Audit!

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَهُوَ الَّذِيْ يَتَوَفّٰٮكُمْ بِا لَّيْلِ وَ يَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِا لنَّهَا رِ ثُمَّ يَـبْعَثُكُمْ فِيْهِ لِيُقْضٰۤى اَجَلٌ مُّسَمًّى ۚ ثُمَّ اِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

“Dan Dialah yang menidurkan kamu pada malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari. Kemudian, Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umurmu yang telah ditetapkan. Kemudian kepada-Nya tempat kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 60)

Semua menunggu sambil bermain gawai

Lihatlah perubahan besar manusia di ruang tunggu. Yang dahulu saling bercerita, bercakap, dan berkenalan; kini berdiam diri meskipun berdekatan.

Imajinasinya melayang ke ruang Maya yang jauh lebih luas daripada kotak tunggu.

Dekat jadi jauh, jauh jadi dekat. Di saat yang demikian seluruh perasaan dikuasai prasangka.

Hmmhh …

04 Agustus 2022 06.27

Ruang tunggu stasiun, menunggu Probowangi.

Pagi di Timur Stasiun Tugu

Dan merah pecah matahari berkeping di timur, sementara ratusan ribu lalu lalang arah pergerakan mengalir kian deras.


Deru keruh motor-motor mesin. Telepak kaki pelari pagi. Decak-decak gemericik pedal becak dan sepeda. Orang yang bersin dan terbatuk. Kalimat cengkerama di bangku-bangku. Sesak-sesak sendal yang bergesek di keramik trotoar. Kemarau yang kuat di Malioboro menarik energi hingga menyisa kelelahan yang romantis.


Sesekali gerbang profil baja ringkih pembatas rel membuka dan menutup, seolah mengata: selamat jalan atau selamat datang. Kita ramu keinginan. Kita sambut angan-angan. Disinilah kerinduan akan diraut dan ditancapkan.

22 Juli 2022 06.51
Samping Gerbang Rel Kereta Sisi Timur Stasiun Tugu.

Utara Malioboro
Loko Coffee Shop
Gerbang Kereta Sta. Tugu
Rel Stasiun Tugu
Menunggu Kereta

Melukis Malam Malioboro

Pertemuan selepas lebih seribu hari, pada malam menjelang ganti hari, di langit malam cerah, bintang nampak sedikit, namun keletepak kaki kuda masih terdengar.


Wajah cantikmu tak terlihat mengantuk, tapi, seperti bertahun lalu bahwa kita duduk disini, Sayang, diam tanpa suara.


Aku duduk merindu di dekapan pelukmu, seperti kerinduan air yang mengaliri tempat yang lebih rendah.


Diamku dan diammu memang syahdu, diam yang kekanak-kanakan, diam yang semestinya dilakukan olah jiwa yang menyatu dan enggan bersuara.


Jauh berubah parasmu:
Pelataran lebar yang bersih, bangku-bangku yang tertata rapi, ornamen-ornamen bulat pembatas trotoar, mungkin maksudmu: kenyamanan inilah yang didamba pelukis malam, iyakah?


Jajaran rindang pohon asem, lampu-lampu taman yang terang, selasar-selasar yang lebar dan rapi, mungkin maksudmu: kerapian inilah yang diingini penikmat senja, iyakah?


Kamu jauh berubah, Sayang,


Aku masih ingin melihat kerapuhan bangku-bangku kayumu dan debumu yang jadi puisi itu.


Aku masih ingin melihat kekacauan cantikmu, dengan rambut acak-acakan selepas bangun tidur.


Mata yang separuh terbuka itu, yang berpendar, suara yang serak, baju yang terlipat-lipat tak aturan,


Percayalah:
Aku masih ingin menyaksi itu, Sayang.

Malioboro, 20 Juli 2022 23.49
Pada Bangku Trotoar Pedestrian.

Pedestrian
Malioboro, Juli 2022

KALAU KAMU PERNAH TINGGAL DI YOGYAKARTA

Kalau kamu pernah tinggal di Yogyakarta, percayalah, kamu akan kenal makna kata rindu.


Kalau kamu pernah menemukan cinta di Yogyakarta, percayalah, kamu akan mengerti makna rindu ganjil, serupa rindu kampung halaman, padahal kamu bukan merindukan tanah dimana abjad namamu dirumuskan.


Ketika kamu mendatanginya: perjalanan membawamu menyelami perasaan yang berdesir-desir.


Serupa menemui kekasih.
Serupa memiliki janji paling penting yang wajib untuk ditepati.


Kalau kamu pernah tinggal di Yogyakarta, apakah pernah kamu berpikir demikian?


Rindu kepada siluet selepas ashar yang jatuh di pucuk-pucuk gedung sepanjang Malioboro?
Rindu kepada gojekan dan tarian di trotoar?
Rindu berdiam melamun di keriuhan? Duduk di bola-bola ornamen yang berjajar di perempatan seberang istana? Melukis senja? Memahat kata-kata? Berpuisi hingga berkata-kata dengan debu? Memetik gitar dan meluntang-lantungkan sumpah serapah jaman?


Kalau kamu pernah tinggal di Yogyakarta dan kamu ingin mengunjunginya, sepanjang perjalanan kamu akan membayangkan senyum dan kerling tercantik, yang berdiri menyambutmu sepenuh jiwa, yang membentangkan lebar-lebar tangannya sambil di tangan kanannya menggenggam seikat bunga.

20 Juli 2022 17. 08
Bangil-Sidoarjo, di atas KA Wijaya Kusuma,
Perjalanan menuju Yogyakarta

Kursi Stasiun Bangil: Menuju Yogyakarta,2022
Stasiun kecil yang menawan

Telaah Pagi

Tatanan seringkali tercatat sejarah antipati dengan perubahan,


Merasa risih, seperti kulit yang dilumuri ribuan kuman mematikan.


Memang hakikatnya: otak ingin terus menang, terus lebih, kurva linear dengan variabel positif terus tersemat di persamaan, tak ada titik kulminasi yang pasti, karena: dagu manusia lebih nyaman untuk mendongak ke atas daripada ditekuk ke bawah.


Tapi bumi dan alamraya mengajarkan pergerakan dan keseimbangan.

Siapa yang berdiri di titik kritis barangkali tengah menunggu keruntuhan, siapa yang berdiam hanya menghargai entitas diri seperti batu, dan siapa yang menahan beban akan meregang hingga modulus elastisitasnya terlampaui di suatu kapan.

14 Juli 2022 07.57