RSS

CERPEN : SANG LELAKI LANGIT

17 Feb

“Pokoknya Abah tak setuju ! titik !”

“tetapi, Bah. Abah tak punya alasan untuk tak setuju,”

“ketidaksetujuanku tak butuh alasan, Nir.”

“harus, Abah. Harus ada alasan. Yang tak butuh alasan berbuat sesuatu hanyalah Gusti Allah,”

“ampuni Munir, Abah. Munir bukannya ingin menggurui,” Munir berjuang keras menahan kesedihan.

“kalau kamu mau, kamu boleh memilih murid-murid Abah.  Mereka gadis-gadis terjaga. Perempuan-perempuan terhormat !”

“Surti juga perempuan terhormat, Bah. Demi Allah saya mengambil keputusan bukannya tanpa pertimbangan. Istikharah sudah saya lakukan. Demi Allah saya cinta dia, Abah. Demi Allah !”

Tak kubayangkan, bagaimana berkecamuknya dada kiyai Manar mendengar bantahan demi bantahan yang dilontarkan putera tercintanya, Munir. Tak habis dinalar, bagaimana bisa Munir jatuh cinta denganku –janda kembang bekas lelaki mursal semacam Jarwo.

Tak tertahan lagi Kiyai Manar berlaku lembut. Disengajakannya berkata keras agar aku yang berada di samping Munir –mendengar kalimat tegas yang keluar dari bibirnya. Duh Munir, sungguh naif pikiranmu.

Kiyai Manar menatap wajah Munir dalam-dalam. Dengan tatapan cinta, bercampur marah luar biasa. Sesekali dialihkan tatapannya kepadaku dengan tatapan tak percaya. Aku lantas menunduk. Luruh tak kuat apapun. Lelaki sekharismatik Kiyai Manar di saat lembut saja sudah membuatku salah tingkah, apalagi di saat marah. Dadaku bergetar luar biasa. Antara sedih, marah, hancur, putus asa, berantakan. Hanyalah lelehan air mata yang mewakili buncahan perasaanku. Ingin rasanya aku membela diri. Berteriak lantang bahwa – aku juga perempuan yang masih berhak disinggahi cinta seorang lelaki, bahwa aku juga perempuan terhormat, bahwa hanya takdir sajalah yang membuatku terpeleset hingga jatuh di pelukan Jarwo.

Kutarik nafas pelan-pelan. Panjang – kian panjang. Aku berusaha menenangkan diri. Mengumpulkan remah-remah keberanian untuk mengucap sesuatu –meski hanya satu kata.

 

“am .. ampunkan saya, Kiyai ..”  suara serakku menyela kesadaran dua lelaki di depanku.

Kiyai Manar tersentak. Munir menoleh cepat ke arahku. Wajahnya terkejut.

“saya .. saya .. tak bersedia lagi menjadi istri Mas Munir, Kiyai”

“demi Allah jangan, Sur. Jangan kamu ucapkan itu. Biarlah semua beban ini aku yang menanggungnya, jangan kamu,” potong Munir

“tetapi, Mas .. “ aku tak kuasa meneruskan kalimatku. Tenagaku luruh. Air mataku meleleh kian deras.

“Surtikanthi, percayakanlah semuanya padaku. Demi Allah. Aku bulat hati menikahimu. Kalau memang Abah tak mempercayai niatan baikku, cukuplah Allah menjadi saksi,”

Munir menatapku teduh. Wajahnya terlihat lelah. Ditatapnya pula wajah Kiyai Manar dengan tatapan tak mengerti.

“Abah,” ujarnya lelah parau. “Demi Allah saya mencintai Surti, saya mohon doa restu Abah,”

Beranjak Munir menggelesot maju. Namun, Kiyai Manar tak berhenti sedetikpun menghujani Munir dengan tatap matanya yang tajam. Ekspresi wajahnya sekaku karang.

Tangan Munir kemudian terulur menggenggam tangan Kiyai Manar –memohon belas kasih.  Kurasa Munir tak mampu berkata lagi. Ia telah pasrah. Jantungku serasa berhenti memompa. Tak lagi beda dengan mati. Tenagaku tak bersisa. Hanya bersimpuh menunggu sesuatu yang tak lagi kuharapkan. Mendengar kalimat keras Kiyai Manar pertama kali, perasaanku seperti dihempaskan ke muka bumi setelah diajak terbang ke langit tertinggi. Hancur. Remuk. Namun kemudian merasa tahu diri.

Munir. Pemuda Berbudi. Tampan. Baik hati. Mewarisi ilmu pekerti yang nyaris sempurna. Dia pertama kali menjumpaiku di gerbang lokalisasi, tempat ketika kehormatanku sebagai istri terpaksa tertanggalkan. Aku setengah telanjang saat itu. Bajuku koyak moyak. Sorban yang terulur dari tangannya kemudia menutupi tubuhku.

Ya. Semua itu karena Jarwo. Dan aku benci dengan Jarwo, bahkan teramat muak. Hari demi hari kusumpahi lelaki itu teronggok di kerak neraka lantaran tega menghianatiku dan juga bapak ibuku. Jarwo ternyata bajingan penipu. Sikap baiknya hanya ditunjukkannya ketika mendekatiku. Di depan ibuku dia berpolah seperti pengkhotbah. Solah tingkahnya seperti lelaki yang bertanggung jawab mengantar istrinya masuk sorga.  Namun, belum genap enam bulan menikahiku, belang Jarwo mulai terlihat. Ia tak lagi menafkahi keseharianku. Datang meminta uang, pergi tak tentu waktu. Minuman keras mengubahnya seperti anjing. Liar. Kasar. Gemar menampakkan taring-cakar dan auman. Apalagi Jarwo sempat mengancam akan meracun bapak-ibuku agar warisanku cepat mengalir. Duh Gusti, bajingan itu tak sabar ingin menikmati penjualan harta warisan milikku.

Hatiku hancur saat itu, apalagi suatu hari kuputuskan membuntuti kemana dia pergi.

Bajingan itu ternyata mangkal di lokalisasi. Najis biadab. Habis sudah kesabaranku. Kulabrak dia saat menggauli pelacur sambil setengah mabuk. Kucakar dia. Ingin kurobek-robek mukanya. Ingin kucacah-cacah hingga tersisa serpihan yang paling kecil. Aku hancur. Aku menangis, menangisi hidupku.

Jarwo meradang. Ia menendangku. Menamparku. Meninggalkan pelacurnya yang menyingkir mengumpat-umpat.

“Perempuan Lacur !!!” teriaknya. “setan betina !! mampus saja kau !!! buat apa kemari !!”

Tangan Jarwo menjambakku kuat-kuat. Kepalaku terkunci. Ia mengancam orang-orang agar tak mencampuri urusan keluarganya.

Aku berusaha berontak, tapi sia-sia. Usahaku malah membuatnya murka. Tangannya lantas merobek-robek bajuku. Seluruh bajuku.

“Perempuan pembawa sial !!!” teriaknya yang merobek pakaianku

“mau apa kau ! lepaskan, Bajingan !!” aku meronta sebisanya

Jarwo mengoyak bajuku kuat-kuat. Matanya nyalang seperti setan. Bajingan itu tak berhenti meski disaksikan lelaki lain. Terkutuklah dia yang tega melucuti pakaian istrinya di hadapan lelaki lain.

“Silakan kalau kalian menginginkan perempuan terkutuk ini !! dia sudah kupecat jadi istriku !!”

Aku menangis sejadi-jadinya. Aku meronta sekuat tenaga. Kutendang sekenanya. Kucakar muka setannya. Ia mencengkeram kian kasar dan membenturkan kepalaku di tembok kamar.

“Iblis betina !! iblis tak tahu diri !!” teriaknya nyalang bercampur aroma nafas araknya yang memuakkan.

Ketika tangannya membenturkan kepalaku di tembok, rasa teramat sakit meletupkan energi bawah sadarku. Jemariku meraup mukanya. Ia kelabakan. Aku nekat melawannya dan tak takut terbunuh.

Aku mencakar kian kuat. Aku meraup mukanya tanpa ampun. Hingga ketika ada kesempatan, jempol jemariku kutekan kuat-kuat di mata kirinya.

Jleb !

Jarwo mengerang. Ia menjerit kuat dan memakiku seperti iblis. Ia meradang sembari memegangi matanya yang telah buta. Darah mengalir dari mata kirinya, aku terlepas dari cengkeramannya.

Aku lantas terjatuh. Bernafas patah-patah. Kukumpulkan tenagaku, aku berniat menyingkir. Dengan repihan tenagaku, aku kemudian bangkit dan melarikan diri. Baju atasku yang koyak-moyak tak lagi berbentuk. Aku nyaris tanpa baju. Dengan langkah terhuyung, aku keluar dari kamar dan meninggalkan setan itu meradang kesakitan.

 

***

Dua tahun kemudian, di sebuah desa yang terpencil dari peradaban.

 

Mas Munir. Begitu aku memanggilnya. Meski usianya dua tahun di bawahku, aku mengagumi kedewasaannya. Cara berpikirnya menenangkan, tutur katanya lembut menyejukkan. Aku seperti dianugerahi lelaki dari langit. Lelaki yang kurasa diidamkan jutaan perempuan di muka bumi. Dia mencintaiku sepenuhnya, aku pun mencintainya hingga takut kehilangan. Bagiku itu sudah lebih dari cukup.

Meskipun kami menikah setahun yang lalu, aku masih bersedih kala teringat kata-kata Kiyai Manar, mertuaku.

“Kalau memang watakmu sudah tak bisa ditekuk,  bawa pergi Surtikanti dari rumah ini ! jangan pernah kembali !”

“apa dengan kepergian kami –Abah merestui pernikahan kami ?”

Kiyai Manar saat itu terpekam mendengar pertanyaan Mas Munir. Tak ada se-kata pun keluar dari bibirnya. Beliau kemudian meninggalkan kami dengan batin terluka.

Meski terkadang teringat peristiwa menyedihkan itu, Mas Munir menghiburku dengan kata-katanya yang menyejukkan.

“Jika masa lalu hanya berlaku sebagai belenggu, tanggalkan saja, Sur. Berharaplah kepada Tuhan atas kebaikanNya di masa depan. Percayalah, jauh di dalam lubuk hati Abah, beliau menyayangimu. Beliau pasti mendoakan kebaikan keluarga kita,”

Hatiku yang berliput mendung tercerahkan kata-katanya. Ia mengelus kepalaku dan membelai rambutku. Tatap matanya kemudian beralih ke perut buncitku. Ia tersenyum.

“berdoalah segera lahir Sang Pendamai. Semoga anak kita meretas tali yang selama ini terputus. Semoga rahmat Allah berlimpah tak terkira.”

Ya. Saat ini aku tengah hamil anak pertamaku. Begitu membuatku cemas. Karena itulah Mas Munir acapkali mengingatkanku agar tak bersedih, apalagi mengingat sesuatu yang buruk-buruk. Katanya, agar kelak anak kami tak jadi anak yang pemurung. Agar kelak anakku yang kukandung selalu optimis, tak kenal kata menyerah.

Aku mengiyakan nasihatnya. Aku tak ingin membayangkan sesuatu yang tidak-tidak. Apalagi, ah, aku ingin menghapus sebersih-bersihnya Jarwo terkutuk dari otakku. Lelaki mursal itu semoga diasingkan di tempat terjauh di kutub bumi. Agar aku tak lagi melihat muka setannya. Duh Gusti, Astaghfirullahan Adzim, hapuslah lelaki bajingan itu dari hidupku. Hanya kepada suamiku kuabdikan seluruh hidupku. Yang di hari jahanam itu, kau kirim dia menutupi tubuh telanjangku dengan sorbannya. Ya Allah, lelaki langit itu kau kirim di saat aku berada di titik nadir. Di titik harkat paling rendah karena direndahkan bajingan itu.

Mas Munir saat itu menitikkan air mata melihatku. Ia tak kuasa menyaksikan perempuan terkoyak kehormatannya. Astaghfirullahal Adzim, Astaghfirullahal Adzim. Waatubu Ilaik.

***

Penantianku akan datangnya Sang Pendamai, anakku, tiba sudah. Di malam senin, bulan Rabiul Awal, tanggal ke-11, putera pertamaku lahir. Pertama kali melihatnya –aku menangis. Matanya bening, bercahaya. Dahinya lebar seperti dahi ayahandanya. Sedangkan hidungnya, mancung seperti hidung kiyai Manar. Nyaris sebagian besar paras anakku diturunkan dari keluarga besar suamiku. Yang mirip denganku cuma bibirnya. Ya. Bibir puteraku tipis. Kata orang-orang jaman dulu, bibir yang tipis menandakan kepandaian berbicara puteraku di atas rata-rata. Tapi semoga puteraku tak cuma pandai bicara, semoga ia pandai pula mengaji, pintar pula menyejukkan hati banyak orang.

Mas Munir, suamiku, bersuka cita tak terkira atas kelahiran buah hati kami. Serta merta ia mengabarkannya kepada santri-santri suraunya beserta tetangga kanan kiri.

Namun di suatu sore, ia mengutarakan niat yang mengejutkanku.

“Surtikanti tercintaku, ingin rasanya aku menemui Abah. Aku ingin mengabarkan suka-cita ini,” begitu kata-katanya. Rasa-rasanya tenggorokanku terganjal untuk sekedar menimpalinya.

Aku memilih diam. Kupandang wajahnya yang menuh harap.

“semoga Abah bergembira dengan kedatangannya di dunia ini, Sur. Semoga Abah bersedia memotong rambut anak kita saat aqiqah nanti, aku berharap banyak.” begitu lanjutnya. Aku pun mengangguk mengiyakan niatannya.

Maka, di hari ketiga setelah kelahiran putera kami, berangkatlah suamiku ke kediaman kiyai Manar, mertuaku. Ia meninggalkanku sendirian setelah menyiapkan segala keperluan yang memperingan bebanku. Aku berdoa semoga niatannya terkabul. Aku berdoa semoga Gusti Allah melimpahkan karunia selengkap-lengkapnya kepada kami sekeluarga.

Menjelang maghrib, cakrawala di ufuk barat memerah tertabur senja. Burung-burung tak terdengar kicaunya, yang terdengar ramai di sekitar rumah kami hanyalah serangga senja yang menyanyi berkepanjangan. Menjelang maghrib seperti sekarang situasi perkampungan pasti sepi. Jarak antar rumah yang jauh membuat mereka memilih beristirahat sejenak sebelum berangkat ke surau.

Suamiku belum datang, aku sedikit khawatir. Apalagi sejak beberapa saat lalu, hatiku terasa tak enak. Kurasakan firasat ganjil yang tak tertafsirkan. Aku bingung.

Tiba-tiba aku terkesiap bukan kepalang. Iblis yang selama ini kutakuti mendadak muncul di halaman rumahku. Duh Gusti Allah, lindungilah keluargaku. Kudekap puteraku dengan cinta yang penuh.

Makhluk laknat itu berdiri kaku menampakkan wajah bengis. Memanahku dengan tatapan benci. Aku ketakutan setengah mati. Terlebih yang membuat jiwaku luruh, lubang mata yang mengerikan itu dibiarkannya tanpa tudung. Mengerikan. Mengerikan. Melengkapi muka setannya yang kian acak-acakan. Ya Allah, cobaan apalagi ini.

“apa kabarmu perempuan lacur ?” suaranya serak membekukanku. Sesekali jemarinya mengusap gagang badik yang menyelip di pinggang.

“kau disini rupanya. Bersembunyi di dekapan setan alas.”

Aku ketakutan. Kudekap anakku kian erat. Ia bergerak lemah, meringkuk seolah butuh perlindungan.

“puas kau membuatku picak ?! puas kau membuatku seperti Dajjal ?! harusnya kubunuh kau jauh-jauh hari !!” dengusnya menggumpal dendam. Ia mendekatiku. Aku beringsut mundur. Kudekap anakku kian erat.

“perempuan lacur ! perempuan laknat ! kau kirim aku ke bui lalu kau kawini sekutumu ! jangan kau kira mampu mengelabuhiku, hah ?!”

“susah-susah aku lari dari penjara hanya untukmu.”

Batinku kian luruh mendengarnya. Jarwo mulai bergerak mendekatiku.

“pergi kau ! jangan ganggu anakku !” suaraku bergetar mengucapnya. Ia kian cepat mendekatiku. Aku beringsut mundur tetapi, ya Tuhan, aku tersudut tak beruang lagi. Kusaksikan muka setan Jarwo dari jarak yang tak jauh. Dua meter, satu meter. Hingga saat tangan kasarnya memegang rahangku, aku tak kuasa berontak. Meski sakit luar biasa, aku tak ingin anakku tersakiti.

Jemarinya menekan kuat rahangku dan kemudian menghempaskanku kuat-kuat. Aku terhuyung. Aku terjatuh. Aku bersimpuh menangis ketakutan.

Anakku menangis. Ia merasa terancam. Untunglah ia masih kudekap saat bajingan itu menghempaskanku.

“perempuan jadah !!!” “plakkk !” ditamparnya kepalaku. Ditendangnya punggungku. Ya Allah, kutitipkan anakku kepadaMu.

“kau boleh menyakiti aku, tapi kumohon .. biarkanlah anakku, Jarwo” aku mengiba dalam tangis.

“keturunanmu sama lacurnya denganmu. Pantas jika dibunuh !” tangan Jarwo kembali mencengkeram rahangku. Jempolnya mencekikku.

“kumohon Jarwo ! kumohon  .. Akhhh .. de.. mi.. Allahhh..  “  nafasku patah-patah. Dadaku terasa. Namun tiba-tiba,

 

“Astaghfirullahan Adzim !! ya Allah !! ya Allah !! lepaskan istriku, Jarwo !! lepaskan istriku !! kumohon !!”  dalam terluka, kudengar getar suara suami tercintaku. Ya Allah, kuatkanlah dia. Tabahkanlah Mas Munir.

“kau .. kau bajingan setan alas ! kau harus menebus pesakitanku ! dan tebusannya berarti mati !!” teriaknya sambil terus mencekikku.

“iy .. iya. Tapi .. tapi.. demi Allah lepaskanlah Surti, lepaskanlah anakku, kita bisa bicara baik-baik,” suara suamiku mengiba.

Setan itu kemudian menghempaskanku dengan kasar. Aku terjerembab. Anakku terlepas dari dekapanku. Ia terjatuh dan menangis kencang. Aku pun menangis sejadi-jadinya.

“kau bukan manusia lagi, Jarwo ! kau iblis !” suamiku menggeram. Secepatnya ia menghadapi Jarwo yang menghadang.

“Munir.. munir .. terserah kau mau ngoceh apa. Tapi kurasa janganlah buang-buang waktu. Pilihlah cara kematianmu, hehehe” Jarwo terkekeh tanda senang. Tangan kanannya mulai menyentuh badik di belakang punggung.

Suamiku seketika menerjang. Jarwo memasang kuda-kuda. Namun tendangan kaki suamiku berhasil menghantam setan itu hingga terpelanting. Bangsat itu jatuh terjerembab. Suamiku terpukul dan terpental ke samping.

 

“anjing !! anjing !!” umpat Jarwo memegangi perut.

Suamiku bersegera bangkit dan tergopoh menghampiriku. Ia menangis memelukku. Dibelainya puteraku sambil mendekatkan wajahnya ke tubuh puteraku.

“maafkan aku, Sur. Maafkan aku. Ya Allah, ampuni aku,” Mas Munir merintih mengalirkan air mata.  Aku menangis sejadi-jadinya.

Tiba-tiba sambil meringis kesakitan, Jarwo berdiri dengan sikap tak sempurna. Suamiku lantas menyerahkan puteraku ke pelukanku. Tetapi, Ya Allah,  setan itu telah berhasil menarik badik yang terselip di pinggangnya.

Kudekap anakku kuat-kuat.

“berdoalah, Sur. Berdoalah,” suamiku berucap dan mengecup keningku.

“mati kau, Setan alas !! mati kau !!”

Jarwo menyeruak. Bajingan itu menyerbu. Badiknya teracung kuat-kuat.

Wuzzz !! wuzzz !!  suamiku mampu berkelit. Ia malah berhasil menjengkangkan Jarwo dengan tendangan kakinya.

“anjing kurap !!!” Jarwo kian kalap.  Ia mengamuk membabi buta.

“mati kau ! mati kau !” badiknya menebas-nebas tak karuan. Aku memejam mata tak ingin menyaksikannya.

Crazz ! crazz !

“ya Allah ! ya Allah !”

Jantungku berhenti mendengar teriakan suamiku. Saat kubuka mata, tak tertahan diriku menyaksikannya bersimbah darah. Tebasan badik itu mengenai dadanya. Ya Allah, ia limbung dan terjatuh. Aku menjerit sekuat-kuatnya menjerit. Kuingin jeritanku terdengar sampai ke langit.

Bajingan itu merasa menang. Senyumnya kian bengis. Ia menatap suamiku laiknya anjing pemburu. Meski tubuhnya tegak tak penuh, di tangannya badik berlumur darah itu teracung kuat-kuat.

Menyaksikan paparan kebiadaban di depanku, sisi lemah kewanitaanku mendadak sirna. Rintihanku lenyap. Keberanian tersirap di dadaku.

Kukecup kening puteraku seraya minta diri, aku pun telah pasrah. Kuletakkan puteraku di atas tanah seraya menitipkannya ke bumi. Dia mulai menangis seolah tahu bencana yang menimpaku.

Bajingan itu nyengir bengis melihatku bangkit. Pandangannya beralih-alih antara aku dan suamiku. Aku tahu cepat atau lambat dia pasti membunuh kami. Satu persatu, atau sekaligus. Ya Allah, bantulah aku.

Setan itu mengacungkan badik ke arahku, ia lantas bergerak menuju suamiku. Duh, Gusti.

Jrass !! jrasss !!!  “ya Allah ! ya Allah !!” “aaaahhh !!! bangsat !!”

Badik yang berniat membabat perut, tertahan kaki suamiku.  Ya Allah, yang terjadi terjadilah. Meski kaki Mas Munir tertebas, ia berhasil menjejak Jarwo hingga tubuhnya roboh terjengkang. Badik biadab itu terlempar tak jauh dari tempatku berdiri.

Aku berlari. Aku menyeruak dalam marah. Kuambil badik biadab itu dan kupegang kuat-kuat. Samar-samar tangisan anakku membuncahkan keberanianku.

Aku menghambur mendekati Jarwo. Bajingan itu mengaduh. Suaranya menguik-nguik seperti babi kena panah.

Kuayun badik membabi buta. Setan itu berupaya mengumpulkan tenaga. Melihatnya ingin meloloskan diri malah membangkitkan sisi kejamku.

Jrasss !! jrass !! “aaahhhhhkkk perempuan lacurr  !!!!”

Kubabat kepala Jarwo namun tangan kanannya menghambatku. Putus. Pergelangan tangannya terputus. Potongan tubuhnya menggelepar seperti ekor cicak. Entah dari mana datangnya tenagaku, aku tak mengerti.

Kuayun lagi badik ke arah kepalanya. Jrattt !!

“akhhh !! akhh !! setan ! setan !! keparaaatt !! aahhh ahhh”

Darah segar muncrat ke wajahku. Ayunan badikku menghajar wajahnya, tepat membelah mata kanannya.

Bajingan itu menguik-nguik persis monyet disembelih. Tangannya menggapai-gapai ingin membalasku. Aku menghindar.

Badik di tanganku kuayun lagi ke lehernya. Jrass !! keparat itu seketika melolong sembari roboh terjerembab. Ia mengaduh sekencangnya. Tangannya yang tersisa memegangi lehernya yang menganga. Ya Allah, ampuni aku.  Bangkit sudah kebiadabanku.

Kulempar jauh-jauh badik dari tanganku. Aku menghambur menuju suamiku. Masya Allah, tak ingin kusaksikan kegilaan ini.

Kuangkat puteraku dari tanah. Tangisnya masih kencang. Sambil kudekap dan kuciumi anakku, aku berlari ke luar rumah berteriak meminta pertolongan.

***

Jarwo, bajingan itu, lenyap sudah dari dunia ini. Kedua matanya picak. Picak lantaran perbuatan kedua tanganku ini. Tapi anehnya aku tak menyesali perbuatanku. Tidak. Sedikitpun tidak.

Setelah mendengar bencana yang menimpaku, Kiyai Manar segera hadir di rumahku. Wajahnya luruh. Pucat memendam sesal. Saat dilihatnya Mas Munir tergeletak lemah di atas bale, ia menangis tak kuasa membendung emosi.

“ya Allah. Apa benar selama ini aku telah mengujinya, dan bukan menghukumnya ..” Kiyai tua itu merintih mengalirkan air mata.

Ditatapnya aku yang kemudian, tangannya terulur seakan meminta puteraku dari gendonganku.

“ijinkan aku menggendongnya,  Anakku. Dia juga cucuku,”

Ya Allah. Kiyai Manar menyebutku Anakku. Kelopak mataku seketika berembun.

Kuulur puteraku ke dekapan Kiyai Manar. Aku menunduk seraya meminta restu dan maaf.

“maafkan aku, Nduk. Maafkan Bapakmu yang khilaf ini,” begitu suara seraknya terdengar telingaku. Ia mengusap kepalaku dan menciumnya.

“Abaaahh .. abaaahhh,” suamiku merintih memanggil Kiyai Manar. Kiyai Tua itu berangsur mendekap sambil membawa puteraku di dekapannya.

“Abaaahh, jauh dalam hati hhh ..  kuingin Abah memotong rambut anakku saat .. saat .. aqiqah nanti .. apakah .. apakah .. kini Abah bersedia ?” suara suamiku patah-patah. Aku menangis mendengarnya.

“iya Anakku. Iya, Abah bersedia. Maafkan kelakuan Abah yang tempo hari tak bersedia menemuimu. Abah sangat menyesal, Astaghfirullahal Adzim,” bulir air mata Kiyai Manar bertetesan

“Tidak Abbbaaa..hhh. Selama ini .. sel a ma ini .. Abah tidak pernah punya salahhh kepadaku. Maafkan akuu Abbaahhh .. maafff kan laahh Surti,”

Batinku pecah mendengarnya. Kesedihanku memancar deras. Malam ini, di kala rembulan terang memendar, tak kurasakan sinarnya menghiburku meski secercah pun. Kurasa malam ini rembulan sedang gerhana. Ya. Sedang gerhana. Tak ada setitikpun cahaya, meski rembulan sedang purnama.

***

Surabaya, Juni 2010

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on February 17, 2011 in Cerpen

 

Silakan berkomen,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: