RSS

Puisi : Sekian Sudah, Sayang

17 Jan

Sekian sudah Sayang,
Sekian sudah.

Waktu yang diam itu :
Ya – dia yang diam itu
Yang tak berkata sedikitpun
Yang membisu seperti batu.

Sekian sudah Sayang,
Sekian sudah,

Yang detaknya – langkahnya :
Menjinjit-jinjit tak terdengar

Yang bagai langkah sepi tak menyuara :
Berhati hati –
Yang mendiam seperti diam.

Sekian sudah Sayang,
Sekian sudah

Tawa –ragu –bisu

Sekian sudah Sayang,
Sekian sudah

Kita tak akan lagi menggeram :
Seperti jeram.
Kita tak akan lagi berdiri tegak :
Merasakan matahari terbit di puncak gunung.
Kita tak akan lagi bersama seperti :
Pucuk cemara yang menggoyang daunnya serentak
Yang bernyanyi-nyanyi ketika tertiup angin gunung : berisik seketika.

Sekian sudah Sayang,
Sekian sudah

Biar jiwa kita berjalan satu persatu
Tak beriringan

Sekian sudah Sayang
Sekian sudah

Biarkan :
Waktu yang diam itu :
Ya – dia yang diam itu
Yang tak mengucap  kata sedikitpun
Yang membisu seperti batu.

Sekian saja Sayang,
Sudahkan saja.

Riak-riak jiwa kita kita
Terjalankan sebegitunya

Terempas-hempas
Terkatung-katung

Menggenapi kata-Nya :
Sendiri yang sendirian
Tak beriringan.

Sekian sudah Sayang,
Sekian sudah

Mari mendiam :
Memang itu adanya.

Dan tangispun,
Biarkan saja –sejenak merajalela

Dalam perjalanan :
Sendiri yang sendirian
Satu persatu
Tak beriringan.

Kekalahan.
Perpisahan.
Lambaian tangan.

Sekian sudah Sayang,
Sudahkan saja.

Malang, 2006

 
Leave a comment

Posted by on January 17, 2011 in Puisi

 

Silakan berkomen,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: