RSS

Cerpen : Epilogue

16 Feb

“Anjing !” umpat Arman

“bertahanlah, Jean ! bertahanlah, Sayang !” teriak Arman gugup

“apa .. apa merekaaa … tak mau .. menyingkir ?” suara Jeannette melemah. Gaun pengantinnya bersimbah darah. Jemarinya kian lemah menggenggam tangan Arman.

“Inilah Jakarta, Pak. Apalagi di pagi dan petang,” petugas ambulan di depan Arman menunjukkan simpati. Ia nampak cemas.

“sinting !!” umpat Arman dengan mata berembun.

Ambulan tersedak di tengah jalur. Tak bisa maju, tak bisa mundur, tak ada celah untuk menggarong lajur busway. Di depannya, deretan motor meraung-raung seperti ratusan bebek kurang makan. Protes dengan lengkingan sirine ambulan.

“hei, apa kalian nggak bisa minggir sebentar ?!” teriak Arman dari celah jendela ambulan.

Pengendara motor celingukan mencari asal suara.

“macet, Om ! ngadat total !!!” sahut salah seorang pengendara yang kebingungan mencari celah menyingkir

“berapa lama menembus kemacetan ?” tanya Arman cemas.

“limabelas menit, Pak” jawab petugas ambulan di depannya pasrah

“limabelas menit ?!! gila ! jalanan gila !! sinting !!!” umpat Arman bergeram

“bertahanlah, Sayang. Bertahanlah, Jean .. kumohon … kau sudah berjanji, Jeanette-ku, kau sudah bersumpah,”

Di jalanan Jakarta, kemacetan menjadi kebiasaan. Pasrah dan lumrah. Setidaknya seperti itulah yang tergambar dari gerak-gerik sopir metromini yang memaksa santai namun berwajah jengah. Kaki-kakinya sigap menginjak pedal gas seperti memain-mainkannya. Sesekali kepalan tangannya menggebrak setir sambil membunyikan klakson menambah dramatisnya kekacauan. Waktu bermakna uang. Bukan kehidupan. Bukan pula kebudayaan. Pengemudi dan pengendara berlomba memacu laju selama ada kesempatan. Kemacetan serupa medan perang, namun pengemudi kendaraan menyelamatkan diri masing-masing dan bertingkah seperti gerombolan pengecut. Menggarong laju busway, menaiki trotoar, menyisih-nyisih pejalan kaki hingga mereka menyingkir sambil mengumpat.

“Jeannette .. Jean .. Bertahanlah, Jean” Arman membelai wajah mempelainya. Ia tak kuasa menyaksikan wajah kekasihnya kelelahan melawan waktu. Cahaya di raut wajah Jeannette pucat memudar, bibir tipisnya bergetar lemah seakan ingin mengucap sesuatu.

“God !! why ?!!” Arman tertunduk. Hatinya hancur. Tak kuasa ia menyaksikan nafas Jeannette sepatah-sepatah.

“Jeannette, maafkan aku, Sayang. Tak seharusnya kita melewati jalan itu. Ah .. “

“tak seharusnya kuminta kamu menunjukkan jalan itu .. maafkan aku, Honey. Maafkan aku, Anggrekku” Arman berbisik lirih diselingi tangis. Sirine yang mengaung serasa miris.

“Arm.. mmaan ..”

“ya, Sayang. Kenapa ? bicaralah .. bicaralah .. aku disini,Sayang,” Arman menyahuti panggilan Jeannette yang melemah.

“maaff ..maafffkan, Jean ya,”

“tidak, Jean. Kau tak pernah salah. Demi Tuhan kau tak pernah salah, Jean. Aaahhhh !!!” perasaan Arman remuk redam. Petugas ambulan di depannya terpekam.

“apa kau tak bisa berbuat sesuatu, hahhh ??!!! tolonglah !! demi Tuhan !!” Arman meradang sambil menatap petugas ambulan. Namun lelaki di depannya itu diam tak bergerak, tatap matanya berempati.

“saya sudah berusaha sekuatnya, Pak. Sekarang tinggal Tuhan,”

“apa katamu ?!!! tinggal Tuhan ?!! kau bilang tinggal Tuhan ?!! tuhan sudah mati di tempat ini !!! ” bentak Arman.

“Arr mmaaann,”

“ya, Sayang … bertahanlah, Jean .. kita akan tetap menikah dan punya selusin anak,“

Genggaman tangan Arman semakin kuat. Tautan tangan Jeannette kian melemah. Lagi-lagi dibelainya paras Jeannette penuh cinta.

“Jalanan Bangsat !! kapan jalanan ini sepi, hahh !! ”

“Jalan lingkar !! jalan tol ! dimana ? apa masih jauh ?!!” lanjut Arman mencecar. Ia tak kuasa membendung emosi

“cukup dekat, Pak. Tapi kemacetan lebih parah,”

“lebih parah ?!! aaahh !! ” Arman tak mampu lagi berkata apa-apa. Dipandanginya wajah pucat Jeannette dengan perasaan hancur.

Jeannette. Dikenalnya gadis Indonesia itu semasa mengambil program doktoral di TU Delft, Belanda. Perempuan secantik bunga tulip yang mekar pertama kali. Perempuan yang sedemikian anggun seperti angsa di musim birahi. Atas dasar cintanya kepada Jeannette, Arman ingin mengunjungi Indonesia yang sebenarnya juga tanah leluhurnya. Walau di tubuh Arman mengalir darah Indonesia, sebagai anak pelarian politik tahun 66, praktis Arman tak pernah menginjakkan kaki di Indonesia. Ia hanya tahu cerita emosional tanah leluhurnya dari bibir ayahnya, namun ia lebih condong tak peduli daripada menanggapi.

“Jeannette, bagaimana bisa wajahmu secantik tulip, Jean ..”

“ah, tidak, Sayang. Mungkin tepat kalau kau rayu juffrowjuffrow itu dengan metafora secantik tulip. Aku lebih suka secantik phalaenopsis amabilis, lebih Indonesia,”

“bunga apa itu, Jean ? aku tak tahu,”

“ah, apa benar kamu tak tahu ?” Jeannette merajuk manja. Namun Arman menggeleng pelan.

regar preme sweet ?” Jeannette bertanya lagi dengan mata berbinar. Tingkahnya seperti gadis kecil mencari perhatian.

“aku benar-benar tak tahu, Jean”

“aahh, payah. Itu bunga anggrek, Sayang. Yang tangkainya menjulur panjang dan kelopak bunganya hinggap seperti kupu-kupu,” suara Jeannette sedemikian lembut hingga membuat dada Arman berdesir.

Kedua tangan Jeannette kemudian menggelayut di leher Arman. Tatap mata mereka bertemu.

“sebenarnya aku tahu kalau itu anggrek, Jean. Aku hanya menggodamu agar mendengar rajukanmu yang manja itu. Menggetarkanku, Jean. Menggetarkanku.”

“aaah, kamu jahat ..” rajuk Jeannette sambil membenamkan kepalanya di dada Arman. Tautan tangannya lebih erat.

Bayangan senja yang memerah mulai bermunculan di kepala Arman. Sinar yang mencerat panjang, terhalang bangunan kota tua yang kaki-kakinya tertanam di dalam air. Membentuk siluet. Mengekalkan momen paling romantis. Kanal-kanal besar yang dikangkangi lengkung-lengkung jembatan, linangan air yang terkayuh gondola-gondola, kota Venice menjadi saksi ketika lututnya menumpu tanah sambil menyemat cincin di jari manis Jeannette.

“katakan, apa yang kau inginkan dariku dengan ini, Sayang” kata Jeannette lembut. Bola matanya berbinar

“tak ada, Jean. Tak ada. Cukuplah kamu menemaniku hingga tua, Jean. Aku cuma ingin itu,”

“ah, kamu merayuku lagi, Arman. Sekarang bukan saatnya merayu,” rajuk Jeannette manja. Impuls cintanya berlompatan menggelora.

“kamu tak bisa membedakan rayuan dan kejujuran, Jean.”

Senyum Arman terkembang. Senyum Jeannette merekah eksotik serupa mawar di musim pancaroba.

Cinta yang tertabur serasa melenakan. Tak terasa matahari yang mencumbui wajah Jeannette menasbihkan bayang-bayang panjang. Sinar itu terlupakan. Seakan tak hadir matahari yang kelelahan usai memanjati langit.

“aku berjanji akan menemanimu, Sayang. Aku bersumpah,” kata Jeannette lembut. Senyumnya merekah.

“sampai kapan ?”

“sampai nafas terakhirku .. entahkah itu tarikan nafas .. atau hembusan nafas..” Jawab Jeannette lembut.

“aku mencintaimu, Jean”

“aku lebih mencintaimu, Arman”

“ah, tak mungkin cintamu melebihi punyaku, Jean”

“kenapa ? kenapa kau bilang seperti itu, Sayang ? seperti apa cintamu ? katakan,” pinta Jeannette sedikit mendesak.

“aku ingin mencintaimu, seperti aku tak pernah mencintaimu sebelumnya, Jean” kata Arman sambil memandangi paras Jeannette.

“hmm .. cinta seperti apa itu ? aku tak pernah mendengarnya ..” Jeannette pura-pura mengerutkan keningnya.

“kamu mulai nakal, Jean. Kamu pasti tahu artinya cintaku .. aku ingin setiap detik jatuh cinta denganmu, Sayang. Seperti ketika pertama kali jatuh cinta.”

“ya, Sayang. Aku tahu .. aku tahu,“ rajuk Jeannette tertawa kecil. Wajahnya merona diamuk cinta.

Senja itu, ketika gondola-gondola menyibak air di kanal. Di atas lengkung jembatan batu Jeannette mendekap Arman begitu erat. Kecupan demi kecupan memagut asmara yang terangkai dengan indahnya, cintanya berlabuh dan tak ingin pergi lagi.

“maukah kamu tinggal Indonesia, Sayang ?” bola mata Jeanette berbinar saat berucap.

“kenapa, Jean ? kenapa kau bertanya seperti itu ? bukankah kau ingin menemaniku di Belanda ?”

“ah .. tidak, Sayang“ Jeannette tertawa kecil sambil tersenyum manja

“kamu harus ikut aku ke Indonesia,” lanjutnya sambil menatap Arman, Jeannette kemudian menunggu.

“kenapa, Jean ? untuk apa ? kita bisa menikah disini, Papa-Mamamu bisa kita undang kemari, atau .. atau .. kalau perlu belasan keluargamu kita bawa kemari menyaksikan pernikahan kita,”

“bukan masalah itu, Sayang,” sergah Jeannette lembut

“lalu ?”

“aku cuma ingin kamu ke Indonesia .. “

“Cuma itu ?”

“ya .. Cuma itu. Biar kamu lebih mengenal tanah leluhurmu,”

“tanah leluhur ?! yang mengusir Papaku hingga terlunta-lunta ?! jangan bercanda, Jean”

“aahh …kamu harus obyektif memandang masalah, Sayang” suara Jeannette sedikit gusar

“tanya saja pada Papamu, walau terusir dari Indonesia, apa pernah dia membenci tanah kelahirannya ? tidak pernah, Arman. Aku yakin tidak pernah. Ia hanya kecewa dengan masa lalunya yang tak sejalan, Cuma itu,” lanjut Jeannette sambil menatap lembut kekasihnya. Lelaki itu tertegun

“sebelum kita menikah, aku akan ajak kamu mengunjungi kampung halaman Papamu,”

“jangan konyol, Jean”

“ihh .. kamu harus lebih mengenal Indonesia, Sayang .. lebih berwatak Indonesia kataku, setelah itu sekalian kita ke Bali, Lombok, Bromo, baru kemudian ketemu Papa-Mamaku di Jakarta .. “ intonasi Jeannette seakan tak ingin didebat lagi.

Arman akhirnya berjanji mengikuti Jeannette ke Indonesia. Mereka sepakat menikah di sebuah gereja dengan cara yang sederhana, apa adanya. Namun di tengah perjalanan membelah kawasan Kuningan, sebuah bom mobil meledak hingga pecahannya menghantam mobil pengantin yang ditumpanginya. Sopirnya tewas, Jeannette terluka, beruntunglah Arman terluka tak seberapa parah. Bom yang mengincar kedutaan itu meledak menyisakan kemanusiaan yang terkoyak.

“jalanan sudah mulai terbuka, Pak“ petugas ambulan di depan Arman setengah berteriak.

“cepatlah ! suruh sopir cari jalan keluar ! cepat !!” sahut Arman. Tatap matanya tak beralih sedetikpun memandangi Jeannette.

“bertahanlah, Sayang. Kita segera sampai, Jean” suara Arman bergetar. Genggam tangannya semakin erat. Tak terasa bulir air mata mulai berjatuhan.

“jalanan mulai lancar, Pak. Lima menit lagi sampai. Mu’jizat telah datang,”

“iya ! Cepatlah, kumohon,“ Arman mengiba. Wajah Jeannette kian kelelahan menaut kehidupan.
Tiba-tiba sirine di kejauhan mengaung. Deretan kendaraan di seberang lajur tersibak-sibak dan menepi.

“ada apa ?! ada apa ?! siapa mereka ?!” tanya Arman keheranan. Ia melongok mencari celah pandangan.

“mungkin pejabat yang ingin meninjau lokasi ledakan, Pak”

Anjing !!

***

Mampang Prapatan, 08 Oktober 2009

Penulis :

Emil WE, anggota forum diskusi sastra Bengkel Imajinasi, Malang. Sempat menulis beberapa puisi dan cerpen. Beberapa karya yang dipublikasikan diantaranya dalam Antologi Puisi untuk Munir, Antologi Empati Jogja, beberapa di Harian Malang Pos, sedangkan beberapa cerpennya sempat dipajang di OASE Kompas.

Cerpen Epilogue ini sempat dipublikasikan Oase.kompas di bulang oktober 2009,

 
Leave a comment

Posted by on February 16, 2010 in Cerpen

 

Silakan berkomen,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: