RSS

CERPEN : PETANI TERAKHIR

16 Feb

Petani Terakhir : source http://www.sujarwo04.wordpress.com

“Tanah sudah kehilangan keberkahan” begitu pikir Jamal.

Di usianya yang ke-55 tahun, tinggal di kampung kecil yang terhimpit puluhan pabrik milik orang-orang kaya dari kota –adalah hal yang menyedihkan.

Tempat tinggalnya terlalu banyak berubah. Begitu drastis. Tak tersisa jejak-jejak kemakmuran masa lampau. Lahan persawahan kian menyempit. Kaum petani yang termasuk dia di dalamnya –kehilangan kejayaan. Curahan air langit kian pelit. Hama perusak merajalela. Keharmonisan penanam padi dengan filsafat kehidupan yang turun temurun diceritakan buyut moyangnya –punah sudah. Ya. Pesta panen sudah berakhir. Pesta tanam tak mungkin hadir. Punah. Kebesaran para petani punah sudah.

Di sebuah dangau kecil di pematang sawah, Jamal terpekur. Angin sawah meniupi wajah keriputnya. Semilir. Seakan mengabarkan kabar duka. Pipit-pipit yang hinggap di batang padi tak semangat dihalaunya. Wajahnya bermendung. Beruntung di sampingnya duduk pula sahabat masa kecilnya,  Kasdi –yang juga memiliki sawah bersebelahan dengan sawah miliknya.

“kampung ini serasa kehilangan jati diri,” ujar Jamal lesu. Tatap matanya nanar. “kita bukan lagi tuan di kampung sendiri,” lanjutnya mengusap wajah.

Kata-kata Jamal membuat Kasdi memandang ke arahnya,

“Iya, Kang. Keberadaan kita kian terjepit. Semua sawah sudah dijuali,”

“tapi aku tak ingin seperti mereka. Aku akan mempertahankan sawahku,“ ujar Jamal yang tangannya sesekali terangkat menghalau burung. “hussaahhh !! hussaaah !!”

“Aku juga berpikiran sama, Kang. Memang benar mereka yang menjual sawahnya mendadak kaya. Tapi sampai kapan uangnya bertahan,” Kasdi memandang Jamal. Tersenyum namun kecut.

“dipakai makan, dipakai naik haji, menggedong rumah, ratusan juta cepat menguap. Kisah selanjutnya bisa ditebak. Setelah hartanya habis, mereka mendaftar jadi kuli pabrik,” lanjut Kasdi

“tapi semua itu tak bisa disalahkan, Di” Jamal menggeleng pelan. Pahit.

“hasil panen kita tak memuaskan, tak seberkah di masa lalu. Dulu kita bisa kaya dengan menjadi pencocok tanam. Lumbung-lumbung dengan mudah kita penuhi. Tapi, lihatlah kini. Pupuk keseringan langka, wereng-puso menggila, saat panen harga gabah malah anjlog,” Jamal menelan ludah. Getir.

“nasib petani sungguh jauh berubah, Di. Sawah-sawah kehilangan keberkahannya.” pungkasnya yang menarik nafas dalam-dalam.

“Kang Jamal benar. Situasi petani sudah jauh berubah. Tetapi yang kusayangkan ketika penduduk kampung hanya bisa menjuali sawah-sawahnya. Disadari atau tidak, periuk nasi mereka tergadaikan. Akhirnya anak-anak mereka berbondong-bondong melamar jadi buruh pabrik. Kita yang asli penduduk kampung jadi bergantung kepada orang kaya dari kota,”

Jamal terpekur mencerna kalimat Kasdi. Sedih. Kesedihannya menyeret ingatan masa kecilnya ketika musim tuai tiba. Seruling batang padi yang berbunyi melengking –yang terdengar sengau namun indah. Kaki-kaki kecilnya yang berlompatan lincah di pematang sawah, hamburan burung-burung gelatik yang berkelincat mencuri bulir padi, emak dan bapaknya yang menggerat tangkai padi menggunakan ani-ani. Seolah sayup-sayup terdengar lagi irama rancak lesung yang dipukul bertalu-talu.

Musim tuai di masa kecil Jamal tak ubahnya seperti hari raya kedua bagi penduduk kampung. Masa panen adalah masa suka cita. Masa anak-anak kampung berbondong-bondong ke sawah dan berlomba menaikkan layang-layang terindah –ataupun bermain kelahi gulat di tumpukan jerami.

“Kau masih ingat kesibukan masa panen, Kang ?” tiba-tiba pertanyaan Kasdi sejalan dengan ingatannya.

Jamal menatap Kasdi lembut. Ia lantas tersenyum dan mengangguk pelan.

“kita sering diomeli karena merecoki pekerjaan Bapak-bapak kita, hehehe” Jamal terkekeh. Kasdi juga terkekeh.

“aku paling suka saat berlompatan di tumpukan jerami. Meskipun akhirnya badan terasa gatal dan perih, kesenangan itu tak terlupakan,” bola mata Kasdi berbinar mengucapnya.

“aku masih ingat hasil panen padi diikat bertandan-tandan. Sebagian besar disimpan di lumbung, sebagian lagi digantung memanjang di batang bambu di atas dapur. Dan kalau kesibukan panen sudah selesai, kita-kita ini merengek minta diajak ke kota. Biasalah .. turun gunung kata orang, untuk sekedar membeli baju atau menikmati lezatnya sate gule Wak Mat yang dijual di pojok pasar, ” Jamal terkenang sambil tatapannya menerawang. Hatinya beresonansi.

“ya, aku teringat juga, Kang” sahut Kasdi. Ia tersenyum sambil manggut-manggut.

“rasa-rasanya saat itu kita bangga mengatakan ingin menjadi petani. Kita punya ambisi untuk mengetahui ilmu bercocok tanam. Termasuk mengetahui masa tandur menggunakan rasi bintang waluku,” Jamal kembali mengurai masa lalu. Kasdi terus tersenyum tak menimpali.

Di langit, matahari kian tinggi. Dari sinarnya yang terang, terlihat pantulan kekuningan bulir-bulir  padi yang membernas. Puluhan pipit-pipit bandel tergoda teramat sangat. Berkali-kali tangan Jamal terangkat mengusir mereka, berkali-kali pula gerombolan nekat itu datang lagi. Lahan yang menyempit ternyata tak hanya merisaukan Jamal dan Kasdi, terlebih pipit-pipit bandel itu. “Husssaaahh !!” “hussaaahh !!”

Matahari kian tinggi memanjati langit. Sementara angin bertiup lembut. Meniupi kulit wajah yang mengkilap lantaran keringat.

“beruntunglah kawan kita Haji Syamad. Dia bisa menjadi tuan di kampung sendiri. Dia kaya raya, tak bergantung kepada juragan-juragan dari kota,”

“biasanya dia jalan-jalan kemari, Kang,” celetuk Kasdi

“Iya, tapi sore hari,“ sahut Jamal.

“semoga panen kali ini melimpah, Di. Aku akan menggunakannya untuk membujuk anakku,” lanjut Jamal yang mengalihkan perhatian.

“masih juga mereka bersikeras dengan pendiriannya, Kang ?” tanya Kasdi.

“ya, begitulah. Hampir putus asa aku membujuk mereka. Kukasih pengertian ujung-ujungnya malah membudeg. Kurasa semua nasihatku selama ini masuk kuping kanan, keluar lagi kuping kiri” rongga dada Jamal terasa sempit. Ia menelan ludah.

“dan yang lebih kusayangkan, anak-anakku malah menyuruhku menjual sawah ini, Di. Biar bisa kupakai naik haji katanya. Ah, kurasa bukan itu alasan mereka. Kurasa mereka lebih suka menerima bagian uangnya,”

Kasdi terdiam. Jamal menarik nafas dalam-dalam. Serasa hidup di kampung yang dulu tenteram, kini berubah jadi muram.

***

Dua bulan berselang, Jamal yang mulai gusar menemui anak pertamanya, si Mahfud. Ingin diperlihatkannya hasil panen yang melimpah, alih-alih membujuk Mahfud meneruskannya bercocok tanam.

“Panen kali ini cukup berhasil, Fud. Sawah kita menghasilkan 15 kwintal,”

“Alhamdulillah, Pak. Hasilnya tak seperti musim kemarin. Kali ini hama wereng coklat melanda kecamatan sebelah, petani disana gagal panen,”

“tapi kau tak boleh putus asa, Fud. Begitulah hidup. Terkadang naik, terkadang turun. Sekarang gagal, besok juga berhasil,” sedikit gusar Jamal mengucap.

“kuharap kau bersedia meneruskanku menggarap sawah,” lanjut Jamal tanpa berbasa basi.

“saya lebih suka berdagang di pasar, Pak”

“meski menggelar tikar dengan hasil yang tak seberapa ?”

“Iya, Pak. Terus terang saya putus asa melihat hasil panen yang mesti. Tak sebanding dengan jerih payah yang kita keluarkan,“

“terus mau diapakan sawah kita, Fud ?” pertanyaan Jamal mulai pasrah. Pikirannya buntu.

“coba tawarkan kepada adik. Siapa tahu dia bersedia mengurusnya,”

“jawabanmu terdengar seperti usaha mengelak, Fud. Aku tahu adikmu tak mungkin bersedia. Dia lebih memilih jadi buruh di pabrik,” pungkas Jamal yang tak sabar. Wajahnya keruh tak habis pikir.

Berputus asa Jamal kemudian meninggalkan rumah si Mahfud. Dia melangkah menuju rumah anak keduanya –si Samud. Alih-alih mendapat jawaban yang lebih baik dari si Samud, kata-kata anak keduanya itu malah lebih mengecewakan.

“Jual saja, Pak. Bapak bisa mengunjungi Ka’bah. Berziarah ke makam nabi, apalagi yang diharapkan dari lelaki tua seperti Bapak ?”

“aku memang ingin naik haji. Tapi tidak dengan cara menjual sawah ! memang benar kalian bisa cari makan, aku percaya. Tapi aku tak ingin melihat anak-turunku melata-lata mencari makan di kampungnya sendiri. Setidaknya kalau kalian masih punya sawah, paceklik separah apapun kalian tak mungkin makan bonggol pisang !!”

“percayalah, Pak. Kami pasti baik-baik saja,”

“tapi aku tetap tak akan menjual sawahku. Akan kuwariskan kepada cucu-cucuku !!”

Jamal menyudahi kalimatnya dengan keras hati. Ia terlanjur berburuk sangka dengan anak-anaknya. Ia menduga jika permintaan anaknya menjual sawah hanyalah akal-akalan untuk mempercepat mengalirnya warisan. Meski tak sepenuhnya benar, si Mahfud memang berharap memperoleh uang tambaham modal usaha, sementara si Samud tengah kesulitan keuangan lantaran tumpukan hutang istrinya di toko kelontong tetangga.

Kegundahan Jamal seakan tak berujung. Sedangkan Kasdi, ia menyesal tak mampu memberi saran yang menyejukkan.

Hingga suatu siang menjelang sore, di kala Jamal termenung sendiri di tengah dangau, angin yang berhembus lembut ternyata mengantar Haji Syamad menghampirinya. Haji kaya raya itu meniti pematang sawah dengan langkah perlahan namun pasti.

“Assalamualaikum, Kang” sapa Haji Syamad yang tersenyum ramah.

“waalaikum salam, Ji. Wah, silahkan-silahkan .. monggo mampir kemari. Menjelang sore begini enak betul cari angin, Ji”

“hehe .. bisa saja, Kang. Bagaimana kabar panjengengan ? panen baru-baru ini kabarnya melimpah ruah,” sahut Haji Syamad yang turut duduk di dangau.

“Alhamdulillah, aku baik-baik, Ji. Panenku juga melimpah berkat rahmat Allah,”

“Syukur alhamdulillah, Kang. Syukur alhamdulillah” haji Syamad turut gembira.

“yah.. beginilah kegiatanku, Ji. Apalagi kalau bukan menunggui sawah,” Jamal terkekeh memandangi Haji Syamad.

“musim tanam begini, bebek-bebek tetangga sering nyinyir dan salah nyosor. Dimakan dan diinjak-injaknya pula semaian padiku beramai-ramai,”

“ya begitulah, Kang. Sawah di kampung kita tinggal sedikit. Semakin susah pengangon bebek mencari lahan,”

“Iya, Ji. Betul sekali kata-katamu. Sawah-sawah kampung kita kian terhimpit. Entahlah apa jadinya kalau seluruh sawah ini disulap jadi pabrik. Bisa-bisa penduduk kita kurang kerjaan,” Jamal berhenti sejenak menarik nafas.

“Iya kalau masih muda tenaganya bisa diandalkan. Sampeyan kan tahu, Ji. Bekerja di pabrik, umur diatas tiga puluh sudah dianggap tak gesit. Sudah pantas dirumahkan,” lanjut Jamal yang geleng-geleng kepala menyayangkan.

“Iya, Kang. Saya juga baru menyadari ternyata sawah-sawah kita sudah nyaris habis. Paling-paling jumlah pemiliknya dapat dihitung dengan jari. Tinggal Sampeyan, Kang Kasdi, dan beberapa penduduk lain yang bisa dihitung dengan jari,” timpal Haji Syamad.

“itulah masalah kampung ini, Ji. Kalau penduduk kampung seperti sampeyan tak perlu turun ke sawah untuk menghasilkan sandang-pangan. Lha yang lainnya, mereka tak menyadari masalah-masalah yang timbul setelah sawahnya dijuali,”

Haji Syamad terdiam. Ia mengiyakan ucapan Jamal. Parasnya mengisyaratkan jika dirinya berada di saat yang kurang tepat.

“ngomong-ngomong, ada kabar apa tentang kampung kita, Ji. Biasanya sampeyan tahu lebih dulu,”

“ah, nggak, Kang. Hampir nggak ada apa-apa,” wajah haji Syamad terkesan mungkir. Sesaat ia ingin mengucap sesuatu namun diurungkannya.

“sayang, sebenarnya aku mengharap ada kabar yang lebih baik,” ucap Jamal dengan nafas yang berat

“sebenarnya-”

“nah, ada apa, Ji ?” tanya Jamal yang penasaran. Untuk sesaat suasana menjadi sepi.

“sebenarnya .. saya tak enak hati membicarakannya dengan Kakang,”

“ah, janganlah begitu. Katakanlah. Meskipun itu baik ataupun buruk,” pinta Jamal dengan nada memelas.

“sebenarnya .. ada yang berminat dengan sawah Kakang. Sawah yang ini, Kang. Karena itulah saya bersegera menemui sampeyan,”

Sesaat tatap mata keduanya bertemu. Suasana menjadi sepi. Kikuk.

“ah, tidak, Ji. Sawah ini tidak akan kujual. Sawah ini akan kuwariskan kepada cucuku,”

“Iya, Kang. Saya mengerti. Karena itulah saya tak enak hati membicarakannya,” raut wajah Haji Syamad serius.

“tetapi mungkin .. sebelum Kakang mengambil keputusan, ada baiknya saya menyampaikan sesuatu. Tentunya kalau sampeyan tidak keberatan,” tatapan haji Syamad menunggu

“baiklah, Ji. Akan kudengarkan,”

“begini, Kang. Ada perusahaan dari kota yang berminat dengan sawah Kakang. Harganya sangat bagus. Berlipat-lipat harganya jika dibanding tanah-tanah lain yang sudah terjual. Mereka menaksir tanah Kakang sangatlah strategis untuk lahan bisnis. Bersamaan dengan tanah Kakang, mereka berminat pula dengan tanah Kang Kasdi yang bersebelahan dengan kepunyaan Kakang,”

“kau sudah ketemu Kasdi, Ji ?” potong Jamal penasaran.

“sudah, Kang. Sampai sejauh ini Kang Kasdi bersedia menjualnya,”

“bersedia ?! bagaimana bisa ?!!” keterkejutan Jamal tak mampu bersembunyi.

“Iya, Kang. Kang Kasdi sudah bersedia. Saya kemari juga atas saran Kang Kasdi,” tatapan mata Haji Syamad luruh bersimpati.

Jamal tertegun tak percaya. Kasdi yang selama ini kukuh mempertahankan tanah saja sudah luluh.

“Mahfud dan Samud sudah tahu berita ini, Kang. Hanya saja mereka tak punya keberanian untuk mengatakannya kepada Kakang, mereka tak ingin melangkahi,” Haji Syamad berucap selembut mungkin.

“sebenarnya .. saya memahami niatan baik Kakang untuk mempertahankan sawah ini. saya juga memahami kekhawatiran Kakang soal kelangsungan hidup anak-anak sampeyan. Mahfud, anak sampeyan yang pertama, usahanya sedang bergerak naik. Dia punya niatan membeli lapak agar tidak lagi menggelar tikar di emperan pasar. Mahfud pekerja keras, Kang. Dan dia yakin usahanya berkembang. Rejeki Allah tidak hanya datang dari sawah, Kang. Mungkin saja Mahfud lebih cocok jadi pedagang ketimbang jadi petani,” suara Haji Syamad lembut menyejukkan.

“kalaupun Kang Jamal nantinya memutuskan menjual sawah ini, saya bersumpah demi Allah, Kang. Untuk penjualan tanah sampeyan dan tanah Kang Kasdi, biarlah saya tak dapat apa-apa, saya ikhlas lahir batin. Biarlah kali ini saya menjembatani Kakang berdua dengan pembeli, saya akan menawar mereka dengan harga yang paling bagus,”

“Iya, Ji. Aku pasti percaya denganmu,” tatapan Kasdi menyapu wajah Haji Syamad

“Bagaimana, Kang ? apa Kakang sudah ada pandangan ?”

“hmmm .. entahlah, Ji. Entahlah, aku butuh berpikir,” tenggorokan Jamal terasa kering.

“saya memahami Kang Jamal dengan sepenuhnya. Tapi kalau boleh urun pendapat, akan sangat sayang seandainya sawah ini nantinya terbengkalai tak ada yang mengurusi. Umur kita tak lagi muda, Kang. Sudah sepantasnya Kakang mentas dari sawah. Biarlah anak-anak kita yang menggaris jalan hidupnya sendiri-sendiri, kita hanya bisa titip doa,”

“Iya, Ji. Iya. Aku berterima kasih atas kedatanganmu,”

“Kalau begitu, saya pamit dulu, Kang. Saya ada keperluan mengantar ibunya anak-anak,”

“ah, iya, Ji. monggo. Silahkan,”

“Assalamualaikum,”

“waalaikum salam warahmatullah,”

***

Dua bulan berlalu mengantar waktu. Wajah Kasdi berbinar sebinar purnama tanpa awan. Sawahnya terbeli, dengan harga teramat pantas. Ternyata benar kata Haji Syamad, orang kaya jujur itu berkata tanpa cela sedikitpun. Ia menolak diberi imbalan yang seharusnya diterima sebagai makelar perantara.

Selanjutnya Kasdi berniat naik haji. Ia berencana membawa istri dan keseluruhan anaknya menunaikan rukun Islam ke-5.

Demikian halnya dengan anak-anak Jamal, Mahfud dan Samud, keduanya gembira bukan kepalang. Bapak mereka yang selama ini bersikukuh mempertahankan pendapat –telah rela menjual sawahnya.

Jamal seperti juga Kasdi, ia berniat naik haji, tapi Jamal memutuskan berangkat sendirian tanpa anak-anaknya. Setelah sebagian besar uang hasil penjualan tanah dibagikan kepada kedua anaknya, Jamal menyimpan beberapa puluh juta di bank untuk keperluan pemberangkatan ibadah haji.

Suatu siang, ingin diambilnya simpanan itu untuk melunasi biaya ONH (Ongkos Naik Haji). Dengan langkah cepat, Jamal mengambil sepeda kumbang. Ia pun kemudian mengayunnya di jalanan.

Tenang, gontai, gerakan kaki Jamal mengayuh pelan seperti enggan. Hingga tak lama kemudian, sesampainya di bank, tak butuh sejam bagi Jamal untuk menarik simpanan uangnya.

Pelan, tenang, dengan kayuhan enggan sepeda kumbang –Jamal kembali melaju di jalanan dengan tujuan pulang. Seratus meter, dua ratus meter, tiga ratus meter, tenanglah hati Jamal seraya membayangkan bentuk Ka’bah di pelupuk mata. Namun, tiba-tiba saja pegangan tangannya terasa tak nyaman. Ia merasa ada yang salah. Sepedanya terasa labil dan berat saat terkayuh.

Ah Tuhan, rupa-rupanya ban sepeda Jamal bocor di tengah jalan. Terkena paku yang mampu menembus ban luar-dalamnya.

Jamal lantas menepi. Dilihatnya di ujung jalan yang tak jauh, terdapat bengkel reyot tukang tambal ban. Jamal memutuskan untuk menuntun sepeda kumbangnya menuju tempat itu.

Semeter, dua meter, tiga meter, Jamal melangkah pelan sembari menjaga keseimbangannya. Uang yang terbungkus tas kresek masih terselip erat di saku celananya.  Mendadak,

BRAAGGGG !! “ya, Allah !!” SRAAAAKKK !!

Jamal terpental tujuh meter. Tubuhnya terjerembab. Terkapar tak berdaya. Jamal melayang antara sadar dan tak sadar. Tubuhnya menolak digerakkan.

Dirasanya tangan-tangan kasar yang merogoh saku celananya. Lamat-lamat terdengar suara berat lelaki yang berteriak gugup,

“cepat !! cepat !!”

“sudah kau dapatkan ?”, “sudah !” ,“ ayo cepat pergi !!!”

Kabur di telinga Jamal suara motor yang kemudian meraung meninggalkannya.

Antara ada dan tiada, di antara kegelapan kesadarannya, terbayang Jamal akan wajah anak cucunya.

Perlahan-lahan mata batin Jamal menangkap setitik cahaya. Besar. Bertambah besarlah cahaya itu hingga mata batinnya tak lagi dilingkupi gelap. Terang. Cakrawala batinnya mendadak terang. Hilanglah segala kegelapan yang melingkup mata batin Jamal.

Kemudian, terbayanglah Jamal jutaan manusia yang berputar mengelilingi Ka’bah di Mekkah. Terbayanglah Jamal ditubuhnya mengenakan pakaian ihram.

Labbaikallahumma labbaik. Labbaika la Syarika laka labbaik.

Kemudian, muncul satu Tangan terulur kepadanya. Inna Lillah Wainna Ilaihi Rajiun.

Surabaya, Desember 2010

 
Leave a comment

Posted by on February 16, 2011 in Cerpen

 

Silakan berkomen,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: