RSS

Cerpen : Sang Perampas

16 Feb

 

“apa yang harus kulakukan Mak ? “  Siti bertanya kepada Emaknya dengan mata yang menyembab. Gerak geriknya kaku dan nampak gamang. Ia duduk kebingungan di atas lincak bambu yang tua namun masih kuat. Ia memang sedang kebingungan menemukan jawaban yang dicarinya sejak dua hari sebelumnya. Tepatnya permasalahan ini muncul ketika namanya terpampang di koran pengumuman SNPTN. Bagi Siti, pergulatan ini tidaklah mudah. Batinnya protes, memberontak, juga marah. Mengapakah harga sebuah harapan terasa begitu sulit. Keinginan antara tekad mengubah jalan hidup, berhadapan dengan kenyataan bahwa tiang kehidupan sesungguhnya bernama uang.

Mulut Emaknya masih terdiam, raut mukanya datar, tanpa ekspresi, tanpa pula menunjukkan bahasa tubuh yang bisa diartikan. Perempuan tua itu masih saja menyibuk diri memajukan cabang-ranting kayu ke dalam tungku tanah liat. Warna api yang merah perlahan melahap kayu kering. Krrtaaak . . krrtak. Sedikit demi sedikit warna coklat kayu terselimuti warna merah api yang menggeliat menari-nari. Sesaat kemudian, reranting yang terselimuti api berubah menjadi batangan bara yang melengkung rapuh. Dari lengkungan itu teretaklah bara yang kemudian tak seberapa lama jatuh ke dasar tungku. Sementara asap dari dandang dan sablukan mengepul bergumpalan. Asap pembakaran terasa perih di mata hingga penglihatan kedua perempuan itu menyipit terpicing-picing.

Pawon bagi mereka adalah ruang kehidupan. Segalanya diatur dan diselesaikan serba spontan, serba tanpa banyak pilihan dan pikiran. Semuanya hanya terasa sebagai proses melengkapi waktu yang masih juga tanpa tanda, juga tanpa isyarat.  Bagi orang lain, jaman memang telah berubah. Namun bagi mereka, tak ada perubahan jaman yang bisa diartikan. Mereka menganggap perubahan besar yang terjadi di luar sana, tak akan sampai pada perbaikan perikehidupan. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. tak jua mengubah dapur mereka yang hitam dengan porselen putih yang mengkilat.

“Mak, Ngomong, Mak,”  Siti terus mengiba agar emaknya sedikit saja membuka mulut dan memberikannya sedikit harapan.

“ini demi masa depan, Mak. Demi kehidupan yang lebih baik. Aku akan berusaha keras Mak. Keras sekali. Kalau perlu aku tidak akan beristirahat barang sedetikpun. Ya barang sedikitpun. Nanti kalau aku sudah lulus, aku akan bekerja serta mengabdikan ilmu  dan – ”

“Nduk,” suara lembut itu akhirnya memotong uraian Siti.

“ya, Mak “ mata Siti terbelalak mendengar  kalimat sahutan emaknya.

“memang kamu sudah niat sekolah lagi toh nduk ?” tanya emaknya

“iya Mak, kan sekolah itu wajib Mak. Menuntut ilmu itu sebuah keharusan, dari lahir sampai tarik nafas penghabisan”

“memang benar Nduk. Kamu harus bersekolah yang tinggi. Biar nggak kayak emak. Nggak juga kayak almarhum bapakmu yang cuman jadi buruh tani”

“ya, Mak. bener mak. aku dan anak-anakku nanti harus mentas dari jaman kesusahan Mak. Cukup sudah sejarah kemelaratan. Ini semua harus ditutup. Wajib diakhiri !”

“trus itu butuh duit berapa Nduk ? “

Mulut Siti tercekat mendengar pertanyaan emaknya. Bibirnya tak mampu lagi berkata. Ia merasa seperti ada isi buah nangka berukuran besar menyangkut di tenggorokan.

“dua ratus ribu cukup ?” Emak tua itu kembali bertanya. Tak ditatapnya wajah anak perempuan bungsunya. Ia masukkan ranting-ranting tua yang menunggu api menyelimuti kulit keringnya.

“nduk ? cukup dua ratus ribu ?” Perempuan tua itu masih mengulang pertanyaannya. Siti hanya terdiam. Mulutnya bergetar pelan ingin mengucap kata-kata, namun ia masih tercekat.

“lima ratus ribu cukup Nduk ?” naluri sang emang menangkap ada sesuatu yang salah dari pertanyan yang ia ajukan sebelumnya. Ia kini menoleh ke wajah Siti yang memicing sipit karena asap. Dilihatnya mata Siti berembun air mata.

“asap kayu dadap ini memang pedih” begitu pikirnya dalam hati.

Api telah mendidihkan air di kuali. Ia ambil nasi dan gilingan jagung untuk ditanak. Sementara di lubang pawon yang lain ditempatkannya wajan berminyak hitam bekas gorengan berkali-kali.

Siti memandangi lagi tulisan namanya yang terpampang. Ia rasakan ada takdir yang salah dari cantuman namanya di koran itu.

“Nduk ? kenapa kamu tak menjawab pertanyaan emakmu ?”

“ya, Mak” Siti menyahuti kalimat emaknya dengan nada penuh bakti.

“kemana semangatmu Nduk, bergembiralah, kamu akan menjadi kunci keluarga kita. Penutup cerita jaman kesusahan. Kamu sekarang boleh bermimpi Nduk. Ya- hanya kamu dari keluarga kita yang boleh bermimpi” emaknya meneruskan ungkapan harapannya. Ia menyeka keringat sebesar bulir padi yang mulai bermunculan di kening dan kedua sisi pelipisnya.

“Mak ? aku . .aku  . . gamang Mak.” Siti mengucap dengan terbata-bata

“kenapa harus gamang Nduk. Bukankah seperti katamu, Tuhan akan memberikan jalan, Nduk”

“ya Mak, pasti”, Siti tak dapat meneruskan kata-katanya.

“berapa Nduk ? kalau tujuh ratus lima puluh ribu, emakmu ini ada, dan emak rela. Biarlah nanti selamatan Bapakmu kita tunda barang sebentar, toh malaikat tak akan marah padanya. Benar begitu, Nduk ?”

Mendengar itu hati Siti menjerit sakit. Jeritan yang hanya bisa dirasa dan didengar oleh dirinya, Tuhan, dan setan belang. “Oalah Emakku, Gusti Allah ampuni aku” dalam hati Siti menjerit panjang. Nuraninya seketika tak mampu bangkit dan lunglai.

“Nduk, bicaralah nduk, kenapa tak engkau jawab pertanyaanku. Apakah emak tak boleh berbagi mimpi denganmu, Nduk ?”

“Mak, duitnya kurang, Mak” Siti menjawab dengan isak tangis yang tak terdengar. Bahkan airmata yang mengalir disamarkan kepedihan asap kayu Dadap yang terbakar.

“kurang, Nduk ? oalah maafkan emak dan bapak yang melahirkanmu Nduk, kurang berapa ? nanti biar emak pinjamkan ke Uwak Kaji. Beliau pasti bermurah hati meminjamkannya”

“uang pendaftarannya lima belas juta Mak”, akhirnya Siti tak mampu menahan gumpalan perasaan yang menyesak dalam dada. Punggungnya terguncang oleh rasa sedih dan gigilan tangis yang meradang.

Perempuan tua itu seketika terduduk lemas tanpa tenaga. Ia serasa diajak terbang ke langit tingkat tujuh dan dihempaskan lagi ke dasar bumi. Emak pun menangis, Siti juga menangis. Mereka menangis dan meratap dari jarak yang terpisah.

Asap kayu dadap terus bergumpal penuh seperti kabut pagi, membawa kesesakan dan keharuan air mata yang tak mampu dibendung nasib yang ringkih.

“aku seharusnya tak memberi tahu Emak. Aku berdosa membiarkan emak terlanjur bermimpi”, Siti berujar dengan air mata yang masih berderai

“Emak yakin kalau itu tipuan, Nduk. Emak tidak percaya ada sekolah semahal itu. Kita sudah merdeka, Nduk. kamu pasti bohong.” Perempuan tua itu meradang dalam rasa ketidakpercayaannya. Tubuhnya serasa dilolosi hingga hanya mampu berbicara saja, tidak untuk yang lain.

“tidak Mak, demi Gusti Allah Siti tidak bohong.”

“kalau kamu tidak bohong, pasti mereka yang menipu. Ya. Menipu orang –orang seperti kita yang tak tahu adat sekolahan, Nduk.“

“tidak Mak, demi Gusti Allah, ini semua benar, Mak. Ini nyata”

“tidak Nduk, Emak sampai kapanpun tidak akan percaya ada sekolah semahal itu. Emak yakin kalau mereka pasti penipu”

“tidak Mak mereka bukan penipu “ Siti terisak pelan bahkan nyaris tanpa suara.

“kalau begitu apa yang harus emak katakan, Nduk ? Oalah anakku, Gusti Allah telah memberikan jalan untukmu supaya sekolah, tapi mereka menutup jalan itu Nduk. Ya. Mereka merampasnya Nduk. Merampoknya. para Jambret itu !”.

Siti tertegun, emaknya tertegun, asap kayu dadap merimbun.

***

Malang –masih di Indonesia, 19 September 2008

 
3 Comments

Posted by on February 16, 2010 in Cerpen

 

Tags: , ,

3 responses to “Cerpen : Sang Perampas

  1. ryanov

    February 17, 2010 at 3:57 pm

    another nice story..
    mudah2an mentri pendidikan juga baca…hihihhi..

     
    • emilwe

      February 18, 2010 at 6:34 am

      thanks, Bro ..

       
  2. wira

    November 8, 2010 at 2:23 am

    Terlepas dr apapun situasi dn kondisinya..mudah2an tak memadamkan semangat kita utk ttp brkarya..
    Persetan dgn pemerintah yg menutup mata atas bobroknya sistem pendidikan kita..

     

Silakan berkomen,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: