RSS

CERPEN : MURID KIYAI DAHLAN

26 Apr

Duh ! sekuat mungkin kutahan amarahku. Bagaimana tidak, di hadapan jenazah kiai Dahlan, lelaki gondrong  itu terus-terusan mengumbar cerocosnya. Dandanannya kacau, berkaos kucel, bau kecut keringat. Celana jins yang dikenakannya bertambal-tambal. Robek-robek dari pantat, dengkul, warnanya kusam berliput debu. Lelaki itu satu-satunya penta’ziah yang bergiwang bertato. Dan yang lebih menggangguku, duh ! sungguh terlalu ! tangan kanannya menenteng botol gepeng bekas whisky.

Penta’ziah terus berdatangan memberi penghormatan terakhir. Ayat-ayat surat Yasin kian banyak dilantunkan. Lelaki gondrong itu memilih berdiri tak jauh dari jenazah Kiai, dia tak mau menyingkir. Kelakuannya mirip bocah bebal tak kenal adat. Tengok kanan, tengok kiri, cengengesan menampakkan giginya yang kuning kehitaman.

“Dahlan memang kiai luar biasa,”  ujar lelaki itu sambil menyikut penta’ziah di sampingnya.

“kujumpai dia di lokalisasi. Mojok di sudut komplek.”

Sontak kata-kata lelaki sontoloyo itu mengagetkan penta’ziah sekelilingnya. Tetapi bukannya berhenti. Lelaki itu malah cengengesan serupa anak kecil dihadiahi mainan baru.

“mula-mula aku tak menyangka kalau Dahlan seorang kiyai. Dia tak pakai sorban, tak pakai peci seperti milik kalian,” ujarnya menunjuk-nunjuk peci milik penta’ziah di depannya.

“aku benar-benar ditipu olehnya .. hahahaha,”  lelaki itu terbahak sambil geleng-geleng kepala.

Dalam hati ingin sekali kutempeleng lelaki itu, dia sudah keterlaluan. Tetapi –

“wajah Dahlan memang ganteng. Lonte-lonte disana naksir sama dia. Termasuk Maya Semok –primadona lokalisasi,”

Serentak tatap mata penta’ziah tertuju ke lelaki semprul itu. Keberatan. Menyuruhnya berhenti. namun –

“kenapa kalian melotot ? kalian tak  pernah kenal Maya Semok ?”

Senyumnya melebar. Gigi hitamnya mengejek.

“haduh –haduh, lepaslah surga dunia dari tangan kalian,” ujarnya menjadi.

“Pantatnya seperti semangka dibelah dua, dan ininya –“ lelaki itu menaruh tangan di depan dadanya dan membentuk gerakan putaran.

“muooontok ! montok semontok-montoknya montok ! sapi perah yang paling montok saja kalah !!”

“cukup, Pak ! cukup !” potongku. Aku bergerak mendekatinya. Sayup-sayup lantunan surat yasin lenyap dari pendengaran. Kegusaranku memuncak.

“kau harus menyudahi omong kosong ini. Keluarga Kiai sedang berduka,” lanjutku. Namun,

“kau siapa anak muda ?”

Tiba-tiba telunjuk lelaki itu mengacung sepuluh senti dari mukaku.

“aku Akmal. Murid Kiyai Dahlan,” kutepis tangannya hingga tersampir ke bawah

“hmmm .. Akmal,” lelaki itu manggut-manggut. Tangannya mengibas-ngibas

“”aku juga murid Kiai Dahlan, he he he .. hanya saja kau menetek ilmu di pesantren. Aku menetek ilmu di lokalisasi,” si Sontoloyo itu kembali cengar-cengir. Ingin sekali kugosok mukanya pakai sandal.

“apa maksudmu dengan ini semua ? kalau kau mengaku murid Kiai, apa begini caramu menghormati guru ?” kucoba berstrategi. Kuharap dia cepat sadar. Kalau tak sadar juga, berarti kurang waras.

Lelaki itu memoncongkan mulutnya. Siap-siap bicara.

“bolehlah aku menghormati Dahlan dengan caraku sendiri, Mal. Apa tak boleh ? hehe” ujarnya memperolokku.

“Dahlan sudah mati, dia tak butuh basa-basi”

Kurang asem ! astaghfirullah !

“keluarkan dia dari sini, Mal” ujar salah seorang penta’ziah. “ya “, “bikin onar saja !” seru yang lainnya.

Aku kemudian bergerak mendekati lelaki itu. Bersiap meringkus. Si Sontoloyo itu tengak-tengok mengukur keadaan. Botol bekas whisky diacungkannya ke mukaku.

“keluarlah sikap kekanak-kanakan kalian. Apa tak boleh aku mengenang Dahlan –guruku sekaligus guru kalian dengan caraku sendiri,” dia terkekeh-kekeh seolah dirinya yang paling benar.

“tapi caramu bukan cara yang lazim. Kau malah memperolok Kiai !” bantahku

“siapa yang memperolok Dahlan ?! aku hanya menceritakan kenanganku dengannya. Lagi pula seperti yang kukatakan kepada kalian –Dahlan sudah tak butuh basa-basi. Kutampar mulutnya pun tak akan balas menamparku. Goblok kalian ini !”

“kau sudah tak bisa diatur !” suaraku meninggi. Kulinting lengan bajuku –

“hai anak muda, aku dan Dahlan sungguh-sungguh ketemu di lokalisasi,”

“mustahil ! omong kosong !”

“haha ! kenapa mesti omong kosong ?! Kiaimu sering blusukan kesana ! kalau bukan karena dia – ”

“halah ! sudah ! ayo kuantar keluar ! mumpung belum kuseret ! bukannya menghormati, kau malah memperolok !”  kutarik lengan kanannya kuat-kuat

“tidak ! tidak mau !”

Tanganku berkali-kali ditepisnya.  Berontak.

“Kiai pasti malu punya murid sepertimu !“

Kucengkeram lengannya dan kugamit erat-erat. Lelaki semprul itu meronta kian kuat. Tubuhnya terus menggeliat.

“lepaskan, Mal ! bangsat, kau ! lepaskan atau kubanting botol ini !!”

Sial !! Seketika kulepaskan tanganku sambil mundur membuat jarak. Botol whisky kosong diangkatnya ke udara. Tangan kirinya terayun-ayun bersiap melempar botol ke dalam keranda.

“begini, Mal. Aku akan pergi, tapi beri aku waktu .. semenit,” lelaki itu memandangku seolah menjumpai orang bodoh. Kulihat sekelilingku, mereka tak berekspresi. Aku tak menyanggupi permintaannya dan menggeleng.

“hei ! aku juga murid Dahlan ! aku berhak mengenangnya !” mata lelaki itu melotot-lotot pongah.

Kupandang lagi sekelilingku, sebagian kecil setuju, mayoritas menolaknya.

“kalau kalian tak meluluskan, baiklah, akan kubanting botol ini. Lihatlah !”

“heee hee tunggu ! …”, “aduhh ! jangaann !”,

Dasar semprul ! botol itu benar-benar diayunkannya kencang-kencang. Spontan penta’ziah berteriak. Tapi untunglah botol itu masih tertahan di tangannya.

“kuberi kesempatan sekali lagi, tak ada main-main  .. satu .. dua .. tig –“

“eits. Tunggu ! “ terdengar seruan dari kerumunan penta’ziah

“kasihlah orang sinting itu kesempatan terakhir, Mal. Daripada merusak segalanya,”

Kutilik sekeliling, semua orang mengangguk. Kurasa semua orang ngeri membayangkan botol whisky melayang memasuki keranda Kyai. Wajah mereka gusar dan pucat.

“baiklah, kemauanmu dipenuhi !!” gusarku yang menyerah dengan permainannya. “bikin onar sekali lagi, kuseret ke jalanan !” ancamku sambil mengepalkan tinjuku.

Akan tetapi lelaki sontoloyo itu malah cengar-cengir. Dia kemudian mendekati keranda. Tepat di depan jenazah Kiai, tangan lelaki itu menengadah memanjatkan doa, tentunya tetap dengan botol whisky di tangan kirinya.

Kuamati gerak-gerik lelaki itu tanpa berkedip. Waspada. Tiba-tiba dia memutar tubuh memunggungi jenazah Kiai Dahlan. Gayanya mirip khatib gadungan di atas mimbar.

“hehehe ..” lelaki itu kembali cengengesan. Dan aku muak.

“aku ini murid Dahlan, sama seperti kalian. Cuma bedanya, kalian mengeram di pesantren, aku mengeram di lokalisasi. Hehehe …”

Kalimat sialan itu lagi yang diucapkan. Kesintingannya kambuh lagi. Aku bersiap-siap meringkus.

“guru kita ini sering blusukan ke komplek. Bukannya komplek tentara tapi komplek bisnis lendir. Kalau bukan karena dia, tak mungkin Maya Semok memilih pensiun dari lokalisasi.”

Lelaki itu lebih serius. Dia menarik nafas panjang. Geleng-geleng kepala.

“aku kenal Dahlan gara-gara botol ini,” lelaki itu mengacungkan botol tinggi-tinggi.

“Dahlan kuat mabok !!”

“tak mungkin !! kau mulai mengaco !! mustahil !!” bantahku seketika. Aku bergerak mendekatinya

“Hei. Apanya yang mustahil, Mal ! kau berani membantahku sedangkan kau sendiri tak tahu ! santri macam apa kau ini !”

Perkataan lelaki semprul  itu menyurutkanku. Jujur aku memang tak tahu kegiatan Kiai. Tapi, kuanggap saja ocehannya sebagai sampah dari mulut pembual.

“malam itu Dahlan menantang semua pengunjung lokalisasi untuk minum. Taruhan siapa yang paling kuat mabok diantara kami. Tapi tentu saja aku yang menjadi jawara mabok diantara pecundang-pecundang impoten macam  mereka,”

“delapan botol, sembilan botol, aku yang jawara mabok masih berdiri. Menginjak botol yang ke limabelas –aku limbung, ambrug, muntah-muntah, tapi Dahlan masih tegak berdiri,”

“aku heran, aku mengaku kalah. Barulah di kemudian hari kuakui jika kiai-mu ini istimewa, Mal. Tiap miras yang disentuhnya berubah tawar. Sialan ! sungguh sialan !.. penipu ulung si Dahlan ini !”

Sontak aku terhenyak mendengar kata-kata lelaki itu. Masih tak percaya.

“di saat pengkhotbah-pengkhotbah lain memilih nangkring di majelis taklim, Dahlan memilih berkeliling menemui orang-orang sepertiku. Dia berkata bahwa aku tak boleh berputus asa dari rahmat Tuhan. Bahwa seluruh germo, lonte, pemabok, penjudi –tetap berhak mengantongi tiket surga.”

“dan katanya lagi, agama itu obat, agama itu rahmat, mari bertuhan dengan sederhana,”

Tiba-tiba kelopak mata lelaki itu berembun. Pandangannya luruh berkaca-kaca.

“Tuhan tak butuh basa-basi. Tak butuh sorban atau peci. Siapa yang ingin kembali, Tuhan menilainya lewat hati,”

Bangil, 02/03/2011

 
1 Comment

Posted by on April 26, 2012 in Cerpen

 

One response to “CERPEN : MURID KIYAI DAHLAN

  1. Zaky Manaf

    May 4, 2012 at 10:50 am

    Mengena, bahasanya kuat

     

Silakan berkomen,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: