RSS

Cerpen : Cinta tak butuh alasan

26 Apr

 

Rongga dada Meyna sesak.Wajahnya bermendung. Hiruk-pikuk ruang tunggu terminal internasional bandara Soekarno-Hatta tak sedikitpun mengusiknya.Membaca kembali Blackberry Messenger Anton 2 mingguyang lalu membuat kelopak matanya berembun.

anton_climb : Mey, sorry. Aku telat ngasih kabar. Miko mengalami kecelakaan pendakian

Meyna : kecelakaan ?! ya Tuhan ! kapan ?! Miko kenapa ?!

anton_climb : sampai detik ini aku nggak tahu pasti, Mey. Secepatnya aku meluncur ke basecamp.

Meyna: tapi Miko gapapa, kan, Ton ? duuhh ..

anton_climb : semoga gapapa, Mey. Kabar terakhir dia terserang frostbite. Dia dirawat Himalayan Medical Rescue.

Meyna: ya Tuhan .. Please bantu dia ya, Ton.

Last mesage received Jan 12,2011 11.04 pm

Tiba-tiba air mata Meyna menitik. Perempuan itu membayangkan Miko tergeletak di hamparan salju, tersiksa, menggigil kaku di suhu ekstrim minus 30 derajat Celsius.Rasa sesal seketika memenuhi rongga dadanya.

Bagi Meyna, Miko adalah lelaki nekat, sekaligus keras kepala. Bagaimana tidak, tiga bulan yang lalu dirinya sudah melarang Miko berangkat mendaki puncakAnnapurna I, gunung di wilayah Nepal dengan ketinggian 8.091 meter di atas permukaan laut. Gunung tertinggi ke-2 di dunia, gunung paling berbahaya dalam dunia pendakian,meskipun arti nama sesungguhnya dari Annapurna adalah Dewi Kesuburan.

Dari Jakarta Miko berangkat berdua dengan Anton. Setibanya di kota Pokhara, mereka memilih melanjutkan pendakian menuju areal basecamp Machhapuchhre di ketinggian3700 meter untuk melakukan aklimatisasi. Namun di tengah proses aklimatisasi, paru-paru Anton mengalami peradangan sehingga paramedis memaksanya turun gunung. Dan setelah memastikan Anton mendapatkan perawatan medis di kota Pokhara, Miko memutuskan bergabung dengan rombongan pendaki Norwegia yang berencana menaklukkan puncak Annapurna I dari sisi selatan. Dan sungguh, demi mendengar rekam jejak keangkuhan julangan tebing-tebing es di rutesisi selatan, sudah dipastikan perjuanganmencapaipuncak bukanlah ambisi yang mudah. Tetapi Miko dan rombongan pendaki Norwegia sudah berhitung segalanya. Mereka bersiap menaklukkan puncak gunung meski menghadapi resiko terburuk sekalipun.

***

Sementara sore menjelang senja. Barisan sinar lampu Instrument Landing System membentuk titik-titik indah di atas kegelapan runway. Meskipesawat tujuan Nepal-Jakarta dinyatakan telat mendarat,Meynamemilih menunggu.Wajah cantiknya serupa purnama yang tengah gerhana, kekhawatiran merampas keriangan hatinya. Di saat yang demikian kenangan dirinya bersama Mikodatang mengusik.

“aku  ingin menulis puisi untukmu, Mey”, begitulah kata-kata Miko tujuh tahun lalu, ketika mereka kuliah di semester pertama, juga di fakultas yang sama.

“menulis puisi ?! buatku ?!”  Meyna menyahut. Keningnya berkerut.

“Iy ..Iya, Mey. Puisi”ketika itu Miko menjawab dengan sedikit tergagap. Meyna tertawa kecil melihatnya. Dirasanya kawan barunya itu sedikit nyentrik.

“mengapa kamu ingin menulis puisi buatku ?” Meyna menghentikan tawanya dengan menyimpul senyum.

“tapi, kamu jangan marah ya, Mey. Janji.”

Meyna mengangguk melihat tatapan tulus Miko.

“sepertinya .. aku mencintaimu, Mey.”

Sesaat jantung Meyna berhenti berdetak. Udara seakan berhenti bertiup.

“hah ?apa ?cinta ? nggak salah?!!”Meyna terkejut, otaknya berhenti mencerna. Sorot matanya menyirat ketidakpercayaan.

“Bagaimana kamu bisa jatuh cinta denganku ? kita juga baru kenal,”

“entahlah, Mey. Aku sendiri nggak ngerti,”

“nggak ngerti ?!,” Meyna menggeleng pelan sambil berangsur-angsur tertawa.

“apakah selamanya cinta harus memiliki alasan, Mey ?”pertanyaan Miko yang terkesan serius membuat Meyna menghentikan tawanya. Perempuan itu menatap Miko dengan tatapan yang lembut.

“Menurutku cinta pasti punya alasan, Mik. Cinta itu logis, harus bisa dijelaskan. Bukan lantaran kamu ingin membuatkanku puisi, lantas kamu simpulkan perasaanmu sebagai cinta, iya, kan ?” binar mata Meyna yang teduh membuat hati Miko berdesiran.

“justru menurutku cinta itu tak butuh alasan, Mey.Cinta itu ranah hati, bukan ranah otak,” Miko mencoba menimpali. Meyna mengernyit serius.

“Iya, aku tahu.Tapi meskipun cinta ranah hati, cinta itu terdefinisikan dan punya alasan. Kalau cintamu cinta yang abstrak, berarti cintamu cinta yang sentimentil, cinta jenis itu cuma milik pelamun,dan lamunanmu itulah yang mendorongmu membuat puisi,”

“tidak, bukannya seperti itu, Mey,” Miko menatap Meyna dalam dalam.

“Kuakui aku jatuh cinta denganmu dan bagiku itu cukup.Cintaku bukannya abstrak tetapi sederhana–hingga tak perlu dijelaskan lagi.Haruskah kukatakan aku mencintaimu karena kamu cantik, karena rambutmu yang indah, matamu yang teduh, atau .. karena kamu yang baik, pintar, dan cocok diajak ngobrol. Demi Tuhan tidak seperti itu, Mey”

Kalimat pembelaan Miko membuat Meyna menarik nafas dalam-dalam.

“tetapi bagaimanapun itu, aku masih percaya jika cinta harus punya alasan, Mik. Cinta yang tak punya alasan hanya cinta yangdimiliki pelamun,” tatap mata Meyna menunjukkan jika ia tak ingin mengalah.

“Dan lagipula aku belum mengenalmu dengan baik.Kalau kamu cuma ingin mengutarakan cintamu kepadaku, maka aku berterima kasih. Tapi kalau dirimu berharap lebih, maafkan aku, aku tak bisa .Dan karena kamu tak punya alasan atas cintamu, maka akupun tak bersedia mengatakan alasanku bersikap yang demikian,”

Seketika Miko diam tak bereaksi.Dadanya terasa pecah dan perih mengetahui cintanya patah di tengah jalan. Miko lantas mengumpulkan kata-kata.

“apakah .. ada kemungkinan dirimu berubah pikiran, Mey ? apakah ada harapan suatu saat kau mencintaiku ?”

Pertanyaan Miko membuat kepala Meyna terasa berat. Perempuan itu kemudian memandang Miko dengan tatapan iba.

“Kuharap dirimu jangan berharap terlalu banyak.Ketahuilah, aku ini perempuan yang tak suka mengambil resiko, dan bagiku ranah perasaan itu bukan ajang coba-coba. Cinta jenis perjuangan yang mahal, butuh waktu sekaligus pembuktian. Bukan sekedar iya atau tidak,”

Miko tertunduk mendengar kata-kataMeyna. Ia kecewa. Tapi kata-kata Meyna membuat cintanya tertancapsemakin dalam. Bagi Miko, cinta Meyna adalah cinta yang layak diperjuangkan.

“Mey, masih bolehkah aku menulis puisi buatmu ?”

Meynamengernyit mendengar pertanyaan Miko. “Kalau kubilang aku tak percaya puisi, apa kau masih ingin membuatkanku puisi ?” Meyna tertawa kecil, terkesan menggoda Miko.

“aku ingin membuatkanmu puisi dengan cara yang tak pernah dilakukan siapapun sebelumnya,semoga dengan itu kamu terus mengingatku,”

“maksudmu ?”

“aku ingin membuatkanmu puisi dari titik-titik tertinggi, dari puncak gunung-gunung,”

Spontan Meyna terkejut mendengar kata-kata Miko. Ia tak habis pikir. Baginya rencana itu adalah rencana yang gila.

“Jangan memperlakukanku demikian, Mik.Itu sama halnya menyiksa dirimu sendiri,” kata-kata Meyna bernada keberatan.

“tidak, Mey. Kamu salah mengartikan. Sebenarnya -”

“lalu untuk apa dirimu bersusah payah menulis puisi di puncak gunung?! untuk pembuktian ?!aku tak butuh itu ! dan lagipula sudah kubilang aku tak percaya puisi. Caramu yang demikian mirip selebriti pencari sensasi,” tiba-tiba suara Meyna bernada kesal. Miko diam untuk sementara, mencari kata-kata.

“maafkan aku yang membuatmu jengkel, Mey. Bagiku dirimu adalah inspirasi, dan aku percaya cintaku kepadamu adalah kekuatan,” Miko menatap Meyna seraya mengharap pengertian.

“Dan lagipula sejak lama hobiku mendaki gunung. Di puncak-puncak tertinggi aku akan tetap membuatkanmu puisi, meskipun dirimu tak bersedia, atau meskipun dirimu tak percaya apa itu puisi,”

“sentimentil, keras kepala, perpaduan paling payah dari keangkuhan kaum lelaki ! sudah kubilang aku tak butuh pembuktian semacam itu,”

kalimat Meynaseketika mengunci bibir Miko.Lelaki itu hanya mampu menatap nanar saat perempuan yang dicintainya memilih pergi meninggalkannya.

Sementara waktu terus berjalan. Rembulan-matahari yang bergantian memanjati langit membingkai peristiwa di masa depan.

Meyna melanjutkan hari-harinya dengan menepis Miko dari hidupnya. Dirinya tak ingin lelaki itu mengusiknya dengan ambisi-ambisiyang terdengar gila. Akan tetapi, demikianlah cinta membuktikan semuanya. Ketenangan Meyna tak berumur panjang. Setiap kali Miko selesai menjalani ekspedisi, datanglah puisi, cerita, dan foto-foto penjelajahan Miko melalui e-mailnya. Gambaran kecantikan sungaiyang mengalir jernih, keeksotisan hutan pinus-cemara, keindahan danau yang dikelilingi bebukitan, hamparan padang ilalang, secara kerinduan Miko kepada Meyna kian tertancap saat bertualang di alam bebas.

Tak ada yang tak hadir tentangmu disisiku, Mey.

Apalagi di kala malam.

Semoga malam ini kau dan aku memandang rembulan yang sama, Pikat-rinduku.

Awalnya Meyna tak menanggapi, terlebih membalas puluhan email Miko. Tetapi demi menyaksikan foto-foto eksotik tiada tara kiriman Miko, Meyna penasaran dan mencari tahu titik-titik penjelajahan Miko melalui internet. Meyna akhirnya mengerti jika puisi yang ditulis Miko berasal dari padang ilalang Surya Kencana di gunung Gede, di puncak vulkanik gunung Merapi, di puncak Mahameru, Danau Segara Anak di Rinjani, tebing-tebing Tambora, dan bahkan penggalan puisi yang meluluhkan hatinya ditulis saat berekspedisi ke Cartenz Pyramid di Papua.

Badai, tebing-tebing salju, dan tamparan angin, aku siap menanggungnya.

Tapi aku tak kuasa menghadang badai hatiku, kala merindumu, Mey.

 

(Cartenz Pyramid, 13thMay 2010)

Di akhir e-mailnya, Miko menulis,“Dua bulan lagiaku akan ke Annapurna di Nepal, disana akan kutulis puisi untukmu,Mey”

Message sent,May 13, 2010 10.10 am.

Kelopak mata Meynaberembun membacanya.Dirinya kagum dengan Miko yangmemilihsetia dengan cintanya.Meyna kemudian mengetik kata “Annapurna” di google search engine, namun tak lama kemudian, batinnya tersentak.

“ya, Tuhan, rencana apalagi ini,” Meyna menggumam perlahan. Dia kemudian membuka BlackberryMessenger. Jemarinya seketika menari di atas keyboard.

Meyna : Miko, jangan nekat. Jangan menyiksa diri seperti itu. Sudahlah, buat apa ke Nepal segala.

Miko_adv : aih, Meyna, Pikat-rinduku. Bagaimana kabarmu hari ini ?. lama nggak ngobrol malah marah-marah.

Meyna : sudahlah, aku nggak mau basa-basi. Kabarku baik, tapi itu sebelum membaca emailmu yang ke Nepal segala. Buat apa sih terus-terusan menyiksa diri seperti itu.

Miko_adv : Ups ! cinta tak pernah ada kata siksa, Mey. Semua bisa berubah menjadi manis. Hehe . Sorry, bercanda. Aku tahu kau pasti marah membaca emailku.Tetapi semestinya kamu tahu,Mey. Di dunia ini aku  hanya memiliki dua medan pendakian yang sama-sama ingin kuraih puncaknya.Yang pertama adalah puncak-puncak gunung, dan yang kedua adalah hatimu. Dan hatimu itulah gunung paling terjal yang pernah kudaki.

Meyna : sentimentil !! keras kepala !! berkali-kali kukatakan selama ini kamu tidak membuktikan apa-apa ! kalau kamu ingin membuktikan cintamu, cara seperti itu adalah cara yang salah !

Miko_adv : sebenarnya aku enggan berdebat salah atau benar, Mey. Tetapi kalau kamu bilang selama ini aku tidak membuktikan apa-apa, akuilah jika kamu bohong, waktu-lah yang mengatakan isi hatimu saat ini

Membaca tulisan terakhir Miko di messenger membuat Meyna menyerah. Dia seketika menelepon Miko.

“tak mengertikah aku mengkhawatirkanmu ! kubaca di internet Annapurna gunung yang berbahaya ! puluhan pendaki mati di tempat itu !!”

”Mey, sebenarnya –“

“aku tak ingin mendengarmu alasanmu, karena aku tahu kau pasti berangkat meskipun aku melarangmu ! kumohon, berhati-hatilah,”

Seketika Meyna menutup ponsel tanpa memberi kesempatan Miko berkata-kata .Selanjutnya Meyna berkali-kali me-reject panggilan telepon dari Miko.

Dan kini, di ruang tunggu terminal bandara Soekarno-Hatta, Meyna tersentak mendengar pengumuman penerbangan Nepal-Jakarta telah mendarat. Meyna bergegas setengah berlari, lentik jemari menyeka embun di kelopak matanya, emosi yang memenuhi rongga dada melesak lebih dalam.

Ketika dijumpainya Miko berdiri dan tersenyum ke arahnya, langkah Meyna tiba-tiba terhenti. Anton yang berada di samping Miko memilih menyingkir dan memberi ruang.

Keharuan Meyna menggelombang. Genangan di kelopak matanya tak tertahan. Meyna cepat berlari. Tubuhnya kemudian menubruk dan meringkuk di pelukan Miko.

“sentimentil ! keras kepala ! kamu jahat !” Meyna terisak lirih.

“sstt .. sudahlah, Mey. Aku tak apa-apa. Hanya saja .. dua ruas jari tangan yang selnya mati terpaksa berpisah dari tubuhku,”

Meyna mendongakkan kepala menatap Miko.Sesaat kemudian ditatapnya Anton dengan tatapan terima kasih. Air mata perempuan itu mengalir.

“tapi aku masih bisa menulis puisi buatmu, Mey. Jutaan kata pun masih bisa,” Miko tersenyum lembut. “Kau masih percaya jika cinta harus punya alasan ?” Miko  menyeka air mata di pipi Meyna. Tatapan mereka bertemu.

“sudahlah, Mik. Jangan berpolemik semacam itu, aku lelah sekaligus takut berurusan dengan lelaki nekat sepertimu. Yang jelas saat ini aku menyerahkan hatiku kepada lelaki sentimentil, keras kepala, sekaligus pelamun gila yang gemar naik-turun gunung,”

Meyna tersenyum haru, Miko tertawa bahagia.Langkah kaki mereka tegap meninggalkan selasar bandara.

***

 
4 Comments

Posted by on April 26, 2012 in Cerpen

 

4 responses to “Cerpen : Cinta tak butuh alasan

  1. doremi

    May 4, 2012 at 10:23 am

    Keren, tapi sentimentil

     
  2. jajang

    May 4, 2012 at 10:44 am

    Blognya Apik euy !! Salam kenal Kang

     
  3. Afvendiant

    May 18, 2012 at 3:35 pm

    sedikit kritik saja bang..
    ANNAPURNA itu gunung tertinggi ke-10 di dunia…
    ke-2 itu K2 (Godwin Austen)..

    tapi keren ceritanya!!!

     
    • Anonymous

      May 18, 2012 at 5:49 pm

      Thanks koreksinya .. Salam kenal

       

Silakan berkomen,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: