RSS

Cerpen : KHULDI

26 Apr

 

 

Malang, bulan Nopember. Panas mendung berganti-ganti, terik matahari menghanguskan kulit, tetapi, hawa malam menggigilkan tubuh. Musim yang salah musim menghadirkan sentakan angin di dahan pepohonan sepanjang jalan Ijen.

Aku dan ratusan orang lain termasuk Mayang, atas nama kewajiban tugas pendidikan –kini terasing di gedung tua pojok perempatan. Gedung-gedung kuno yang gagah, bercat kusam, berlekuk klasik. Sisa pesona arsitektur era post kolonial. Terasing di tempat itu tiba-tiba memunculkan getar perasaan yang tak terdefinisikan. Yang jelas –aku mulai kecanduan senyum Mayang. Aku rindu binar mata, suaranya. Gelisah saat candu-candu itu tak terpenuhi dalam repetisi yang lebih tinggi.

Kutahu inilah penyakit purba spesies lelaki sepertiku. Asal hati terpanahdan terlukai racun cinta, sedikit-demi sedikit otak mulai berani menepis logika. Di saat yang demikianlah para lelaki terbagi di dua kubu. Kubu yang pertama, mereka yangmemilih mencabut panah cinta dan mematahkannya. Dan yang kedua,jenis petualang yang memilih semakin dalam menancapkan panah cintanya dan menikmati siksaannya. Dan dalam kasus ini tentu saja aku berdiri di kubu yang kedua.

***

“aku mencintaimu, May”

“hah ? apa?! cinta ?! “

Sementara lalu-lalang pengunjung kafe kuanggap nihil serupa setan tanpa arwah. Begitulah ekspresi Mayang–terguncang 9 skala richter. Ekspresinya membekukan masing-masing kami selang 30 menit. Mayang pura-pura menyeruput jus alpukat. Bola matanya kelincatan, persis burung prenjak kebingungan mencari sarang. Hingga,

“gila kamu ! jangan main-main !”Mayang berupaya menyurutkan keterjutannya. Tapi tatap matanya terus memandangiku penasaran.

“aku berupaya jujur, May”

“hah ?! jujur ?! “ Mayang geleng-geleng kepala. “apa artinya cintamu padaku ?” tukasnya kemudian.

Bening mata Mayang menantangku. Tajam.

“entahlah, May. Kalau kau tanya itu, kepalaku juga pening,”

“hah ?!” lagi lagi Mayang terguncang. “dasar !” dia geleng-geleng kepala. Aku memilih cengengesan.

“aku punya suami, dan kau punya istri, Mas”

Aku terdiam. Tercekat.Tapi berjuang mencari kata-kata

“aku .. tak pernah pandai merumuskan perasaanku, May. Tapi, kutahu perasaanku ini cinta,”

“halah ! cinta ?! gombal !” potongnya tertawa.

“hampir dua minggu, May. Dua minggu waktu yang singkat mengenalmu, tapi .. segalanya bisa saja terjadi.Cinta mustahil ditipu, May”

“gombal kwadrat !” ujarnya lebih mantap. Tawanya lebih lebar dari sebelumnya.

“ya ya ya, aku mengerti. Mungkin cintaku jenis cinta egois, gombal-lah kalau menurut istilahmu. Tapi cintaku ini tak butuh jawabanmu, May. Aku hanya ingin bilang ada sesuatu yang menggelisahkanku, dan semua ini tentangmu. Aku mencintaimu, kau sudah tahu, bagiku itu cukup.”

Mayang perempuan istimewa. Cara berpikirnya logis, pemberani, kutahu dia tipe perempuan pemuja tantangan. Kubiarkan dia mencerna kata-kataku. Biar otaknya yang membuat keputusan.

Sehari dua hari, tak muncul respon. Tapi di hari ketiga, kenekatanku memantik banyak hal.

“kau kawan baikku, Mas. Dan aku percaya kau menghormatiku,” begitu kalimat Mayang kepadaku. Saat itu dia memainkan jemarinya. Gelisah.

“aku dan kau sangat berbeda, Mas. Aku gampang dikuasai kebosanan, kesuntukan rutinitas, sementara dirimu .. kulihat dirimu menjalani hidup tanpa beban, dan terus terang aku salut,”

Mayang tersenyum. Tapi masih gelisah. Dan keparat ! senyumnya lebih kuat dari morfin.

Saat kurespon dengan tertawa. Dia terlihat tak terima,

“mana ada manusia hidup tanpa beban, May ? monyet kalee ..”

Deb ! tinjunya mengengai lenganku. Keras. Tapi kuterima dengan cinta.

“diajak serius malah bercanda,” Mayang cemberut. Aku cepat-cepat meminta maaf. Selanjutnya butuh sepuluh menit menormalkan mood-nya.

“Kuartikan mereka yang berpikir bebas, tak terbunuh rutinitas, itulah orang-orang tak terbebani, seperti cara berpikirmu, Mas. Sedikit gila,”

“ah, kau mengolokku, May. Sama artinya kau mengatakan aku gila, iya, kan ?”

“hihihi, bukan, Mas. Aku  .. cuma .. aku cuma tertarik keliaran isi otakmu “

Mayang terkikik. Dia tertawa lepas hingga punggungnya berguncangan. Setelah menggeleng pelan,

“harus kuakui cara pandangmu asyik, Mas. Saat berinteraksi dengan kawan-kawan, kau menonjol,”

Mayang kemudian memandangku dengan tatapan lembut

“apa kau mulai tertarik denganku, May.”

“enak saja !” dia menggeleng

“jujurlah, May. Perasaanmu mulai ada,”

“gombal !” dia menggeleng lebih cepat

“Iya, pasti. Benih cintamu berakar, meski sebesar electron”

“kau memang raja gombal, Mas. Profesor paling canggih di dunia pergombalan.”

“hahahaha !” aku ngakak. Mayang ngakak. Disitulah kuyakini Mayang jatuh cinta. Benteng pertahananya telah terbuka.

“kau terlalu mudah jatuh cinta, Mas. Cinta lokasi,kenal baru dua minggu sudah ngaku jatuh cinta, cape deh” lanjutnya menghembuskan nafas. Meledekku.

“tapi kamu special, May”

“halah ! basi ! pacar-pacarku yang dulu ngakunya juga macam itu, Mas,”

“berarti benar,kan ! aku ini cuma korban. Korban perempuan special yang punya daya tarik luar biasa,”

“mulai ..” ledeknya. “kau cuma lelaki yang mudah jatuh cinta, cinta lokasi, tidak lebih,”

Aku tergelak. Dia tersenyum. Jenis senyumnya semacam godaan

“sejujurnya bukan hanya cinta lokasi, May. Terkadang ..  patah hati juga di lokasi yang sama, hehe”

Mayang geleng-geleng kepala melihat aku cengengesan.

“bagaimana rasanya ?” tanyanya kemudian

“entahlah, May. Menurutku jatuh cinta punya karakter yang sama. Tapi untuk urusan patah hati, tiap perempuan memiliki jenis racun berbeda yang membuat lelaki melata-lata meminta ampun,”

“tetapi ketahuilah, May. Aku selalu jatuh cinta dengan perempuan istimewa, jadi racun yang menyakitiku pasti istimewa,”

“gomball !” celetuknya mantap. Ia tertawa lebar.

“terserahlah reaksimu, May. Yang jelas kamu cantik, luar biasa, dan atas itu semua aku jatuh cinta. Titik,”

Aku berkata sedatar mungkin. Serius.

“satu kenyataan yang tak bisa kau ingkari, May. Kau mulai jatuh cinta denganku, meski hanya sebesar electron, akuilah,”

Tak terduga kalimat terakhirku membuat Mayang tersipu. Tatap matanya melembut, Mayang menggeleng tak percaya. Tingkah polahnya serupa rusa muda yang pasrah diterkam harimau.

“no comment,” ujarnya berdiplomasi. Memasang pertahanan terakhir

“boleh kutanya, May. Apa alasanmu tertarik denganku ?”

Mayang terbelalak. Polahnya  kikuk. Kuulurkan tangan kananku menyentuh jemarinya, ah, aku berani bermain api. Untuk sesaat, Mayang membisu. Hingga,

“entahlah, Mas. Aku .. aku mulai tak memahami perasaanku,”

Nah-nah-nah

“kita ini bebas tapi terkurung. Perasaan boleh bebas, tapi .. apa daya, kita terikat masa lalu yang membentengi,”

Malam itu, perbincanganku dengan Mayang terasa lebih indah dari sebelumnya. Mungkin karena aura perpisahan yang semakin dekat. Kupandangi wajah Mayang, semakin lama semakin cantik. Saat kedua mataku memaut tatap matanya,

“dengan berat hati .. kuakui aku tertarik denganmu, Mas” ucapnya di akhir perbincangan. Sebisa mungkin kutahan lonjakan kegembiraanku.

“benar seperti itu, May ?” aku pura-pura tak peduli

“Iya,tapi jangan ke-geer-an dulu. Aku sendiri kebingungan tak habis pikir,” Mayang menunduk. Malu.

“apa beda diriku dan suamimu, May ?”

Pertanyaanku mengangkat tundukan kepalanya. Untuk beberapa saat Mayang enggan menjawab. Hingga –

“suamiku lelaki yang paripurna, dambaan setiap perempuan normal,”

Ups. Aku tersentak. Kupikir suami Mayang lelaki bangkotan setengah impoten.

“hmmm .. berapa kau kasih angka satu sampai sepuluh,”

“9.6”

“gila ! 9.6 itu sempurna” tukasku

“ya. Paripurna kubilang” Mayang tersenyum bangga

“tapi justru kesempurnaan itu yang memantik masalah. Terkadang kudambakan hidup sedikit ber-aral. Sesuatu yang menantang. Agar hidup lebih hidup. Kau tentu paham mengapa rembulan tak purnama setiap malam,”

“hahaha ! kau mulai sentimentil, May”

“kuingin kesempurnaan keluargaku hanya bernilai 7. Sementara sisanya diisi kegilaan seperti isi otakmu. Kemapanan seringkali menghambat otak berpikir bebas,”

Duh. Malam itu kurasa kewarasan Mayang sedikit bergeser. Sisi keliarannya terbangkitkan. Kalau sudah demikian, pikiran-pikiran kacau macam itu susah dijinakkan.

Malam itu, setelah dari kafe, kuajak Mayang berjalan kaki menikmati kelap-kelip lampu di tengah kota. Kelip warna-warni lampu di tengah boulevard memencar tak berpola serupa kembang api. Tapi Mayang lebih terpesona melihat sorotan lampu di menara lonceng gereja tua. Sorotnya lembut, berkesan kudus. Mayang tersenyum manis. Dia terlihat bahagia. Ketika tubuhnya menggigil kedinginan, kulepas jaketku dan kuseliputkan ke tubuhnya. Wajahnya tersipu. Malu kemerahan.

“malam ini kau menginap dimana ?” tanyaku yang menilik jam tangan.

“terlalu larut kembali ke asrama. Pukul sepuluh,”

“hotel Tugu, Mas”

“suamimu tahu ?”

“semoga tidak ..” suara Mayang menyirat khawatir.

Kuantar Mayang menuju hotel. Sementara aku –tak kupedulikan lagi dimana diriku menginap. Ah, di warung kopi pun jadi.

Selasar panjang hotel menjadi saksi betapa kuatnya medan magnet seorang Mayang. Sepanjang langkah tak lepas sedetik pun kukagumi parasnya. Ah, rambut ombaknya yang harum. Bibir yang mengatup separuh terbuka. Hingga –

Tiba-tiba saja kami sampai di pintu kamar.

“kau bermalam dimana, Mas?”

Aku terkejut.

“tak usahlah kau pedulikan aku. Menggelandang di warung kopi pun jadi,“

Mayang tertawa mendengarnya

“baiklah kalau begitu,” ujarnya memandangku. Sesaat terkesan Mayang ingin mengucap sesuatu.

“mau kupesankan teh panas ? “

“ah, nggak usah,”

“kau sudah kena angin dari tadi, Mas. Jaketmu kupakai,”

Aku memilih tak menimpali. Detak waktu tiba-tiba membeku.

“setelah minum teh panas, kau boleh pulang. Kupesankan, ya”

Lagi-lagi aku terdiam. Tapi hasrat hatiku berlompatan.

Mayang membuka pintu. Dilepasnya jaketku dari tubuhnya. Aku lantas menutup pintu.

“May,” kupanggil namanya. Dia menoleh, tersenyum kepadaku. Senyum yang bahkan paling cantik.

Hasratku tiba-tiba menggelombang. Emosi melunturkan logika warasku. Entahkah Mayang menjawabku, tapi telingaku tak mendengar. Kudekati dia, kupeluk, kucium bibirnya.

Mayang menggeliat, tapi tak meronta. Bibirku dilumatnya, liar nafasnya tersengal. Mayang mendesah. Tanganku ditarik dan diletakkan di dadanya. Namun,

Di saat ekstase seperti itu tiba-tiba air mata Mayang mengalir. Sontak dia mendorongku menjauh, mendorongku berkali-kali.

“kenapa, May ?”

“maafkan aku, Mas. Kumohon pergilah”

“May, ada apa ?”

“demi Tuhan pergilah. Aku mendengar tangisan putriku,”

Air mata Mayang kian deras. Ditangkupkannya kedua telapak tangan di wajahnya.

“May, maafkan aku. Seharusnya –“

“cepatlah pergi, Mas. Jangan ganggu aku. Lupakan aku. Kumohon,”

Saat itu tak ada pilihan lain. Aku beringsut menyingkir seperti pecundang.  Duh, seharusnya aku lebih menghormati Mayang.

***

Di akhir pertemuanku dengan Mayang, kulihat dia dijemput suami dan putrinya. Sedangkan aku, istri dan putraku menjemputku. Menyaksikan Mayang lepas dari mataku membuat serpihan batinku berjatuhan. Labirin-labirin tipis batinku porak poranda dihantam badai. Aku dan dia berpapasan di gerbang lembaga.

“kenalkan, Mas. Suamiku, dan putri kecilku,”

Mayang tersenyum seolah tak terjadi sesuatu. Dalam hati aku merasa malu.

“istriku dan jagoan kecilku, May”

Aku menyalami suami Mayang, suami Mayang menyalami istriku. Putri kecilnya tersenyum melihat putraku, mereka seumuran. Keduanya berjabatan tangan malu-malu.

“istrimu perempuan tangguh, Mas. Dia salah satu yang terbaik diantara kami. Sepuluh tahun lagi –dia pasti  jadi pejabat,”

“amin ..” suami Mayang menjawab datar, tapi ekspresi wajahnya menyirat kebanggaan.

Kuamati gerak-gerik suami Mayang, gaya bicaranya lembut, khas orang mapan. Suami Mayang setipe dengan istriku yang keturunan ningrat.

“Istriku ini dulu aktivis, Mas. Beda dengan aku,”

Pantas. Aku tertawa mendengarnya.

Terkadang kuberpikir –bagaimanakah sensasi rasa buah khuldi yang tergigit ibunda Hawa. Apakah manis, pahit, ataukah buah itu malahan tak berasa apa-apa. Yang jelas perasaanku kepada Mayang akan kuingat seperti khuldi. Yang berasa manis, kemudian pahit, dan kemudian tak berasa apa-apa.

Tapi, kurasa dimana-mana buah terlarang pastilah wujud lain dari sesuatu bernama petaka. Iyakah ?

Nop. 2010

 
3 Comments

Posted by on April 26, 2012 in Cerpen

 

3 responses to “Cerpen : KHULDI

  1. FaraLest

    April 28, 2012 at 6:42 am

    Wah ini keren.

     
  2. Anonymous

    May 2, 2012 at 6:09 am

    Imajinasi tingkat tinggi

     
  3. Renata Kamaratih

    October 21, 2012 at 11:42 am

    Keren euy

     

Silakan berkomen,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: