RSS

Cerpen : Jalan yang Tak Berujung

13 May


Rasanya aneh mendapati penumpang kereta yang berhimpitan seperti sekarang. Sesak. Teramat sesak. Dipenuhi mereka yang ngebet mudik ke tanah jawa, setidaknya begitu kata penghuni Jakarta. Ya. Menyaksikan  mereka yang berdesakan tak karuan –seketika mengingatkanku pada pesan Mama. Saat kutelepon beberapa menit yang lalu, beliau  mengingatkanku agar berhati-hati sepanjang perjalanan, karena terlalu sering surat kabar memberitakan tindak kejahatan di atas kereta. Mampus. Overdosis. Pencurian. Atau, barang digarong halus menggunakan ilmu gendam. Ah, kemudian kuteringat pesan terakhir Mama sebelum menutup telepon. Beliau mengingatkanku jangan lupa berdoa.

Liburan kali ini aku kehabisan tiket kereta eksekutif, tapi, nasibku masih lebih beruntung karena memperoleh bangku kereta bisnis. Sebenarnya nasibku sama seperti penumpang yang bersesakan di lorong dan bordes, mereka pun mengantongi tiket resmi. Hanya bedanya, tiket mereka tak bertempat duduk, sedangkan tiketku memiliki nomor bangku. Mereka yang  mengantongi tiket berdiri terpaksa menggerombol di lorong kereta yang sesak panas, dihembusi kipas angin karatan yang tak seberapa kuat tiupannya. Kipas angin keparat itu menggantung tak kukuh, menoleh kesana kemari persis manusia linglung yang kebingungan membayar tumpukan hutang. Bayangkan ! Jakarta-Surabaya yang 1000 kilometer harus berdiri. Dinamai bisnis pula jenis kereta semacam ini. Edan ! ini belum kereta ekonomi.

Kursiku berada tepat di depan toilet. Sementara di sampingku, lelaki paruh baya yang bau keringatnya seharusnya tercatat rekor MURI. Bikin pusing. Kecutnya minta ampun. Ah, mimpi apa aku semalam. Lelaki itu terus asyik memandang ke luar jendela tanpa mempedulikan apapun. Dan di saat angin jendela menerobos menghembusi tubuhnya, seketika itu pula aroma keparat itu memperkosa penciumanku. Kupasang syal di depan hidungku. Bangsat !

Laju kereta kian cepat. Stasiun Jatinegara sudah terlewati 15 menit. Tak ada pedagang asongan yang hilir mudik namun, di kereta bisnis pengasongnya digantikan kru kereta. Halah ! bagiku sama saja. Tiba-tiba terdengar suara riuh di bordes bagian depan.

“permisi, permisi” suara lembut perempuan tertangkap telingaku meski gemeletak kereta sangatlah kencang. Kemudian kulihat tangan perempuan menyibak-nyibak di kerumunan.

Perhatian seluruh penumpang tertuju ke arahnya. Apalagi yang lelaki.

Dia terus berjalan ke arahku, matanya terus menilik nomor yang tertera di dinding kereta. Dan, setibanya di deretan bangku tempatku,

“bangku 42 B ?”  tanyanya sambil sekilas menilik dinding kereta.

“kursiku nomor 42 A. Kursi 42 B sebelah sini,” jawabku sambil menunjuk lelaki kecut. Sekalian kutunjukkan tiketku.

Ah, dasar Cap Kadal ! rupanya si lelaki kecut asal nangkring di kereta ini. Setelah perempuan cantik itu menunjukkan tiketnya, lelaki sontoloyo itu ngacir sembari cengengesan laiknya monyet gegar otak. Syukurlah, satu kesialan hengkang dari mukaku.

Sejenak perempuan itu menaruh tasnya yang mirip punyaku. Dia tersenyum kepadaku. Cantik. Seperti kejora. Hatiku serasa dijentik melihatnya. Dia kemudian duduk di sampingku, aroma wangi mencumbu hidungku, apalagi, sekali lagi dia tersenyum menunjukkan lesung pipinya. Ah, Snow in Sahara. Ya, Snow in Sahara. Teduh dan meneduhkan. Syukurlah. Rasa-rasanya kepengapan mulai teralihkan. Seolah mendung tercerai angin hingga matahari mucul kembali.

“tujuan kemana, Mas” basa-basinya sembari memandangku. Jantungku tiba-tiba berayun.

“aku .. Surabaya,” sahutku yang terputus

“oh, Surabaya, pemberhentian terakhir,” sekali lagi ia tersenyum. Indah.

“Mbak sendiri turun dimana ?” tanyaku mengakrabi

“jangan panggil saya Mbak, panggil saja Dayu, itu panggilan saya,“

“hehehe .. kalau begitu, perkenalkan, saya Norman,” sahutku sembari mengulurkan tangan. Aku mengagumi keramahannya. Dayu lantas menerima uluran tanganku dengan hangat.

“tujuan saya lebih dekat dari Mas Norman. Saya turun di stasiun Semarang Tawang,”

“jam berapa nyampe sana ?” tanyaku melanjutkan basa-basi

“entahlah, biasanya kalau lancar, jam dua pagi baru  nyampe. Kalo Mas Norman masih 5 jam lagi dari Semarang, mungkin jam tujuh pagi nyampe di Surabaya,”

“loh, bukannya di tiket tertera pukul 06.30 ?”

“itu kan teorinya, prakteknya nggak pernah setepat itu. Kereta keseringan telat,“ ujarnya lembut.

“ah, iya juga sih,” Aku mengangguk pasrah lantaran tak mengerti.

by the way, kamu kerja di Jakarta, Yu ?” tanyaku kemudian

yup, di daerah Kuningan,”

“Kuningan ? di bidang ?”

“aku perawat, Mas”

“oh, pantesan,” aku berekspresi.

“kok pantesan ?”

Aku tersenyum sejenak sebelum menanggapi pertanyaannya. Senyum yang nakal.

“perawat kebanyakan cantik. Biar pasiennya krasan, biar dokternya juga krasan. Kalau si pasien sudah simpatik, dari dalam dirinya timbul sugesti untuk sembuh. Apalagi lihat perempuan cantik,”

“ah, Mas Norman bisa saja,” ujarnya yang tersipu. Dayu kian cantik saat tersipu. Hatiku berkembang melihatnya.

“asli Semarang ?” tanyaku lagi

“sebenarnya bukan,Mas. Saya lahir dan dibesarkan di Solo. Tapi pas kuliah, saya pindah ke Yogya karena diterima disana,”

“jadi ke Semarangnya urusan kerjaan ?”

“bukan,” jawabnya singkat. “Semarang rumah pacar saya,”

“Pacar ? ohhhhh,” aku mengangguk berkali-kali serupa kambing mengunyah rumput. Terkesan tolol memang. Ah, sayang sekali. Cantik-cantik sudah ada yang mengadopsi. Begitu umpatku.

Sejenak, aku kehilangan topik pembicaraan, padahal niatanku sebenarnya ingin berkenalan lebih jauh. Setidaknya mendapatkan nomor ponsel, atau alamat, atau jika lebih beruntung –tidak tertutup kemungkinan Dayu bersedia menjadi pacar yang kubanggakan di depan Mama. Cantik, supel, ramah, kurasa Dayu perempuan yang pandai bergaul.  Setidaknya itulah bayanganku sejak pertama berbincang dengannya. Tapi sudahlah, berdampingan dengan kawan cantik di atas kereta pengap sudah merupakan anugerah. Syukur-syukur dia tak keberatan memberitahu nomor ponselnya, atau, siapa tahu sebentar lagi dia putus dengan  pacarnya, atau lagi, bisa saja pacarnya selingkuh dengan orang lain. Ah, pikiranku ngelantur kemana-mana.

Paras Dayu memang indah, bercahaya. Rambut tebalnya menghitam, pasti menyenangkan jika dibelai. Terus .. terus .. memandangi perempuan cantik memang melenakan, apalagi membayangkan menjadi milikku. Ups !  aku kelimpungan lantaran terpergok mencuri pandang ke arahnya. Mataku yang berkelincat tertangkap tatapannya.  Ah, sial ! syukurlah, Dayu cuma tersenyum. Sepertinya dia terbiasa menghadapi lelaki yang suka curi-curi pandang sepertiku.

“Dayu, kukira Dayu adalah nama dari Bali,” kucoba mengalihkan perhatian setelah ketahuan mencuri pandang. Dia lantas menoleh ke arahku, tatapannya menyelidik.

“kenapa bisa begitu ?” tanyanya.

“ya.. kukira Dayu singkatan dari Ida Ayu,” tukasku yang sok tahu.

“bukan. Namaku bukan Ida Ayu. Tetapi kasusnya sedikit mirip,”

“maksudnya ?”

“ya. Sedikit mirip. Dayu sebenarnya juga singkatan, tapi bukan Ida Ayu,”

“terus ? Raden Ayu?” kejarku

“bukan,”

“lantas ?”

“Nama pemberian ayah saya sebenarnya Dyah Ayu.  Tapi sejak kecil saya kerap dipanggil Dayu. Dan panggilan itu melekat hingga dewasa,”

“jangan-jangan kamu keturunan darah biru. Kamu dari Solo, jenis nama kamu juga biasa disandang perempuan bangsawan,” ujarku menyanjungnya.

Dayu tak bereaksi. Dia cuma memandangku. Tersenyum.

“Iyakah, Yu ?“  tegasku

“mmm …. mungkin secara kultural seperti itu,” dia menjawab lembut setelah sebelumnya sedikit ragu. Dayu menjawab santun. Menumpahkan senyum. Bersikap seperti bangsawan  yang cuma kubayangkan lewat cerita jaman lama.

“tapi jaman sudah berubah, terkadang saya malah risih jika ditanya seperti itu,”

“risih ?! kok aneh. Bukankah sebuah kebanggaan memiliki tali genetik dengan raja-raja di Pulau Jawa,”

“ya  … mungkin ada yang berpikiran seperti itu, tetapi saya tidak,” ujar Dayu lembut.

Ya Tuhan, indah sekali gaya bertutur makhlukMu ini. Mempesonaku. Tapi sayang, sekali lagi sayang, dia sudah punya pacar. Sial ! semoga pacarnya impoten !! umpatku dalam hati.

“sering naik kereta ini, Yu ?” aku terus mengakrabi

“lumayan sering, tapi Mas Norman sepertinya baru pertama kali,”

“kok tahu ?”

“lah iya. Terlihat kontras,” Dayu tersenyum lebar

“kontras ? dari mananya ?”

“mungkin Mas Norman tak percaya .. dari awal kuperhatikan, Mas Norman kurang nyaman di kereta,”

“ha ha ha,” aku tergelak mendengarnya. Sekaligus merasa malu.

“dan juga, sepertinya Mas Norman tak terbiasa dengan kereta yang sesak pengap, benar,?”  desaknya

“iya. Kamu benar. Tapi tak sepenuhnya,” sahutku yang menikmati parasnya

“kita yang sama-sama penghuni Jakarta pasti terbiasa  menghadapi carut marutnya transportasi. Tapi itu untuk jarak dekat, bukan jarak jauh seperti Jakarta- Surabaya,” lanjutku

“Aku kehabisan tiket kereta eksekutif. Pengen terbang dengan pesawat malah tiketnya naik gila-gilaan. Bayangkan, agen-agen tiket mematok dua juta buat Jakarta-Surabaya. sinting ! mending uangnya kubelikan oleh-oleh keponakan daripada memperkaya agen-agen oportunis itu ! mentang-mentang tanggal merah kembar tiga !“ tukasku

Dayu tergelak mendengar umpatanku. Aku malah bingung. Tapi melihat senyumnya yang indah malah menerbitkan penasaranku. Ah, sepertinya ada yang salah. Ya, dia menertawakan kelucuan sikapku.

“kenapa tertawa, Yu? ada yang salah ?” tanyaku menyela tawanya

“tidak. tidak ada yang salah, Mas” jawabnya sekuat tenaga menahan tawa

“lantas ?”

“ya … lucu aja membayangkan seseorang tersiksa karena belum pernah naik angkutan menyebalkan, padahal banyak loh yang lebih parah, apalagi kalo mudik lebaran,”

“wah-wah, amit-amit. Sudah panas, penuh sesak, nyampe Surabaya langsung check in di rumah sakit. iya kalo dapet perawat cantik seperti kamu, kalo nggak …, gagal lebaran,”

“duh, nggak sampe segitunya kali ..” dia malah tergelak sambil mengerling. Cantik. Dan sepertinya, aku mulai berani merayu.

Laju kereta kian cepat. Melesat. Seolah tak sabar segera sampai di pemberhentian berikutnya. Kipas angin nan ringkih menggeleng-geleng sambil terayun goncangan. Para penumpang yang sebelumnya berdiri –kini berbagi posisi dengan menggelesot di lorong, toilet, sekaligus bordes. Dan setelah meninggalkan stasiun Cikampek, Kondektur terhitung cuma sekali menyela percakapanku dengan Dayu. Namun setelahnya, kuteruskan perbincangan kami yang kian hangat –disaksikan puluhan pasang mata termasuk lelaki kecut yang kuduga iri lantaran tak punya kesempatan intim berbincang dengan perempuan cantik.

“dengan segala kelebihan dan kekurangan, aku belajar mencintai kereta, Mas. Dan hasilnya, aku lebih suka naik kereta daripada pesawat,” Dayu memandangku dengan seksama.

“kenapa bisa begitu ?”

“Kereta itu jenis transportasi eksotis. Di sepanjang jalur yang dilalui, kereta mampu menghidupi banyak orang, bahkan ribuan, “

“petugas KA maksudmu ? mereka kan digaji negara,”

“bukan, bukan petugas KA. Yang kumaksud mereka dari golongan orang pinggiran. Pengasong, penjaja nasi, penjual minuman, penjual kacang, penyewa bantal plus selimut, bahkan kalau di kereta ekonomi, ada penjual koran bekas buat alas menggelesot,”

Ups ! aku tertegun mendengar kalimat Dayu. Tak pernah terbersit di pikiranku. Dia kemudian memandangku. Menunggu reaksiku.

“wah, ternyata pemikiranmu sampai sebegitunya, aku tak pernah berpikir sejauh itu,” ujarku

“yah, begitulah. Jalur kereta yang kita tumpangi merupakan tumpuan hidup banyak orang. Dan entahlah, rasa-rasanya asyik bagiku mengamati mereka dari dekat. Eksotik. Lain dari yang lain. Karena itulah aku lebih suka naik kereta, aku lebih bisa mengamati orang-orang yang mencari keberkahan hidup di sepanjang jalurnya,” Dayu memandangku lagi. Meminta kutanggapi.

“kalo itu dari sisi positifnya, Yu. Tetapi dengan banyaknya pengasong di kereta, terus terang membuatku pusing. Bukankah transportasi publik seharusnya nyaman dan terbebas dari kekacauan seperti ini ?” bantahku

Kupandang wajah cantiknya. Dia pun mengeryit.

“yah, kalo itu sih idealnya,” Dayu mengangguk ringan

“seharusnya ada aturan yang ketat, jangan boleh ada pengasong di kereta,” tukasku cepat

“oh, kalo yang ini aku tak sepakat, tak boleh seperti itu, pemerintah belum menyediakan lapangan kerja yang cukup. Mereka tak punya pilihan. Seharusnya kita salut dengan mereka yang  bertahan dalam keterbatasan,”

“termasuk pencopet, pembius, dan tukang tipunya ?” bantahku menggodanya

“lah, tentu saja termasuk, mereka bagian tak terpisahkan dari rantai sosial.“

Aku tertawa mendengar bantahannya. Tatap matanya menyelidik. Serius.

“kamu nggak takut dengan mereka, Yu ?”

“mmm .. khawatir sih iya, tapi .. kurasa itulah seninya mengapa kita harus berhati-hati,”   Dayu tersenyum lagi.

“Apalagi kalau Mas Norman membawa laptop, atau, barang-barang berharga lainnya,” Dayu memandangku seolah memperingatkan, ”mendingan kalo tas seperti itu taruh aja di di depan. Jangan dicampur dengan milik orang lain. Kejadiannya sering berlangsung saat kita tertidur,” pungkasnya sambil menilik tasku yang mirip miliknya.

Malam mulai dingin. Udara tak lagi panas. Tapi dingin udara kali ini serasa tak nyaman. Pengap. Cenderung lembab. Bau prengus keringat mulai dominan. Sesekali aroma pesing tercium dari toilet belakang. Tetapi entahlah, lama-kelamaan hidungku mulai kebal. Semua kekacauan mulai tak berpengaruh. Memang benar kata Dayu, kereta ini kereta eksotik. Lain dari yang lain lantaran dipenuhi pemandangan yang tak biasa. Tapi terus terang, kesan menyebalkan masih tetap ada.

Sepertinya senyum Dayu sejam lalu adalah senyum terakhirnya malam ini. Kini Dayu tertidur di sampingku, tentunya dengan posisi yang tak nyaman. Kepalanya sedikit condong ke arahku, dan, sedikit lagi pastilah rebah di bahuku. Kucondongkan bahuku ke arahnya, kepalanya bertumpu di bahuku, ah, harum rambut yang bercampur keringat adalah aroma luar biasa yang mengusik kelelakianku.

Kereta melaju konstan kencang. Kebanyakan penumpang lelap dalam ketidaknyamanan. Ada yang tidur dengan posisi terjepit. Ada yang mengerih-ngerih lantaran kaki kesemutan. Namun yang pasti, semua berharap jarak cepat menyempit.

Masih terngiang obrolanku dengan Dayu. Perempuan cantik. Perempuan eksotik yang senang dengan hal-hal eksotik. Tentang kereta ini, kereta yang masih akan kutumpangi setidaknya enam jam lagi. Kereta yang mampu menghidupi ribuan orang. Kereta yang menyediakan perlindungan bagi mereka yang terpelanting dari putaran roda jaman.

Kutilik Dayu yang tenang tertidur. Yang bertumpu di bahuku. Dari leher, dagu, bibir, hidung, kening. Cantik. Dia memang cantik. Dengan kilau keringat di leher jenjangnya, wajahnya bercahaya. Ah, andai saja dia tak punya pacar. Kan kukejar dan kuminta dia jadi istriku. Melata-lata pun aku mau. Dayu, Dyah Ayu. Parasmu secantik namamu.

***

02.01

Mataku membuka saat mendengar rem kereta. Dayu tersenyum di depanku.

“sebentar lagi aku turun. Kereta tepat waktu,” ujarnya

“hoahhh .. aku capek sekali. Rupanya kamu bangun lebih dulu.” lanjutku sambil menguap

Kuusap mata dan bibirku. Kutilik jam tanganku. Memang benar kata Dayu, sebentar lagi tiba di Semarang. Beberapa penumpang destinasi Semarang bersiap-siap. Aroma gesekan rem kereta mulai mengganggu.

“hati-hati jangan ada yang tertinggal,”

“pasti,” sahutnya nakal. Mengerling.

“boleh aku minta nomer Hape ?”

“untuk ?” alisnya berkerut

“yah .. siapa tahu kita ketemu lagi,”

“oh,” ujarnya berseloroh. “081 553-181-11,” dia mengeja perlahan, satu persatu, dengan suara serak-serak seksi

“makasih ya, senang punya kawan ngobrol sepertimu,”

“sip,” ia mengangguk manja

Dayu bangkit bersiap-siap. Tasnya sudah berada di punggung. Sekali lagi dia tersenyum ke arahku, ah, rasa-rasanya aku kehilangan dia. Kutilik tasku yang mirip punyanya, masih ada di depanku. Syukurlah.

Dayu melangkah. Namun tiba-tiba dia berhenti dan membungkuk.

“kalungku jatuh,” ujarnya gugup sambil mencari-cari di lantai kereta.

Aku kemudian bangkit dan menyingkir, memberi ruang kepadanya untuk menemukan benda miliknya

“ah, ini dia,” ujarnya yang tersenyum kepadaku. Berbinar. Aku turut senang mendengarnya.

Dayu kemudian melangkah, aku masih berdiri menunggunya, namun kemudian dia berhenti dan menoleh ke arahku.

“Makasih ya, Mas” dia berbalik dan kemudian memelukku. Duh, jantungku berlompatan. Darahku tersirap.

“hati-hati, ya. Keep contact” balasku yang tersenyum kegirangan. Kuduga Dayu mulai simpatik denganku. Dan aku percaya jika simpatik adalah tanda awal lahirnya cinta. Duh, semoga pacar Dayu adalah lelaki impoten !! umpatku lagi.

Dayu kemudian melangkah meninggalkanku. Sosoknya menghilang di balik bordes. Aku duduk kembali sambil mencari-cari sosok dayu dari balik jendela.

“hati-hati, Yu !!” teriakku saat kujumpai dia melambai ke arahku. Dia kemudian membalik tubuh dan melangkah meninggalkanku. Dadaku sedikit perih.

Kondektur kereta kemudian membunyikan peluitnya, masinis kereta membunyikan klaksonnya, roda-roda baja lantas bergerak dan melaju.

Duh, rasanya masih tak percaya Dayu pergi meninggalkanku. Rasa kantukku terusir akibat pelukannya yang hangat. Tiba-tiba, di sampingku lelaki kecut tersenyum nyengir dengan rambut acak-acakan.

“Mas, bangkunya kosong, Mas ?” tanyanya sambil mengucek mata yang merah.

“oh, kosong, Pak” jawabku sambil menyingkirkan hidung lantaran bau mulutnya persis selokan mampet.

Aku beranjak menjauh, aroma keringatnya kian tak karuan. Kuangkat tas punggungku dengan tujuan kuamankan dari orang tak dikenal.

Loh ! aku terkejut. Bobotnya terasa ringan. Cepat-cepat kubuka resleting tasku, dan, Diancok !!! isinya cuma perabot perempuan alias kotang dan sempak !

Aku kebingungan. Dadaku berdegub kencang. Laptop, dompet, kamera, handycam, oleh-oleh keponakan ! keparaat !!

Dayu. Pasti tasku tertukar dengan Dayu. Tas Dayu memang mirip punyaku. Sontoloyo !!

“kenapa, Mas ? kok pucat ?” si mulut selokan menanyaiku. Ingin seketika kusumpal mulutnya menggunakan kaos kaki.

“tasku tertukar,” jawabku yang kesal dengan basa-basinya.

“hehe ..tertukar ..” Sontoloyo itu malah terkekeh. “mana ada barang tertukar di kereta, Mas” ujarnya cengar-cengir. Kurang ajar.

“palingan digondol maling,” ujarnya lagi.

“nggak mungkin, tasku tertukar dengan Dayu,”

“Dayu ? cewek cantik itu ? Ha ha ha ha ha ..”

Kesal rasanya mendengar deraian tawanya. Mulutnya yang terbuka lebar ingin segera kuganjal pake sepatu. Namun,

Ah, iya. Dayu meninggalkan nomor ponselnya. Cepat-cepat kuraih HP ku dan kucari nomornya.

“Halo ! Halo !” suaraku setengah berteriak. Namun HP dayu belum terangkat. Kucoba lagi, kucoba berkali-kali, hingga-

[hallo mas Norman]

Yes !! Dayu mengangkat ponselnya. Tak mungkinlah Dayu sengaja menukar tasku dan melarikannya. Kutilik lelaki kecut di sampingku, kupandang dia seakan aku merasa menang.

“Tasku sepertinya tertukar denganmu, Yu” ujarku cepat.

[duh, iyakah, Mas ?] terdengar suara Dayu yang menyesal. Seketika ku loadspeaker biar lelaki kecut menyesal menuduh Dayu yang tidak-tidak. Kupandang lagi lelaki kecut seakan merasa menang. Dia memperhatikan percakapanku.

“trus kamu sekarang dimana, Yu ? kereta sudah mulai berangkat.”

[aku sudah di jalan, Mas]

“trus gimana nih ? kita ketemuan dimana ? apa pas kamu balik ke Jakarta ?”

[nggak usah, Mas]

“loh kok nggak usah !” aku terkejut. Kutilik lelaki kecut mulai tersenyum.

[ya nggak usah aja, Mas. Biar barang-barang Mas Norman kubawa]

“maksudmu ?” degub jantungku mulai terpacu.

[ikhlaskan saja, Mas. Itulah resikonya kalo di kereta lengah,]

Kucluk ! Seketika sel-sel otakku terputus. Korsluiting. Apalagi saat ledakan tawa lelaki kecut mempecundangiku habis-habisan.

“HA HA HA HA HA  !!!”

Berbau selokan. Aku tak tahan. Seketika kujejalkan ponselku ke mulutnya

Klghhh !

“Pueehhh !!!  Kurang asem !!” umpatnya setelah memuntahkan ponselku.

13/05/11

Gayung Kebonsari 167

 
Leave a comment

Posted by on May 13, 2011 in Cerpen

 

Silakan berkomen,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: