RSS

CERPEN : PENGGALI KUBUR

02 May

Kyai Jazuli wafat. Mati mendadak terkena serangan jantung.

Seketika kuambil linggis, kuraih pacul –keduanya kupanggul jadi satu di punggung kanan. Setelah berpamitan dengan istriku, cepat-cepat kuayun langkah menuju pekuburan umum di ujung desa tepian hutan.

“kau orang yang cekatan, Man. Karena itu kupercayakan tugas ini kepadamu. Segera setelah kau dengar seseorang meninggal, galilah liang kubur secepat mungkin. Jangan sampai iring-iringan jenazah tiba lebih dulu di pekuburan,”

Pesan Lurah Sugiran berpuluh tahun lalu rasa-rasanya tetap terngiang di telingaku –apalagi ketika berangkat menggali seperti sekarang. Tugas menggali kubur masih terus kulaksanakan meskipun pejabat lurah telah berganti empat kali. Liang kubur Lurah Sugiran –akulah yang menggali. Begitu pula Lurah Sumirin, Lurah Dalopo, dan Lurah Junaedi –aku pula yang menyiapkannya. Rasa-rasanya pejabat perangkat kelurahan kesusahan mencari figur penggantiku –yang mampu bekerja sepenuh hati dengan penuh tanggung jawab. Tetapi bagaimanapun juga generasi penerus harus disiapkan. Karena itulah perangkat kelurahan mengangkat Cipto sebagai asistenku –untuk kemudian menggantikanku ketika aku mati.

Sebagai penggali kubur, sudah barang tentu kujumpai aneka ragam peristiwa ganjil yang tak masuk di nalar. Barangkali benarlah apa yang dikatakan mendiang Kyai Jazuli –jika pekuburan adalah gambaran sekaligus gerbang negeri akhirat. Pekuburan serupa terminal pemberhentian dari puluhan generasi. Ya. Tubuh-tubuh yang lapuk dan membujur itu berkumpul menunggu jadwal keberangkatan ketika kiamat tiba.

Manusia biasa barangkali heran mendapati jenazah yang utuh meskipun terkubur puluhan tahun –tetapi bagiku tidak. Kudapati peristiwa ganjil ini setahun setelah diangkat menjadi penggali kubur, dan saat itu lubang yang kugali berdekatan dengan kuburan Kopral Subakti –seorang pejuang yang syahid ketika peletonnya digerebek tentara Belanda di tahun 45. Tubuh kopral Subakti masih utuh, termasuk seragam dan ikatan kain putih yang melingkar di kepalanya. Allahu Akbar.

Dan satu lagi peristiwa yang begitu menancap di ingatanku, terjadi sekitar sepuluh tahun lalu. Saat itu kugali sepetak tanah tanpa nisan yang diperuntukkan bagi almarhumah istri Lurah Dalopo. Hingga ketika kedalaman galian hampir satu meter –tiba-tiba kudapati serakan tulang berhamburan kesana kemari. Dan yang lebih mengherankan –dari pinggang hingga perut sudah kupastikan tulang milik manusia, tetapi dari pinggang  ke kepala –astaghfirullah ! nyata-nyata itu tulang milik babi hutan. Duh Gusti, nyuwun pangapuro –aku gemetaran bukan kepalang.

Berpuluh tahun menjadi penggali kubur, seolah saja diriku dianugerahi kelebihan oleh Tuhan. Singkapan tabir gaib seputar kematian terbuka di mataku. Dari keras dan gemburnya tanah galian –dapat kuterawang kelakuan sang jenazah semasa hidupnya. Dari anyir aroma tanah yang tergali, dari terik ataukah mendung saat penguburan, dari kerasnya tiupan angin, dari jenis burung penunggu jenazah yang bertengger di dahan kamboja –seolah olah rangkaian kejadian itu membocorkan rahasia tersembunyi dari perilaku sang jenazah di masa lalu. Dan kini, setibanya aku di gerbang pekuburan –

Langit berwarna abu-abu, hawa terasa tak enak, angin bertiup tak karuan. Bunga-bunga Kamboja berjatuhan menaburi jajaran nisan yang nampak kusam. Di tempat itu kudapati Cipto. Dia bergegas menghampiriku.

“keluarga Kyai Jazuli meminta jenazah dikuburkan di samping kubur Kyai Badar, di dekat beringin besar, Kang”

“Oh, biar berkumpul dengan bapaknya,” sahutku manggut-manggut. “sudahkah kau siangi rumputnya, Cip ?”

“sudah, Kang. Baru saja selesai. Kakang bisa langsung menggalinya,” Cipto menjawab sambil mengelap bulir keringat di pelipisnya.

Aku dan Cipto kemudian melangkah ke lokasi yang dimaksud. Di tempat itu kujumpai Karto Brewok tengah rebahan di tepian lokasi galian. Tingkah lelaki berambut awut-awutan itu mirip lelaki tak berguna.

“sedang apa kau ?” sapaku kepada Karto Brewok.

“biasa, Kang. Dia sedang melarikan diri dari istrinya. Bayangkan, duit belanja seminggu dihabiskannya di meja judi. Oalah Kartooo .. Karto ..  belum hilang juga penyakitmu,” Cipto cengengesan di sampingku sampil geleng-geleng kepala.

Cipto kemudian melangkah mendekati Karto Brewok. Pemuda gemblung itu disuruhnya menyingkir.

“tadi pagi aku dicakar istriku, Kang. Lihatlah,” Karto Brewok yang beranjak berdiri memperlihatkan bilur-bilur panjang di lehernya.

“waduh, To ! ha ha ha ha ! lehermu digaruk cakaran harimau !!” tawaku meledak melihatnya. Sekuat tenaga kutahan tawaku namun tak urung bobol juga.

“makanya itu, To. Istri bukanlah patung tunggangan. Sesabar-sabarnya istri pasti ada titik batasnya. Sekarang baru cakaran, besok-besok kalau kau masih berani menghabiskan duit belanjaan, lehermu bisa putus digigitnya, ha ha ha” Cipto menimpal sambil tertawa berkepanjangan.

Karto Brewok meringis kecut. Pemuda semprul itu menyingkir menjauh. Selang beberapa saat kemudian –kutaruh linggis dan mulai kuayun cangkulku.

JLLK ! JLLK !!  JLLKK !!!

Awan kelabu yang mendiami langit perlahan-lahan menyingkir. Terik mentari langsung jatuh menerpa tubuhku. Keningku berkeringat, seluruh kulitku berembun. Ayunan cangkulku menghantam tanah pekuburan berkali-kali namun –aneh, tanah kubur yang kugali terasa mementalkan ayunanku. Meski tenagaku mulai terkuras, hasil galianku masih tak seberapa.

“kenapa, Kang ? alot ? “ Cipto memandangku dengan seksama. Dia kutugaskan menumpuk tanah galian di sisi lobang.

“lumayan, Cip. Lumayan a lot.” Jawabku sambil mengusap kening menggunakan punggung tangan.

“padahal ini kuburan Kyai Jazuli, Kang. Bagaimana mungkin bisa alot,” Cipto memandangku dengan tatapan keheranan. Dalam hati aku juga heran menjumpai keadaan yang demikian. Kuburan orang baik tak seharusnya berperilaku seperti ini.

“sudahlah, Cip. Lanjutkan saja. Jangan banyak prasangka. Gusti Allah lebih mengetahui apa yang tersembunyi,” ujarku sambil tersenyum lelah

Sementara itu Karto Brewok tak menggubris sama sekali pekerjaanku. Dia malah asyik melamun sambil menyandarkan punggung di batu nisan. Dasar pemuda gemblung !

Aku dan Cipto kemudian melanjutkan penggalian. Kukerahkan tenaga sekuat mungkin biar tak keduluan iring-iringan jenazah Kyai Jazuli. Kuayun cangkul sekuatku, kulontar linggis hingga otot tanganku bertonjolan menahan hantaman. Namun, hingga bulir-bulir keringatku menganak sungai, tanah yang kugali serasa mengaburkan seluruh upayaku. Nafasku tersengal. Tenagaku dilolosi. Sepanjang pekerjaanku menjadi penggali kubur, tak sekalipun kujumpai kejadian semacam sekarang. Tanah yang biasanya gembur tiba-tiba berubah sekeras cadas.

“Tak ada hasil, Kang” Cipto berujar dengan nafas tersengal. Wajahnya memerah kepanasan.

“hhh..hhh .. iya, Cip. Aku juga heran. Padahal kuburan ini milik Kyai Jazuli,” aku  menarik nafas panjang sambil geleng-geleng kepala.

“kuburan orang baik tak seharusnya ditolak bumi,” lanjutku yang memandang Cipto.

“terus bagaimana, Kang ?”

“kita gali terus”

“kurasa buang-buang tenaga, Kang”

“terus maumu apa ?! kita biarkan galian ini setinggi lutut ?! bisa-bisa kita dimaki seisi kampung !!”

Cipto terdiam mendengar bantahanku. Punggung tangannya mengusap peluh di kening.

“begini saja, Cip. Kau suruh Karto mengambil ember berisi air. Kita sirami tanah ini biar lebih lunak,”

Mendengar kata-kataku, Cipto melompat keluar liang galian. Pandangannya tertuju ke arah Karto yang tengah rebahan di atas gundukan kuburan.

“dasar gemblung !! malah ngorok !!” umpat Cipto jengkel.

“Hei, Gemblung !! cepat bangun !!” teriaknya. Tapi teriakan Cipto malah membuat dengkuran Karto lebih kencang.

“sontoloyo !! bangun !!” Cipto meraup sejumput tanah dan dilemparkan ke wajah Karto

Srrtt !!

“Byeh !! Byehh !! Puehhh !! Kuraang Aseem !!” sebagian tanah masuk ke mulut Karto. Lelaki semprul itu tergagap-gagap menggelinding ke kaki gundukan.

“diancuk !! asu buntung !! puihh !!” Karto terus-terusan meludah sekenanya. Aku dan Cipto terbahak-bahak.

“Kartooo .. Kartooo .. kurang ajar sekali kau dengan penghuni kubur di bawahmu. Seandainya dia bisa bangun lagi, sudah dikencingi mulutmu,” Cipto berulang kali geleng-geleng kepala

“To ! aku dan Cipto butuh bantuanmu. Tolong kau ambil ember berisi air,” segera kualihkan pembicaraan.

“buat apa, Kang ?” tanya Karto sambil membuang kotoran mata

“buat melunakkan tanah galian,”

“loh, bukannya tanah disini biasanya gembur ?” pandangan Karto melongok ke dalam galian

“sudahlah, To. Aku butuh bantuanmu, bukan pendapatmu. Segeralah kau bawa ember kemari.”

Setelah mendengar kata-kataku, Karto tetap tak beranjak dari bibir galian. Bocah gemblung itu terus mengamat-amati lubang galian. Sementara Cipto mulai habis kesabaran.

“Hei, Gemblung !! cepat kau laksanakan permintaan Kang Giman !! kalau tidak, kuburan orang gemblung sepertimu pasti lebih alot dari ini !!”

Duh !! Cipto keceplosan. Semoga Karto tak menganggap kerasnya lubang galian berhubungan dengan azab Tuhan kepada Kyai Jazuli.

“berarti .. berar ..ti.. Kyai Jazuli ditolak bumi, Kang”

Nah ! terbukti sudah kekhawatiranku. Karto termakan umpan Cipto.

“sudahlah, To. Cepat kau ambil air !” kesabaranku tandas melihat Karto tetap tak beranjak. Segera kuraup tanah dan kulempar ke arah Karto.

“minggat !! minggat saja daripada bikin muntab !! Karto sinting !!”

Berkali-kali kulemparkan raupan tanah ke arah Karto. Lelaki itu ngibrit melarikan diri.

Cipto kemudian berinisiatif mengambil air. Usaha penggalian kuteruskan sambil menunggu Cipto tiba. Berkali-kali linggis kulontarkan tetapi lubang galian tetaplah dangkal.

“minggir, Kang. Biar kusiram dulu,” Cipto tergopoh sambil membopong ember berukuran besar. Dia menyiramkan air hingga terjadilah genangan.

Aku dan Cipto sejenak menunggu hingga genangan surut. Dan segera setelah surut –aku dan Cipto berlomba-lomba memperdalam lobang. Tapi kemudian –

“hei, Giman ! apa benar galian itu alot ?”

Tiba-tiba saja telingaku serasa disodok sebatang lidi. Kutilik ke samping lobang, lelaki gendut berdiri berkacak pinggang. Sementara di sampingnya berdiri Karto Brewok. Rupanya bocah gendeng itu berhasil menyeret masalah.

“seperti yang Bos Heru lihat sendiri, aku dan Cipto menggalinya sejak sejam lalu,” jawabku

“hmmm .. berarti Jazuli terkena adzab. Sudah jelas dia bukan orang baik,” gumam Bos Heru sang bandar togel.

“jenazah Jazuli nyata-nyata ditolak bumi. Bukan begitu, Man ?” tanya Bos Heru kepadaku

“eehh .. saya tak tahu, Bos”

“halahh ! kau jangan menutup-nutupi ! tanpa kau jawab pun aku sudah tahu !” Bos Heru terus berdiri di bibir galian. Gayanya tetap sama berkacak pinggang.

Sementara aku dan Cipto pura-pura tak mendengar. Omongan macam ini jika dibiarkan lambat laun menggelinding menjadi fitnah.

“jenazah Jazuli masih dimandikan, Man. Cepatlah kau kebut galianmu hehe .. tapi biar kau kebut sampe berak di celana, belum tentu lobang galianmu selesai tepat waktu.” Bos Heru berjalan mengelilingi lobang galian sambil mencemooh. “Jenazah yang dikutuk Tuhan pasti dipersulit masuk kubur. Biar kata Kyai, biar kata Ustad, he he”

“memangnya Kyai Jazuli punya dosa apa, Bos ?” celetuk Karto Brewok

aku pura-pura tak peduli, tapi Cipto perhatiannya tersita.

“kalau boleh kukatakan, Jazuli itu seperti ular. Kelakuan Jazuli yang korupsi kotak amal, yang main mata dengan santri perempuan, yang main hasut kanan-kiri. Kau pikir kelakuan santri Jazuli yang menggerebek rumahku tempo hari lantaran aku bandar judi ?! he .. he .. bukaan .. bukaann,” telunjuk Bos Heru terayun kanan kiri.

“Jazuli semata-mata takut denganku. Dia takut kebusukannya kubongkar. Jadilah Kyai gadungan itu merusak nama baikku di hadapan penduduk kampung –biar orang-orang seperti kalian tak percaya lagi padaku,”

Kata-kata Bos Heru membuat aku dan Cipto berpandangan. Karto nampak terpengaruh. Dan memang, penggerebekan judi besar-besaran beberapa minggu lalu tak lepas dari peran Kyai Jazuli –dan aku menyukuri kejadian itu.

“kini nampak sudah siapa yang benar dan siapa yang busuk, Tuhan membeberkan semuanya. Dan meskipun kalian tahu aku punya penyakit jantung, nyata-nyata Jazuli yang lebih dulu tengkurap di kuburan. he he “

Kalimat-kalimat juragan togel ini kian lama kian memuakkan. Mengganggu konsentrasiku. Apalagi –

“mungkin kata-kata Bos Heru ada benarnya, Kang” Cipto berbisik sambil memandangku.

“huss ! jaga prasangkamu, Cip !” bisikan Cipto cepat-cepat kubungkam, daripada ngelantur kemana-mana.

Mendadak dari gerbang pekuburan muncul 3 pemuda yang berjalan tergesa. Mereka santri-santri Kyai Jazuli. Hingga setibanya di tepi lobang –

“Astaghfirullah ! bagaimana ini ?! mengapa belum siap ?!” celetuk salah satu dari mereka.

“Ya. Setengah jam lagi jenazah Kyai pasti tiba,”, “gawat !!” sambung yang lain berpandangan

“begini, Mas. Saya dan Kang Giman sudah mengerahkan seluruh tenaga, tapi inilah hasilnya,” Cipto menimpali. Protes.

“tanah ini sudah kusirami air biar gembur, tapi hasilnya masih nihil. Hampir dua jam kita menggali, hasilnya cuma setinggi lutut,” sambung Cipto

Ketiga santri Kyai Jazuli saling berpandangan. Aku memilih diam. Sementara Bos Heru dan Karto Brewok tak berani lagi mengeluarkan ocehan sampahnya, mereka mengambil jarak.

“kalau begitu, Panjenengan berdua silakan beristirahat. Biar kami bertiga yang melanjutkan galian,”

Demi mendengar kata-kata itu, hatiku sumringah. Maklum saja, tenagaku nyaris habis. Aku dan Cipto segera keluar dari lubang galian.

Santri-santri Kyai Jazuli lantas mengambil cangkul dan linggis. Mereka bergantian menggedor kerasnya tanah kuburan sembari melafalkan doa. Aku dan Cipto memandangi mereka dari jarak lima meter. Bos Heru dan Karto mendekatiku.

“mana bisa adzab Tuhan ditantang seperti ini,” Bos Heru berbisik kepadaku, sambil memandang ketiga santri dengan pandangan kurang senang.

“tetapi, Bos. buktinya mereka berhasil memperdalam galian,” bantahku

“nanti juga kembali dangkal,”

“kita lihat saja, Bos” aku menyudahi obrolan dari pada berkepanjangan.

Di langit, tiba-tiba saja mendung hitam mulai menggelayut. Angin bertiup kencang hingga bunga-bunga kamboja berguguran. Sementara matahari tak lagi nampak teriknya.

Upaya santri-santri Kyai Jazuli memperdalam lobang galian ternyata berhasil. Aku dan Cipto tersenyum senang, sementara Bos Heru berwajah keruh. Hanya butuh tiga puluh menit –lobang sedalam dua meter itu akhirnya siap digunakan.

“Alhamdulillah, selesai sudah,” ucap salah seorang, sambil mengusap punggung tangan di kening.

“Ya. Tadi itu tanahnya masih keras karena kering,” sambung yang lain

“Untunglah Kang Cipto sudah menyiram air. Kalau tidak .. wah .. bisa gawat,” Santri terakhir geleng-geleng kepala –menarik nafas panjang.

Ketiga santri Kyai Jazuli kemudian beristirahat di dekat kami, Bos Heru dan Karto Brewok menyingkir menjauh.

Mendung yang berkumpul kian tebal. Warnanya tak lagi kelabu –tetapi hitam. Angin terus bertiup menampar-nampar. Aroma tanah mulai tercium. Duh –alamat proses pemakaman diguyur hujan deras. Duh, apa benar Kyai Jazuli kena adzab. Astaghfirullahal Adzim, hatiku mulai berani berprasangka. tiba-tiba –

“langit mulai hujan  ..” Aku mendongak ke atas. Cipto ikut-ikutan. Beberapa kali mukaku tertetesi air. Santri-santri Kyai Jazuli menampakkan wajah gugup.

“wah ! bagaimana ini !”, “jangan sampai lobang kemasukan air !”

Ketiga santri itu bergegas melindungi lobang dengan cara membuat gundukan di tepinya. Dan mereka berhasil.

Titik hujan kian banyak. Derainya tak terkira. Hingga tak lama kemudian –tiupan angin dan curahan hujan serasa tak terbendung lagi. apalagi arak-arakan mendung hitam yang bertabarakan mulai mempertunjukkan ledakan guntur.

“lihatlah, betapa sengsara nasib Jazuli. Sepertinya Tuhan habis kesabaran dengan polah pengkhotbah gadungan itu,” bisik Bos Heru.

“aku ingin melihat pertunjukan ini sampai selesai,” lanjutnya menampakkan wajah puas.

Sementara cabang-cabang kamboja meliuk-liuk ditampar angin. Bunga yang baru mekar terpaksa luruh. Sedangkan guyuran hujan dan ledakan guntur tak mereda sedikitpun –

DHARRR !!!

“duh ! Kyai Jazuli. Mengapa seperti ini alam menyambut kepulanganmu. Padahal yang kutahu –dirimu lelaki terhormat –yang setia amar ma’ruf nahi munkar,” hatiku berbisik.

Tiba-tiba samar-samar telingaku menangkap lafadz tahlil diucapkan serentak.

“lailaha illallah ! lailaha illallah ! ! lailaha illallah !”

Suara itu kian jelas –kian jelas. Jenazah Kyai Jazuli hampir tiba.

Angin dan hujan terus mengamuk. Guntur meledak di kejauhan. Ketiga santri penggali segera berlari menyongsong.

“Cip ! bantu aku menguras air ! cepat !”

Seketika aku meloncat ke dalam lubang. Cipto menyusulku. Kuraih ember dan kukuras genangan air secepatnya.

Lantunan tahlil kian kencang terdengar. Diantara tahlil terselip isakan tangis kehilangan.

“Ayo, Cip ! cepat !” tanganku kian cepat menguras genangan. Gugup.

Sementara iring-iringan jenazah memasuki gerbang pekuburan. Kulihat keranda telah berbelok ke arahku.

“sudahlah, Cip ! biar saja ! mau kau kuras tujuh hari tujuh malam –airnya tak akan surut !!” Bos Heru berjongkok di tepi galian sambil mencondongkan mulut ke arah Cipto. Dia terkekeh.

Tiba-tiba –

“awas !! awas !!” , ” pelan  ! jalannya licin !” penandu terdepan sisi kiri berteriak sambil menghindari cungkupan nisan. Lelaki itu berjuang menahan keseimbangan lantaran tanah yang becek. Diantara guyuran hujan dan amukan angin yang tanpa henti, tiba-tiba –

LHAABB !! DHUARRRR !!!

“Masya Allah !!! “, “Astaghfirullah !!!”

Penandu terdepan sisi kiri terpeleset dan terbanting.  Keranda oleng dan melontarkan jenazah hingga jatuh berguling-guling.

“haduhhhh !!!”,”gimana kalian ini !”, “kasihan, Kyai !!” “astaghfirullahan Adziiiimmm”

Makian dan lolongan terdengar berkepanjangan. Semua gugup. Terlebih aku dan Cipto. Yang tak gugup hanya Bos Heru dan Karto Brewok. Bandar togel dan pembanting gaple itu asyik menyukuri kejadian ini –seolah-olah Kyai Jazuli adalah seseorang yang berada di daftar musuh urutan nomer satu.

Aku dan Cipto melompat ke luar lobang. Aku berlari menuju jenazah yang tengah tergeletak berkubang lumpur. Akan tetapi –

“wa ..wa .. wahhh .. haaannn .. haaannn –”, “ astaghfirullah !”, “settaaann ! poccc pocccongg !”

Beberapa pengiring jenazah jatuh pingsan. Yang lain lari berhamburan. Demikian juga dengan jantungku –meloncat.

Jenazah yang tergeletak berkubang lumpur tiba-tiba meliuk seperti cacing. Para mengiring pontang-panting. Cipto yang sedari tadi di belakangku pingsan memeluk nisan. Meskipun dicekam ketakutan luar biasa –aku berupaya membebaskan keberanian.

Linggis di tangan kanan kugenggam erat-erat. Perlahan-lahan aku melangkah mendekati hantu pocong Jazuli. Hingga di jarak dua meter –

“Bismillah .. setan belang minggat .. setan pocong lenyap .. setan belang minggat .. setan pocong lenyap ..”

Kuambil sebongkah batu dan kulempar ke tubuh pocong.

Bugg !  “Arrggghh .. Tooo ..loongg ..”

“Masya Allah !” aku tersentak dan berlari menghampiri pocong Kyai Jazuli. Kesadaranku muncul kembali. Selama dipukul masih mengaduh, aku percaya itu bukan hantu –tetapi manusia. Bisa jadi Kyai Jazuli mengalami mati suri.

Segera kulepas tali pocong di kepala Kyai Jazuli, kusibak kain kafan di wajahnya. Kyai Jazuli menatapku dengan tatapan kosong. Bibirnya bergetar tergagap-gagap.

“Gigg .. Gig .. Gimmaann .. Mala..Malaikat .. meny .. menyuruhhkuu .. kembaaliii..” ucap Kyai Jazuli patah-patah

“lub ..bang … galianmuu .. untuukkkk .. untuuukk yang .. laiinn..”

Seketika aku meloleh ke lobang galian. Firasatku mengatakan ada yang tak beres. Duh !

Kyai Jazuli kuserahkan kepada santrinya. Aku berlari menuju lobang. Dan tiba-tiba –

Masya Allah ! aku melompat ke dalam lobang. Di tempat itu kudapati Bos Heru terjungkal dengan posisi kepala di bawah. Inna lillahi wainna ilaihi rajiun. Kepala hingga lehernya tenggelam di air keruh. Kuduga dia kena serangan jantung. Kaget dengan pocong Kyai Jazuli.

Bangil, 31/05/2011

 
1 Comment

Posted by on May 2, 2012 in Cerpen

 

Tags: , , ,

One response to “CERPEN : PENGGALI KUBUR

  1. doremi

    May 4, 2012 at 10:27 am

    Cerpen dengan ending tak bisa ditebak. Gue suka

     

Silakan berkomen,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: