RSS

Cerpen : AMBRUG

09 Feb

AMBRUG, dalam ilustrasi

Tengah hari di bulan Agustus, terik matahari terasa luar biasa –mengeringkan tenggorokan. Di sebuah resto makanan-minuman pinggiran kota, Burhan dan Iswandi melepas haus seusai meninjau lokasi proyek. Keduanya adalah kontraktor sukses yang cukup terpandang di Kabupaten Abal-Abal. Mereka kolega karib. Kesulitan seseorang dirasa kesulitan keduanya.

Kesuksesan dua lelaki ini bisa dikatakan nyaris komplit. Iswandi, 40 tahun –memiliki puluhan mobil, rumah mewah, serta perempuan-perempuan yang setiap saat bersedia dipanggil menemaninya. Ya. Meski usianya sudah kepala empat, Iswandi yang berwajah tampan lebih tahan membujang daripada diomeli perempuan berstatus istri. Kata Iswandi, istri adalah jenis investasi yang jauh dari untung. Ya. Demikianlah filsafat hidup Iswandi tercermin dari dandanan parlentenya yang salah jaman. Minyak wangi out of date beraroma menyengat, rambut model Elvis Presley diminyaki terlalu klimis –ibarat lalat pasti terpeleset andai berani hinggap di rambut Iswandi.

Berbeda dengan Iswandi, Burhan yang bertubuh tambun lebih terlihat berkehidupan normal. Usianya 45 tahun, kaya raya, beristri cantik, tiga kali mengunjungi tanah suci. Dandanan Burhan terlihat proporsional untuk kontraktor sukses seumurannya. Tetapi sayang –hingga kini Burhan dan istri belum dikaruniai keturunan. Karena itulah sejak 3 tahun lalu Burhan mengadopsi Sinta –puteri dari adik perempuan istrinya yang berusia 10 tahun. Sinta dikenal sebagai gadis kecil yang cantik, cerdas, memiliki perasaan selembut kapas. Dibesarkan di lingkungan serba kekurangan membuat Sinta mudah tersentuh ketika menyaksikan penderitaan sesamanya.

Sambil melepas dahaga, Burhan dan Iswandi cengengesan ngalor ngidul tanpa beban. Maklum, proyek yang mereka tangani nyaris rampung tanpa kendala. Tahun ini Iswandi kebagian proyek rehabilitasi gedung SD di puluhan titik. Sementara Burhan, dia kebagian paket proyek pengaspalan di puluhan ruas jalan. Wajah keduanya sumringah. Bayangan duit ratusan juta yang menembus angka milyaran terbayang-bayang di pelupuk mata. Ah, benar-benar usaha yang beromzet besar asalkan pelakunya bermental koboi.

“Sial. Panas betul ! matahari sudah pindah ke ubun-ubun,” gurau Burhan yang nyengir ke arah Iswandi. Tangannya meraih gelas berisi es kopyor.

“Bumi sudah tua, Han. Neraka kangen penghuninya,” gurau Iswandi yang tergelak.

“siapa penghuninya ? kau ?” Burhan tertawa lebar.

“ngawur ! mulutmu nyinyir asal nguap. Orang seperti aku jelas dibutuhkan Tuhan di surga, Han. Bayangkan kalau surga hanya diisi kiyai dan tukang ceramah, nggak akan seru. Tak mungkin ada ornament-ornamen indah di gerbang surga, artistiknya kurang. Disana nanti bagianku merenovasi atap-atap bikinan malaikat yang tentunya kurang sentuhan arsitektural, membangun kolam-kolam renang beserta ruangan khusus buat menyetubuhi bidadari. Orang-orang seperti kita mesti dan wajib masuk surga. Menangani proyek.” gurauan Iswandi kian ngawur.

“lalu siapa panitia tendernya ?” Burhan terus memancing Iswandi.

“loh ! jangan salah ! mekanisme proyek penunjukan langsung, Han ! tak perlu beauty contest !! tak perlu lelang umum !! kita-kitalah yang langsung mengerjakan !! Surat Perintah Kerja diketik langsung malaikat penjaga surga !!”

“menurutku surga justru tak butuh kita, Is. Rumah-rumah surga sudah built-up. Kita para kontraktor tak dibutuhkan lagi membangun surga. Kita-kita ini dibutuhkan di neraka untuk membangun gedung bagi koruptor. Kasihan seandainya mereka  menggelandang di neraka.” Burhan tersenyum lepas.

“tetapi tentunya kau kena cokok, Is. Kau biasa luntang-lantung dengan mereka,” lanjut Burhan menggoda. Iswandi nyengir.

“sontoloyo ! kau pikir cuma aku ?!   he he.  Kalau aku mesti masuk neraka, pastinya kau yang lebih dulu masuk, Haji Burhan” Iswandi ngotot.

“loh kenapa aku lebih dulu ?! atas alasan apa ?”  ekspresi Burhan melucu

“Kau yang biasa mengatur tender. Master kongkalikong,,”

“Hahahahha !!!” ,“Hahahahaha !” kedua lelaki paruh baya itu tertawa terbahak-bahak hingga air mata nyaris keluar.

“entahlah, Is. Aku malah ingin naik haji lagi gara-gara ejekanmu,” Burhan tersenyum lebar. “aku ingin tobat lagi,” lanjutnya sambil menggeleng ironi.

“kalo aku  .. mungkin 7 tahun lagi. Butuh persiapan mental.” timpal Iswandi.

“ya. Kau harus tobat besar-besaran disana. Sujud sampai keningmu benjol, baru tobatmu diterima,” Burhan tersenyum lagi sambil menenggak es kopyor.

Iswandi tak menimpali. Telapak tangannya terkibas-kibas mencari angin. Hawa panas teramat menyiksanya.

“sudah kau kalkulasi keuntunganmu ?” Burhan melirik Iswandi. Ia mengalihkan pembicaraan.

Iswandi tak langsung menjawab. Dia cengengesan terlebih dulu.

“belum kuhitung secara rinci. Tapi, asumsi kasarku pasti tak jauh meleset,” jawab Iswandi yang menaut tatap mata Burhan.

“kutaksir 40 persen masuk kantongku, Han. 20 persen buat upeti, sisanya 40 persen buat dana pembangunan,” lanjutnya yang tersenyum licik.

“kalau begitu situasi proyekmu sama dengan proyekku, Is. 40-60,” timpal Burhan yang manggut-manggut.

“lain, Han ! lain situasinya ! kau tahu proyek gedung berbeda dengan proyek jalan. Proyek gedung colongannya mencolok. Susah dikondisikan. Beda-lah dengan proyek  jalan yang dicolong habis-habisan tak akan nampak. Paling-paling hancur sebelum enam bulan,” Iswandi terlihat serius. Burhan tertawa melihatnya. Obrolan serius mulai memperlihatkan karakter masing-masing.

“bulan kemarin aku ngalor-ngidul nebar upeti tutup mulut. Bikin pusing.” lanjutnya.

“Ha ha ha ha  !” tawa Burhan meledak. Perut buncitnya berguncangan.

“sudahlah, Is. Pusing kepalamu kan cuman sebentar, setelah ini kau bisa kelon dengan pacarmu !” goda Burhan yang puas tertawa.

“ngawur kau, Han !” Iswandi bersungut-sungut.

“tapi betul semua proyekmu sudah terkondisi ?” Burhan serius lagi.

“sudah, Han. Termasuk wartawan yang paling merdu kicauannya sudah kusumpal,”

“bagus .. bagus .. itu yang paling penting. Jangan sampai tercium pengawasan eksternal,”

“itulah masalahnya. Makin repot saja cari uang, “ Iswandi tersenyum kecut. Tatap matanya berangsur melembut.

“lama kau tak ke rumahku, Is” Burhan mengalihkan pembicaraan. Tangannya meraih gelas dan meneguk es kopyor.

“Iya, cukup lama. Kangen juga aku suasana rumahmu. Tiap kali kesana –entah mengapa aku merasa tenang,” tatapan Iswandi menyirat kerinduan akan sesuatu. Burhan tersenyum mendengarnya.

“itulah masalahmu, Is. Kau harus cepat-cepat mencari perempuan yang setia mengurusmu, biar hidupmu lebih tertata,” kalimat Burhan melembut.

“kurasa bukan masalah itu, Han. Inti permasalahan bukan disana. Pendirianku tentang seorang istri masihlah sama. Istri bukan jenis investasi yang menguntungkan,”

“sinting ! masih juga kau pelihara pikiran sintingmu,” Burhan tersenyum sembari menggeleng heran. Iswandi malah terkekeh.

“aku kangen Sinta, Han. Anakmu itu. Dia begitu polos. Diumurnya yang baru 11 tahun, kurasa sudah terlihat memiliki watak yang baik. Anak itu istimewa. Lain dari yang lain.”

“Ya .. ya. Aku bersyukur dengan kehadiran Sinta di keluargaku. Dia menjadi penyeimbang buatku. Kau tahu sendiri, Is. Hidup kita ini urakan seperti pemain kuda lumping. Hantam kanan-hantam kiri, hantam atas- hantam bawah. Uang yang kita hasilkan uang spanyol,”

“uang spanyol ?! maksudmu ?” Iswandi menanti penjelasan kalimat bersayap Burhan

“Ya. uang kita uang  spanyol. Separo nyolong, ” Burhan tersenyum kecut. Iswandi manggut-manggut tanda setuju.

“Sinta hadir di rumahku sebagai penenang, Is. Setiap aku pulang, setiap kali itu dia melipur perasaan bersalahku. Meskipun dia bukan anak kandungku, aku sekuat mungkin menyayanginya –bahkan melebihi diriku,”

Iswandi terdiam mencerna kalimat Burhan. Dirasa sahabatnya itu tengah mabuk mencurahkan cinta kebapakannya kepada Sinta.

“aku berusaha memenuhi kebutuhan Sinta. Apa guna kekayaanku jika tak bisa kuwariskan kepada keturunanku. Dimakan berdua dengan istriku tak akan habis,” lanjut Burhan bernada serius –serasa memendam harap dan sedih. Iswandi terseret suasana.

“Sinta kau ikutkan les apa saja, Han ?” tanya Iswandi. “Jaman sekarang beda dengan jaman kita. Anak jenius bertebaran. Tapi syaratnya satu,  mereka harus dikasih kesempatan,” lanjut Iswandi.

“betul katamu. Jaman sekarang jauh berubah. Tak ada lagi anak-anak berburu jangkrik di malam hari seperti jaman kita dulu,” Burhan tertawa kecil.

“Sinta kuikutkan semua yang dia mau. Les Inggris, les pelajaran, les piano, kata gurunya –dia murid yang paling cepat menangkap pelajaran,”

“oh ya ?!” Iswandi berekspresi kagum.

“Ya. Begitulah kata gurunya. Tetapi di samping itu, yang lebih membuatku bangga adalah dia tetap menjadi gadis yang rendah hati,”

“Sinta memang anak yang langka, Han. Kau harus bersyukur,” Iswandi turut bangga.

“sekarang ini kata istriku, dia ada acara bakti sosial ke sekolah-sekolah di daerah pelosok,”

“sekolah mana, Han ?”

“entahlah. Aku tak tahu pasti,”

“hmmm ..” Iswandi manggut-manggut memperhatikan. Dia kemudian meraih gelas dan meneguk isinya. Tegukan yang terakhir.

“sudah, Han ?” Iswandi bangkit

“sudah-sudah. Sudah cukup,” cepat-cepat Burhan menimpali sembari bangkit dari duduk.

“aku saja, Han. Kali ini giliranku. Termin proyekku cair lebih dulu, hehehe” Iswandi tertawa dan lantas melangkah menuju kasir. Burhan duduk kembali.

Tiba-tiba langkah Iswandi terganggu. Ponsel di saku celananya bergetar. Dirogohnya saku celana cepat-cepat. Kemudian  –

“Hallo ! Hallo ! gak jelas ! gak jelas ! bicara yang jelas, Man !” teriak Iswandi. Suara di ujung ponsel timbul tenggelam. Iswandi mulai gusar.

“ada apa, Man ?” lanjutnya bernada tegas. Iswandi kemudian menyimak suara di ujung ponsel. Kedua alisnya tertaut.

Tiba-tiba air muka Iswandi mengeras, gerahamnya bergemeretak.

“kenapa ?!!! bagaimana bisa !! haduuuhhh kalian ini !! goblok !!” umpat Iswandi kencang-kencang. Saluran komunikasi tiba-tiba terputus.

“bangsat !  kurang asem !  mandor goblok !”  Iswandi mengumpat bersungut-sungut. Umpatan Iswandi membangunkan Burhan dari tempat duduknya. Burhan kemudian melangkah menghampiri Iswandi.

“ada apa, Is ?” tanya Burhan yang menyentuh pundak Iswandi.

“proyekku kacau, Han ! bangunan SD yang seharusnya kuserahkan besok : ambrug !” Iswandi berkata sambil menggelengkan kepala. Kejengkelannya memuncak.

“ambrug ?! bagaimana ceritanya ?!” Burhan terhenyak tak percaya.

“kau harus cepat-cepat menutup kasus ini, Is. Jangan sampai bocor ke tangan wartawan. Kalau toh mereka sudah tahu, kau harus cepat-cepat menyumpalnya,” ujar Burhan dengan nada serius.

“ada korban, Is ?” tanya Burhan kemudian.

“entahlah, mandorku yang goblok itu belum sempat kutanyai. Telponnya tiba-tiba mati. Keparat bangsat !”  Iswandi pusing menggaruk-garuk kepala. Burhan iba melihat sahabatnya tertimpa sial. Alamat panjang urusan jika polisi dan wartawan sudah terlibat. Butuh biasa yang tak sedikit menyelesaikannya.

Tiba-tiba, ponsel di saku kemeja Burhan berbunyi. Sontak diraihnya ponsel daripada menambah kegundahan Iswandi.

“Halo, Ma. Ada apa, Ma ?” suara Burhan lembut dan tenang. Ia menyimak suara sendu di ujung telepon. Suara yang berhimpitan isak tangis.

“kenapa, Ma ? kenapa ?”  Burhan mengulang cepat. Wajahnya mengernyit. Firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk telah terjadi.

“Sinta ?!!” Burhan memekik tak percaya. Wajahnya pucat.

“nggak mungkin, Ma. Nggak mungkin,” suara Burhan bergetaran. Tenaganya tiba-tiba luruh.

“ya Tuhan … nggak mungkin, Ma. Mama pasti bohong .. Mama pasti bohong ..” dada Burhan terasa sesak. Kelopak matanya menghangat melelehkan air mata.

Sinta –gadis kecil yang teramat disayanginya mengalami kecelakaan. Gedung sekolah yang dikunjungi Sinta dalam acara bakti sosial tiba-tiba ambrug.

Gedung yang baru direnovasi. Gedung yang belum genap sepuluh hari ditempati. Gedung yang beberapa bulan dan hingga hari ini –berada dalam pengawasan Iswandi. Oalah.

Surabaya , Januari 2011

“teruntuk para insinyur”

 
Leave a comment

Posted by on February 9, 2011 in Cerpen

 

Silakan berkomen,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: