RSS

Cerpen : Earthquake 7.2

16 Feb

“if a builder builds a house for a man and doesn’t make its construction firm, and the house which he has built collapse and cause the death of the owner of the house, that builder shall be put to the death”

from the code of Hammurabi, Babylon, circa 2000 B.C

Kuingat uraian kata-kata itu sambil bergetar. Gugup. Jantungku berayun-ayun serupa pucuk cemara diamuk angin. Aku ingat betul dimana kubaca tulisan itu. Chapter ke 2, Performance Requirements dari buku Foundation Design karya Donald Coduto. Namun,

Ah ! Tuhan ! televisi itu terus-terusan mengumpatku. Memperlihatkan gambar hotel runtuh remuk redam. Balok beton patah, kolom-kolom bertumbangan, plat-plat bertindihan seperti dihempas dari langit.

“sudahlah, Kun ! kau bikin saja semua jadi fix. Biaya perencaaan sudah tak setimpal bagi perusahaan kita ! melampaui budget karena waktunya terus-terusan molor !” kuingat kata-kata Ir. Bonari kepadaku beberapa tahun lalu saat terlibat proyek perencanaan hotel itu.

“tapi ..  kita belum memasukkan beban gempanya, Pak”

“sudahlah .. kalo masalah itu abaikan saja. Owner sudah mendesak. Kontraktor sudah terdesak. Perencanaan kita harus segera tuntas secepatnya. Kau akali saja laporannya”

“saya khawatir, Pak”

“khawatir apa ?”

“gempa, Pak ! Seismolog menduga beberapa tahun lagi terjadi gempa skala besar ! di patahan itu, Pak ! sebaran gempanya sudah terprediksi !”

“Ahhh ! kau jangan percaya kata-katanya seperti dogma, Kun. Sampai sekarang tak ada teknologi yang bisa meramal gempa ! sedikit banyak aku tahu itu !”

“apa nggak bisa menunggu dua hari lagi, Pak ? saya jamin kelar !” pintaku

“sudahlah ! jangan banyak khawatir ! Kalaupun terjadi gempa, itu masa kahar ! force major ! bencana, Kun ! susah membuktikan siapa yang salah ! lagian kau perlu tahu ! tiga puluh persen fee kita dibagi-bagi dengan para birokrat,”

“tiga puluh persen, Pak ?!!” aku terbelalak

“ya, tiga puluh persen ! kau harus tahu itu !! menguap, Kun !! duit itu menguap !!!”

Kuingat setelah perdebatan itu Insinyur Bonari meninggalkanku. Ia melangkah sambil menggerutu. Suara yang  keluar dari bibirnya serupa gaungan lebah. Tak jelas. Tak bermakna.

Ternyata perdebatan hari itu menyisakan kebimbangan bagiku, setelah proyek perencanaan selesai, kuputuskan keluar dari perusahaan yang dipimpin Insinyur Bonari. Aku kalah tekad. Mungkin juga kalah nekat. Saat itu dalam hati kusumpahi semoga perusahaannya hancur tanpaku, namun Tuhan berkehendak lain, justru setelah aku hengkang dan diterima di perusahaanku yang baru, perusahaan yang dipimpin Insinyur Bonari berkembang sedemikian cepat. Berdatangan proyek-proyek perencanaan yang baru. Rekayasa struktur gedung, bendungan, hingga proyek rekayasa yang membutuhkan keahlian lebih spesifik seperti pemetaan potensi mineral bumi. Namun satu yang pasti. Insinyur Bonari memang seorang yang licin sekaligus maestro lobi. Mayoritas proyek dimonopoli dengan mudah. Mengatur proses tender, kongkalikong dengan pejabat. Ah, aku ingat betul prinsipnya, “Keadilan sosial bagi seluruh mereka yang berkepentingan !” itulah yang selalu ia kumandangkan acapkali kupuji keberhasilannya memenangkan tender proyek. Sebuah plesetan dari sila ke-lima Pancasila, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Hari berganti hari, semua pengalaman dengan Insinyur Bonari kuanggap sebagai lembaran kusut karierku. Kukubur semua pengalaman-pengalaman proyekku bersama Insinyur Bonari dengan harapan aku bisa menjalani profesiku lebih baik, tanpa dihantui dosa masa lalu.

Namun, setelah melihat kota yang diluluh-lantakkan gempa,  kenanganku bersama Insinyur Bonari kembali berdatangan. Kenangan itu walau timbul tenggelam dalam ingatanku namun seolah-olah mengamuk dan menyumpah-nyumpah tak karuan. Bahkan tak Cuma kenangan dengan insinyur Bonari, beberapa petuah dari dosenku kembali terngiang-ngiang menghakimi perbuatanku.

“Bangunan yang berdiri merupakan monumen intelektual kita !!!” begitu papar dosenku dulu.

“Kalian lihatlah Menara Eiffel ! menara itu dibangun dan direncanakan oleh mereka yang ahli. Insinyur-insiyur berdedikasi ! membuktikan bahwa hasil rancangannya bertahan puluhan tahun hingga menjadi simbol keberhasilan manusia mewujudkan impiannya ! merekalah engineer-engineer sejati,”

“kalau kalian kemudian membangun dan roboh !! ingatlah !! kalian sama saja memancang monument ! tapi monument kebodohan kalian !!! ”

Entah mengapa kalimat dosen Mekanika Teknik-ku dulu kembali membuat gatal telingaku. Membuatku jengah. Seperti sebatang lidi yang menyodok-nyodok lubang telinga.

Kuhitung kembali jumlah bangunan yang pernah kurencanakan di kota itu, kota yang luluh lantak diguncang gempa 7.2 Skala Richter. Kuamati satu persatu di layar televisi. Kucari channel berita yang memuat gambar sekeliling kota.

“Masjid Besar ?!! “  aku terbelalak

“tumbang !! menaranya tumbang !! ya, Tuhaan .. bagaimana bisa ..  daktilitas strukturnya sudah benar ! beban gempanya sudah benar ! apakah ?? ”

“ah, aku tak ingin menduga-duga .. apa besinya dicolong kontraktor ??!! sial kalau sampai terjadi !!!”

“Tuhan, semoga tak ada yang tertimpa di bawahnya” bisikku bersedih.

Sejenak gambar video terputar ulang, namun entah mengapa lagi-lagi terjeda dengan suara sedih reporter berita yang mengabarkan proses evakuasi hotel.

[dapat kita saksikan betapa luluh lantaknya hotel Sumaraya ini, evakuasi pun berjalan lambat karena alat berat yang tersedia sangatlah tidak cukup untuk membuka akses bagi tim SAR. Diperkirakan terdapat lebih dari delapanpuluh penghuni hotel  dan karyawan terjebak dalam reruntuhan. Saksi mata mengatakan, saat gempa mengguncang, penghuni hotel berlarian dan berkumpul di areal terbuka yang berada di sisi dalam areal hotel, Namun malang, tiba-tiba  tiang hotel paling bawah runtuh dan menimpa mereka]

Weak column !! tiang lemah !!! bagaimana bisa ?!!!” aku meradang

“mekanismenya seharusnya tak begitu ! Strong column weak beam ! itu yang seharusnya terjadi !!  Kenapa bisa runtuh tiangnya ?!! seharusnya balok runtuh lebih dulu agar masih punya waktu menyelamatkan diri !!” teriakku seperti orang gila. Kubanting remote TV dan kubekap mukaku. Rasa-rasanya saat ini tanganku berlumuran darah.

Aku tahu ini bencana, tapi seharusnya korban tak sebanyak itu. Aku tahu jika gempa tak pernah membunuh, tapi reruntuhan bangunan-lah yang mematikan. Ah Tuhan, rasa-rasanya jika aku hidup di jaman Hammurabi aku sudah digantung di atas tiang atau dicacah-cacah pedang algojo.

Kesedihan melarungku. Pikiran sedih tiba-tiba menyeretku memasuki serpih kenangan masa kecilku.

“Kunadi, kalau kau besar nanti, kau ingin jadi apa ?” tanya Kakekku

“aku ingin seperti Kakek, jadi tukang batu”

“kenapa, Kun ?” tanya Kakek tersenyum

“biar bisa membantu membangun masjid, Kek”

“hehehehe ..bagus .. bagus .. mulia sekali,”  Kakekku terkekeh hingga janggutnya berguncangan.

“bolehlah engkau bercita-cita jadi tukang bangunan, tapi jangan seperti Kakek. Semoga Tuhan memberimu jalan agar jadi orang yang lebih penting,”

“Bagaimana kalau jadi Insiyur, Kun ! pahala mereka lebih banyak daripada Kakek,” lanjut Kakek menawar

“insinyur ?! siapa itu, Kek ? kenapa pahalanya lebih banyak daripada Kakek ? aku tak melihatnya mengusung batu-bata dan mencampur adukan semen,” protesku saat itu.

“iya, Kun. Mereka tak pernah mengusung batu-bata atau mencampur adukan semen, tapi di pikiran mereka keselamatan banyak orang diletakkan. Bayangkan, berapa besar pahalanya dibanding Kakek yang Cuma memasang batu-bata,”

“Kun, kalau engkau suatu saat jadi insinyur, bangunlah bangunan-bangunan dengan penuh keikhlasan sebagaimana Ibrahim dan Ismail menginggikan ka’bah di buka bumi. Insya Allah hidupmu akan dimuliakan Tuhan, Kun. Bangunlah bangunan-bangunan itu dengan penuh keikhlasan. Anggap saja kau sedang membangun  banyak masjid di muka bumi walaupun bangunan itu bukanlah masjid. Agar kau selalu terjaga hatimu, agar kau selalu teringat Tuhanmu, Kun”

Kata-kata Kakek yang terkubur puluhan tahun seakan terucap kembali. Aku bersedih. Aku menangis. Aku serasa domba tersesat yang kebingungan mencari sekawanannya.

Namun tiba-tiba suara Insinyur Bonari meneriakiku di kuping kiri dengan kalimat tengiknya,

“Kun, Jembatan yang dibangun tanpa proses korupsi hanyalah jembatan siraathal mustaqim !! itu nanti, Kun. Hanya ada di akhirat !! Tidak sekarang !! Kalau birokrat-birokrat sudah kapiran dan memalak kita untuk menyetor sebagian fee pembangunan, anggap saja kita sedang tersesat di rimba belantara, Kun. Kau tahu apa itu artinya ?”

“apa, Pak ?” tanyaku pasrah

“Makan babi pun halal, Kun ! Makan babi pun halal !!”

***

Mampang Prapatan, 05 Oktober 09

Cerpen ini telah dipublikasikan di Oase.Kompas bulan Oktober 2009

 
Leave a comment

Posted by on February 16, 2010 in Cerpen

 

Silakan berkomen,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: