave a comment

Posted by on August 24, 2012 in Cerpen

 

Silakan berkomen,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: