RSS

CERPEN : KORIDOR

06 Apr

Shelter Dukuh Atas, 15 Desember 2009, 17.00 WIB,

Di selasar panjang yang mengangkangi Jl Sudirman-Thamrin.

Derak ratusan pijak kaki berjalan tergesa dari dua arah, menafikan lalu lalang kendaraan di bawah shelter penyeberangan. Mimik-mimik muka menegang diburu waktu. Memburu saat pulang, memburu waktu yang terasa tak berkah lantaran diledek kemacetan kota Jakarta.

Sesekali lirikan mata pengguna Transjakarta menatap heran sosok perempuan muda berambut mayang yang tengah melamun sembari memandangi lalulintas di bawah jembatan. Namun tak lama berselang, dari arah timur, sosok lelaki paruh baya bertubuh gagah melangkah cepat dengan nafas terburu. Dikenakannya topi yang terkesan menyembunyikan wajahnya, ia pun mengenakan kacamata hitam. Ia menghampiri perempuan itu dan kemudian berdiri di sebelahnya.

“maafkan aku, Sayang. Aku terlambat. Jalanan macet parah. Apalagi di Rasuna Said, huhh .. rasa-rasanya butuh perjuangan ekstra,” ucap Prama berseloroh. Senyumnya mengartikan permohonan maaf kepada perempuan di sampingnya, Marieta.

Namun perempuan berambut mayang itu mematung. Ia enggan menanggapi. Tatap matanya menerawang memandangi kepadatan arus lalulintas. Dan –Ia tetap tak bereaksi saat tangan Prama melingkari punggungnya.

“Marieta, kenapa kau cueki aku,” Prama mengguncang pelan punggung Marieta. “Cantik, kau marah, Sayang ?” tanyanya kemudian.

Marieta lantas menghembuskan nafas panjang.

“aku menunggumu dua jam lebih, Pram. Aku hampir meninggalkan tempat ini,” jawab Marieta kesal. Ia menilik sekilas raut Prama. Kecantikan perempuan itu tetap menonjol meski di saat marah.

“tapi kenapa ngambeknya parah seperti ini, Say ? kau cemburu ? aih-aih, aku tahu kau pasti cemburu,” goda Prama.

“perasaan cemburu sudah kubunuh jauh-jauh hari,” tukas Marieta kesal

“lantas ?”

“kamu seharusnya lebih memahami perempuan, Pram”  tatapan sayu Marieta menyapu wajah Prama

“hehe .. aku paham, Sayang. Aku paham. Bukankah perempuan mesti diperhatikan,”

“lalu, apa demikian caranya ? kamu membuat janji di tempat ini ! datang telat lagi ! aku mengerti statusku, Pram. Dan aku sadar. Tapi setidaknya – ah,“ Marieta menggeleng pelan. Ia tak meneruskan kalimatnya.

Angin yang menerobos menggerai rambut mayang Marieta. Lalu lalang penumpang yang berpindah destinasi terdengar menetap-netap di atas selasar. Sesekali tatap mata mereka menilik Marieta dan Prama dengan tatapan penasaran.

“maafkan aku, Sayang. Sekali lagi maafkan aku. Aku janji takkan mengulanginya. Tapi –”

Prama menghentikan kalimatnya. Dipandandanginya paras oval Marieta yang cantik. Matanya yang bening, bibir merahnya yang tipis terbelah, dagunya yang tertakik eksotik, akan tetapi Marieta terkesan tak peduli dan malah membuang wajah.

“kamu kau mesti faham, Sayang. Barusan aku menjemput Sita. Sore ini dia les piano,” Prama mengiba

“aku mengerti, Pram. Dia putri kesayanganmu. Sedangkan aku, sekian kali diposisikan nomer seratus pun aku tak pernah protes,” timpal Marieta bersedih. Tatap matanya menukik jatuh.

“sudahlah, Marieta. Aku tak bermaksud seperti itu. Sekali lagi maafkan aku. Setidaknya apa kau tak berbahagia menjumpaiku ?”

Jemari Prama menegakkan dagu Marieta. Tatap mata mereka bertemu. Serasa energi purba mengalir, Marieta menghambur memeluk Prama seakan takut kehilangan. Prama kemudian mendekap Marieta dan mengelus lembut rambutnya.

“aku rindu, Pram. Sangat-sangat rindu. Tapi –kamu menjengkelkan, Pram. Sangat-sangat menjengkelkan,”  Marieta kemudian membenamkan kepalanya di dada Prama. Ia merajuk.

“lihatlah kita berdua, Pram. Kita bertemu di tempat yang tak wajar. Lihat pula dandananmu. Susah kukenali,”

“bukankah ini tantangannya, Sayang ?” Prama lantas tersenyum menilik Marieta di pelukannya.

“iya. Aku tahu. Tapi sampai kapan ?” sorot mata Marieta meminta penjelasan.

“entahlah ..” jawab Prama menelan ludah. Ia merasa buntu.

Di sekitar Marieta dan Prama, lalu lalang penumpang Transjakarta pura-pura tak peduli. Namun beberapa di antaranya melempar lirikan sambil melintas.

gadis goblok !! rela dilalap bandot tua !!, umpatnya dalam hati. Mereka terusik penasaran.

“Dua minggu lebih kamu tak menelponku, Pram” ucap Marieta sambil melepas pelukannya. Tatap matanya meminta penjelasan.

“aku ada tugas ke Rusia. Kuhubungi  ponselmu tak berjawab, Sayang”

“jangan bohong, Pram. Alasanmu klasik,” timpal Marieta

“sumpah. Demi Tuhan”

“jangan membawa-bawa nama Tuhan segala, bukankah sumpah itu juga yang kamu gunakan untuk mengelabuhi istrimu,” Marieta melirik dengan tatapan menunggu.

“kau mulai pintar, Marieta. Sudahlah –jangan membahas itu, aku tak enak hati,” Prama lantas tertawa kecil.

“kamu masih mencintai Tiara, Pram ?” tanya Marieta kemudian

“kenapa kau tanya itu ?”

“itulah kenapa kubilang kau harus lebih memahami perempuan, Pram”

“jawab, apa kamu masih mencintai istrimu itu ?” lanjut Marieta

“ya,  tapi .. aahh, entahlah, kenapa kau mesti menanyakan itu ?” suara Prama memberat

“kenapa ragu, Pram ? cukup katakan ya – atau tidak. Kamu seorang laki-laki,” desak Marieta.

Tenggorokan Prama terasa kering mendengarnya. Ia menelan ludah.

“aku cinta dia, Marieta. Tapi mungkin sudah tak seperti dulu. Itu maksudku.” Prama lantas menghembuskan nafas  panjang.

“lebih cinta mana antara dia dan aku ?”

“pertanyaanmu ngelantur, Marieta. Kenapa kau jadi seperti ini. Dua minggu aku kangen kamu, dua minggu itu pula kau berubah drastis,”

“apa yang kau bayangkan selama dua minggu itu ? bercinta denganku ? membayangkan tidur denganku ?”

“Marieta, aku tak suka kata-katamu ! lebih mirip kata-kata perempuan jalang, apa maksudmu dengan ini semua ?”

“bagaimana kalau kukatakan aku hamil, Pram ? apa kau percaya ?”

“ah,,tidak-tidak mungkin. Kau tak mungkin hamil. Itu tak boleh terjadi,”

“kenapa tak boleh ? bukankah kita sudah seperti suami istri? aku perempuan normal dan kamu lelaki normal pula,  lantas kenapa tak boleh hamil ? kamu aneh, Pram”

“iya, tapi .. tapi seharusnya -“ Prama tak kuasa meneruskan kalimatnya

iihhh, aku berbohong, Pram. Aku cuma ingin tahu reaksimu. Kamu mulai suka panik,” Marieta tertawa cantik. Tangannya terkibas sembari menggeleng perlahan.

“lalu apa maksudmu berkata demikian ?”, “dasar !”,Prama menelan ludah. Tapi ia tersenyum lega

“kau cinta aku, Pram ?”

“tentu saja, Sayang. Dan aku yakin kau juga mencintaiku,”

“iya. Aku mencintaimu. Untuk yang keseribu kalinya kubilang aku mencintaimu, tapi –“

“tapi kenapa, Mar ?” pertanyaan Prama menyirat kekhawatiran

“apa cuma berhenti sampai kata cinta ?”

“maksudmu ?”

“ah, kenapa kamu mesti nanya itu, Pram. Kamu pura-pura bodoh,”

“aku serius, Sayang. Aku tak mengerti kata-katamu,” tatapan Prama mengiba

“apa .. apa tak terbersik sedikit pun dibenakmu untuk mendapat lebih dari sekedar cinta dariku ?”

“sesuatu yang lebih dari cinta ? ah tidak, rasa-rasanya cintamu sudah memenuhi segalanya, Marieta”

“itu kan sekarang, belum tentu nanti. Kalau aku peyot dan keriput ? apa kamu masih berteriak lantang mencintaiku ? aku ingin menjadi perempuan utuh, Pram”

Tatap mata Marieta menyapu wajah Prama yang kebingungan.

“ya, Tuhan. Apa maksudmu dengan ini semua, Marieta. Kau berubah drastis. Setan mana yang merasukimu,”

“Pram ! tega sekali kamu mengucap demikian,.aku berkata jujur dari hatiku sendiri,” sesal Marieta

“tak mungkin,”

“kenapa tak mungkin. Perempuan tetaplah perempuan, Pram. Aku ingin dicintai utuh,”

“apa cintaku selama ini tak utuh ?”

“mungkin cintamu utuh, Pram. Tapi cintamu jenis cinta serakah. Aku .. aku cuma ingin menikah, Pram. Demi Tuhan aku mencintaimu,”

“kamu harus memahami kondisiku, Marieta. Keinginanmu susah,”

“susah ?!! susah kenapa ? nikah bawah tangan pun aku bersedia,”

“terlalu beresiko,”

“beresiko katamu ? berkali-kali kamu meniduriku, Pram. Baru kali ini kamu bilang beresiko ?”

“Marieta ! kubilang keduakalinya aku tak suka kata-katamu, lebih mirip kata-kata perempuan jalang !”

“Aku .. aku .. aku cuma tak habis pikir, Pram”

“dan aku menyesal mencintaimu,” lanjut Marieta bersedih.

“maafkan aku, Sayang”

“maaf ?! kau bilang cuma maaf ?!! cintaku cinta sesungguhnya, Pram. Aku cuma ingin dinikahi. Aku cuma ingin memiliki suami di mata Tuhan, terserah walau semua orang menganggapku perek, persetan. Yang pasti aku mencintaimu. Tak ada keinginanku untuk menemui istrimu, atau, Sita anak perempuanmu. Kamu mau rumah tanggamu berantakan ?”

“jangan main-main, Marieta. Jangan gegabah,”

“aku tahu kau pasti ketakutan. Bayangkan, sosok terpandang di masyarakat, menantu idaman, sosok suami yang baik, Papa yang mendidik, punya karier yang brillian, aku tak kuasa membayangkan reaksi mertuamu jika skandal kita terkuak, Pram. Aku mengerti jika kariermu yang melejit semata-mata karena campur tangan mertuamu yang pensiunan Dirjen itu,”

“jangan mengancam, Marieta. Kumohon. Aku mencintaimu, Sayang” Prama mengiba

“kamu mesti memahami aku, Pram. Aku cuma ingin punya suami yang kucintai di mata Tuhan. Tak ingin lagi aku seperti ini. Ditemui  kekasihku layaknya polisi yang menyamar,” suara Marieta melembut sambil menatap Prama dalam-dalam.

“kamu tahu posisiku sekarang ini ?” tanyanya kemudian.

“seperti ban mobil cadangan. Dipakai saat birahimu meledak,” Marieta menggeleng perlahan

enough, Marieta. Calm down. Kita cari solusinya,”

“solusinya cuma satu, Pram. Kita menikah ! sekali lagi kukatakan, nikah di bawah tangan pun aku rela !”

“ya Tuhaaaan, Marieta, kenapa kau jadi seperti ini,” kepala Prama berdenyut denyut.

“aku mencintaimu, Marieta”

“kalau begitu nikahi aku !”

“iy iya .. tapi jangan tahun ini,”

“lalu ? kapan ?”

“tahun depan, Mar. Ah iya, bagaimana kalau tahun depan,” celetuk Prama yang terdesak. Marieta menatap tak percaya.

“aku janji, Marieta. Aku janji. Sekalian, anggaplah kulamar kau dengan ini, Sayang”

Prama tergopoh mengeluarkan kotak cincin yang dibeli buat Tiara, istrinya. Tangannya dengan cepat mengambil dan kemudian menyematkan cincin di jari manis Marieta.

“cincinnya kebesaran, Pram. Mungkin tak cocok buatku,” celetuk Marieta.

“sudahlah, Sayang. Itulah resikonya memberi kejutan, hehehe” tawa Prama meredakan emosi

“tapi, Sayang. Kuharap jangan kau rusak rencana kita,” lanjutnya

“maksudmu ?”

“berjanjilah jangan kau temui Tiara dan Sita. Jangan kau sakiti hati mereka, kumohon, jangan kau acak-acak keluargaku,” tatap mata Prama mengiba memohon ampun.

“kamu ketakutan ?”

“entahlah, Marieta. Entahlah,”

“percayalah, aku mencintaimu, Pram. Dan aku berjanji takkan menemui mereka,”

“sungguh ?”

“Pasti. Keseribu kalinya kubilang aku mencintaimu, Pram. Karena cintaku padamu janji itu pasti kutepati,”

Prama tersenyum. Marieta tertawa kecil. Cinta yang ganjil menggenggam takdir yang tak adil.

***

31 Desember 2009,

“Pa, lihat, Pa. Pembunuhan sadis lagi. Tega banget,” Sita berdecak tak percaya sambil menunjukkan headline Koran.

Prama bersikap tak peduli.  Ia menikmati sarapan roti sembari menyeruput teh hangat.

“kejadiannya dimana, Sit ?” tanya Mamanya yang mengoles mentega di atas roti.

“Apartemen Sheilaroom, Jakarta Selatan.”

“loh, itu kan deket kantor Mama,” celetuk Mamanya

“Iya,Ma. Deket kantor Mama. Kasihan, sepertinya dia dibunuh pacarnya,” lanjut Sita yang terus membaca.

“mungkin saja dia perempuan simpanan, Sit. Jaman sekarang banyak cewek yang berprofesi jadi piaraan,” sahut Prama urun pendapat. Ia menilik sekilas raut Tiara, istrinya, dan kemudian menilik Sita, anak perempuannya.

“Jadi inget bukunya Sherry Argov, Pa. Why Men Marry Bitches,” timpal Sita usai membaca.

“kenapa sih, Pa. Banyak lelaki yang seperti itu ?” tanyanya kemudian

“jangan tanya Papa, Sit. Papa tak mengerti,” jawab Prama yang mengangkat bahu dan lantas menjatuhkannya. Ia kemudian mengernyit sambil menggeleng perlahan.

“jaman memang sudah edan, Sit. Kiamat sudah dekat.”

Penggalan berita harian Kabar Kota edisi  31 Desember 2009,

“ … perempuan muda yang tewas di apartemen Sheilaroom diidentifikasi bernama Marieta Florentina. Korban ditemukan dengan mulut tersumpal, tangan terikat, serta tidak mengenakan pakaian dalam. Polisi menduga jika pelaku adalah orang dekat korban, meskipun barang-barang korban seperti laptop, telepon genggam, dan seluruh perhiasan raib. Diduga pelaku berusaha mengaburkan motif pembunuhan.”

***

Malang, 20 Maret 2010

Cerpen KORIDOR. Ditulis Emil W.E, Seorang penikmat sastra, anggota forum diskusi sastra “Bengkel Imajinasi” Malang, anggota Adventurers and Mountain Climbers (AMC 1969) Malang, kini tinggal di kampung kecil di Jawa Timur sehabis menekuni profesinya sebagai urban di Jakarta. Gemar menulis di alam bebas, karya-karya yang sudah dipublikasikan di antaranya puisi dalam buku antologi puisi untuk Munir, antologi empati Jogja, Malang Post, cerpen-cerpen dan puisinya tersebar di oase kompas, beberapa tulisan cerpennya bisa dinikmati di www.emilwe.wordpress.com

Kontak email : emil_we@yahoo.com

YM : emil_we

 
Leave a comment

Posted by on April 6, 2010 in Cerpen

 

Silakan berkomen,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: