RSS

Cerpen : JALAN HUJAN

10 Mar

Pohon Keramat,

Tahun 1540,

Lukman bilang kepadaku, jikalau hati manusia adalah kunci segala sesuatu. Karena Tuhan –tentu saja, melihat manusia melalui hatinya. Sedangkan bagi manusia –dia menilai kehadiran Tuhan juga lewat hatinya.

Ah, kata-kata yang teduh dan menyejukkan, tak ada makna pertentangan. Dengan kelembutan budi yang dimiliki Lukman, tak butuh lama baginya untuk memikat kami -para penduduk kampung. Tak lebih dari sebulan, ya, tak lebih dari sebulan.

Di awal kedatangan Lukman, kampung kami masih porak-poranda. Kampung yang terpencil, tersingkir dari wajah peradaban. Penduduk kami sangatlah bodoh, nyaris tak memiliki pengetahuan tentang agama. Di hari tertentu kami datangi sumber-sumber air sambil meletakkan sesajian. Pepohonan besar yang banyak tumbuh di lembah dan gigir tebing –tak luput dari sentuhan dupa dan kemenyan. Tuhan yang acapkali dilantunkan dalam doa-doa kami dirasa tak cukup. Wajiblah terucap nama danyang-danyang penghuni pohon besar, penguasa sumber air, penghuni alam lelembut di rimbun bebukitan dan lembah yang kami percayai turut campur memakmurkan tanah sekeliling.

Aku masih ingat kedatangan Lukman di kampung kami untuk kali yang pertama. Aku, Tarmuji, adalah tokoh kampung yang amat kuat menolak kehadirannya. Dandanan Lukman serupa gangguan di pikiranku. Bersorban putih, berjubah panjang, terlihat tak pantas karena umurnya masih terlalu muda. Mengapa kukatakan jika dandangan Lukman yang bersorban dan berjubah panjang menggangguku, karena tentu saja setahun sebelum kedatangan Lukman, kampung kami didatangi lelaki yang bernama Baidawi. Dia berpakaian persis seperti pakaian yang dikenakan Lukman.  Tetapi, raut wajah Baidawi terlihat lebih tua 5 tahun. Kening Baidawi selalu berkerut seperti pemurung.

Mula mula, kedatangan Baidawi disambut hangat penduduk kampung. Dia mengenalkan diri sebagai mubaligh yang berkelana untuk mengabarkan syariat Tuhan. Aku –sebagai lelaki yang dipercaya menjadi dukun kampung, menunggu perkembangan keadaan. Dalam hati tentu saja aku tak ingin polah tingkah Baidawi mengacak-acak adat yang kupercaya. Aku tak ingin kedatangan Baidawi melemahkan posisiku di mata penduduk kampung.

Baidawi kemudian tinggal diantara kami. Dia sedemikian cermat mempelajari dan mengukur kebiasaan penduduk kampung beserta adat istiadatnya. Hingga kemudian, suatu hari, dia berdiri tegak di tengah perkampungan. Kedua tangannya menengadah. Wajah murungnya mendongak serupa manusia putus asa.

“Tuhan, kampung ini memilih bersekutu dengan syaitan. Ijinkan aku memberantasnya secepat mungkin,”
Baidawi berteriak beberapa kali dengan sikap yang angkuh.

Seisi kampung lantas berkerumun di sekeliling Baidawi. Kami mulai bingung dengan polah tingkah pendatang yang berani memaki-maki adat dan kebiasaan. Semua saling pandang. Di antara mereka –akulah yang paling tersinggung.

“hentikanlah kelakuan kalian, Saudaraku. Kalian sudah seperti layang-layang yang putus tali. Pohon-pohon kalian datangi untuk meminta kekayaan. Jin dan syaitan kalian jadikan tempat meminta pertolongan. Ketahuilah, Saudaraku. Kebiasaan menaruh sesajian hanya akan mengantar kalian ke gerbang neraka,”

Telingaku panas mendengar ocehan Baidawi. Dadaku menarik nafas lebih cepat. Tiba-tiba sebagian besar penduduk kampung mengalihkan tatapannya ke arahku. Tatap mereka seolah memintaku berkata sesuatu. Sejenak aku menelan ludah.

“Hei, Baidawi. Kusambut kau dengan cara yang baik. Tetapi seperti inikah pembalasamu dengan mengolok-olok kami,” suaraku lantang namun parau.
“meskipun aku tidak lebih pintar darimu masalah agama, terus terang telingaku gatal mendengarmu membawa-bawa kata neraka. Kau sama saja menyumpahi kami,” lanjutku yang mulai emosi.
“kalau Ki Tarmuji dan saudara-saudara sekalian jengah mendengar kata-kata neraka, mengapa pula kalian mondar-mandir dengan perbuatan yang membawa kalian mendiami kerak neraka. Perbuatan kalian sudah termasuk syikir. Syirik artinya menyekutukan Tuhan. Dan dosa yang tidak diampuni Tuhan adalah dosa yang menyandingkan sesembahan lain di samping Tuhan Allah seperti layaknya sesajian kalian di pohon keramat dan mata air,”

Telingaku makin gatal mendengarnya. Demikian juga dengan tanganku.
“jadi kau mau berkata jika perbuatan kami salah dan tak diampuni Tuhan ?!” sudutku kepadanya.
“ya .. tentu saja jika perbuatan itu tak diakhiri padahal aku sudah memberi tahu !”
“jadi kami sekampung ini para pendosa ! calon penghuni neraka menurutmu, hah ! katakan ! apa begitu maksudmu ?!” teriakku nyalang.
“tentu iya, Saudaraku. Kalian sebenarnya sudah tahu ! karena itu hindarilah jilatan api neraka dengan menghentikan kebodohan itu ! hentikan sesajian kalian yang tak berguna !”
“Bah !!” umpatku kepadanya. Dia memalingkan muka padaku. Penduduk kampung mendukungku.
“kau ini !! tahu apa kau tentang dosa, Baidawi !! jangan kira dengan bermodal sorban dan jubah kau bisa menghakimi kelakuan kami ! ketahuilah, kami tak pernah berprasangka ada sesembahan lain yang lebih besar atau setara dengan Tuhan ! kami menaruh sesajian untuk  menghormati kekuatan lain yang bertebaran di alam raya !!”
“betul-betul !” “ya !” “tepat !” bersahutan penduduk kampung menguatkanku. Dadaku membusung.
“kelakuan yang diterangkan Ki Tarmuji itu sama saja, Saudaraku.  Kalian sama saja bersekutu dengan jin dan syaitan. Kalian telah membuka pintu neraka ! karena itulah –“
“aaaahh sudahh !!” potong salah satu penduduk desa.
“jangan kau teruskan cerocosmu tentang neraka, Baidawi ! kau sudah membuat kampung ini resah ! segera kemasi barang-barangmu ! pergi dari kampung! bagaiman sodara-sodara ? bagaimana ki Tarmuji ?” teriaknya.
“ya !” “ya ! ” “usir saja !!” “pergi dari kampung !!” bersahutan suara di sekeliling Baidawi. Yang tak berteriak memilih menggumam geram dan marah.
“lihatlah, Baidawi. Penduduk kampung tak menginginkanmu tinggal disini. Kau harus segera angkat kaki. Dan ingat, jangan kembali!” ancamku kepadanya.

Mendengar desakan yang bertubi-tubi, Baidawi terpaksa angkat kaki. Mukanya murung. Jemarinya mengepal. Bibirnya bergetaran seolah menggumam doa kutukan.

Aku merasa menang. Penduduk kampung menatapku bangga. Kami sekampung berhasil menyingkirkan aral yang berniat mengacaukan kepercayaan. Ah, ya. Kebahagiaanku terasa penuh lantaran kemenanganku seolah dirayakan pula guyuran hujan sepanjang malam. Danyang-danyang dan diriku serasa melayang berpesta pora. Tetapi –

Ah, tidak. Ternyata rasa menangku tidaklah bertahan lama. Keesokan hari, aku dikejutkan peristiwa yang menampar kehormatanku sebagai pemuka kepercayaan kampung.

Kujumpai sesajian porak-poranda terbanting sana sini. Lokasi mata air yang menjadi titik pusat penyajian sengaja ditutupi cabang dan ranting tebangan pohon. Dan yang lebih menyakitkan, pohon terbesar yang biasa disimpuhi sesajian telah tumbang ke bumi. Pohon yang kuanggap paling keramat, tempat danyang-danyang sakti berkumpul bercengkrama, kehilangan keangkerannya.

“bangsat !! kelakuan siapa ini !!” teriak salah satu penduduk dengan wajah murka.
“pasti Baidawi ! siapa lagi kalau bukan dia !”
“ya ! tak ada lagi yang bisa dicurigai ! bajingan itu minta dihajar !”
Teriakan demi teriakan bersahutan.
“dia pasti menebang pohon sejak tadi malam, Ki. Kita kecolongan karena tadi malam kampung ini diguyur hujan lebat.  Kita tak mendengar bunyi kapak menghantam kayu. Kita masih asyik tidur,” ujar salah satu penduduk kepadaku. Tatap matanya terlihat layu.
“kita harus cari Baidawi. Dia harus bertanggung jawab atas hinaan ini,” sahutku
“saya sepakat denganmu, Ki. Kita cari keparat bangsat itu. Dia pasti masih berkeliaran di sekitaran kampung,”

Tanpa dikomando, kami bergerak menyisir pinggiran kampung. Kami yakin jika Baidawi berdiam diri sambil menunggu reaksi kami. Dan benar saja, keyakinan itu tidaklah salah. Baidawi berhasil ditemukan di pinggir sungai, sebelah utara kampung. Ketika itu dia tengah pura-pura bersuci.
“kau harus membayar perbuatanmu, Bangsat !” teriak salah satu penduduk yang diikuti kerumunan massa. Mereka bergerak cepat mengerubuti Baidawi.
“kau sudah mencoreng-coreng muka kami ! kau mulai berani menantang kami !”
Plak !! ayunan telapak tangan menghantam pelipis Baidawi. Dia terhuyung. Aku mendiamkan.
“Hoi !! kita apakan dia ?!” teriak yang lain.
“telanjangi dia !! telanjangi !!”,“hajar saja biar mampus sekalian !!” teriakan bersahutan. Namun Baidawi berusaha tenang sambil bibirnya menggumam sesuatu.

Tiba-tiba, entah siapa yang memulai, massa serentak bertidak kasar melucuti pakaian Baidawi. Sorbannya dirampas. Jubahnya ditarik beramai-ramai. Graakk !! Graaak !!

“terkutuk kalian !! terkutuk !! terkutuklah sampai kiamat !!” muka Baidawi memucat menyumpah-nyumpah. Aku melangkah menjauh sembari melempar tatapan beku.
“biadab !! laknat kalian !! terkutuuukk !!” Baidawi meronta namun kalah tenaga. Mukanya luruh. Apalagi saat tubuhnya telanjang bulat dan dilempar ke tengah kali. Baidawi menangis sejadi-jadinya.
“Hei Baidawi, pakailah daun talas buat menutupi ular kadutmu yang sebesar kelingking itu ! hahaha ! kalau setelah ini kau masih berani berkeliaran di kampung, kau akan menerima hukuman yang lebih dari yang kau bayangkan,”
“Ya, Keparat ! bersyukurlah kali ini cuma jubah dan sorbanmu yang kukencingi ! besok kalau kau masih berani menampakkan mukamu, aku bersumpah kepala dan jenggotmu yang kukencingi !”
“hahahaha !“  massa tertawa beramai-ramai. Mereka puas menertawakan Baidawi yang basah kuyup seperti kucing terseret banjir.

Aku saat itu tak peduli. Yang jelas, sesaat kemudian kulihat Baidawi berhasil menepi ke pinggi kali. Tangannya menggelayut akar pepohonan. Bibirnya bergetar-getar ketakutan.
***
Setelah peristiwa penghukuman, Baidawi lenyap entah kemana. Keberanian Ustad bangsat itu berhasil dikebiri. Ia tak mungkin berani mempertaruhkan kepala dan jenggotnya dikencingi beramai-ramai.

Sejenak perkampungan kembali tenang seperti tak terjadi apa-apa. Upacara adat berlanjut seperti sedia kala. Namun, kelakuan Baidawi yang menebang pohon terbesar di areal mata air ternyata menuai buah yang menyakitkan. Mata air yang menjadi sumber minum perlahan-lahan menyurut. Bahkan, di musim kemarau setelah penebangan, kami harus berlama-lama hanya untuk mendapatkan segentong air. Huh, betul-betul musim kemarau yang pantas untuk dikutuk.
Pernah suatu ketika, beberapa penduduk bertanya kepadaku perihal sumber air yang menyurut. Mereka menghubung-hubungkannya dengan danyang-danyang yang dianggapnya marah lantaran sesajian kurang beragam atau kurang memuaskan.

Kujawab, “Bukan, semua ini bukan lantaran sajian kurang memuaskan, tetapi, danyang-danyang yang mendiami pohon besar  murka karena istananya ditumbangkan Baidawi. Ini merupakan bentuk hukuman karena kita lalai mencegah Baidawi menebang pohon,”

Mereka mengangguk-angguk mendengar paparanku. Mereka kemudian bertanya perihal sesuatu yang bisa mengatasi surutnya mata air. Kujawab, “sabarlah sementara waktu. Biar kucari wangsit untuk mengurai masalah ini. Butuh waktu untuk bisa berdamai dengan danyang-danyang yang sedang marah. Bisa satu minggu, bisa satu bulan, bisa tiga bulan, semoga tak sampai bertahun-tahun,” kuucap kalimat itu untuk menenangkan mereka, padahal, aku sendiri sungguh-sungguh tak yakin dengan perkataanku.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Mata air terus menyurut. Hingga kemudian tepat setahun setelah peristiwa penebangan pohon oleh Baidawi, mata air yang puluhan tahun memancarkan air jernih tiada henti akhirnya mengering tak menyisa segenang pun. Seluruh penduduk kampung menangis. Aku pun putus asa. Seperti inikah ujung kutukan yang digumam Baidawi ? ah, tidak. Bagaimana bisa otak Baidawi memutuskan menumbangkan pohon padahal sumber air adalah hal paling utama di kampung kami. Sumber air keramat yang dinaungi istana danyang-danyang sudah barang tentu keramat pula. Ah. Lelaki sial itu tak berpikir panjang. Baidawi berhasil membuktikan dirinya sebagai pendakwah berotak dengkul.

Penduduk kampung lantas mendesakku. Mereka mulai meragukan kemampuanku sebagai dukun kampung.
“Ki Tarmuji, sampai kapan keadaan ini kita derita ? katakan, apa yang kau hasilkan dari pencarian wangsitmu berbulan-bulan,”
“sabarlah kalian, sabar. Danyang-danyang masih enggan menemuiku. Kuminta kalian semakin rajinlah mengantar sesajian. Hati kalian harus ikhlas, jangan sambil menggerutu,”
“haduuh, sampai  berapa lama lagi, Ki. Kita sudah capek menunggu. Bahkan sesajian yang kita hantar lebih sering dari biasanya,” keluh yang lain.

Aku terdiam mendengar bantahan mereka. Aku sendiri ngeri membayangkan kampungku dilanda kekeringan bertahun-tahun.

“bagaimana, Ki ? tidak adakah sesuatu yang bisa digunakan untuk menangkal malapetaka ini ?” pertanyaan mereka terdengar putus asa.
“hmmm .. baiklah. Kuminta kalian seluruhnya berkumpul di sekitaran mata air. Kita adakan upacara permohonan maaf kepada danyang-danyang,”
“kapan itu, Ki ?” salah satu mereka bertanya atusias
“tepatnya jum’at legi yang akan datang. Jangan lupa kalian sediakan ayam cemani dan empat ekor burung gagak.  Nantinya, biar kusembelih masing-masing binatang itu disana. Danyang-danyang dan para lelembut pasti tergoda mendatangi kita saat mencium aroma campuran darah ayam cemani dan burung gagak,”
“baiklah, Ki. Baiklah. Kita akan persiapkan sebaik-baiknya,” mereka menyahut sembari manggut-manggut.

Perkataanku kepada mereka kemudian diartikan laiknya petunjuk suci. Bagaimana tidak, tiga hari kemudian seluruh penduduk bergerombol di sekitaran mata air yang mengering. Mereka tak alpa membawa ayam cemani, dan juga hasil tangkapan burung gagak yang terbaik. Bahkan, mereka tak hanya membawa empat ekor burung gagak, mereka juga membawa cadangan hingga tujuh ekor lantaran khawatir upacara penyajian nantinya kurang sempurna.

Saat itulah, ya, ketika tajam pisauku menggores leger burung gagak yang keempat –kulihat sosok Lukman di kejauhan. Wajahnya teduh. Namun gurat matanya menyirat kebingungan. Pakaiannya yang serba putih seketika memantik ingatanku kepada Baidawi. Bahkan, saking tersitanya perhatianku, jari-jemariku nyaris saja tergores sayatan pisauku.

Saat itu kerumunan penduduk tak menyadari kehadirannya. Ia berdiri di deretan paling belakang. Tapi meskipun demikian, aku tahu Lukman tengah mempelajari keadaan. Hingga setelah upacara berakhir, barulah para penduduk tersadar dengan kehadiran penyusup sejenis Baidawi. Sontak mereka mengerubuti Lukman.

“Siapa namamu, Anak muda. Perlu apa datang ke kampung ini ?” salah satu penduduk menanyai Lukman dengan nada menelisik. Ia kemudian memandangku seraya minta ijin melancangi.
“nama saya Lukman, Pak. Kebetulan ketika dalam perjalanan, saya menjumpai perkampungan ini. Mungkin ada baiknya saya bersilaturahmi dengan sedulur-sedulur sekalian,”
“asalmu dari mana ?” tanya penduduk lain sambil memandangi dandanan Lukman dari atas sampai bawah.
“asal saya dari jauh, Pak. Pesisir utara Jawa, Ampeldenta.”
“oh,” yang lain manggut-manggut berpandangan. Beberapa dari mereka sekilas menatapku. Mereka menunggu reaksiku.
“kalau diperbolehkan, saya ingin singgah di kampung ini barang beberapa hari, apakah diijinkan ?” pertanyaan Lukman yang tanpa basa-basi membuat seluruh penduduk kampung mengalihkan tatapannya kepadaku. Aku menelan ludah.
“begini, Anak muda. Sebenarnya –di masa lalu, kampung ini sudah cukup banyak direpotkan lelaki sepertimu,” ujarku berwibawa.
“kesulitan yang ditimbulkan tak cuma sesaat, bahkan kami harus menanggungnya hingga saat ini.  Kau tahu dia mewariskan apa ?” lanjutku sambil bertanya.
“lelaki yang berdandan sepertimu, yang selalu berkoar-koar neraka di telinga kami, yang selalu menghakimi tata cara adat kami sebagai menyekutuan Tuhan –dia telah mewariskan malapetaka kutukan yang tak kunjung berujung,“ suaraku parau dilarung emosi. Aku menghela nafas sejenak.
“Pohon terbesar di kampung ini ditebangnya. Danyang-danyang mengamuk. Sumber air menyurut hingga kali di utara kampung berubah menjadi kali mati. Sekarang, katakan kepadaku, Nak. Untuk alasan apakah kami harus menerima kedatanganmu –padahal kau adalah lelaki sejenis dengan dia ?”
Pertanyaanku kepada Lukman membuat seluruh penduduk menahan nafas. Rasa-rasanya uneg-uneg mereka tersampaikan. Mereka menatapku penuh kebanggaan.

Lukman terdiam. Senyumnya sirna. Tatap mata yang sebelumnya teduh berangsur-angsur menyirat duka.

“saya turut berduka dengan kampung ini, Pak. Saya turut prihatin,”
Perkataan Lukman mengagetkanku. Tak kukira dia mengungkapkan perasaan sedih. Seluruh penduduk saling pandang.
“kalau yang dipermasalahkan sedulur-sedulur sekalian adalah sorban dan jubah ini, baiklah, ijinkan saya berganti pakaian seperti yang sedulur-sedulur kenakan. Saya tak ingin jalinan persaudaraan tersekat hanya karena jubah dan sorban saya yang sepele ini,” Lukman memandangi kami seraya ingin dimengerti.
“andai saya bisa membantu memecahkan permasalahan yang menimpa kampung ini, tentunya saya akan bersenang hati,” lanjutnya
“tak ada yang bisa kau lakukan di kampung ini, Nak. Kami sudah berpuluh kali mencoba berdamai dengan danyang-danyang. Bahkan Ki Tarmuji –dukun kami yang sakti ini, dia belum bisa meredakan kemarahan mereka,”
“ya”, “betul”, “danyang-danyang masih murka,” sahutan massa bertubi-tubi menanggapi celetukan salah satu dari mereka.
“kehadiranmu justru kutakutkan membuat danyang-danyang lebih murka. Kami tak ingin mengalami kekeringan lebih lama,”
“ya”, “betul”,”malapetaka ini menyiksa kami,” kembali massa berteriak bersahutan. Lukman terlihat gugup.
“beri saya kesempatan, berilah saya kesempatan,” teriak Lukman mengiba. Kedua tangannya terangkat mencoba menenangkan.
“kalau kau mampu membasahi halaman rumah kami yang kering kerontang, kau boleh tinggal di kampung kami, sesukamu,”
“ya”, “sepakat”, “setuju,” tangan-tangan penduduk terkepal ke langit.

Saat itulah kusaksikan penyingkiran diriku perlahan-lahan. Para penduduk tak membutuhkan pendapatku lagi. Teriakan demi teriakan mengartikan kelelahan mereka yang menanti kepastikan. Dan mungkin saja –mereka mulai menganggap kata-kataku sebagai bualan.

“baiklah, Sedulur. Baiklah. Jika Tuhan mengjinkan .. jika Tuhan mengijinkan, tak ada yang tak mungkin ..” demikian Lukman mengulang kata-katanya. Anak muda itu secara gegabah menyanggupi syarat berat yang diajukan.
Penduduk kampung merasa puas –kecuali diriku yang merasa ditelikung. Tetapi saat itu, aku dan seluruh penduduk yakin seyakin-yakinnya jika Lukman tak mungkin memenuhi syarat itu. Anak muda itu tak mungkin mampu membujuk danyang-danyang penguasa mata air menyudahi kutukannya.

Kami kemudian membubarkan diri meninggalkan Lukman –sendirian –yang tentu saja kuyakin tengah kebingungan. Kami memasuki rumah seolah tak terjadi suatu apapun. Terik yang menyengat memaksa kami tinggal di dalam rumah daripada tenggorokan haus terpanggang matahari.

Waktu sejenak berlalu. Pikiran kami melupakan Lukman. Hawa kian panas-kian panas. Pancaran matahari menguapkan cairan di tenggorokan. Hingga kemudian –aku yang sedang berbaring bertelekan bale bambu dikejutkan teriakan bersahut-sahutan dari luar rumah.

“mendung, Ki ! mendung tebal ! sebentar lagi hujan !”
“keluarkan semua gentong ! keluarkan wadah penampung air yang kalian miliki ! hujan datang sebentar lagi !”

Darahku terkesiap. seketika aku bangkit dan berlari ke luar rumah. Kudongakkan kepalaku ke langit. Mendung tebal. Hidungku mencium aroma air.

“Lukman .. pastilah Lukman. Bagaimana mungkin anak semuda itu bisa teramat sakti,” dadaku bergetaran saat menggumam. Kakiku tak tertahan lagi untuk sesegera mungkin menuju areal sumber air.

Ajaib. Saat itulah kusaksikan keajaiban luar biasa. Dengan pakaian serba hitam, Lukman tersungkur dan menangis. Dia melakukan gerakan-gerakan tertentu sambil .. kurasa menggumam sebuah mantera. Angin berhembus kencang. Halilintar sesekali menggelegar memecah langit. Hingga setelah tangannya selesai menengadah, dentik hujan pun turun dengan derasnya.

“terima kasih, Tuhan. Terima kasih. Tak ada yang terjadi kecuali dengan ijinMu,”
Lamat-lamat kudengar ucapan Lukman sebelum mengusap telapak tangan ke wajahnya. Aku lantas bergerak menghampirinya.

Hujan bergitu deras tertumpah menyimbahi bumi. Membasahi ranting dan daun. Tak terasa hawa dingin. Tak terasa hawa badai. Hatiku terasa sejuk. Serasa kering kerontang puluhan bulan terhapus kesegaran air langit.

“Anakku, Lukman,” panggilku lembut. Ia menoleh dan menatapku teduh.
“Ki Tarmuji,” sahutnya santun. Ia kemudian bangkit dari simpuhnya.
“terima kasih, Nak. Kau selamatkan kampung ini dari kekeringan. Kedatanganmu kemari menjawab upaya yang telah kami lakukan selama ini,” aku mengucap seolah mengaku kalah.

“tak ada yang mampu menghentikan Tuhan jika Dia sudah berkehendak, Ki. Hanya kepadaNya kita selayaknya berharap,” begitu timpalnya kepadaku. Luar biasa. Tak ada nada kesombongan.
“cara apakah yang engkau lakukan hingga danyang-danyang mau menuruti keinginanmu, Nak ?” tanyaku
“mohon maaf. Ki. Saya tak meminta hujan kepada mereka. Saya pun tak menyertakan nama mereka dalam doa,”
“bagaimana bisa, Nak. Kalau begitu kau pasti merapal mantera sakti yang membuat mereka takluk,”
“demi Allah tidak, Ki. Saya tidaklah berbuat demikian. Saya hanya berdoa dengan cara yang saya percayai,”
“kalau begitu, bolehkah aku minta ajar kepadamu ?”
“tentu, Ki. Ki Tarmuji harus tahu. Bahkan nantinya Ki Tarmuji-lah yang harus memimpin para penduduk melakukan permohonan hujan seperti yang saya lakukan,”
Hatiku berdesir lembut mendengar kata-kata Lukman. Aku tersentuh kesantunannya.

Anak muda itu lantas mengajariku apa-apa yang dinamakannya shalat Istisqa’, setahap demi setahap. Dia mengajariku dan mengartikan doa-doa dengan sabar. Hingga setelah selesai, Lukman mohon undur diri untuk menyelesaikan tugasnya di suatu tempat. Lukman meninggalkanku, meninggalkan kampungku, tanpa sempat menerima ucapan terima kasih dari penduduk yang tengah berpesta-pora.

Gentong dan wadah air penuh tertumpah. Mengaburkan kesadaran kepada siapa para penduduk seharusnya berterima kasih. Aku termangu. Kesepian. Melarung kebingunganku mencerna rentetan peristiwa yang baru kuhadapi. Hingga kemudian, saat otakku mencoba mengait-ngait pemahaman,

“Ki Tarmuji !  Ki Tarmuji !” teriak seorang lelaki yang disertai beberapa penduduk. Langkah mereka cepat. Wajah mereka gembira bukan kepalang.
“terima kasih, Ki. Sesajian yang Ki Tarmuji haturkan telah mendamaikan kita dengan danyang-danyang. Kampung ini tak lagi dihajar kekeringan,”
“Iya, Ki ! benar ! saran Ki Tarmuji harus kita abadikan dalam upacara yang akan datang. Malahan harus dengan cara yang lebih baik,” sahut yang lain. Akan tetapi, saat itu hatiku kecewa mendengarnya.
“bukan lantaran sesajian hujan ini datang, bukan pula lantaran danyang-danyang memilih berdamai dengan kita,” ujarku lembut.
“kenapa bisa begitu, Ki ? pemahaman Aki pastilah salah,” raut wajah mereka terkejut.
“tidak-tidak. Pemahamanku tidak salah. Bagaimana bisa dalam sekejap kalian melupakan Lukman. Bukankah kalian yang menantangnya menyirami halaman yang kering kerontang ?!, sekarang lihatlah .. tanah kita telah basah. Gentong-gentong  persediaan air telah penuh. Tetapi sayang, kalian lupa untuk sekedar berterima kasih kepada Lukman,”
“Aduh !!” spontan mereka teringat Lukman. Ada yang menepuk dahi. Ada yang memandang tak mengerti. Mereka saling pandang.
“sekarang dimana dia, Ki ?” salah seorang bertanya dengan nada menyesal.
“aku sendiri tak tahu keberadaan Lukman. Dia meninggalkanku setelah mengajariku tata cara meminta hujan,”
“aduh ! bagaimana ini,” keluh yang lain.
“sudahlah .. jangan terlalu serius. Dia pasti kemari suatu saat. Dan lagipula yang paling penting, Lukman sudah mengajari Ki Tarmuji tata cara meminta hujan,”
“Iya ..Iya” sahut yang lain berpandangan. Mereka manggut-manggut.

Hari itu –hari yang melegakan bagi kami. Seluruh penampung air yang kami miliki dipenuhi air hujan. Lega. Ya, lega rasanya bisa mencecap karunia tak terkira. Bagi kami yang dilanda kekeringan, deraian air hujan terasa lebih berarti ketimbang hujan butiran emas dan permata.

Hari terus menggulir. Matahari dan rembulan bergantian memanjati dan menuruni orbit langit. Tanah-tanah yang tempo hari basah perlahan-lahan mengering. Cekungan-cekungan batuan yang sebelumnya terisi air hujan mulai menguap. Cadangan air di kali sebelah utara kampung tak bisa diharapkan. Kali itu telah mati.

“bagaimana jika esok hari Ki Tarmuji memimpin kami meminta hujan ?” serombongan penduduk menemuiku di beranda rumah.
“Iya, Ki. Persediaan air mulai menipis. Ritual mandi sudah dihapus. Air yang tempo hari tertampung hanya cukup untuk minum,” sahut yang lain menguatkan.
“apakah Ki Tarmuji setuju dengan usul kami ?” lanjutnya
“hmmm ..” aku terdiam untuk beberapa saat. Berpikir. Menerawang.
“bagaimana jika kita padukan adat yang kita miliki dengan cara milik Lukman, Ki” celetuk seseorang.
“maksudmu ?” pandangku kepadanya. Mengernyit.
“biar kami yang menghantar sesajian ke danyang-danyang, sementara Ki Tarmuji melaksanakan tatacara yang diajarkan Lukman. Kurasa hasilnya pasti jauh lebih memuaskan jika kedua upacara itu dilebur menjadi satu,”
“nah, bagaimana dengan usul ini, Ki ?” sambung yang lain. “Iya. Apakah Ki Tarmuji sependapat ?” yang lain menambahkan.
“hmmm .. entahlah,” ujarku keruh.
“loh, kenapa entahlah, Ki ? bukankah Ki Tarmuji pemimpin kami ? tentunya Ki Tarmuji lebih bisa mengambil keputusan dibanding kami, ya toh ?!”
“Iya,” “Iya, Ki”  spontan yang lain manggut-manggut menguatkan.
“hmmm .. kalau memang begitu yang kalian minta, baiklah, tak ada salahnya kita coba usul kalian,”
“nah !!” “begitulah seharusnya, Ki !!” “Aki memang jempolan !!”  sahut mereka bergantian. Kegirangan.

Keesokan hari, para penduduk mempersiapkan upacara penyajian. Empat ekor burung gagak, ditambah seekor ayam cemani dari ras yang paling baik –siap disembelih dan ditabur darahnya di empat penjuru mata angin. Tugasku sebagai penyembelih kualihkan kepada salah satu dari mereka. Sedangkan aku –bersibuk diri menyiapkan upacara permintaan hujan seperti yang diajarkan Lukman.

Upacara demi upacara kemudian terlewati. Aku pun berjuang sekuat mungkin mengikuti tata cara yang diajarkan Lukman. Tetapi, ah –apa benar harus keluar air mata agar mendung pembawa bulir hujan segera datang ?
Matahari kian tinggi. Terasa panas menyengat. Tetapi langit masih bersih membiru. Tak nampak secercah pun awan. Tiupan angin juga tenang. Sepoi-sepoi. Seolah alam raya bersatu padu menyembunyikan awan hujan dari bentangan cakrawala.
“bagaimana ini, Ki ?”
“bagaimana apanya ?!” sahutku bersungut-sungut ketika mereka protes kepadaku.
“sepertinya sesajian tak disentuh barang sedikit pun, lihatlah,” timpal salah seorang sambil menunjuk langit
“tak mungkin langit biru seperti ini menurunkan hujan. Ki Tarmuji boleh potong telinga saya jika saya salah,” lanjutnya pongah.
“aduhh .. janganlah kau pojokkan aku dengan keluh kesahmu,” protesku.
“saya tidak mengeluh, Ki. Tapi itulah kenyataannya. Upacara yang Ki Tarmuji sarankan gagal total. Upacara yang diajarkan Lukman gagal juga. Apalagi yang harus kita berbuat ?!! meninggalkan kampung ?!!”
“ah,” “tidak bisa begitu,” “kita harus adakan upacara lagi, upacara ini tertolak,” masing-masing saling menggerutu. Keadaan ini mengesalkanku.
“tenanglah kalian, dengar kataku !!” kuangkat tangan dan suaraku sembari menenangkan. Gumaman mereka berangsur menyurut.
“kali ini kita tak punya pilihan ! Carilah Lukman sampai ketemu. Mintalah dia tinggal di kampung kita. Kalau perlu, mintalah pada Lukman sambil melata ! lakukanlah !!”
“baiklah, Ki,”,”baik” serempaklah mereka mengucap lantang.

Mereka kemudian bergerak seperti sepasukan laskar yang putus asa. Lunglai. Miskin kepercayaan. Mereka menyebar menyisir kampung. Beberapa utusan bahkan dikirim ke kampung seberang demi menemukan Lukman.

Hari kemudian berlalu. Pencarian terus dilakukan kemana-mana. Hingga di hari ke-7 setelah pencariannya, Lukman yang diburu seantero penduduk mendadak muncul di tengah kampung.

Kusongsong Lukman sembari tergopoh. Seluruh penduduk mengerumuninya seperti tawon mengerumuni ratunya.
“Anakmas Lukman dari mana saja, kami cari kemana-mana tak juga ditemukan, eh, ujung-ujungnya malah muncul disini,” ujarku berbasa-basi.
“mohon maaf, Ki. Bukan maksud saya meninggalkan kampung ini, tetapi, tempo hari saya memiliki janji yang harus ditepati,”
“oh, begitu rupanya, hehehe “ sahutku terkekeh-kekeh. Ia tersenyum.
“begini, Anakmas Lukman. Kami sangatlah membutuhkan bantuanmu. Persediaan air tak ada lagi. Kami tak tahu harus berbuat apa,” lanjutku memelas.
“kumohon turunkanlah hujan, sekalian tinggallah di kampung ini agar kami tak kuatir kekurangan air,” kujabat erat tangannya sambil menunduk.
“bukankah Ki Tarmuji sudah saya ajarkan tata cara memita hujan,” tanyanya lembut.
“iya, sudah, Anakmas. Tetapi tak ada hasil,” jawabku pasrah.
Tiba-tiba seseorang di deretan depan mendekati Lukman. Dia kemudian memandangku seraya meminta ijin bicara. Aku mengangguk.
“kami juga sudah menambahkan sesajian, Anakmas. Cara-cara Anakmas kami padukan dengan tata cara milik kami,”
“Astaghfirullahal Adzim,” spontan Lukman menunduk sembari menghela nafas panjang.
“maafkan saya sebelumnya, Ki. Maafkan saya sebelumnya, Sedulur sekalian,” kata Lukman yang memandangi kami bergantian.
“semoga dengan kata-kata yang saya sampaikan ini segala sesuatunya menjadi terang,” Lukman mulai berbicara agak lantang.
“Hujan adalah karunia dari Tuhan, hanya kepada Tuhan yang Mahasuci-lah selayaknya kita meminta, jangan kepada yang lain,” Lukman sejenak menarik nafas.
“dan ketahuilah, Sedulur-sedulur. Tuhan tak membutuhkan perantara untuk dimintai belas kasihNya,”
“Tak butuh sesajian ?” terdengar teriakan dari kerumunan.
“tidak .. tidak .. sesajian ataupun makanan yang kita sesajenkan lebih baik kita gunakan membantu saudara-saudara kita yang kekurangan,”
“apakah danyang-danyang tak akan marah ?” teriakan dari kerumunan kembali terdengar.
“danyang-danyang yang sedulur sekalian percayai itu juga makhluk Tuhan, sama seperti kita. Tak sepatutnya kita meminta kepada mereka. Kita hanya patut meminta kepada Tuhan. Langsung. Tanpa perantara.”
“apakah dengan perkataan ini berarti Anakmas menjamin hujan akan datang ?” celetukan kembali terlontar dari deretan depan kerumunan. Yang lain berpandangan.
“tak ada yang bisa memastikan seluruh kejadian selain Tuhan itu sendiri. Tiada daya dan upaya yang kita miliki selain milikNya. Hanya kepada Dia-lah selayaknya kita berharap. Sepenuhnya.”
“mari saya ajak Sedulur-sedulur sekalian meninggalkan ritual penyajian kepada danyang-danyang. Makanan-makanan yang biasa disesajenkan, berikanlah kepada mereka yang membutuhkan,”
“jika selama ini Sedulur-sedulur mendatangi mata air sambil membawa sesajen, maka mulai dari sekarang, bawalah bibit pepohonan untuk ditanam disana. Sumber air itu hilang karena pohonnya ditebang. Kelak, lima –sepuluh –atau duapuluh tahun lagi, atau jika Tuhan menghendaki lebih cepat, pepohonan yang tumbuh merimbun di tempat itu akan kembali memunculkan mata air,”

Kalimat Lukman perlahan-lahan menuntun kesadaran kami. Betapa santun anak muda ini, betapa kata-katanya mampu menyentuh hati hingga relung yang paling dalam.

Dengan dipimpin Lukman, kami kemudian melaksanakan Istisqa’. Segala kepercayaan perihal danyang-danyang yang mengatur kesejahteraan –telah kami tanggalkan.

Mendung cepat menggelayut. Berkumpul. Menggantung. Dari warna putih berubah gelap. Angin bersatu menggiring mendung yang berarak di kejauhan. Matahari tak lagi nampak. Biru langit tak lagi nampak. Hingga tak lama setelah upacara Istisqa’, penciuman kami mengenali aroma air yang dihambur tiupan angin.

Kami bersuka cita. Mengeluarkan seluruh wadah yang bisa digunakan menampung air hujan. Menari. Hati dan tubuh kami menari bersuka cita. Dan demikianlah kehendak Tuhan, tak lama berselang derai hujan datang dengan derasnya.
Di tengah derai hujan yang menyimbahi kekerontangan tanah, kulangkahkan kakiku menghampiri Lukman. Kujabat tangannya sambil membungkuk hormat.
“Anakmas menyelamatkan kami sekali lagi,” ujarku tulus dan lembut.
“demi Allah tidak, Ki. Bukanlah saya yang menyelamatkan, tetapi Tuhan telah berkehendak demikian,” Lukman tersenyum. Ia terharu.
“inilah yang kusuka darimu, Anakmas. Sepertinya kesombongan tak ada tempat tumbuh di dadamu,” timpalku.
“Kumohon Anakmas Lukman, tinggallah di kampung ini. Aku dan penduduk kampung masih butuh bimbinganmu,” imbuhku.
“Iya, Ki. Insya Allah. Setelah ini marilah kita hijaukan bukit-bukit di seberang. Semoga suatu saat dilimpahi keberkahan,”
“Dan juga, Ki. Kita buat sebuah tampungan besar di sekitaran sungai kering agar mampu menampung hujan dalam jumlah besar. Semoga di waktu kekeringan bisa kita memanfaatkannya dengan bijaksana,” lanjutnya.
“Iya, Anakmas. Seluruh petunjukmu pasti kami jadikan pegangan,” sahutku
“terima kasih, Ki. Aki memang sesepuh kampung yang bijaksana,”
“ah, janganlah terlampau tinggi menyanjungku, Anakmas. Aku ini cuma lelaki tua yang mencintai kampungku,” sahutku tersipu.
“sekalian, Anakmas. Terimalah permohonan maafku mewakili penduduk kampung atas perlakuan kami tempo hari. Dulu, sebelum kedatanganmu, kampung ini didatangi lelaki yang berdandan sepertimu. Dia memperolok upacara yang kami lakukan, dia selalu saja mengata-ngatai kami dengan neraka dan siksa. Lelaki itu bernama Baidawi,”
“Baidawi ?!!” Lukman terperanjat..
“Iya. Nama lelaki itu memang Baidawi kenapa, Anakmas ?”
“ah,  tidak, Ki. Lanjutkan ceritamu,” pinta Lukman. Wajahnya menyimpan penasaran.
“Baidawi akhirnya diusir dari kampung ini. Barangkali karena itulah dia dendam dan nekat menebang pohon di sekitaran sumber air. Karena peristiwa itulah, Anakmas. Kami sedikit terganggu saat melihat dandananmu yang mirip dengan dandanan Baidawi. Sekali lagi terimalah permintaan maafku, Anakmas” lanjutku panjang lebar.
“iya, Ki. Saya juga memohon maaf yang sebesar-besarnya. Dan sebenarnya –“
Kalimat Lukman tiba-tiba terputus. Wajahnya bingung. Aku menunggu.
“sebenarnya  .. Baidawi adalah kakak seperguruan saya di Ampeldenta. Sudilah kiranya penduduk kampung memaafkan kesalahannya yang sudah-sudah,”

Hari itu, di kala hujan deras menyimbahi kampung, akulah satu-satunya saksi dari semua ucapan Lukman. Pada awalnya aku terkejut mendengar pengakuannya. Tetapi, bukankah beban jiwa akan berkurang seandainya hati kita lapang melepas kesalahan orang lain.

Ah, Lukman. Anakmuda yang santun dan berbudi itu akhirnya tinggal bersama kami. Dia mengajari anak-anak mengaji. Dia juga mengajari kami arti sebuah niat dan keikhlasan beribadah. Lukman mengganti sesajian dengan sedekah kepada yang kekurangan. Dia mengganti upacara penyembelihan menjadi penghijauan hutan-hutan. Hingga kemudian,

Kuceritakanlah kepadamu akhir dari kesaksianku ini. Lukman di akhir tahun ke-2 menderita sakit keras. Tubuhnya demam tinggi berhari-hari. Segala macam ramuan obat tak menemui kemujaraban. Lukman akhirnya menemui Tuhannya di usia yang masih sangat muda –belumlah genap 27 tahun. Wasiat terakhirnya adalah –dia meminta kami menguburkannya tanpa nisan di sekitaran mata air. Kami sedih bukan kepalang. Serasa putera terbaik yang pernah dilahirkan rahim isteri-isteri kami diambil Tuhan terlalu cepat.

Dan, ada satu lagi yang harus kuceritakan agar lengkap kisahku tentang Anakmas Lukman. Suatu hari, dia bercerita kepadaku tentang alasan persetujuannya menetap bersama kami. Dia mengambil keputusan dengan alasan mencari jalan tengah bagi kebaikan banyak orang. Konon, menurut ceritanya, saat itu dia akan dijodohkan dengan puteri gurunya –setelah Sang guru lebih memilih dirinya daripada Baidawi. Lukman dianggap lebih pas meneruskan perjuangan gurunya untuk mengelola perguruan di Ampeldenta.

Tetapi Lukman menolak dengan cara yang halus. Anak muda itu lebih memilih menetap bersama kami –karena tahu jika puteri sang guru mencintai Baidawi. Lukman memilih menyingkir meski dalam hati mencintai puteri gurunya teramat sangat.
“biarlah Tuhan melapangkan jalan semua masing-masing kami, Ki. Dan, semoga Tuhan meridhai keberadaanku disini, bersama penduduk kampung, bersama Ki Tarmuji,”
“Amin, Anakmas. Amin.” begitu ucapku saat itu.

Surabaya, Nopember 2010

 
1 Comment

Posted by on March 10, 2011 in Cerpen

 

Tags: , , ,

One response to “Cerpen : JALAN HUJAN

  1. ahmad

    March 10, 2011 at 8:36 am

    Mantep bro, …. kisah para wali

     

Silakan berkomen,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: