RSS

CERPEN : PURNAMA DI TEPI PANTAI

26 Apr

Sore hari. Cakrawala menggelap. Horison panjang yang membatasi langit dan laut tersembunyikan gugusan mendung. Sementara  bondongan burung camar terbang gugup menuju sangkar. Burung-burung itu memilih bersembunyi di celah-celah karang yang tertebar di gugusan pulau kecil pinggiran pantai.

 

 

“kau bilang telah menyatu dengan gelombang, menyatu pula dengan karang dan pasir-pasir kampung,”

Di atas dermaga kayu Zaim berdiri menghadap Arlina. Wajahnya kuyu. Angin laut yang menghempas kasar memaksanya berkata lebih kencang.

“iya. Aku tahu, Im. Tetapi-“ Arlina tak kuasa melanjutkan kata-kata. Bibirnya bergetar. Dialihkannya tatapan mata ke deretan perahu yang terombang-ambing gerak gelombang. Hatinya kacau –sekacau lambung perahu yang berbenturan dihempas gelombang.

“sekarang kau ingin meninggalkan semuanya, kenapa ?”

“bukannya begitu, Im” Arlina memandang Zaim

“lalu mengapa tiba-tiba kau ingin pergi ? adakah aku berbuat salah padamu ?”

“tidak –tidak,  bukan itu,” Arlina menyeka air mata.

“Kau sudah berjanji, Sayang. Tinggallah disini. Impian kita masih panjang,”

“aku tak bisa,” Arlina menunduk.

“mengapa ? katakan sesuatu ..  setidaknya beri aku penjelasan,”

Kata-kata Zaim menegakkan dagu Arlina. Perempuan itu memandang Zaim seraya meminta maaf

“aku .. aku ..” Arlina gamang ingin mengucap sesuatu. Bibirnya bergetar.

“katakan, Lin  .. kumohon,” Zaim mengiba

“Ternyata .. selama ini aku masih tak bisa, Im. Aku gagal. Aku bukan perempuan yang kau bayangkan, terlalu banyak kebohongan yang harus kutanggung,”

“kau ingin tinggalkan aku ?“

“aku tak punya pilihan  ..”

“tak punya pilihan ? kau bukannya tak punya pilihan .. kau sudah menyingkirkan pilihan itu !”

“tidak, Im. Demi Tuhan jangan katakan itu,” air mata Arlina mengalir lebih deras. Punggungnya berguncangan.

“Kumohon .. aku .. aku minta ijin meninggalkanmu, maafkan aku,” suara Arlina  timbul tenggelam dilarikan angin.

“minta ijin ?!! ya, Tuhan ..” Zaim menggeleng tak percaya

“Arlina, Sayang. Katakan, apa yang harus diucap suami ketika istrinya minta ijin  meninggalkannya, Duh Gusti,”

Zaim yang sekuat tenaga menahan tangis –akhirnya kalah juga. Kata-kata Arlin membuat dadanya terbakar. Kelopak matanya melelehkan air mata.

***

Arlin, perempuan menawan berwajah lembut. Rambut berombak eksotis, memiliki senyum semanis madu. Pertama kali Zaim mendapati Arlin tengah berdiri di bibir tebing. Alam sedang marah. Lautan menjelang badai. Bahkan getaran gelombang yang menghantam dasar tebing mampu menggetarkan puncaknya.

Zaim terhenyak. Arlin kala itu menangis. Firasat Zaim mengatakan jika Arlin berniat bunuh diri.

“Mbak ..” ucap Zaim saat itu. Selembut mungkin.

“siapa kamu ! jangan mendekat !” Arlin menghadiahi Zaim bentakan. Bentakan yang sesekali beriringan tangis.

“adakah Mbak butuh sesuatu, disini dingin. Sebentar lagi badai,”

“nggak usah turut campur ! Lagian apa urusanmu ! yang bisa menolongku cuma kematian !!”

Zaim menelan ludah. Upayanya terhadang jalan buntu. Dicarinya akal agar perempuan di depannya mengurungkan bunuh diri. Dan –

“sudah dua puluh perempuan terjun di tebing ini, Mbak. Semuanya mati,”

Sekilas kata-kata Zaim membuat perhatian Arlin tersita.

“korban yang terakhir, istri simpanan,” Zaim meneruskan

“tubuhnya hilang ditelan gelombang. Kematiannya tak mengubah apa-apa. Suaminya yang buruk rupa malah enak-enakan mencari istri baru. Yang lebih mudah, yang lebih cantik, yang lebih montok, yang lebih –“

“tapi aku bukan istri simpanan !!” erangan Arlin memotong kalimat Zaim. Erangan Arlin bercampur luka dan tangis. Sesaat Arlin melangkah menjauhi bibir tebing.

“aku bukan perempuan simpanan .. aku  .. aku perempuan yang kalah melawan takdir ..”

Mendadak Arlin kehilangan tenaga. Tubuhnya limbung. Zaim sontak berlari menyongsong tubuh Arlin. Beruntung tangan Zaim berhasil menangkap tubuh Arlin sesaat sebelum jatuh.

Tiba-tiba angin kencang menampar-nampar. Petir menggelegar. Getaran hempasan gelombang terasa lebih kencang. Zaim menatap wajah ayu Arlin. Jemari kasarnya menyeka titik hujan yang berjatuhan di wajah Arlin. Zaim kemudian membawa Arlin ke kampungnya –sebuah kampong nelayan yang terletak di teluk kecil. Zaim memilih menitipkan Arlin kepada tetua kampong.

Sehari berlalu, seminggu berlalu, senyum Arlin mulai terbit meski terkesan dipaksakan. Arlin seringkali berlama-lama menyendiri di tepi pantai. Memandangi deburan ombak yang liar, ganas. Gemerasak pecahan ombak mewakili lukanya. Di saat yang demikianlah buku-buku masa lalu membuka dengan sendirinya. Peristiwa demi peristiwa berbondong-bondong mengusik Arlin. Akibatnya, tangis yang berkepanjangan seringkali meninggalkan jejak sembab di mata Arlin.

“setan apa yang menghuni kepalamu hingga berani menentang Papa !”

“Arlin mencintainya, Pa”

“huh ! yang mengisi pikiranmu cuma cinta buta ! cinta nafsu ! cinta yang dimiliki sepasang penipu ! demi Tuhan berkacalah, Lin ! pakai otakmu !”

Arlin teringat dada Papanya nain-turun memakinya. Arlin menangis. Disitulah awal titik balik kehidupannya.

Saat itu Arlin menepis kata-kata Papanya. Arlin memilih menuruti kata hati yang diasumsikannya sebagai kata cinta. Setelah bertengkar dengan Papanya, Arlin kabur dari rumah dan kemudian tinggal serumah dengan sang pacar. Tetapi begitulah isi otak purba kaum lelaki. Di saat kesuntukan menjajahnya, pemuda perayu yang nyaris drop out kuliah itu berhasil melampiaskan hasrat kelelakiannya kepada Arlin. Ah, Arlin merasa hancur. Kalimat peringatan Papanya serasa paku yang menancapi kebodohannya. Dan –

Demikianlah belas kasih Tuhan berlaku atas alam raya. Tuhan kemudian meniupkan nyawa di rahim Arlin. Sempat terbersit di pikiran Arlin untuk menggugurkan janin yang dikandungnya, tetapi, di saat yang seperti itulah Tuhan mengilhamkan kearifan kepada pacarnya. Pemuda itu berubah watak. Sepenuh hati lelaki itu bertanggung jawab dan bersedia menikahi Arlin.

Sementara tautan waktu serasa melipat semua persoalan manusia dan membenamkannya ke tumpukan sampah masa lalu. Tetapi siapakah yang mampu menebak masa depan –malaikat pun tidak. Di saat sang pacar membonceng Arlin mencari cincin kawin, skuter tua yang ditumpanginya tertabrak truk pengangkut pasir. Pacar Arlin tewas di tempat, sementara Arlin terluka berat. Arlin berhasil diselamatkan, tetapi tidak dengan janinnya.

Fragmen-fragmen rapuh dan melelahkan itulah yang kemudian mengantar Arlin berdiri di bibir tebing. Arlin menganggap jalan hidupnya terlalu terjal untuk ditempuh. Namun sesaat ketika berdiri di bibir tebing, sempatlah ia menyerahkan segala pilihannya kepada Tuhan. Kalaulah Tuhan tak menghendaki dirinya mati, tentulah Tuhan mengirim angin atau burung yang siap menangkapnya saat melombat ke dasar tebing. Atau, bisa saja dengan kuasaNya Tuhan memerintahkan gelombang kembali melontarkannya ke puncak tebing.

Sikap pasrah itulah yang kemudian memberinya pemahaman bahwa –bukannya angin, burung, atau gelombang yang dikirim Tuhan menyelamatkannya. Tetapi Zaim. Ya. Zaim. Pemuda gagah berkulit coklat terbakar matahari.

***

Waktu berlalu. Musim hampir berganti. Suatu hari di pasir pantai, di saat Arlin menghadap laut sambil duduk menekuk kaki, Zaim datang menemuinya.

“cantikkah tempat ini, Lin ?” Zaim berujar selembut mungkin. Tatap matanya menyapu lembut paras Arlin.

“tempat ini cantik luar bisa” Arlin memaut tatapan Zaim. Tersenyum.

“tempat ini jauh lebih indah saat malam purnama. Hempasan ombaknya lebih kuat,”

“iyakah ?” Arlin tak percaya. Zaim mengangguk.

“kalau begitu, kau harus menemaniku di malam purnama,” senyum Arlin terlihat lepas. Dada Zaim berdesir melihatnya.

“ada satu tempat lagi yang kuingin kau melihatnya, Lin”

“dimana itu ?”

“tak jauh dari tempat ini, terdapat teluk kecil yang disembunyikan semenanjung. Airnya tenang tak bergelombang. Ditumbuhi rimbunan bakau di sekelilingnya. Kita bisa berperahu ke sana.”

“kapan kita kesana, Im ?” Arlin antusias tak sabar

“nantilah, ketika bulan menjelang purnama,”

Jawaban Zaim membuat Arlin tersenyum bahagia. Bahkan senyuman itu adalah senyum paling cantik yang disaksikan Zaim sejak perempuan itu tinggal di kampong.

Perlahan-lahan luka Arlin mulai pulih. Terlebih Zaim kerap memberinya perhatian lebih. Memang iya Zaim tak langsung mengatakan cinta, tetapi, Arlin yang hatinya mulai pulih dapat merasakan lewat pancaran mata Zaim ketika memandangnya. Terkadang tajam, terkadang sayu, terkadang menyiratkan perasaan takut kehilangan.

Sementara pasang surut bergantian menata dan menyerak milyaran pasir tepian pantai. Begitu pula rembulan yang mengganti tandan demi tandan hingga berujung malam purnama. Di malam itulah jantung Zaim berlompatan ketika Arlin menggandeng tangannya dan berkata,

“kau tak pernah bilang padaku jika disini ada rumah pohon,” bola mata Arlin berbinar takjub.

“kau suka ?”

“iya. Aku suka. Teramat suka” Arlin lebih erat menggandeng tangan Zaim.

Rumah pohon mungil dibangun di tengah teluk. Butuh berperahu mencapainya. Dasarnya akar-akaran bakau yang menghujam jauh di bawah air. Tiangnya terdiri pilinan-pilinan batang bakau. Diberi papan, ditali pilinan-pilinan daun lontar, gapitan ilalang dan rimbunnya dedaunan bakau menjadi atapnya. Angin laut yang terhalang semenanjung –terasa lembut ketika menerobos dinding rumah.

“meskipun hujan, kau takkan kehujanan. Kubangun tempat ini setahun lalu. Dan sepulang menyelesaikan atap rumah ini … kujumpai dirimu berdiri di atas tebing,”

Wajah Arlin tiba-tiba bermendung. Sikapnya kikuk, wajahnya galau. Ingatan Arlin terpantik setahun lalu.

“saat  itu .. saat itu .. entahlah, Im” Arlin mengucap terbata-bata

“sudahlah, Lin. Lupakan. Kau tak perlu mengingatnya,”

Zaim menggenggam tangan Arlin lebih erat

“apa bisa begitu ?” Arlin memandang paras Zaim

“semua tergantung kita. Ya. Semua tergantung kita”

Pandangan Arlin luruh mendengar jawaban Zaim. Menunduk.

“aku ini perempuan yang kalah melawan takdir, Im. Masa laluku masa-masa yang hancur. Tak tahulah harus kuapakan hidupku ini,” kelopak mata Arlin menghangat.

“saat kau gagal berdamai dengan masa lalu, kau akan terus gelisah,”

Arlin menegakkan kepala. Memandang Zaim.

“seperti itukah ?” Arlin memandang Zaim dengan tatapan butuh pertolongan. Dan Zaim mengangguk.

“pasrahkan hidupmu seperti nelayan. Gelombang kemarin tak tentu sama dengan gelombang hari ini. Bahkan badai tak butuh alasan untuk menerjang. Kita hanya butuh membentangkan layar, berjuang mengemudi, berdamai dengan lautan,”

Arlin terdiam mencerna kata-kata Zaim. Kata-kata bijak yang lahir dari pergulatan panjang manusia dengan kehidupannya.

“tak tahu harus mengucap apa kepadamu, Lin.  Aku cuma lelaki biasa. Tetapi .. saat melihatmu, dadaku tak tenang. Hatiku cemas membayangkan dirimu meninggalkan kampungku,”

Suara Zaim terdengar bergetar. Wajahnya gelisah.

“kupikir aku mencintaimu, Lin. Kuharap kau bersedia jadi istriku,”

Mendadak Arlin tersentak. Cinta memang iya, tetapi tidak dengan menikah. Antara sedih, bingung, cemas, tak percaya, semua perasaan berpilinan jadi satu.

Arlin membisu. Putaran waktu seakan berhenti. Tetapi demi melihat tatapan Zaim yang teduh, Arlin tanpa sadar mengangguk ketika Zaim mempertanya kesediaannya untuk kali yang kedua. Arlin mencoba mendamaikan masa lalu. Mencoba memasrahkan hidup seperti nelayan mempercayai lautan.

Seminggu kemudian Zaim resmi memperistri Arlin. Kebahagiaan Zaim memuncak, sementara Arlin, perempuan itu terus berjuang mendamaikan dirinya. Mereka berbulan madu di rumah pohon.  Bercinta berbayang kelembutan cahaya purnama yang menerobos sela dedanan.

Arlin menangis. Untuk sesaat dirinya bahagia. Tetapi ternyata gangguan masa lalu lebih kuat menderanya. Arlin tak kuasa membohongi kata hatinya. Hingga selang tiga puluh hari kemudian, di atas dermaga kayu nan ringkih, ketegaran Zaim berjatuhan menyaksikan wajah Arlin serupa purnama tersapu gerhana.

“terlalu banyak kebohongan yang harus kutanggung. Maafkan aku,” jemari tangan Arlin basah air mata.

“damaikan masa lalumu, Lin. Buka lembaran baru,”

“tidak semudah itu, Im. Tidak semudah itu” Arlin menggeleng pelan

“kau tahu, Im ? aku bukan perawan ketika kau nikahi ?”

Zaim terpaku mendengar pertanyaan Arlin. Mematung.

“jawab, Im ! kau tahu, kan ?” Arlin berteriak. tapi Zaim tetap mematung.

“kau tak pernah tahu masa laluku ! bahkan namaku sendiri bukan Arlin ! aku ini .. aku ini perempuan yang kalah melawan takdir,“

Tangis Arlin meledak. Punggungnya berguncangan. Tenaga di tubuhnya tak kuasa menahan sedih. Zaim bersegera mendekap Arlin yang hampir limbung. Dibelainya paras Arlin dengan lembut.

“aku akan memintamu sekali lagi. Tinggallah bersamaku, Lin. Kumohon,” tatap mata Zaim mengiba.  Namun Arlin tak menjawab sembari tatap matanya menyirat maaf.

“diam bagi orang lain … mungkin bermakna iya, tapi kutahu diammu berkata tidak, Lin”

Dekapan Zaim kian erat. Dibelainya paras Arlin berkali-kali. Arlin menangis berkepanjang.

“cobalah tersenyum, aku ingin melihat lekuk bibirmu yang indah itu. Untuk yang terakhir kali.”

Hembusan angin mengibar-ngibar bendera perahu. Merah cakrawala di ufuk barat berpadu kelabu mendung. Sementara ombak masih kasar. Lambung perahu berbentur-bentur diombang-ambing hempasan gelombang.

Malang, Januari 2011

 
Leave a comment

Posted by on April 26, 2012 in Cerpen

 

Silakan berkomen,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: