RSS

puisi : Singhasari

07 May

Kutaraja,

‘raga kawruh astaning janmi’

I

kerap kali di jalan ini

langkah cêtak derap turangga

pak-pak-kêtêpak

pak-kêtêpak

menilap debu-debu

dalam titipan-

khas kepulan . . .

yang pepintu gerbang menatapku-

sang dwarapala

merapal hapal mantera

berpegang gempal gada

II

dari kejauhan arah Kurawan

yang mengantar kereta-

menderit laju-

takut berpagut-

di lempang bebatuan

‘hiat !

his his his  . . . !

minggirlah kalian-

aral-aral nakal-

 

inilah aku si Arok-

pemegang cundrik gandring

luk pitu

di pamor biru . . . ha ha ha ha

 

ternyata akuwu Ametung sudah melengar mati

ini aku si Arok-

dalam laku-

dalam deru

 

lihatlah Kebo Ijo panelangsanku

yang meringkuk kikuk

dalam kubur –

di tanah Sentono kaki Gondomayit

 

kini tunggulah . . .

saat sasat saji kelebat

kedhaton kedhiri . . .

menenggak racun-racun . . . !!! ‘

III

Patirtan, Watugedhe

di  esok yang berpulang . . . kala petang

kilau jernih mata air-

yang melingkar

di teduh beringin yang menaung-

merah bibir dalam pagut

pelukan-pelukan kerinduan

hingga-

kekelapanpun tertidur lelap . .

‘kekasihku Kendedes-

cantikku-asmaraku-

cintaku-dewiku . . .

 

dipelukku kini mahadewi

yang aku pun bersumpah

demi Sang Hyang asmara

di kerlingmu kematianku . . .

 

o adinda terkasihku

demi bintang-bebintang-

lereng arjuna-mahameru-

ranukumbala-

yang aku pun bersumpah

di parasmu kerapuhanku . .

 

aku kini menebah kepersisan eyang resi

bila kau lahirkan raja-raja

atas goa garbanmu-

yang bersinar- duhai cintaku-asmaraku . . .

 

di langgam cinta merdu semata

yang menudung-

merah bibirmu yang- 

merisau diri tatapi tiara . . . ‘

ricik air pun masih berdenting

di tatap sejuk menghalau bening

dalam kerling-

dewi cantik di pikat hati

dan kepekatanpun –

hanya bisa tertidur pulas

IV

Kedhiri,

masih di tahun yang sama,

yang para bokor mendesah

dalam resah-

dalam ulah

‘paman patih,

kemarin dalam paningalku

keprabonku sudah pergi-

melesat lari

ke arah timur negeri

 

apakah arti ini-

akan menukarku

ke pijak rompal tanah  . . . ‘

dan patih itu berkata :

‘maafkan hamba kanjeng prabu,

panjenengan janganlah gundah

biarlah keprabon itu retak melantak 

 

tapi . . .

prabu tetap prabu kami-

panjenengan tetap raja kami-

baginda tetap ajengan kami . . .

kanjeng prabu,

kehidupan itu mandhito diri

biar apapun yang terjadi

kita harus bertegap siap

di dharma ksatrian kita

 

setuhune kelakuan adalah pakaian kita

kalo ngarso agung meminta kita-

hentikan nafas . . .

kitapun akan hentikan nafas

ampuni hamba kanjeng prabu ’

‘paman patih,

biarlah desir ini merintih

walau tanah tergenang darah-

akupun masih tegakkan kedhiri-

negeri kita –  kedhaton kita . . . ‘

malam ini,

di pecah pikir kalut pasi

dan soko-soko penopang istana-

ditinggal wahyu-

kelap mengucap-

selamat jalan-

pakuwon kedhaton . . .

V

Desa Ganter,

di terang hari tanpa memendung ,

kaki arjuna sebelah timur-

yang pasukanpun larut bertakut-

tombak panah melesat-lesat-

irisan keris digaris tubuh-

dan pepedangpun sudah menunggu-

siapa lekas mengejal nyawa . . . .

‘ha ha ha ha ini aku si Arok-

penukarmu

ke pijak rompal tanah  . . .

 

ini lihat keris cundrikku-

menelan tiga nyawa-

menuju empat kepala . . .

kepalamu, Kertajaya  “

“ Hai keparat Arok ,

aku adalah singa-

kau bangunkan aku dari tidurku

kini nyawamu lekas melesat

biar seribu gandring kau bawa . .

pantang lantang langkahku tertebang

hai pemimpi Arok ! “

 

“Hoi Kertajaya –

Lakumu lakune danyang !

tak tahu aturan-

ra ngerti paperangan-

lihat ! kejatan kejat para krocomu

tatap ! getaran getar para coromu

nyawamu kini menenggak kalah ! “

 

 

‘Keparat Arok !

biar nadiku putus meretas

walau leherku pisah meregang

aku tetap Kertajaya –

aku tetap Singa –

andai Ganter ini pun banjir darah –

aku tetap aku –

Singa Kertajaya . . . Hiaaat !‘

hari ini,

yang terang hari tanpa bemendung,

itu sayatan kucurkan darah

itu luka – itu luka

Kertajaya merebah dalam akhir

dalam kemenangan dharma Ksatria

dan kedhatonpun . . .

hanya mampu menangis duka

VI

Rajapati Singhasari 1227,

pikir yang dipijak-

ternyata mendiam kata

serapah Gandring di ngiang hati

kelak teriak tujuh nyawa-

tujuh nyawa . . .

‘Dinda Prajnaparamita-

bethariku . . .

di pelukmu hangat-

belai cinta

yang memerah

di kilau tipis bibir-

merah indahmu

 

serapah Gandring halauku lagi

menesap risau terisak-isak

tujuh nyawa-

tujuh nyawa

 

mengapa telah aku berserah

hadapi takdir di peluk rindu

biarlah biar kan kuperangi

biarlah jika kan kuhadapi

 

andai akupun mati-

takkan ada yang kurindukan

selain desah engah asmaramu

menikam hati meracun jiwa-

duhai Kendedes Bethariku . . .

 

dalam kelak menerus cita

sampaikanlah salamku

berikan rinduku

untuk buah hatiku . . .

 

 

yang kuingin Singhasari-ku terbang

menukik tajam menekuk rejam

di gulipatan tinta sejarah

tanah Jawa dwipa

 

janganlah menangis bidadariku

titik air matamu adalah erangku

di tidur malam kian panjang

sudahlah sudah  . . .

temani aku . . .

 

dekaplah erat tubuhku ini

masih menggigil masih menafas

sandarkan kepalamu di bahu kananku

biarkan kuurai rambut mayangmu . .

 

duhai dewiku-cantikku-asmaraku  . .

lepaskan rasamu

biar kukecup keningmu-

biar kucium pipimu-

keindahan di tangkai nirwana . . .

 

andai akupun mati

takkan ada yang kutangisi

selain desah engah asmaramu

dan kemesraan manis senyummu . . .’

menitik lagi-

sesak isak kini mengucap

di kelam jagad merengkuh takdir

dalam pelukan . .

kendedes pun hanya bisa mendiam

di gemah malam panjang

yang mengusir bintang gemintang . . .

VII

aku hanyalah kekocapan kata

dalam cerita-

melaku diri-

kedhaton Singhasari . . .

Rajasa Arok mengapar diri

meresah mimpi serapah kata

umpatan Gandring kala terjerang-

waktu lalu  . . .  .

Anusapati kini tertera

selang lama mengepar juga

di lempang lekuk sang cundrik sakti

ditekan garang gagang Tohjaya

anginpun lekas berkata namun

Ranggawuni tiba Mahisa Campaka

Tohjaya melengar ditebas nganga

ini negeri menikai darah

tak berapa lama

tibalah masa Kertanegara . . .

VIII

Singhasari, 1289

datang sudah duta ketiga

menampik tahta-

inginkan takluk

menyuruh tunduk . . .

raja bisa meliuk sabar

menekuk gusar

yang pada akhir . .

nyala marah kian membara . . .

‘apa yang kau kata ?

Singhasari mengharus serah ?

di pucuk kaki Kubilai Khan ?

bedebah sekali !!!

 

katakan pada raja gendheng-mu

biar seribu duta datang padaku

aku teguh mendiri Nuswantara

si Kertanegara, Prabu Singhasari-

bukan pengecut !!! ’

 

‘tetapi raja . . . ‘

 

‘ah nggak usah banyak kata-

cangkem asumu ! terima ini !’

 

‘aaaaahhhhh . . . . .!’

 

sayatan keris meluka wajah

menggoret dendam

menggaris geram

dalam murka terkepal genggam

‘pulanglah pada raja gendhengmu

katakan . . . suruh kirim muka tikusnya

biar kuukir dengan keris

biar kupahat dengan pedang . . .

ini aku Kertanegara-

bukan raja pengecut !!’

selekas kedip raja pun pergi

meninggal tahta-

melangkah lagi

dinaung payung-

dan dayang cantik taburkan bunga

tiba kini suatu kata

torehan keris menggaris muka

segera pergi temui raja

dalam luka . .

dalam luka . . .

IX

Kedhiri {Gelang-gelang}

ada saat dalam petaka

jika saja terucap jika

tetapi,

serdadu colamandala masih di laga

menyerbu sriwijaya . . .

expedisi pamalayu . . .

angkara tiba

langsung merasuk

di dada rimbun

langsung membusuk

dalam nafsu . .

membendung haus

menimang tahta . . .

‘Ardharaja Puteraku,

pasukan kota sudah lowong

ada saatnya-

kita datang merebut tahta . .’

 

‘Ayahanda Jayakatwang,

tik-tak kita harus jitu

Tumapel kini sudah lengang

saat tiba kita ganyang . . . ‘

tragedi pilu di mulut pedu

akankah rengka-

mengerang lagi Singhasari

dalam berontak-

serdadu Gelang-Gelang

X

1290,

 

kala pagi di jalan ini

langkah cêtak derap turangga

pak-pak-kêtêpak

pak-kêtêpak

menilap redup debu

dalam titipan-

khas ketakutan . . .

yang pepintu gerbang menatapku-

sang dwarapala

merapal hapal mantera

berpegang gempal gada

dari kejauhan arah Kedhiri

yang mengantar pasukan-

menderit teriak-

menyiap perang . .

di lempang bebatuan

tak seberapa lama

sampai sudah pikatan perang

dalam erang-

mendengus letih

menusuk lawan

Singhasari ditelikung-

kawanan perompak pemberontak

tiba sudah pepintu benteng

menesir raga-

mengerah nyawa . . . .

Gelang-gelang pun terhenti

pepintu kokoh mendegup pasi

bersegera si Ardharaja

putuskan harap membunuh dharma

gerbang barat kini terbuka . . .

‘Penghianat kalian semua-

keparat Jayakatwang

bajingan Ardharaja . .

kesamparan akan menundungmu . . . 

 

hai nyawa-nyawa prajurit Singhasari . .

kibarkan merah putih mu !

memerahlah dalam darah

meleburlah dalam suci . . .

 

panji kita adalah dharma-

ksatrian kita  . . .

mahkota kita-

kejayaan kita . .

 

wahai ksatria –ksatria Singhasari !

hunus penombakmu !

bentangkan gendhewamu !

melengkinglah-

dalam ringkik kegaranganmu ! ‘

 

‘hai Kertanegara-

dimana kau ?

bersembunyikah kau ?

tatap mataku ini

mata dewa pencabut nyawa !’

 

‘jaga mulutmu keparat Jayakatwang !

ini aku Kertanegara

hadapi aku-

biar monyet-monyet pasukanmu tahu-

dengan siapa dia bermain !

dasar pagebluk negeri !’

Ardharaja mundur bermulut jengkang

sembunyi diri di takut luka

kini tiba dalam sejarah

dua singa meregang nyawa . .

Wijaya duduk mengisak tangis

ratapi negeri terporak-porak

ciumi panji menggetak serak

sang merah putih di limpung tanah  . . .

dua singa mendenting sukma

mencabut keris menyayat-nyayat

lengkap sudah satu berkalah

entah siapa bernafas pegat

beribu jiwa tertidur jua

mengerang duka tersayat nyawa

tetapi . .

denting pepedang masih menyata  . . .

dewa kematian tergopoh-gopoh

menyibuk diri cabuti titah

kemarin hidup kini memati

dalam robek sayatan ini

bayu menitis di bajra lebat

beriring jatuh kedhaton kebat

kejayaan nyata tinggal sesaat . .

membisu diam mendekam dendam

Kertanegara . . .

Kertanegara . . .

mendekap luka sayatan sayat

melimbung diri bernafas berat

dan . .

dewa kematian menyapanya :

‘Prabu, peganglah erat tangan kananku . . . ‘

Singhasari  . . . .

di peraduan merisau diri . . . . .

merisau diri . . . .

Singhasari 2001,

Dalam sapaan Dwarapala –Patirtan Watugedhe –

& Anggun Candi,

Sisi sisa keagungan,

Masa lalu,

Kala itu . . .

 
Leave a comment

Posted by on May 7, 2012 in Puisi

 

Tags: , ,

Silakan berkomen,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: